Menjelang jadwal latihan studio bulanan berikutnya, suara pukulan pendek terdengar berulang kali dari salah satu kamar di rumah Julian. Pad elektronik lama milik ayahnya diletakkan di atas meja rendah, sementara kedua stik di tangannya bergerak cepat dari satu bantalan ke bantalan lain. Pola yang dimainkan sebenarnya dimulai sederhana, tetapi tidak pernah bertahan lama karena tangan Julian selalu menemukan ruang untuk menambahkan pukulan baru.
Empat ketukan pertama terdengar cukup rata. Setelah itu, Julian memukul dua bantalan berbeda secara bergantian, menambahkan variasi yang menurutnya cocok, lalu mempercepat permainan tanpa sadar. Ketika tangannya terlambat kembali ke pola awal, dia berhenti dan tertawa kecil kepada dirinya sendiri.
“Hampir,” gumam Julian.
Dia memulai lagi dengan tempo yang sedikit lebih cepat. Kali ini pukulan tambahannya terdengar lebih ramai, tetapi urutan awalnya justru hilang lebih cepat daripada percobaan sebelumnya. Julian memutar salah satu stik di tangannya, gagal menangkapnya, lalu membungkuk untuk mengambil benda tersebut dari lantai.
“Kalau stiknya ikut kabur, berarti permainan gua sudah terlalu bagus.” gumamnya.
Kemudian terdengar sebuah suara menyahut dari depan pintu kamarnya.
“Orang yang bicara sendiri biasanya sedang mencari pembelaan.” ucap suara itu.
Suara tersebut membuat Julian langsung menoleh ke arah pintu. Di depan pintu berdiri seorang pria dengan kemeja kerja yang belum sempat diganti, satu tangan masih memegang tas, sedangkan tangan lainnya bersandar pada kusen. Wajahnya terlihat lelah, tetapi pandangannya tertahan pada pad elektronik di depan Julian.
“Papa sudah pulang?” tanya Julian.
“Kalau belum, berarti kamu sedang bicara dengan siapa?” celoteh ayahnya.
Julian tertawa kecil, lalu memutar kembali stik di antara jarinya.
“Aku lagi latihan, Pa.” ucapnya kembali.
Ayahnya masuk beberapa langkah dan meletakkan tas di dekat lemari. Permukaan pad elektronik itu sudah tidak sebersih ketika pertama kali dikeluarkan dari tempat penyimpanan, sebab Julian hampir memakainya setiap sore sejak latihan studio pertama. Beberapa tombolnya bahkan sudah ditempeli kertas kecil buatan Julian sendiri agar dia tidak lupa suara yang keluar dari setiap bagian.
“Pinjam sticknya sini.” pinta ayahnya sambil mengulurkan tangannya untuk meminjam stick drum yang digunakan Julian
Ayahnya duduk di tepi tempat tidur, kemudian mengetuk salah satu bantalan dengan tangan kanan. Pukulannya tidak keras dan tidak memiliki banyak variasi, tetapi jaraknya terasa sama sejak awal. Tangan kirinya ikut masuk beberapa ketukan kemudian, membentuk pola sederhana yang langsung dikenali Julian sebagai dasar permainan drum yang selama ini sedang dipelajarinya.
Julian memperhatikan tanpa mengeluarkan suara. Dia sudah tahu pad elektronik tersebut milik ayahnya, tetapi belum pernah benar-benar melihat ayahnya memainkan alat itu. Selama ini benda tersebut hanya menjadi barang lama yang disimpan karena tidak ada orang yang menggunakan, sampai Julian membutuhkannya untuk tugas kelompok.
“Dulu Papa punya drum juga?” tanya Julian.
“Ada, sebelum kamu lahir.” jawab ayahnya.
“Yang besar?” tanya Julian kembali.
Ayahnya mengangguk.
“Yang kalau dimainkan malam-malam bisa membuat tetangga datang ke rumah.” lanjutnya lagi.
“Kenapa sekarang cuma ada ini?” tanya Julian.
“Yang besar dijual waktu kita pindah. Ini lebih mudah disimpan.” jawab ayahnya.
Julian memandang gerakan stik ayahnya yang tetap teratur. Meski sudah lama berhenti bermain, nalurinya seolah belum benar-benar hilang.
“Kenapa Papa berhenti main?” tanya Julian penasaran
Ayahnya tidak langsung menjawab. Dia menyelesaikan satu putaran pola, lalu meletakkan ujung stik di atas pahanya.
“Kerja,” jawabnya. “Awalnya masih main kalau ada waktu. Lama-lama pulang sudah terlalu capek, hari libur juga tetap ada urusan.” lanjutnya lagi.
Nada bicaranya tidak terdengar menyesal atau sengaja dibuat berat. Dia hanya menyampaikan sesuatu yang perlahan terjadi, seperti kebiasaan lain yang akhirnya tersisih karena tidak lagi memiliki cukup ruang. Julian mengangguk kecil, meskipun matanya masih melihat stik yang dipegang ayahnya.
“Cara main papa masih bagus nih,” komentar Julian.
“Yah, karena yang Papa mainkan ini sederhana kok.” balas ayahnya.
“Kalau aku main sesederhana itu, bosan.” komentar Julian kembali.
Ayahnya menyerahkan kembali stik tersebut.
“Julian, drummer bukan bermain supaya tangannya tidak bosan.” ucap ayahnya.
Julian menerima stiknya, lalu mengerutkan kening.
“Terus buat apa?” tanyanya.
Ayahnya menekan salah satu tombol dan menyalakan bunyi metronom dari pad elektronik. Ketukan pendek mulai terdengar dengan jarak yang sama, memotong keheningan kamar tanpa tergesa-gesa.
“Coba mainkan pola dasarmu selama satu menit,” ucapnya. “Jangan tambah apa-apa dan jangan lebih cepat.” lanjutnya.
“Cuma begitu?” tanya Julian keheranan.
“Cuma begitu.” jawab ayahnya singkat.
Julian tersenyum percaya diri.
“Mudah.” gumamnya sambil mempersiapkan dirinya untuk melakukan hal tersebut.
Dia mulai mengikuti bunyi metronom. Beberapa ketukan pertama terdengar rata, tetapi tidak lama kemudian tangan kanannya mulai mendahului suara elektronik, lalu satu pukulan tambahan keluar tanpa direncanakan. Julian berhenti dan mencoba kembali, kali ini berusaha menahan kedua tangannya agar tetap mengikuti jarak yang sama, tetapi menjelang akhir temponya kembali sedikit lebih cepat.
Ayahnya mengamati dari tepi tempat tidur sambil melonggarkan kerah kemeja. Kelopak matanya terlihat berat setelah seharian bekerja, sehingga dia tidak ikut menghitung atau terus menyuruh Julian mengulang. Setelah percobaan berikutnya kembali berubah di tengah jalan, barulah dia berdiri dan mengambil tasnya.
“Bermain cepat tidak selalu sulit,” ucapnya. “Menjaga tempo selama satu menit kadang lebih sulit.” lanjutnya lagi.
Julian melihat pad elektronik di depannya.
“Papa dulu latihan begini juga?” tanyanya.
“Lebih lama malah.” jawab ayahnya
“Enggak bosan?” tanyanya lagi karena masih belum puas atas jawaban ayahnya.
Ayahnya kemudian berjalan menuju pintu.
“Memang bosan, tapi kalau drummer mengubah ketukan setiap kali hanya karena bosan, pemain lain akan kehilangan arah.” jawab ayahnya.
Setelah ayahnya keluar untuk mengganti pakaian, suara metronom masih berbunyi di dalam kamar. Julian memandangi angka kecil pada layar selama beberapa saat, lalu mengangkat kembali kedua stiknya dan memulai dari hitungan pertama.
***
Pada Jumat pagi, Satrya mengumpulkan mereka di dekat pagar belakang sekolah sebelum bel istirahat berakhir. Jadwal studio berikutnya sudah ditentukan untuk hari Minggu, tepat empat minggu setelah latihan sebelumnya. Evan bersandar pada tembok sambil menghabiskan minumannya, Adrian duduk di atas pembatas semen, sedangkan Nayan kembali membuka buku catatan seperti setiap kali mereka membicarakan latihan.
“Jamnya masih sama?” tanya Evan.
“Jam dua sampai tiga,” jawab Satrya. “Jangan ada yang datang mepet.” lanjutnya lagi.
Julian menepuk kedua pahanya bergantian, menirukan pola sederhana menggunakan telapak tangan.
“Tenang aja. Minggu ini permainan drum gua sudah beda.” ucapnya dengan penuh percaya diri.
Adrian menoleh kepadanya.
“Bedanya apa?” tanya Adrian.
“Lebih hebat.” jawab Julian.
“Itu bukan penjelasan deh kayanya.” sanggah Adrian.
“Yang penting nanti kalian dengar sendiri.” jawab Julian.
Evan menyeringai mendengar jawaban Julian yang penuh percaya diri tersebut.
“Jangan-jangan lebih hebat berantakannya.” ucap Evan sedikit mengejek.
Julian langsung menunjuknya.
“Kalau nanti lu telat masuk, jangan nyalahin gua.” balas Julian.
“Kalau ketukan lu jelas, gua enggak bakal telat.” sanggah Evan kembali.
“Kalau enggak jelas?” tanya Julian.
“Berarti gua bakal nyalahin lu.” jawab Evan singkat.
Adrian tertawa, sedangkan Julian mengangkat kedua tangan seolah menerima tantangan. Satrya ikut tersenyum tipis, tetapi dia menangkap sesuatu dari cara Julian terus membicarakan permainan barunya. Setiap kali Adrian atau Evan menanyakan apakah dia sudah bisa mempertahankan satu pola penuh, Julian selalu menjawab dengan candaan atau membicarakan pukulan lain yang lebih menarik.
“Lu udah bisa main dari awal sampai bagian yang kemarin tanpa berhenti?” tanya Satrya.
Julian melihatnya selama beberapa detik.
“Bisa.” jawabnya singkat.
“Pola dan temponya tetap?” tanya Satrya kembali.
Julian mengangkat bahu.
“Kalau tetap terus, nanti enggak ada perkembangan.” jawabnya sedikit meremehkan.
“Berkembang bukan berarti semuanya harus berubah Jul.” sanggah Satrya.
“Tenang, Sat. Gua tahu kapan harus balik ke pola asal.” ucap Julian.
Jawaban itu terdengar yakin, sehingga Satrya tidak melanjutkan. Mereka belum memegang alat, dan membicarakan permainan hanya dari bayangan tidak akan memberi jawaban yang jelas. Namun, Nayan mengangguk kecil lalu menulis sesuatu di bukunya sebelum menutup halaman.
Julian melihat tindakan tersebut.
“Lu catat apa Nay?” tanya Julian