Resonansi

maulanasw
Chapter #3

Kelas 7B

Senin pagi, adalah hari tersibuk bagi semua orang. Orang dewasa terpogoh - pogoh berangkat untuk mencari nafkah, tak lupa juga pemuda pemudi berlari - larian memasuki tempat mereka menuntut ilmu. Begitu juga Satrya dan Adrian, dua sahabat dari SD memutuskan melanjutkan pendidikan mereka di SMP yang sama, SMP Negeri 4 Cakrawala.

Hari itu adalah hari pertama mereka belajar di kelas 7 SMP, setelah menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS) minggu lalu. Adrian yang dari pagi sudah senang setelah satu set senar gitar yang dijanjikan Satrya sudah diterima olehnya makin antusias mencari - cari namanya di list pembagian kelas, sedangkan Satrya cenderung diam dan menelaah satu persatu secara detail. 

“Ah mana sih nama gua, kok ga ada mulu” seloroh Adrian tidak sabar melihat namanya ada di kelas mana.

Satrya hanya mengernyitkan alisnya mendengar celoteh sahabatnya itu, lalu kemudian menarik Adrian dan menunjukan namanya Adrian ada di paling atas list kelas 7B.

“Ada - ada aja lu, udah jelas nama lu tuh awalnya A ya carinya paling atas dong!” ucap Satrya sedikit kesal.

Adrian menggaruk - garuk kepalanya sembari terkekeh - kekeh mendengar kekesalan sahabatnya. Setelah melihat - lihat list nama dibawahnya dia menemukan Satrya berada sama di list kelas 7B.

“Woy Sat, kita sekelas lagi ini!” ucap Adrian sambil menggoyang - goyangkan tubuh Satrya.

Satrya hanya bisa menghela nafas memikirkan kisah SMPnya akan dihabiskan bersama sahabatnya ini, tapi dalam dirinya dia juga sedikit tenang karena di kelas itu dia tidak sendirian. Yah, minimal ada yang gua bisa percaya, pikir Satrya.

Mereka kemudian berjalan memasuki gedung utama. Kelas 7B sendiri berada di lantai dua, menghadap langsung ke lapangan upacara. Ruangannya belum penuh ketika mereka tiba. Beberapa bangku masih kosong, sementara siswa lain terlihat saling memperkenalkan diri.

“Sat, kita duduk disini aja yuk, kali - kali di depan gitu?” tanya Adrian.

“Iya udah terserah lu aja dah.” jawab Satrya tak ambil pusing sembari menaruh tasnya di bangku tersebut.

Satrya meletakkan tasnya di bangku dekat jendela. Posisi itu memang menjadi tempat favoritnya sejak SD. Cahaya matahari cukup terang untuk membaca, tetapi tidak terlalu silau pada pagi hari.

Tak lama kemudian bel berbunyi, siswa 7B lain mulai memasuki kelas mereka. Tak lama berselang seorang perempuan paruh baya memasuki kelas tersebut sambil membawa buku absen.

Lihat selengkapnya