Lampu-lampu di pojok musik di suatu kafe di Jakarta pada tahun 2026, mulai menyala.
Para pengunjung yang tadinya fokus dengan obrolan masing - masing mulai mengalihkan pandangan mereka ke arah panggung kecil tersebut. Ketika ada enam orang naik ke atas panggung beberapa pengunjung mengenal siapa gerangan orang - orang tersebut dan mulai membicarakannya, tapi sebagian pengunjung juga baru pertama kali melihat keenam orang tersebut
Di panggung kecil itu tidak ada layar LED raksasa, tidak ada efek kembang api atau lighting yang mencolok. Hanya lampu sorot berwarna kuning hangat, sebuah karpet hitam yang menutupi lapisan atas panggung tersebut, dan alat musik yang tersusun sederhana.
Tak lama kemudian seorang pemuda melangkah maju dan berdiri di depan microphone stand sambil membetulkan ketinggiannya agar pas dengan ketinggian mulutnya. Di paling belakang ada seorang drummer sedang memposisikan simbal dan mempersiapkan stik drumnya seraya melihat ke arah penonton. Di sisi kanan pemuda tersebut seorang ada gitaris sedang memeriksa tuning pada gitarnya, di sebelahnya ada seorang pemain bass sedang melakukan peregangan pada kedua tangannya, dan terakhir ada seorang gitaris lainnya sudah dalam posisi siap memainkan gitarnya sambil melihat bertukar pandang dengan pemain keyboard yang duduk tenang di belakangnya.
Pemuda di depan mikrofon menarik napas pelan dan mulai menyapa pengunjung.
“Selamat malam para pengunjung kafe Meridian yang saya doakan selalu berbahagiaaa…” panggilnya dengan antusias.
“Mungkin sudah ada yang kenal kami, tapi kayanya banyak juga yang belum kenal kami” candanya yang ditanggapi dengan senyuman dan tertawa dari para pengunjung.