Resonansi

Suci Asdhan
Chapter #3

Suara-suara Dari Masa Lalu

Sinar mentari pagi di Bandung tidak pernah benar-benar hangat bagi Laras. Cahayanya selalu terasa seperti lampu sorot museum yang steril, menyingkap setiap debu yang seharusnya tetap tersembunyi. Laras duduk di kursi kayu jengki di ruang makan, menghadap meja besar yang permukaannya sudah kusam. Di bawah kakinya, tegel kunci bermotif geometris warna marun dan krem memberikan sensasi dingin yang menembus kaos kaki.

Di depannya, Bram sedang sibuk dengan kamera DSLR dan sebuah alat ukur laser. Pria itu tampak sangat bersemangat, kontras dengan Laras yang matanya tampak cekung akibat kurang tidur. Semalaman, suara tawa anak kecil dari kamar kerja ayahnya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Mbak Laras, lihat ini." Bram menunjuk ke arah sudut dinding ruang makan, tepat di atas plinth (1) kayu yang sudah keropos. "Ini yang saya bilang kemarin. Spalling."

Laras mendongak malas. "Beton yang mengelupas, kan?"

"Lebih dari sekadar mengelupas." Bram mendekat, jemarinya meraba permukaan semen yang kasar. "Ini fenomena di mana tulangan baja di dalam beton berkarat dan memuai, mendesak lapisan semen terluar sampai pecah. Tapi yang unik di rumah ini adalah polanya. Lihat retakannya? Hampir simetris. Seperti ada tekanan frekuensi yang konsisten dari dalam, bukan cuma karena lembap."

Laras terdiam. Tangannya di dalam saku kardigan meremas pelan stetoskop modifikasi milik ayahnya. Tekanan frekuensi. Kata-kata Bram yang murni teknis itu justru terasa seperti konfirmasi mistis bagi Laras.

"Bram," panggil Laras. Suaranya parau. "Apa mungkin, sebuah bangunan menyimpan energi? Maksudku, secara fisik. Seperti rekaman?"

Bram tertawa kecil sambil menyesuaikan fokus lensanya. "Secara metaforis? Mungkin saja. Tapi secara fisik, beton itu benda mati, Mbak. Dia cuma menyimpan air, garam, dan korosi. Kalau Mbak merasa rumah ini 'berisik', itu mungkin karena struktur kayunya yang memuai malam-malam. Ekspansi termal (3). Logika konstruksi selalu lebih membosankan daripada cerita hantu, kan?"

Bibir Laras memaksakan terbitnya senyum tipis. Logika. Ia merindukan logikanya yang dulu—logika seorang kurator yang hanya percaya pada apa yang bisa ia sentuh dan ia beri label tahun. Namun, tawa anak kecil di telinganya semalam tidak bisa diberi label oleh logika apa pun. Laras mulai meragukan kewarasannya sendiri. Apakah ia sedang mengalami delusi duka yang tertunda? Ataukah kegilaan ayahnya adalah penyakit genetik yang baru saja bangun di dalam kepalanya?

"Saya mau cek tandon air di belakang sebentar," pamit Bram. "Mbak Laras mau ikut?"

"Enggak, aku di sini saja. Mau ..., mencatat beberapa barang yang harus dipindahkan."

Begitu langkah sepatu bot Bram menjauh menuju area servis, kesunyian ruang makan itu langsung menyergap. Laras menarik napas panjang, lalu dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan stetoskop dari sakunya. Ia memasang earpiece ke telinga dan menyalakan sakelar piezoelektriknya. Klik.

Dengungan statis itu kembali terdengar. Kali ini lebih riuh, mungkin karena pantulan cahaya matahari atau aktivitas ion di udara pagi. Laras berdiri, mendekati dinding di dekat meja makan—tempat di mana ibunya dulu sering berdiri saat menyiapkan sarapan.

Ia menempelkan lempengan logam itu ke dinding.

Wussshhhh....

Suara angin fiktif memenuhi pendengarannya. Laras memejamkan mata. Ia mencoba mengabaikan bunyi detak jantungnya sendiri yang berdegup di balik tulang rusuk. Ia menggeser alat itu perlahan, inci demi inci, mencari titik resonansi (4). yang tepat.

Kretek, dakk.

Terdengar bunyi benda padat beradu. Laras menahan napas. Ia mendengar bunyi kursi yang diseret—suara yang jauh lebih berat dan tumpul daripada gesekan kursi asli yang baru saja ia duduki. Lalu, terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring keramik. Suaranya begitu organik, begitu nyata, hingga Laras secara refleks menoleh ke arah meja makan yang kosong, setengah berharap sekarang ia menyaksikan keluarganya sedang sarapan di sana.

Kosong. Hanya ada debu yang menari di pantulan cahaya matahari.

Laras kembali fokus pada dinding. Ia menekan stetoskopnya lebih kuat. Statis itu perlahan memudar, tersaring oleh sensor piezoelektrik ayah yang jenius sekaligus gila itu. Sebuah nada mulai muncul.

Sebuah senandung mulai terdengar mengalun.

Lihat selengkapnya