Resonansi

maulanasw
Chapter #9

Menyatukan

Memasuki minggu keempat setelah latihan pertama di studio, kebiasaan-kebiasaan kecil mulai muncul di sekitar mereka. Julian semakin sering mengetukkan pensil ke meja, Evan membawa lembar lirik yang sudah penuh tanda, sedangkan Nayan beberapa kali terlihat menggambar bentuk chord di sisi halaman catatannya. Bahkan Adrian mulai terbiasa menggerakkan jari telunjuk dan tengah secara bergantian di atas meja, meniru cara memetik bass yang baru sekali dia pegang saat latihan studio pertama. 

Pada Jumat pagi, Pak Mulyadi, guru IPA, sedang menjelaskan teori mengenai sifat benda cair di depan kelas ketika bunyi ketukan kecil terdengar dari barisan belakang.

Tik. Tik. Tik. Tik.

Satrya tidak perlu menoleh untuk mengetahui sumbernya. Bunyi tersebut sempat berhenti, kemudian muncul kembali dengan jarak yang lebih pelan.

Tik. Tik. Tik. Tik.

“Julian,” panggil Pak Mulyadi tanpa membalikkan badan.

Ketukan itu langsung berhenti.

“Iya, Pak?” tanya Julian sedikit kaget.

“Kalau mejanya sudah bisa bermain drum, nanti didaftarkan juga sebagai anggota kelompok.” ucap Pak Mulyadi tanpa sedikit pun membalikkan badan.

Beberapa murid tertawa kecil. Julian menyimpan pensilnya di atas buku, lalu menegakkan duduk dengan ekspresi seolah tidak pernah melakukan apa pun.

“Maaf, Pak. Refleks.” ucapnya.

Evan yang duduk di depannya menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawa, sementara Nayan hanya melirik sekilas sebelum kembali menulis. Satrya sendiri menahan senyum, tetapi di balik candaan tersebut dia menyadari ketukan Julian sudah tidak lagi berubah semakin cepat seperti beberapa minggu lalu.

Saat jam istirahat tiba, Nayan mendatangi meja Satrya dengan buku catatan di tangannya. Adrian yang sudah berdiri dan hendak mengajak Satrya ke kantin ikut mencondongkan tubuh ketika melihat beberapa nama gitar ditulis berdampingan dengan angka harga. 

“Ini apaan, Nay?” tanya Adrian.

“Gitar.” jawab Nayan singkat

“Gua tahu itu gitar Nayyy. Maksud gua, kenapa banyak banget??” balas Adrian.

Nayan meletakkan bukunya di atas meja Satrya. Sebagian nama yang ditulis tidak mereka kenal, tetapi di sebelahnya terdapat keterangan mengenai harga, ukuran, dan jenis senar yang tampaknya disalin dari sebuah katalog. 

“Yang ini terlalu murah?” tanya Nayan sambil menunjuk salah satu baris.

Satrya membaca angkanya, lalu mengangkat bahu. “Belum tentu jelek cuma karena murah.” ucapnya mencoba menjelaskan.

“Kalau yang lebih mahal pasti lebih bagus?” tanya Nayan kembali.

“Belum tentu juga.” jawab Satrya kembali.

Nayan mengerutkan kening. “Terus cara milihnya gimana?” tanyanya.

“Harus dicoba langsung Nay.” jawab Satrya

“Aku belum bisa main.” balas Nayan mencoba mengingatkan Satrya bahwa dia memang belum dikatakan bisa bermain gitar.

“Enggak harus main satu lagu. Pegang dulu, cek senarnya terlalu tinggi atau enggak, lehernya nyaman, terus dengar bunyinya.” ucap Satrya.

Nayan melihat kembali daftar yang dibuatnya. Informasi yang sudah dia kumpulkan ternyata belum menghasilkan jawaban pasti, ini sesuatu yang tampaknya sedikit mengganggunya.

“Berarti daftar ini kurang berguna,” gumamnya.

“Berguna buat tahu kisaran harga,” jawab Satrya. “Tapi jangan langsung beli dari daftar.” lanjutnya lagi.

Adrian mencondongkan tubuh untuk membaca salah satu harga, lalu bersiul pelan.

“Kalau yang ini dibeli, gua harus enggak jajan sampai lulus.” celotehnya.

“Makanya bukan buat lu,” balas Satrya.

Nayan menutup bukunya kembali. Dia belum mengatakan sudah meminta izin kepada orang tuanya atau benar-benar akan membeli gitar dalam waktu dekat, tetapi cara dia mencatat semua pilihan membuat Satrya tahu pertanyaan minggu lalu bukan sekadar rasa penasaran.

Bel masuk berbunyi sebelum percakapan itu berlanjut. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, menyimpan daftar harga gitar, ketukan, dan semua hasil latihan kecil yang selama tiga minggu terakhir mereka lakukan di luar studio. 

Dua hari lagi, semuanya akan diuji dalam satu ruangan.

***

Minggu pagi, Satrya dan Adrian kembali mengayuh sepeda bersama - sama menuju pasar. Jalanan sudah cukup ramai meskipun sebagian toko baru membuka pintunya, sedangkan pedagang makanan di sekitar trotoar mulai melayani pembeli yang datang setelah berbelanja. Adrian membawa gitar miliknya di punggungnya walaupun dia tahu alat itu tidak akan digunakan di studio.

Satrya sempat melirik tas gitar tersebut ketika mereka berhenti di lampu merah.

“Ngapain dibawa Put?” tanya Satrya 

“Biar nanti kalau pulang langsung latihan di rumah lu.” jawab Adrian

“Lu enggak capek? Kemarin kan kita baru latihan bareng Nayan.” tanya Satrya kembali.

“Kan gitarnya yang gua gendong, bukan bass studionya.” jawab Adrian dengan santai.

Satrya tidak menanggapi lagi. Beberapa detik kemudian lampu berubah hijau, dan mereka kembali mengayuh sampai tiba di depan warung tempat mereka biasa menunggu sebelum bersama - sama ke studio.

Nayan sudah berdiri di sana bersama sepedanya. Buku catatan masih terlihat dari celah tas yang tidak tertutup sempurna, sedangkan Evan tiba beberapa menit kemudian dengan lembar lirik yang dilipat dan dimasukkan ke saku celana.

Julian menjadi orang terakhir yang datang. Sepasang stik drum mencuat dari tas kecil yang tergantung di bahunya.

Evan menunjuk tas tersebut.

“Loh, bukannya stik drum di studio ada, Jul.” tanya Evan.

“Yang ini sudah cocok sama tangan gua.” jawab Julian sambil mengangkat wajahnya.

“Baru beberapa minggu udah punya stik andalan aja lu.” respon Evan.

“Pemain bagus harus kenal alatnya.” jawab Julian kembali seperti membanggakan stik drum miliknya.

Adrian menahan tawa. “Main bagusnya belakangan, yang penting gaya dulu.” celotehnya dari belakang.

Julian tidak tersinggung. Dia justru mengeluarkan salah satu stik dan memutarnya di antara jari, tetapi benda itu hampir terlepas dan jatuh ke jalan.

“Bagus,” komentar Nayan. “Sudah sangat menyatu.” ucap Nayan sedikit sarkas.

“Anginnya kencang,” dalih Julian sambil memasukkan stiknya kembali.

“Enggak ada angin ah,” balas Evan yang disambut cekikan tawa dari Adrian.

Julian memilih menaiki sepedanya kembali dan mengarahkan mereka menuju tempat parkir. Tidak sampai lima menit kemudian, kelimanya sudah berdiri di depan tangga sempit menuju studio yang sama. Berbeda dari kunjungan pertama, tidak ada seorang pun yang berhenti untuk memastikan papan namanya atau mendengarkan suara alat musik dari lantai atas. Mereka langsung mengunci sepeda, kemudian menaiki tangga satu per satu dengan langkah yang lebih yakin.

Penjaga yang sama masih duduk di belakang meja administrasi studio tersebut. Kali ini dia sedang membetulkan posisi kaset pada radio kecil di sebelahnya, lalu mengangkat wajah ketika Evan mendekat.

“Mas, ada ruangan studio yang kosong?” tanya Evan.

Penjaga studio memeriksa buku jadwal. “Ada nih ruang dua kosong. Kalian yang bulan lalu itu, kan?” tanyanya lagi.

“Iya, Mas.” jawab Evan.

“Bisa langsung masuk kebetulan belum sempat dikunci. Bayarnya nanti seperti kemarin.” ucapnya sambil menunjuk ke arah ruang studio dua.

Evan mengangguk, lalu mulai mengumpulkan uang dari teman-temannya sebelum mereka memasuki ruangan. Julian dan Nayan menyerahkan bagian masing-masing lebih dahulu, sementara Adrian tiba-tiba mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan.

“Ini gua sama Sat.” ucapnya sambil menyodorkan uang tersebut ke Evan.

Satrya menoleh kepadanya. “Gua bawa sendiri Put, ngapain–.” ucapnya pelan

“Iya, sekarang gua bayar bagian lu. Berarti impas.” ucap Adrian memotong ucapan Satrya.

Satrya hendak membantah, tetapi Adrian sudah menyerahkan uang itu kepada Evan dan mengalihkan pandangan ke poster di dinding. Cara tersebut jelas sengaja dipilih agar pembicaraan tidak berlangsung lebih lama.

Satrya akhirnya tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. Adrian mungkin harus menyisihkan uang jajannya selama beberapa minggu untuk membayar dua bagian tersebut, tetapi menolaknya di depan yang lain justru akan membuat usahanya terasa tidak berarti.

Mereka kemudian berjalan ke arah ruang studio dua, pintu ruang studio yang sebelumnya terasa seperti jalan menuju tempat asing kini dibuka tanpa membuat mereka berhenti lama di ambangnya. Julian langsung menuju drum, Adrian menyimpan tas gitar miliknya di dekat pintu dan mengambil bass yang disediakan oleh studio, sedangkan Evan mengatur tinggi penyangga mikrofon sampai sejajar dengan mulutnya.

Nayan menerima salah satu gitar listrik dari Satrya. Dia tidak lagi bertanya bagaimana memegangnya, tetapi tetap menyesuaikan posisi duduk beberapa kali karena tubuh gitar tersebut terasa berbeda dari gitar akustik Adrian.

Satrya mengambil gitar yang tersisa, lalu memeriksa kabel dan volume ampli. Tidak ada keyboard seperti sebelumnya. Dentingan pembuka dalam lagu yang mereka pilih masih harus digantikan oleh pola petikan gitar yang sudah dia susun selama tiga minggu terakhir.

“Target hari ini apa?” tanya Evan sambil memegang mikrofon.

Intro sampai bait pertama,” jawab Satrya.

Julian yang sedang mengatur posisi kursinya langsung menoleh. “Cuma segitu?” tanyanya.

“Kalau bisa lewat tanpa berhenti, baru lanjut.” jawab Satrya

“Gua yakin bisa sampai reff.” balas Julian dengan percaya diri.

“Duduknya aja tadi masih lu atur tiga kali.” balas Satrya.

“Biar nyaman aja Sat.” ucap Julian berusaha berdalih dari kenyataan memang dia tadi masih sulit mengatur tempat duduknya. 

Satrya tidak membalas lagi. Dia membiarkan Julian memasang posisi pedal, lalu memperhatikan ketika temannya mulai memukul hi-hat dengan pola empat ketukan.

Tik. Tik. Tik. Tik.

Jaraknya lebih rata dibandingkan latihan pertama. Julian kemudian menambahkan bass drum pada hitungan satu dan tiga. Dua putaran awal berjalan cukup baik, meskipun pukulan setelah injakan kedua masih sedikit bergerak lebih cepat.

“Lebih rata,” komentar Satrya.

Julian langsung tersenyum. “Tuh, kan.” ucapnya bangga.

“Tapi kalau pas bass drum masuk, dua ketukan terakhir masih lari.”

Senyum Julian berkurang. “Pujian lu umurnya pendek banget.” ucap Julian.

“Lu latihan pakai meja terus?” tanya Satrya penasaran dengan kemajuan Julian.

“Enggak. Di rumah ada drum kecil punya bokap.” jawab Julian.

“Drum kecil?” tanya Satrya

“Yang pakai pad karet gitu sama pedal. Suaranya keluar dari speaker.” jawab Julian

“Drum elektronik itu namanya” ujar Nayan tiba - tiba dari tempat duduknya.

“Kayaknya.” balas Julian sedikit kurang paham penamaan alat tersebut.

Mimik wajah Evan yang tidak menunjukkan rasa terkejut membuat Satrya langsung memahami bahwa dia sudah mendengar cerita tersebut sebelumnya. 

“Pantes sekarang lebih rata,” kata Satrya. “Tapi posisi drumnya beda sama di sini, jadi jangan terlalu ngandelin gerakan yang sama.” lanjutnya lagi.

Julian mengangguk, kemudian mencoba lagi. Kali ini dia lebih banyak memperhatikan jarak pukulannya daripada kerasnya suara yang dihasilkan.

Di sisi lain ruangan, Adrian mulai menghubungkan bass ke ampli. Dia mencoba mencari nada dasar yang sudah dihafalnya menggunakan empat senar paling tebal gitar di rumah, kemudian melihat beberapa pick yang diletakkan di atas ampli.

Adrian mengambil salah satunya.

“Sat, bass boleh pakai pick, kan?” tanyanya.

“Boleh,” jawab Satrya. “Ada pemain bass yang pakai pick, sepupu gua yang pemain bass juga kadang pake pick.” ucapnya.

Lihat selengkapnya