Hari-hari pertama di SMP 4 Cakrawala perlahan mulai terasa seperti rutinitas. Jadwal pelajaran yang awalnya hanya terlihat sebagai deretan nama di selembar kertas kini mulai memiliki wajah, suara, dan kebiasaan masing-masing. Ada guru yang langsung memberi tugas pada pertemuan pertama, ada yang lebih suka bercerita, dan ada pula yang membuat seluruh kelas diam hanya dengan berdiri di depan papan tulis. Dan pak Ridwan yang mengajar mata pelajaran matematika termasuk jenis yang terakhir.
Guru matematika itu berbicara dengan suara tenang, tetapi hampir tidak pernah mengulang penjelasannya dua kali. Sejak awal pelajaran, kapur di tangannya terus bergerak memenuhi papan tulis dengan angka dan huruf, sementara beberapa murid masih sibuk mencari halaman yang benar di buku paket mereka. Satrya mengikuti penjelasan itu sambil sesekali melirik Adrian yang duduk di sebelahnya.
Sahabatnya itu sudah berhenti mencatat sejak lima menit lalu.
“Put, woy” bisik Satrya tanpa menoleh.
Adrian tidak menjawab. Ujung pensilnya masih bergerak di bagian bawah halaman, membentuk sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran matematika.
“Adrian Yohan Saputra.” panggil Satrya dengan pelan.
“Apa?” balas Adrian pelan.
“Lu lagi gambar apaan?” tanya Satrya sambil mengarahkan pensil miliknya ke buku catatan Adrian
Adrian menggeser tangannya sedikit, memperlihatkan gambar mobil dengan bodi rendah, roda besar, dan sayap belakang yang dibuat terlalu tinggi. Garisnya belum selesai, tetapi bentuknya sudah cukup jelas untuk dikenali.
“Mobil balap dong,” jawab Adrian bangga.
Satrya mengernyitkan alisnya sambil melanjutkan pertanyaan kepada Adrian, “Kenapa di buku matematika?”
“Biar angkanya punya kendaraan lah.” balas Adrian cepat.
Satrya menatapnya datar, lalu kembali menghadap papan tulis. Dia sudah terbiasa dengan jawaban Adrian yang sering kali terdengar masuk akal hanya bagi dirinya sendiri.
Di depan kelas, Pak Ridwan baru saja menyelesaikan contoh soal ketika tatapannya berpindah ke arah bangku Satrya dan Adrian yang posisinya dekat dengan dirinya, sehingga dia melihat jelas gambar coretan mobil balap Adrian.
“Adrian,” panggilnya.
Adrian langsung menegakkan punggung. “Iya, Pak?”
“Kalau mobilnya sudah selesai, mungkin bisa mengerjakan soal nomor tiga.” ucapnya.
Beberapa murid langsung tertawa kecil. Adrian buru-buru menutup bagian bawah bukunya menggunakan telapak tangan, meskipun itu sudah tidak ada gunanya lagi.
“Belum selesai, Pak,” jawab Adrian polos.
Tawa di dalam kelas terdengar semakin besar. Bahkan Pak Ridwan sempat memejamkan mata beberapa detik sebelum meminta Adrian kembali memperhatikan pelajaran.
Satrya menahan senyum atas tingkah laku sahabatnya itu sambil memperhatikan pelajaran kembali.
“Ketahuan juga, gua kira dia gabakal langsung ngelihat kearah kita abis nulis soal,” gumam Adrian.
“Ya gimana ga ketahuan gambarnya segede itu hampir satu halaman.” bisik Satrya yang disambut ketawa kecil Adrian.
Di sisi lain kelas, Evan terlihat jauh lebih aktif. Dia hampir selalu mengangkat tangan setiap kali Pak Ridwan melemparkan pertanyaan, meskipun jawabannya tidak selalu benar. Setiap kali salah, Evan hanya tertawa kecil, lalu duduk kembali tanpa terlihat malu sedikit pun.
Julian memiliki cara berbeda untuk melewati pelajaran. Dia menopang dagu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengetukkan pensil ke meja dengan pelan. Matanya beberapa kali hampir tertutup, tetapi akan kembali terbuka setiap kali Pak Ridwan berjalan atau mengarahkan pandangannya ke barisan belakang.
Nayan justru terlihat paling tenang. Sejak awal pelajaran, dia mencatat semua yang tertulis di papan dengan tulisan yang rapi, kemudian berhenti ketika Pak Ridwan menuliskan sebuah langkah penyelesaian di bagian kanan papan.
“Pak,” panggil Nayan sambil mengangkat tangan.
Pak Ridwan menoleh. “Iya? Ada apa?”
“Angka yang barusan seharusnya dua belas pak, bukan dua puluh satu.” ucap Nayan seraya mengarahkan telunjuknya ke arah papan tulis.
Seluruh kelas mengikuti arah telunjuk Nayan. Pak Ridwan memeriksa tulisan tersebut, lalu menghapus dua angka yang posisinya tertukar.
“Benar, “Terima kasih sudah memperhatikan ya.”ujar Pak Ridwan seraya memperbaiki tulisannya.
Nayan mengangguk kecil, kemudian kembali menulis tanpa terlihat bangga. Julian yang duduk tidak terlalu jauh darinya langsung menyandarkan tubuh ke depan.
“Gila,” bisik Julian kepada Evan yang duduk di depannya. “Baru masuk udah berani koreksi guru.”
“Dia cuma bilang angkanya kebalik,” jawab Evan sambil menahan tawa.
“Gue kalau sadar juga belum tentu berani ngomong.” gumam Julian.
Satrya memperhatikan Nayan beberapa saat. Kemarin anak itu terlihat seperti seseorang yang hanya berbicara ketika terpaksa, tetapi hari ini kesannya sedikit berbeda. Nayan bukan tidak mau berkomunikasi, dia hanya tidak merasa perlu mengatakan sesuatu jika tidak ada alasan yang cukup jelas.
Bel istirahat akhirnya berbunyi, langsung disambut suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang bergegas menuju pintu. Suasana kelas berubah dalam beberapa detik, dari yang sebelumnya tenang menjadi penuh percakapan dan suara bungkus makanan yang dibuka.
Adrian menutup bukunya paling cepat, lalu berdiri sambil meregangkan kedua tangan seolah tadi benar - benar lelah mengikuti pelajaran matematika.
“Kantin yuk Sat, laper soalnya gua tadi sarapan sedikit,” ajaknya.
Mendengar ajakan Adrian ke kantin Satrya enggan diburu - buru karena dia sendiri masih merasa belum lapar. “Nanti aja. Pasti penuh kalo sekarang.” ucap Satrya sambil memasukan alat tulis ke dalam tempat pensilnya.
“Kalau nunggu sepi, gorengannya tinggal minyak nanti.” balas Adrian sambil memegangi perutnya.
Belum sempat Satrya menjawab, Evan sudah berdiri di dekat meja mereka. Dia membawa dompet kecil berwarna hitam dan terlihat seolah memang hendak menghampiri keduanya sejak tadi.
“Kalian ke kantin ga?” tanya Evan.
Adrian langsung mengangguk. “Iya. Lu ikut?”
“Yuk, ajak yang lain juga, sekalian biar kemarin enggak cuma kenalan terus hari ini pura-pura enggak kenal.” ajak Evan.
Evan berbalik dan menghampiri Julian yang masih memeriksa saku celananya berkali-kali.
“Jul, ayo ke kantin,” ajak Evan.
Julian mengangkat wajah dengan antusias. “Traktir?” tanya Julian sambil melihat kearah Evan yang memegang dompet.
“Buset, baru kenal dua hari udah minta ditraktir.” balas Evan sambil tertawa kecil.
“Gue cuma mau tahu seberapa tulus pertemanan kita.” seloroh Julian sambil berdiri dari tempat duduknya.
Adrian menyela dari belakang Evan. “Pertemanan kita belum sampai harga bakwan, Jul.” ucap Adrian.
Julian tertawa sambil memasukkan kembali tangannya ke dalam saku celananya. “Yaudah, uang gue masih ada. Aman.”