Resonansi

Suci Asdhan
Chapter #5

Sebuah Peringatan

Pagar tanaman teh-tehan (1) yang membatasi rumah Laras dengan rumah di sebelahnya telah tumbuh liar, cabangnya saling melilit seperti jemari yang tidak mau dilepaskan. Daun-daunnya yang hijau pekat tertutup debu jalanan, menciptakan tirai kusam yang memisahkan dua dunia. Di balik tirai itu, sebuah sosok muncul—setipis bayangan, tetapi dengan tatapan yang seberat timah.

Laras sedang mencoba membersihkan sisa-sisa semen yang menempel di sepatunya di halaman samping ketika ia merasakan sepasang mata mengawasinya. Pria tua itu berdiri di balik pagar tanaman, mengenakan kaos dalam putih yang sudah menguning dan sarung kotak-kotak. Tangannya yang gemetar memegang gunting rumput yang berkarat, tetapi ia tidak sedang memotong apa pun. Matanya terpaku pada buldoser kecil yang baru saja diparkir Bram di depan gerbang.

"Jadi benar?" Suara pria itu terdengar serak, seperti gesekan amplas di atas kayu. "Rumah dokter Surya mau diratakan?"

Laras berdiri tegak, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. "Iya, Pak Subrata. Strukturnya sudah tidak sehat. Terlalu banyak biaya kalau harus renovasi. Tapi, sebetulnya saya masih ragu."

Pak Subrata tidak menyahut. Ia justru melangkah mendekat ke arah pagar, membuat dedaunan teh-tehan itu berdesis. Wajahnya yang penuh kerutan tampak pucat di bawah sinar matahari Bandung yang mulai meninggi. Ia menatap ke arah jendela gudang bawah tanah yang menonjol sedikit di atas permukaan tanah—lubang gelap yang tampak seperti mata yang terpejam.

"Sesuatu yang sudah tertanam lama, sebaiknya jangan diganggu, Neng Laras," bisik Pak Subrata. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh deru angkot yang lewat di jalan depan. "Ayahmu menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan rumah itu tetap berdiri. Dia menambal setiap retakan seolah-olah dia sedang menjahit luka. Apa Neng tidak bertanya-tanya kenapa?"

Laras terdiam, merasakan stetoskop di saku kardigannya mendadak terasa panas. "Papa sakit, Pak. Kita semua tahu itu. Dia terobsesi pada hal-hal yang tidak ada."

"Tidak ada?" Pak Subrata terkekeh. Suara tawanya terdengar kering dan getir. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Dulu, saat malam-malam sepi di jalan ini, saya sering terbangun. Bukan karena suara radio atau pencuri. Tapi karena suara getaran. Seperti ada ribuan lebah yang terjepit di dalam tembok rumah ini. Ayahmu tidak gila, Neng Laras. Dia hanya terlalu jujur pada apa yang dia dengar."

Laras merasakan denyut di pelipisnya mulai mengencang. Ia teringat pada risetnya tentang Stone Tape Theory. Pak Subrata, tetangga yang sudah tinggal di sini sejak tahun 70-an, adalah saksi hidup dari frekuensi yang ia pelajari di layar laptop semalam.

"Pak Subrata tahu soal suara-suara itu?" tanya Laras, langkahnya mendekat ke pagar.

Lihat selengkapnya