Resonansi

Suci Asdhan
Chapter #6

Pemetaan Akustik

Kertas kalkir itu berdesir pelan di bawah tekanan pensil 2B milik Laras. Di atas meja ruang makan yang permukaannya sudah berpuluh tahun tak tersentuh taplak bersih, Laras membentangkan denah rumah. Ia tidak sedang merancang renovasi sebuah bangunan, melainkan tengah melakukan pembedahan.

Bram berdiri di ambang pintu dapur, menyesap kopi hitam dari termos kecilnya. Ia memperhatikan Laras dengan tatapan yang sulit diartikan—antara cemas dan penasaran. Baginya, Laras tampak seperti seorang ahli bedah yang sedang memetakan tumor di tubuh pasiennya.

"Mbak, jujur saja, ini pertama kalinya saya melihat klien memetakan rumah berdasarkan 'titik suara' dan bukannya instalasi listrik," celetuk Bram. Suaranya bergema di ruangan yang kosong itu.

Laras tidak mendongak. Ia sedang menarik garis lurus dari ruang tamu menuju koridor tengah. "Dalam kurasi museum, Bram, kita belajar tentang 'strata (1)'. Lapisan tanah yang paling atas adalah masa kini, dan semakin dalam kita menggali, semakin jauh kita melompat ke masa lalu. Rumah ini menggunakan semen sebagai tanahnya."

Laras mengangkat stetoskop modifikasi itu, memutar sakelarnya hingga LED merah menyala redup. Ia berjalan menuju dinding ruang tengah yang permukaannya tampak lebih kasar dan gelap dibanding bagian lainnya.

"Coba perhatikan." Laras menempelkan lempengan logam itu ke dinding. Ia tidak memasang earpiece-nya, tetapi ia menunjuk ke arah retakan halus. "Lapisan terluar ini, semennya lebih tipis, warnanya lebih terang. Ini tambahan yang dibuat Papa sekitar lima atau enam tahun lalu. Suara yang tersimpan di sini dangkal, hanya statis dan gumaman radio yang tak jelas."

Ia berpindah ke sudut dekat jendela, di mana semennya tampak pecah dan menampakkan lapisan yang lebih kokoh di dalamnya.

"Tapi di sini, di mana semennya setebal dua inci dan mengandung lebih banyak kuarsa, di sinilah masa kecilku terkunci. Ini adalah strata waktu tahun sembilan puluhan."

Bram meletakkan termosnya. Ia mendekat, tangannya menyentuh dinding yang ditunjuk Laras. "Jadi maksud Mbak, kedalaman suara itu tergantung pada kapan semen itu mengeras?"

"Tepat. Semen yang basah menangkap getaran. Begitu dia mengeras, getaran itu membatu di dalamnya. Papa tahu itu. Itulah sebabnya dia selalu menambal dinding dengan lapisan baru setiap kali dia ingin 'menghapus' memori yang menyakitkan atau 'menyegel' suara yang tidak ingin dia dengar lagi."

Laras mulai bergerak. Ia memasuki kamar mandi bawah yang lembap. Ia menempelkan alatnya ke dinding keramik yang retak.

Wussshhh

Suara air yang tumpah dari bak mandi terdengar sangat jernih. Suara tawa Laras kecil yang sedang dimandikan ibunya. Laras menandai titik itu di kertas kalkirnya dengan spidol merah.

Kamar mandi: 1989. Frekuensi cerah.

Ia beralih ke ruang tamu. Di balik dinding dekat rak buku, ia mendengar suara perdebatan tentang politik dan berita TVRI. Laras kembali menandai titiknya di kertas kalkir dengan spidol merah juga.

Ruang tamu: 1995. Frekuensi berat.

Lihat selengkapnya