Resonansi

maulanasw
Chapter #6

Selera

Pelajaran Seni Budaya kembali tiba satu minggu setelah pembagian kelompok. Bu Ratna, guru yang memberi mereka tugas satu tahun itu masuk ke dalam kelas sambil membawa sebuah map berwarna merah yang berisikan beberapa lembar kertas, dia kemudian meletakan map itu di atas meja guru dan meminta seluruh kelas untuk tenang.

“Sebelum masuk materi pelajaran hari ini, Ibu mau cek sejauh mana perkembangan tugas kelompok kalian” ucap Bu Ratna sambil membuka mapnya. 

Suasana kelas yang tadinya tenang kembali dipenuhi bisikan. Beberapa kelompok tampak langsung berdiskusi karena ternyata ada yang memang belum bisa memberikan perkembangan apa - apa. Satrya menoleh ke arah Evan yang membalas tatapan Satrya dengan jempol dan senyum khasnya seolah memberi tahu agar Satrya percaya saja dengan dirinya dalam menjelaskan perkembangan kelompoknya.

Bu Ratna memanggil kelompok berdasarkan nomor urut. Kelompok pertama memilih formasi vokal dengan dua gitar akustik, meskipun mereka masih memperdebatkan siapa yang harus menyanyi paling banyak. Kelompok berikutnya ingin membuat pertunjukan musik menggunakan pianika, gitar, dan beberapa alat perkusi sederhana yang tersedia di sekolah.

Ada pula kelompok yang sudah menentukan lagu, tetapi belum menemukan siapa yang bersedia menjadi vokalis. Ketika Bu Ratna menanyakan alasannya, salah satu anggotanya mengaku bahwa semua orang di kelompok mereka hanya berani bernyanyi jika suaranya tertutup oleh suara teman lain.

“Justru itu gunanya latihan,” jawab Bu Ratna sambil tersenyum tipis yang disambut gelak tawa dari seluruh murid kelas . “Kalian tidak harus menjadi penyanyi profesional. Yang Ibu nilai adalah usaha, kekompakan, dan bagaimana kalian menyusun pertunjukannya.” 

Akhirnya kelompok enam dipanggil dan Evan langsung berdiri tanpa terlihat gugup, lalu merapikan bagian bawah seragamnya sebelum mulai menjelaskan. 

“Kelompok kami mau bikin band, Bu,” ucap Evan.

Bu Ratna mengangkat wajah dari lembar catatannya. “Formasinya?”

“Saya vokal, Satrya dan Adrian gitar, untuk yang lain masih dicari alat musiknya, bu.” ucap Evan dengan percaya diri.

Julian yang duduk di belakang langsung menyela dengan suara agak sedikit besar, tetapi cukup terdengar oleh beberapa murid di sekitarnya. “Calon drummer.” ucapnya dengan percaya diri.

Evan menahan tawa sebelum melanjutkan. “Iya, Julian calon drummer kita, Bu.”

“Kenapa kok masih dibilang calon?” tanya Bu Ratna terheran - heran.

“Belum pernah pegang drum beneran, Bu,” jawab Julian dari tempat duduknya.

Beberapa murid kembali tertawa. Julian hanya tersenyum lebar, seolah pengakuan itu bukan sesuatu yang perlu membuatnya malu.

Bu Ratna menuliskan sesuatu di lembar penilaiannya. “Tidak masalah kalau belum bisa. Waktu kalian masih panjang, tetapi jangan dijadikan alasan untuk menunda mulai latihan.”

“Siap, Bu,” jawab Julian penuh semangat.

“Lagunya sudah ditentukan?” tanya Bu Ratna lagi.

Evan sempat menoleh kepada Satrya, Adrian, Nayan, dan Julian secara bergantian. Mereka memang sudah berjanji menyiapkan lagu masing-masing, tetapi belum ada satu pun yang benar-benar disepakati untuk dibawakan.

“Belum, Bu,” jawab Evan akhirnya. “Kami baru mau saling dengerin pilihan lagu masing-masing.”

“Bagus. Minggu depan setidaknya sudah ada satu atau dua pilihan,” ujar Bu Ratna. 

“Jangan hanya memilih karena lagunya sedang terkenal. Pertimbangkan juga kemampuan kalian dan alat yang tersedia.” lanjutnya.

Evan mengangguk sebelum duduk kembali. Bu Ratna melanjutkan pemeriksaan ke kelompok berikutnya tanpa memberikan usulan lagu atau ikut mengatur lebih jauh. Bagi Satrya, itu justru terasa lebih nyaman. Tugas tersebut memang berasal dari Bu Ratna, tetapi apa yang akan mereka lakukan setelahnya sepenuhnya menjadi urusan mereka.

Pelajaran dilanjutkan dengan materi mengenai unsur-unsur dasar pertunjukan musik. Bu Ratna menjelaskan tentang kekompakan, pembagian peran, dan pentingnya mendengarkan tempo atau timing pemain lain. Satrya mencatat sebagian penjelasannya, meskipun pikirannya beberapa kali kembali kepada lagu yang sudah disiapkannya sejak malam sebelumnya.

Dia belum tahu apakah anggota lain akan menyukai lagu yang dia bawa. Bahkan jika mereka menyukainya, Satrya juga belum yakin lagu tersebut cocok dimainkan oleh lima anak yang baru membagi peran seminggu lalu, yang dimana juga belum terlalu ahli dalam memainkan alat musik

Bel pergantian pelajaran akhirnya berbunyi. Bu Ratna menutup mapnya, lalu meninggalkan kelas setelah mengingatkan mereka untuk tidak menunggu sampai mendekati akhir semester. Beberapa murid langsung kembali membicarakan pilihan lagu kelompok masing-masing, membuat kelas terasa lebih ramai daripada biasanya. 

Saat jeda antara pelajaran ini lah para murid diperbolehkan menggunakan handphonenya, pada saat ini juga Evan mengirim SMS kepada Satrya, Adrian, Nayan, dan Julian yang berisikan pesan.

Sepulang sekolah, kita kumpul dulu di kelas ya, kita dengerin lagu sama - sama

Jam pelajaran berikutnya berjalan lebih lambat daripada biasanya. Julian beberapa kali menoleh ke arah jam dinding, sementara Evan terlihat lebih sering memastikan tasnya masih berada di bawah meja. Satrya sendiri berusaha tetap memperhatikan guru, tetapi sesekali pikirannya melompat kepada lagu-lagu yang mungkin dibawa teman-temannya.

Ketika bel pulang akhirnya berbunyi, sebagian besar murid langsung meninggalkan kelas. Mereka berlima sengaja menunggu sampai suasana lebih sepi, kemudian memindahkan kursi mendekati meja Evan. Cahaya sore masuk dari deretan jendela, membuat debu-debu kecil terlihat melayang di udara.

Evan mengeluarkan sebuah laptop tebal berwarna hitam dari tasnya. Permukaannya dipenuhi beberapa bekas goresan, sedangkan kabel pengisi dayanya digulung asal dan diikat dengan karet gelang. Julian langsung mencondongkan tubuh ketika Evan menekan tombol daya. 

“Lama banget nyalanya Van,” komentar Julian setelah menunggu beberapa detik tampilan tidak kunjung berubah.

“Baru juga gw teken tombolnya Jul, buru - buru amatt.” balas Evan sambil mencoba mencolokan kabel pengisi daya ke lubang colokan di kelas. 

Setelah hampir 30 detik layar laptop berwarna hitam, layar akhirnya berubah menjadi berwarna diiringi suara pembuka sistem operasi yang terdengar sedikit pecah yang keluar dari speaker bawaan laptop. Tidak terlalu keras dan sedikit pecah, tetapi cukup untuk memenuhi ruang kelas yang sudah hampir kosong. Evan menekan tombol buka pada pemutar musik yang ada di laptopnya, lalu memandang teman-temannya satu per satu. 

“Siapa dulu nih yang mau didengerin?” tanya Evan

Adrian langsung menunjuk Satrya. “Dia aja dulu, Van.”

Satrya menoleh. “Kenapa gue?”

Adrian langsung membalas dengan nada bercanda “Soalnya dari tadi pelajaran lu kaya udah ga sabar pengen nunjukin lagu yang lu bawa kan ke kita semua?”

Satrya menghela napas kecil, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah CD yang disimpan di dalam sampul plastik bening. Sampulnya sudah memiliki beberapa goresan, sementara tulisan judul albumnya mulai sedikit memudar. 

Adrian yang mengenali CD itu langsung bergumam “Bener bener, kalo udah suka sama sesuatu gak bisa sedikit pun beralih ke yang lain sampai ada yang lebih baik.” 

Satrya hanya bisa membalas “Ini namanya konsisten berusaha sebelum berhasil” yang ditanggapi Adrian dengan tertawa kecil.

Evan menekan tombol kecil di sisi laptop. Tempat CD keluar dengan suara khas mekanisnya, membuat Julian langsung mendekatkan wajahnya karena penasaran. Satrya meletakkan CD tersebut dengan hati-hati, lalu Evan mendorong tempatnya kembali masuk.

Beberapa saat kemudian, daftar lagu muncul di layar laptop. 

“Yang mana?” tanya Evan sambil menggerakan cursor laptop menggunakan touchpad.

Satrya menunjuk salah satu judul. Evan kemudian mengklik dua kali pilihan lagu tersebut. Petikan gitar akustik dari intro lagu tersebut mulai terdengar melalui speaker laptop. Suaranya memang tidak terlalu jernih, tetapi cukup untuk membuat percakapan mereka berhenti. 

Adrian sudah sering mendengar lagu itu sebelum CD dia pinjamkan ke Satrya, sehingga dia hanya menganggukkan kepala pelan. Evan menyandarkan kedua tangannya ke meja sambil mendengarkan, sementara jari Julian mulai mengetuk pahanya mengikuti ketukan tamborin dan pola drum yang terdengar di belakang melodi dan rhythm gitar. Nayan tetap duduk tenang di ujung meja, matanya sesekali bergerak antara layar dan Satrya. 

“Ini yang sering lu mainin?” tanya Evan ketika vokalnya mulai masuk.

“Untuk saat ini sering, iya,” jawab Satrya.

Julian terus mengetukkan jarinya selama beberapa saat. Ketukannya cukup mudah diikuti, tetapi ekspresinya perlahan berubah seolah sedang menunggu lagu tersebut bergerak ke arah lain.

“Ketukannya enak,” komentar Julian. “Tapi dari tadi polanya kayak muter di situ terus, ya?”

Satrya menoleh kepadanya. “Memang begitu lagunya lebih fokus ke rythm gitarnya.”

“Bukan jelek,” lanjut Julian cepat merespon penjelasan Satrya. “Cuma kalau gue yang main, takutnya tangan gue malah jalan sendiri karena bosan.”

Adrian tertawa kecil. “Lu aja belum pernah main drum, udah mikirin improvisasi.”

“Makanya gue bilang takutnya.” ucap Julian berusaha menjelaskan.

Ketika bagian vokal mengulang kembali di pre-chorus Evan ikut bersenandung tanpa menyebutkan liriknya dengan jelas. Satrya sempat memperhatikannya. Evan belum mengenal lagu tersebut dengan baik, tetapi dia dapat mengikuti bentuk melodinya setelah beberapa kali mendengar pengulangan. Tak lama kemudian lagunya selesai.

“Enak, gua suka warna suaranya,” komentar Evan setelah lagu dihentikan sebelum selesai. “Cuma kalau dimainkan berlima untuk tugas akhir resikonya cukup besar Sat.” lanjut Evan kembali.

Satrya tidak langsung menjawab. Dia sendiri sudah memikirkan hal serupa. Lagu itu terdengar penuh dan bagus ketika diputar dari rekaman, tetapi jika dibawakan dengan kemampuan mereka saat ini apalagi secara langsung di depan orang banyak, belum tentu hasilnya akan sesuai. 

“Nah, sekarang siapa lagi? Kalau lu gimana Put, bawa kan CDnya?” tanya Evan sambil mengeluarkan CD Satrya.

“Bawa dong, nehhh mana mana gua masukin CD gua” ucap Adrian dengan antusias.

Evan tersenyum kecil melihat tingkah lagu Adrian yang sangat antusias itu sembari memasukan CD Adrian ke laptopnya. Tak lama kemudian daftar lagunya muncul kemudian Adrian menunjuk ke satu lagu yang memang ingin diputar, kemudian dia melirik Evan.

“Menurut gue lagu ini bakal cocok dibawain sama lu Van.” ucap Adrian tiba - tiba.

Evan hendak mengklik dua kali pada list lagu sempat berhenti sejenak dan terheran - heran atas pernyataan Adrian tersebut.

“Cocok sama vokal gue?” tanya Evan.

“Iya, cocok deh.” jawab Adrian.

“Kok bisa? Kan lu sendiri belum pernah denger gua nyanyi?” tanya Evan kembali.

“Ya... cocok aja buat lu menurut gua Van, pertama gua denger lagu ini gua malah ngebayangin lu nyanyi ini di panggung terus penonton pada terkesima sampe nangis nangis dehh.” jawab Adrian sedikit mendramatisir argumennya.

Lihat selengkapnya