Resonansi

maulanasw
Chapter #4

Perkenalan

Pelajaran seni budaya sendiri masih menyisakan tiga puluh menit, dengan Bu Ratna yang sudah meninggalkan kelas, beberapa murid berinisiatif mendatangi anggota kelompoknya masing - masing terbentuk itu, tapi ada beberapa murid yang masih malu - malu karena memang mereka baru saling berkenalan hari itu.

Adrian yang dari awal sudah memperhatikan posisi kursi “teman barunya” mulai berdiri dan mengajak Satrya untuk mendatangi mereka satu persatu. Tapi belum sempat Satrya berdiri, mereka sudah didatangi oleh seorang pemuda yang memiliki rambut hitam dengan potongan rambut spike, tubuhnya lumayan atletis dengan senyum yang mengembang, dia adalah Evan.

“Haii, aku Evan kalian itu Adrian dan Satrya kan? Aku udah memperhatikan kalian dari awal lihat pengumuman pembagian kelas dan pas perkenalan pertama tadi, kalian ini apa - apa kok kaya ditakdirkan berdua terus ya? Hahaha” canda Evan sambil mengulurkan tangannya kepada Satrya untuk berkenalan. 

Satrya hanya bisa nyengir sambil menerima tangan Evan secara kaku, di lain pihak Adrian langsung menyambut tangan Evan dengan antusias.

“Yoi bro, salam kenal ya gua sama Satrya ini udah dikenal duet maut dari SD!” celoteh Adrian yang disambut Satrya dengan menepuk jidatnya sendiri sambil berkata pada Evan. “Jangan dianggap serius ya please”. Evan pun tertawa sambil mengiyakan perkataan Satrya “Siappp, yang penting mohon bantuannya yaa broo”.

 Evan kemudian langsung mengajak Satrya dan Adrian menghampiri Nayan, seorang pemuda berkacamata yang duduk di deretan kursi paling belakang. Nayan yang agak kaget didatangi oleh mereka bertiga hanya terdiam ketika mereka bertiga memutuskan menjadikan mejanya sebagai tempat pertemuan. Tak lama kemudian Julian, “teman baru” terakhir mereka datang sambil menyeret kursinya perlahan sambil bergumam setengah bercanda “Kok gua ga disamperin sih, jahat bener kaliann”. Satrya kembali hanya bisa nyengir melihat bagaimana dia bisa melihat terdapat perbedaan kepribadian tiga orang “teman barunya” ini

Setelah itu yang terjadi malah tidak ada pembicaraan, entah saling menunggu ada yang membuka obrolan atau memang saling canggung. Evan tersenyum kecil dan akhirnya dia yang memulai pembicaraan

“Kalau kita diem terus, nanti dikira lagi berantem padahal kita bakal satu tahun bareng loh.” ucap Evan sambil memandangi teman - temannya ini. 

“Yaudah kita kenalan lagi yuk, yuk. Aku Evan, biar agak singkat panggil aja Van”. ajak Evan sambil tersenyum kepada yang lain. Kemudian Adrian mulai mengenalkan dirinya, “Aku Adrian, tapi panggil aja Put”. 

Saat itulah Julian langsung merespon sambil tertawa “Hah, dari Adrian jauh amat mau dipanggil Put, mana P nya gilee?” celoteh Julian. Adrian terkekeh - kekeh dan langsung membalas “Lah, kan nama gua Adrian Yohan Saputra, itu ada kan P di Saputra. Nah, kalau lu siapa tadi namanya? Julian bukan?” balas Adrian.

“Yoi gua Julian, panggil aja Jul biar cepet juga, yang penting ada J nya kan” Julian makin tertawa seperti hendak melanjutkan guyonan tadi dengan Adrian. Kemudian, tatapan Julian langsung mengarah ke Satrya, “Kalo lu siapa namanya tadi? Putryan?” celoteh Julian sambil menahan tawa.

Ada alasan kenapa Julian menyebut Satrya “Putryan” karena tidak hanya Evan saja yang menyadari kalo Satrya dan Adrian ini seperti tidak terpisahkan dari awal. Sehingga dia memiliki pikiran konyol jika nama panggilan Satrya pasti mirip Adrian.

“Bukan, nama gua Satrya, panggil aja Sat ya Jul jangan aneh - aneh” jawab Satrya tegas. 

“Weh oke oke bro, siap dah bang sa.. Ehhh bercanda bercanda, ampun” ucap Julian sambil menunjukan gestur minta maaf menggunakan tangannya.

Percakapan tersebut mengundang gelak tawa Evan dan Adrian, sedangkan Satrya hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala sambil tersenyum. Tapi, Nayan hanya memperhatikan percakapan mereka dengan datar dan tanpa ekspresi. Setelah gelak tawa selesai, baru Nayan sembari membetulkan kacamatanya akhirnya membuka suaranya.

“Aku Nayan, panggil aja Nay” ucapnya sambil mulai menyalami keempat teman barunya itu.

Nayan mengucapkannya tanpa nada tinggi atau rendah, seolah-olah perkenalan itu hanya bagian dari absen yang harus diselesaikan. Adrian mengangguk antusias, Evan tersenyum ramah, sementara Julian memiringkan kepala seperti sedang menilai apakah nama panggilan mereka itu bisa dijadikan bahan candaan atau tidak.

“Berarti lengkap ya,” ucap Evan sambil melihat mereka satu per satu. “Van, Put, Jul, Sat, Nay.”

Julian langsung memberikan respon. “Kok nama kita jadi kaya grup lawak keliling ya, apa kita bikin pertunjukan lawak aja nanti?”

“Lu doang kali yang lawak,” balas Satrya pelan.

Adrian tertawa lebih dulu, disusul Evan yang menepuk meja pelan. Nayan tidak tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit, cukup kecil sampai Satrya tidak yakin apakah itu senyum atau hanya refleks.

“Jadi,” Evan kembali mengambil alih pembicaraan, “Kita enaknya mau bahas apa dulu nih? Alat musik yang dikuasai?, kalo mainin alat musik sih aku dulu pernah mainin harmonika ajaa, tapi kayanya aku lebih pede kalo nyanyi dehhh” ucap Evan dengan percaya diri.

Adrian langsung menunjuk Satrya sambil membanggakan sahabatnya itu. “Si Satrya ini bisa gitar bro, jago bener dah.”

Satrya menyanggah perkataan Adrian dengan menggerakan kedua tangan tanda dia menolak pernyataan tersebut, “Enggak jago - jago banget, gue cuma bisa dikit aja kok.” 

Lihat selengkapnya