Resonansi

maulanasw
Chapter #7

Tempat Latihan

Pertanyaan Adrian ternyata tidak memiliki jawaban yang cepat. Beberapa detik sebelumnya mereka masih membicarakan lagu apa, vokal, dan bercanda soal Evan yang tiba - tiba “kesurupan” serasa sedang di panggung megah, tetapi tidak seorang pun memikirkan tempat untuk mencobanya. Evan yang sudah hendak menutup laptop kembali menegakkan tubuhnya, sementara Julian memandang ke sekeliling kelas seolah alat musik mungkin tersembunyi di antara meja dan lemari.

“Di rumah lu bisa enggak, Sat?” tanya Evan.

Satrya menggeleng. “Gua cuma punya gitar, alat musik lainnya ga ada, kalo cuma buat latihan vokal mungkin bisa, tapi nanti kaya Julian latihan ngedrumnya gimana?” ucapnya.

“Di rumah gua juga enggak mungkin, kalau gua mukul meja terus, paling besoknya gua diusir” sahut Julian. 

Adrian menahan tawa. “Sama meja - mejanya juga diusir berarti?”

“Kalau mejanya masih kuat, Put”. ucap Julian yang disambut tawa oleh Evan.

Nayan yang sejak tadi duduk di ujung meja menutup buku catatannya. “Berarti kita butuh tempat yang alatnya sudah tersedia, jadi kita tinggal datang dan latihan.” usulnya.

Tiba - tiba Julian secara refleks menyahut usulan Nayan. “Studio band,” ujar Julian tiba-tiba.

Keempat temannya langsung menoleh. Julian tampak sedikit terkejut karena kali ini ucapannya yang biasanya cuma menghasilkan candaan justru terdengar seperti jawaban paling masuk akal dan menghasilkan solusi untuk masalah mereka.

 “Adaa di dekat pasar, di lantai dua, atas rental PlayStation. Gua sering lihat pas lewat sama kakak gua kalo mau ngerental PlayStation.” lanjutnya lagi.

“Lu pernah masuk?” tanya Evan.

“Belum, kan dibilang cuma lihat doang.” jawab Julian

“Terus lu tahu itu studio band dari mana?” tanya Nayan.

Julian mengangkat kedua bahunya. “Di depannya ada tulisan studio band sama gambar drum. Masa tempat les matematika?” jawab Julian sambil tertawa kecil.

Adrian tertawa kecil, tetapi ekspresinya segera berubah ketika sebuah pertanyaan lain muncul di kepalanya. Sontak, dia mengeluarkan pertanyaan tersebut secara spontan.

“Kalau studio band kan pasti nyewa, bayarnya berapa ya tuh?” tanyanya.

Julian kembali mengangkat bahu. Kali ini tidak ada jawaban lucu yang menyusul karena dia memang tidak tahu. Evan lalu mengusulkan agar mereka mendatangi tempat tersebut terlebih dahulu untuk bertanya, dan jika harganya masih masuk akal, mereka bisa mencoba menyewa satu jam. 

Mereka sepakat untuk kesana pada hari Minggu nanti dengan berjanji untuk bertemu di depan pasar terlebih dahulu. Setelah itu, Evan mengeluarkan flashdisk Julian dan Nayan secara bergantian, memastikan keduanya sudah aman sebelum mematikan laptop. Kursi-kursi dikembalikan ke tempat semula, kemudian mereka meninggalkan kelas bersama-sama sambil terus membicarakan seperti apa bentuk studio band yang sebenarnya. 

Satrya berjalan di sebelah Adrian ketika mereka turun dari tangga kelas. Temannya itu ikut menanggapi candaan Julian seperti biasa, tetapi Satrya masih mengingat pertanyaan yang pertama kali Adrian ajukan setelah mendengar tentang studio.

Bukan soal alat, melainkan berapa biaya sewanya.


***

Minggu pagi, deretan toko di sekitar pasar sudah dipenuhi suara pedagang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Satrya datang bersama Adrian menggunakan sepeda, lalu menunggu di dekat sebuah warung yang masih menata kursinya. Nayan tiba beberapa menit kemudian, disusul Evan, sementara Julian menjadi orang terakhir yang muncul sambil mengayuh terburu-buru. 

“Udah yok, langsung ikutin gua” ucap Julian melanjutkan kayuhan sepedanya menuju tempat parkir di depan suatu gedung.

Setelah menaruh dan mengunci sepeda mereka masing - masing, mereka melihat secara langsung studio yang dimaksud. Studio yang dimaksud Julian berada di ujung deretan pertokoan dekat pasar. Papan namanya dipasang di atas tangga sempit yang mengarah ke lantai dua, sebagian hurufnya sudah memudar terkena panas dan hujan. Dari bawah, Satrya hanya bisa melihat tulisan studio band dan gambar drum persis dengan apa yang dikatakan Julian waktu itu.

 “Bener, kan?” ujar Julian sambil menunjuk papan itu dengan bangga. “Bukan tempat les matematika.”

“Belum tentu studionya masih buka,” balas Nayan.

Hampir bersamaan dengan ucapan tersebut, suara drum terdengar samar dari lantai atas. Julian menoleh kepada Nayan dengan senyum kemenangan, tetapi memilih tidak mengatakan apa-apa. 

Mereka menaiki tangga sempit satu per satu. Ruang tunggunya tidak terlalu luas, hanya berisi meja kayu, beberapa kursi plastik, kalender lama, dan poster band yang ditempel tidak beraturan di dinding. Seorang pemuda duduk di belakang meja sambil membaca majalah, kemudian mengangkat wajah ketika melihat lima anak berseragam bebas berdiri di depannya.

Evan maju lebih dahulu mendekati penjaga studio tersebut.

“Mas, mau tanya,” sapanya. “Kalau sewa studio satu jam berapa?”

“Lima puluh ribu,” jawab penjaga studio itu. “Sudah termasuk alat sama amplifier, ada tambahan biaya semisal alatnya ada yang rusak pas kalian pake”. Lanjutnya lagi.

Evan lanjut bertanya. “Kalo boleh tau alatnya ada apa saja ya?”

“Ada dua gitar sama satu bass. Drum sama mic juga ada.” jawab penjaga studio tersebut sambil sesekali memperhatikan mereka berlima.

“Kalau sekarang ada studio yang kosong?” tanya Evan.

Penjaga studio tersebut melihat buku jadwal yang terbuka di atas meja. “Ruang dua kosong sampai jam sebelas. Bisa kalian pakai dari sekarang kebetulan pas jam sepuluh” ucapnya.

Evan langsung menoleh kepada teman-temannya. Dia mengangkat lima jari sambil menghitung singkat dalam kepala.

“Lima puluh ribu dibagi lima berarti sepuluh ribu seorang,” ujarnya. “Gimana?”

“Gua setuju,” jawab Julian tanpa ragu.

Nayan bertanya apakah satu jam dihitung sejak mereka masuk atau sejak pembayaran dilakukan. Setelah penjaga studio menjelaskan bahwa waktu baru dimulai ketika ruangan dibuka, Nayan ikut mengangguk.

Adrian tidak langsung menjawab. Tangannya sempat masuk ke saku celana, lalu berhenti beberapa detik di sana seolah sedang memastikan jumlah uang yang dibawanya. Senyum kecil masih terlihat di wajahnya, tetapi kali ini tidak ada candaan ataupun jawaban panjang seperti biasanya.

“Oke, gua setuju,” katanya akhirnya.

Kalimatnya terdengar biasa bagi Evan, Julian, dan Nayan. Namun, Satrya sudah mengenal Adrian cukup lama untuk menyadari cara jawabnya berbeda. Sepuluh ribu rupiah hampir sama dengan uang jajan Adrian selama empat hari, sehingga persetujuan singkat itu kemungkinan sudah diikuti perhitungan mengenai berapa kali dia harus melewati kantin tanpa membeli apa pun. 

Evan mulai mengeluarkan dompet dan mengumpulkan uang mereka. Satrya tiba - tiba langsung menyodorkan dua lembar sepuluh ribuan kepada Evan.

“Ini gua sama Put, Van.” ucapnya sambil memberikan uang kepada Evan

Adrian langsung menoleh. “Sat—”

“Berarti sekarang bisa langsung masuk, Mas?” tanya Satrya kepada penjaga studio sebelum Adrian sempat melanjutkan.

“Bisa dong, tapi bayarnya nanti pas udah selesai aja.” jawab penjaga studio tersebut. 

Penjaga studio itu lalu mengambil sebuah kunci yang tergantung di belakang meja. Satrya langsung mengikutinya menuju lorong tanpa melihat kembali ke arah Adrian. Mereka sudah berteman cukup lama untuk memahami bahwa beberapa hal justru akan terasa lebih berat jika dibicarakan di depan orang lain. 

Pintu ruang dua dibuka dengan suara engsel yang sedikit berderit. Bau karpet lama dan udara dingin dari pendingin ruangan menyambut mereka ketika lampunya dinyalakan. Dindingnya dilapisi peredam berbentuk kotak-kotak, sedangkan kabel hitam menjalar dari beberapa ampli menuju bagian tengah ruangan. 

Perangkat drum diletakkan di sudut belakang. Susunannya sederhana, terdiri dari satu bass drum, snare, satu tom-tom di bagian atas, satu floor tom di samping, hi-hat, crash, dan ride. Di sisi lain terdapat dua gitar listrik, satu bass, dua mikrofon dengan penyangganya, serta beberapa ampli berukuran berbeda. 

Mereka berhenti beberapa saat di ambang pintu. Ruangan itu tidak memiliki panggung ataupun lampu berwarna seperti tempat pertunjukan, tetapi tetap terasa berbeda dari semua ruang yang pernah mereka gunakan untuk berkumpul. Untuk pertama kalinya, alat-alat yang selama ini hanya mereka bicarakan benar-benar berada di depan mata.

Julian masuk paling dahulu. Langkahnya berhenti di depan perangkat drum, sedangkan pandangannya bergerak dari dua pedal di bawah hingga simbal-simbal yang mengelilingi kursi.

“Buset,” gumamnya. “Gua mulai dari mana ini?”

“Duduknya dulu yang benar,” jawab Satrya.

Julian menarik kursi drum, lalu duduk terlalu dekat sampai kedua lututnya hampir menyentuh snare. Satrya menyuruhnya mundur sedikit agar kakinya bisa mencapai pedal dengan lebih nyaman.

Nayan sudah membuka buku catatannya. Dia berdiri di samping Julian sambil memperhatikan perangkat drum dari atas sampai bawah.

“Yang diinjak ada dua?” tanyanya.

Satrya menunjuk pedal di sebelah kanan. “Yang itu buat mukul bass drum.”

“Yang kiri?” tanya Nayan kembali.

“Buat buka-tutup hi-hat.”

Nayan melihat dua simbal kecil yang saling bertumpuk di sisi kiri Julian. “Itu namanya hi-hat?”

Satrya mengangguk. Nayan segera menuliskannya, kemudian bertanya tentang snare, tom, floor tom, crash, dan ride. Satrya menjawab satu per satu sambil menunjuk bagian yang dimaksud, sedangkan Julian mengikuti arah jarinya seperti sedang berusaha menghafalkan seluruh nama dalam satu waktu.

Lihat selengkapnya