Kamar tidur utama itu terasa seperti sebuah makam yang luas. Gorden beledu hijau yang kini sudah berubah warna menjadi kecokelatan akibat debu dan usia, masih setia menutupi jendela besar, menahan cahaya yang ingin masuk. Di sudut ruangan, sebuah meja rias kayu dengan cermin oval yang sudah buram oleh jamur berdiri seperti monumen yang terlupakan.
Laras melangkah masuk dengan ragu. Setiap derit lantai kayu di bawah kakinya terasa seperti teguran dari masa lalu. Di sinilah, tiga puluh tahun yang lalu, ia sering meringkuk di kaki ibunya sambil memperhatikan wanita itu bersiap-siap. Ia ingat bagaimana jemari ibunya yang lentik menari di atas botol-botol kaca kecil dan wadah bedak perak.
Laras meletakkan tas peralatannya di atas ranjang yang spreinya sudah sobek di sana-sini. Bram sedang berada di ruang bawah tanah untuk mengukur kelembapan fondasi, memberinya waktu sendirian di ruangan ini. Laras membutuhkan kesunyian ini. Semalam, ruang dapur telah memberinya guncangan yang cukup hebat, isakan ayahnya masih terasa mengganjal di pikirannya.
Laras mengeluarkan stetoskop modifikasinya. Lampu LED merahnya berkedip seolah menyapa kegelapan kamar itu. Ia melangkah menuju dinding di belakang meja rias—titik yang menurut denah kalkirnya merupakan lapisan semen di tahun 1993.
Klik.
Laras menempelkan lempengan logam transduser (1) itu ke dinding yang catnya sudah mengelupas.
Wussshhhh... statis...
Awalnya hanya ada suara derau yang kasar, seperti suara televisi yang kehilangan sinyal. Namun, Laras tidak menyerah. Ia menggeser logam itu dengan presisi seorang kurator yang sedang membersihkan lukisan cat minyak kuno. Perlahan-lahan, suara itu mengkristal.
Sret... sret... sret...
Suara itu ritmis. Laras memejamkan mata. Ia mengenal suara ini. Itu adalah bunyi sisir kayu yang ditarik melewati rambut hitam ibunya yang panjang dan tebal. Laras bisa merasakan tarikan pada setiap helai rambut itu dalam pendengarannya.
Lalu, sebuah fenomena ganjil terjadi. Ketika bunyi sisiran itu semakin jernih, sebuah aroma mendadak menyeruak di indra penciuman Laras. Bukan bau apak kamar yang tertutup, melainkan wangi yang sangat spesifik, perpaduan antara bedak tabur legendaris merk Viva yang lembut dan parfum ekstrak melati murni yang selalu dipakai ibunya.
Laras tersentak. Buru-buru ia membuka kedua matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari botol parfum yang mungkin pecah atau sisa bedak di meja rias. Namun, ternyata kosong. Meja itu bersih dari segala kosmetik. Ia menghirup udara di tengah ruangan—bau debu. Namun, saat ia menempelkan kembali telinganya ke stetoskop, aroma melati itu kembali meledak.
"Synesthesia (2)," bisik Laras, napasnya tersengal.
Seingat Laras, ia pernah membaca artikel tentang ini. Getaran frekuensi tertentu dari dinding kuarsa ini tidak hanya menstimulasi syaraf pendengarannya, tapi juga memicu memori sensorik lainnya. Otaknya seolah-olah dipaksa untuk menciptakan kembali seluruh realitas masa lalu agar memori itu lengkap. Bagi Laras, suara itu bukan lagi sekadar getaran. Suara itu memiliki bau, warna, dan tekstur.
“Laras, jangan mainkan gincu Mama, sayang. Nanti patah." Suara ibunya terdengar begitu dekat, diiringi aroma melati yang begitu kuat hingga membuat kepala Laras berdenyut.