Resonansi

Lana
Chapter #10

Milik Sendiri

Dua hari setelah latihan studio kedua, Nayan menghampiri meja Satrya sebelum pelajaran pertama dimulai. Buku catatannya sudah terbuka pada halaman yang sebelumnya berisi daftar harga gitar, tetapi sebagian besar nama dan angka di sana kini dicoret atau diberi tanda tanya. Adrian yang duduk di sebelah Satrya ikut mencondongkan tubuh, meskipun awalnya dia hanya berniat mengambil penghapus dari dalam laci.

“Ayah sama ibu sudah mengizinkan aku beli gitar,” ucap Nayan.

Adrian langsung melihat kearah Nayan.

“Serius, Nay?” tanyanya.

Nayan mengangguk singkat.

“Terus kapan belinya?” tanya Adrian lagi.

“Belum tahu.” jawab Nayan.

Adrian mengerutkan kening, lalu melihat daftar yang masih penuh coretan tersebut.

“Lah, udah dibolehin kok malah belum tahu?” tanyanya lagi.

“Aku kan belum bisa memilih gitarnya.” jawab Nayan.

Nayan kemudian melihat Satrya. Tatapannya tidak disertai permintaan apa pun, tetapi dia tidak menutup buku catatannya seperti biasanya, membuat Satrya memahami alasan anak itu datang ke meja mereka.

“Lu mau minta gua buat temenin lu ke toko musik ya?” tanya Satrya.

“Iya,” jawab Nayan.

“Gua ikut,” sahut Adrian cepat.

Nayan menoleh kepadanya.

“Aku belum mengajak kamu.” ucap Nayan dengan mimik wajah datar.

“Sekarang ajak makanya,” balas Adrian sambil tertawa kecil.

Nayan diam selama beberapa detik seolah benar-benar mempertimbangkan apakah kehadiran Adrian akan membantu proses pemilihan gitar. Satrya menahan senyum melihat wajah seriusnya, sementara Adrian hanya menunggu tanpa merasa perlu meyakinkan lebih jauh.

“Aku enggak keberatan,” jawab Nayan akhirnya.

Adrian langsung menepuk meja dengan telapak tangannya.

“Berarti Sabtu kita beli gitar, oke?” ucap Adrian langsung.

“Gua belum bilang bisa hari Sabtu buat beli gitarnya,” sanggah Satrya.

“Sabtu kita kan memang biasa latihan, Sat. Tinggal beli gitar sebelum latihan, beres.” ucap Adrian.

“Itu bukan berarti lu bisa mutusin sendiri, kan yang mau beli gitarnya bukan lu.” sanggah Satrya kembali.

Nayan kembali memandang Satrya.

“Sabtu kamu bisa?” tanyanya.

Satrya mengangguk.

“Bisa.” ucap Satrya.

“Berarti sudah diputuskan, kita beli gitar terus latihan deh” kata Adrian dengan puas.

Bel masuk berbunyi sebelum Satrya sempat membalas. Nayan sudah menutup bukunya dan kembali ke tempat duduk, sedangkan Adrian masih terlihat lebih bersemangat daripada orang yang sebenarnya akan membeli gitar.

***

Malam sebelumnya, Nayan membawa katalog dan buku catatannya ke meja makan setelah ibunya selesai membereskan piring. Selama beberapa hari terakhir, halaman-halaman itu sudah dipenuhi harga, ukuran gitar, jenis senar, serta beberapa keterangan yang disalin dari brosur. Namun, semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin sulit baginya menentukan pilihan.

Ayahnya duduk di seberang meja sambil membaca daftar tersebut. Ibunya menaruh tiga gelas air putih, kemudian mengambil tempat di samping Nayan tanpa ikut membuka percakapan lebih dahulu.

“Yang ini paling murah,” ucap Nayan sambil menunjuk salah satu baris. “Tapi murah belum tentu jelek.” lanjutnya lagi

“Benar,” jawab Ayahnya.

“Yang ini lebih mahal sedikit, katanya kayunya lebih bagus.” ucap Nayan sambil menunjuk ke baris yang lain

“Katanya siapa?” tanya Ayahnya.

“Di katalognya tertulis keunggulannya.” ucap Nayan.

Ayah Nayan melihat sampul katalog tersebut, lalu kembali membaca angka yang sudah ditulis anaknya.

“Kamu sudah pernah pegang dua-duanya?” tanyanya.

Nayan menggeleng.

“Belum.” jawabnya.

“Berarti kamu baru tahu sekedar dari gambar dan harganya.” ucap Ayahnya.

Nayan menarik kembali bukunya sedikit. Satrya juga pernah mengatakan bahwa daftar tersebut hanya berguna untuk mengetahui kisaran harga, bukan untuk menentukan gitar mana yang harus dibeli. Karena itu, dia sebenarnya sudah memperkirakan ayahnya akan menyuruhnya mencoba langsung, tetapi masih berharap orang tuanya dapat mempersempit pilihan yang tersisa.

“Ayah sama ibu mengizinkan aku beli gitar?” tanyanya.

Ayahnya menoleh kepada ibu Nayan sebelum mengangguk.

“Iya.” ucap Ayahnya singkat.

Nayan menunggu beberapa detik, tetapi tidak ada nama gitar atau batas pilihan yang disebutkan setelahnya.

“Yang mana?” tanyanya.

“Kamu sukanya yang mana?” Ayahnya balik bertanya.

“Aku belum tahu.” jawab Nayan sedikit menggelengkan kepalanya.

“Kalau belum tahu, jangan beli dari gambar.” ucap Ayahnya.

Nayan memandang ayahnya.

“Ayah enggak mau milihin?” tanya Nayan.

“Yang akan belajar kamu.” jawab Ayahnya singkat

“Tapi Ayah kan biasanya lebih tahu.” sanggah Nayan sedikit memaksa.

Ayahnya tersenyum tipis.

“Ayah cuma lebih tua dari Nayan. Ayah bahkan belum tentu bisa membedakan senar yang benar sama yang fals.” ucapnya lagi.

Ibunya tertawa kecil, sedangkan Nayan masih melihat daftar di depannya. Dia sempat mengira orang tuanya akan memeriksa pilihannya satu per satu, kemudian menentukan mana yang paling baik dan memberitahukan keputusan akhir kepadanya. Kenyataannya, izin yang dia dapatkan justru datang bersama tanggung jawab untuk memilih sendiri.

“Kamu mau gitar karena tugas sekolah atau memang ingin belajar?” tanya ibunya.

Nayan memikirkan jawabannya. Pada awalnya gitar memang hanya menjadi alat yang belum memiliki pemain dalam kelompok mereka, lalu Adrian memberikan tempatnya dan Satrya mulai mengajarinya beberapa bentuk chord. Namun, setelah beberapa kali latihan, bunyi senar yang dipetik satu per satu justru sering kembali teringat bahkan ketika dia tidak sedang memegang gitar.

“Dua-duanya,” jawab Nayan.

Ayahnya mengangguk.

“Itu alasan yang cukup.” ucapnya.

“Kalau nanti aku berhenti?” tanya Nayan lagi.

“Kalau kamu berhenti setelah benar-benar mencoba dan ternyata tidak suka, enggak masalah,” jawab ayahnya. “Tapi jangan berhenti sebelum kamu tahu.” lanjutnya lagi dengan nada sedikit tegas.

Nayan menatap halaman yang penuh coretan tersebut.

“Terus aku boleh pilih gitar yang mana?” tanyanya.

“Yang bisa kamu jelaskan kenapa kamu memilihnya.” jawab Ayahnya.

Jawaban itu belum sepenuhnya menenangkan Nayan. Dia justru merasa keputusan tersebut seperti ujian lain yang jawabannya sengaja disembunyikan, padahal orang tuanya mungkin sudah mengetahui pilihan yang paling benar. Ibunya memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya, lalu menyentuh lengan Nayan dengan pelan.

“Ayahmu bukan enggak peduli,” katanya. “Dia percaya kamu bisa memilih.” ucap Ibunya.

Nayan tidak segera menjawab.

Ayahnya mendorong katalog itu kembali ke arahnya.

“Kalau Ayah yang pilih, nanti itu gitar Ayah.” ucapnya lagi dengan singkat.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi masih teringat oleh Nayan ketika dia kembali ke kamar. Untuk pertama kalinya, dia memahami bahwa kebebasan memilih tidak selalu terasa seperti kemudahan. Kadang-kadang, kebebasan justru berarti tidak ada orang lain yang dapat disalahkan apabila pilihan tersebut ternyata keliru.

***

Sabtu siang, Satrya dan Adrian berhenti di depan rumah Nayan menggunakan sepeda. Gerbangnya dibuka beberapa menit kemudian, lalu Nayan keluar membawa tas kecil serta sebuah amplop cokelat yang disimpan di bagian terdalam. Ayahnya berjalan menyusul sampai dekat pagar dan memandang kedua teman anaknya secara bergantian.

“Ini Satrya dan Adrian?” tanyanya.

“Iya, Yah,” jawab Nayan.

Satrya dan Adrian menghampiri dan menyalami Ayah Nayan bergantian. Ayah Nayan melihat kepada mereka kemudian melihat tas kecil yang sudah dibawa anaknya.

“Tolong bantu Nayan memilih,” katanya kepada mereka.

Satrya baru hendak mengangguk ketika ayah Nayan kembali berbicara.

“Bukan pilihkan ya.” lanjutnya lagi.

Satrya memahami perbedaannya.

“Iya, Om.” ucap Satrya

Adrian juga mengangguk, meskipun sejak tiba di sana dia terlihat lebih bersemangat untuk mencoba gitar yang dipajang di toko daripada memikirkan cara membantu orang lain memilih.

“Kalau dia banyak tanya, jawab semampunya aja,” lanjut ayah Nayan.

Lihat selengkapnya