Mereka baru saja menuruni tangga studio ketika Evan mengusulkan agar latihan berikutnya dilakukan pada Minggu depan. Semangatnya belum berkurang meskipun selama satu jam dia bahkan belum menyanyikan satu bagian pun dari lagu yang mereka pilih. Julian langsung menyambut usulan itu, sementara Nayan justru berhenti di anak tangga terakhir dan membuka kembali buku catatannya.
“Kalau tiap Minggu biayanya lima puluh ribu, sebulan jadi dua ratus ribu,” ujar Nayan.
Julian yang sedang mengambil kunci sepedanya menoleh. “Kalau dibagi lima cuma empat puluh ribu seorang.”
“Empat puluh ribu tetap uang,” jawab Nayan datar.
Evan memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu memandang Satrya seolah menunggu pendapatnya. Adrian berdiri di samping sepeda tanpa memberikan komentar, hanya membetulkan posisi tas yang menggantung di bahunya. Satrya sempat meliriknya, kemudian teringat dua lembar uang yang diserahkannya kepada Evan sebelum mereka masuk studio tadi.
Menurut gua,” ujar Satrya akhirnya, “Studio sebulan sekali aja.”
Julian langsung mengangkat wajah menandakan dia kurang setuju. “Hah, lama banget.”
“Kalau tiap masuk studio lu masih belajar gerakin tangan sama kaki, sejam bakal habis kayak tadi,” jawab Satrya. “Studio dipakai buat nyatuin permainan, bukan belajar semuanya dari awal.” tegasnya.
“Terus tiga minggu lainnya kita ngapain?” tanya Evan.
“Latihan bagian masing-masing.” ucap Satrya.
Julian memandang tangga menuju studio yang baru saja mereka tinggalkan. “Gua latihan drum pakai apa?” tanya Julian.
“Paha, meja, bantal, apa aja yang bisa dipukul, lakuin sambil duduk di kursi.” ucap Satrya
“Bantal enggak ngeluarin bunyi kali Sat.” sanggah Julian.
“Yang dilatih gerakannya, bukan masalah bunyinya, itu dulu aja.” balas Satrya sekali lagi.
Adrian tertawa kecil, sedangkan Julian masih terlihat belum puas dengan jawaban tersebut. Namun, tidak ada pilihan lain yang lebih masuk akal. Mereka akhirnya sepakat kembali ke studio pada Minggu pertama bulan berikutnya, memberi masing-masing waktu hampir tiga minggu untuk berlatih sebelum mencoba bermain bersama lagi.
Saat mereka bersiap pulang, Satrya membagi hal-hal sederhana yang perlu dilatih. Julian diminta mengulang empat ketukan dengan jarak yang sama sambil menggerakkan kaki kanan pada hitungan satu dan tiga. Adrian harus menghafalkan letak nada dasar menggunakan empat senar paling tebal gitarnya, sedangkan Nayan perlu membiasakan perpindahan chord tanpa terlebih dahulu memikirkan kecepatan.
Evan tampak paling santai ketika gilirannya disebut.
“Gua tinggal hafalin lagunya, kan?” tanyanya dengan santai.
“Lu sudah hafal kan sebenarnya,” jawab Satrya.
“Terus?” tanya Evan kembali.
“Coba latihan nyanyi tanpa ngikutin suara penyanyi aslinya.” ucap Satrya
Evan mengerutkan kening. “Bedanya apa?” tanyanya.
“Nanti juga tahu.” ucap Satrya.
Jawaban itu membuat Evan belum sepenuhnya paham, tetapi dia tidak memperpanjang pertanyaan. Mereka kemudian berpisah di depan pasar, masing-masing mengayuh sepeda ke arah rumahnya. Adrian tetap berada di sebelah Satrya sampai jalan mereka mendekati persimpangan yang biasa dilewati sejak sekolah dasar.
“Sat,” panggil Adrian.
Satrya menoleh sebentar. “Apa?”
“Soal uang studio tadi—”
“Udah nanti aja bayarnya,” potong Satrya.
Adrian terdiam sesaat. “Lah, berarti sama aja gua ngutang dong.” ucapnya.
“Makanya jangan lupa.” sanggah Satrya kembali.
Satrya mempercepat kayuhannya sebelum Adrian sempat melanjutkan. Dari belakang terdengar suara Adrian mengeluh bahwa dirinya belum pernah menyetujui kesepakatan tersebut, tetapi nada bicaranya sudah kembali lebih ringan daripada ketika berada di ruang tunggu studio.
***
Sabtu berikutnya, Adrian datang ke rumah Satrya setelah makan siang dengan gitar di punggungnya. Nayan menyusul sekitar lima belas menit kemudian, membawa buku catatan dan botol minum di dalam tas. Ini menjadi pertama kalinya mereka bertiga berkumpul di luar sekolah tanpa Evan ataupun Julian.
Mereka berlatih di ruang tengah karena teras terlalu panas. Televisi dimatikan, meja kecil digeser ke samping, lalu Satrya mengambil gitar akustiknya dari kamar. Adrian duduk di lantai sambil membuka tas gitar, sedangkan Nayan masih berdiri dan memperhatikan dua instrumen yang kini berada di hadapannya.
“Lu pakai gitar gua aja, Nay,” ujar Adrian sambil menyerahkannya. “Gua bisa latihan pakai punya Satrya gantian.” lanjutnya sambil menunjuk gitar Satrya.
Nayan menerima gitar itu dengan hati-hati. “Kalau kamu mau latihan bareng Satrya gimana?” tanyanya.
“Makanya gantian.” jawab Adrian.
Satrya duduk berhadapan dengan Nayan, kemudian kembali memperlihatkan bentuk chord C dan G yang sudah mereka pelajari di studio. Nayan masih mengingat letak sebagian besar jarinya, tetapi posisi pergelangan tangannya kembali terlalu rendah hingga beberapa senar tidak berbunyi dengan jelas.
“Pergelangan lu majuin sedikit,” ujar Satrya.
Nayan mengikuti arahannya, lalu menyapu senar menggunakan ibu jari. Bunyinya masih belum bersih, tetapi lebih jelas daripada percobaan pertamanya di studio.
“Sekarang pindah ke G.” ujar Satrya kembali.
Nayan melepaskan seluruh jarinya, lalu menyusunnya kembali satu per satu. Prosesnya memakan waktu cukup lama hingga Adrian sempat memetik beberapa nada menggunakan gitar Satrya sebelum chord tersebut akhirnya terbentuk.
“Sudah,” ucap Nayan.
Satrya melihat posisi jarinya. “Jari telunjuknya kurang naik.”
Nayan memperbaikinya, kemudian kembali membunyikan senar. Dia mengangguk kecil tanda bahwa dia paham dia sudah benar dalam memainkan chord tersebut.
“Tapi pindahnya lama.” ucap Nayan.
“Baru seminggu,” jawab Adrian. “Kalau langsung cepat, Satrya yang harus malu.”