Suara tepuk tangan dari televisi memenuhi ruang tengah rumah Evan pada Sabtu pagi. Di layar, seorang penyanyi berdiri di ujung panggung dengan satu tangan terulur ke arah penonton, sementara band di belakangnya menahan permainan menjadi jauh lebih pelan. Melodi yang dinyanyikan tidak lagi sama seperti bagian sebelumnya; ujung kalimatnya diturunkan nyaris seperti bisikan, lalu suara itu perlahan naik hingga penonton bersorak sebelum lagu memasuki bagian berikutnya.
Evan yang semula duduk bersandar segera menegakkan tubuh. Tangannya meraih pengendali televisi dan menaikkan volume beberapa tingkat, membuat ibunya yang sedang memilah sayuran di meja makan menoleh. Penyanyi itu mengulangi satu baris dengan nada yang lebih tinggi daripada sebelumnya, lalu membiarkan penonton menyelesaikan kata terakhir untuknya.
“Wah,” gumam Evan, matanya tidak lepas dari layar. “Begini baru seru.”
Ibunya yang dari tadi berada dibelakang sedang memotong kacang panjang kemudian berhenti. “Apa yang seru, De?” tanya Ibunya.
“Dia nyanyinya beda dari awal, Bu.” Evan menunjuk televisi seolah ibunya dapat memahami bagian yang dimaksud hanya dari gerakan itu. “Tadi nadanya rendah, sekarang dinaikin. Penontonnya jadi langsung ramai.”
Ibunya memperhatikan layar selama beberapa detik, lalu kembali menunduk pada sayuran di hadapannya. “Ibu kira memang lagunya begitu.” gumam Ibunya.
“Enggak, itu improvisasi,” ucap Evan dengan percaya diri. “Penyanyinya mengubah sendiri supaya lebih terasa ke penonton.” lanjutnya.
“Kalau begitu, jangan menirunya keras-keras sebelum sarapan,” sahut ayahnya dari balik koran. “Tetangga belum tentu mau ikut merasakan.” lanjutnya sambil tertawa kecil.
Evan terkekeh, tetapi beberapa detik kemudian ia sudah mencoba menyanyikan potongan melodi yang baru didengarnya. Baris pertama ia tarik lebih panjang, lalu ujungnya dinaikkan setinggi yang mampu ia capai tanpa berdiri dari sofa. Ibunya mengernyit sedikit ketika nada terakhir melenceng dari rekaman yang masih terdengar di televisi.
“Kok jadi lain?” tanyanya.
“Memang sengaja,” jawab Evan. “Biar lebih hidup suasananya.” lanjutnya lagi.
Ibunya mengangguk seolah menerima penjelasan itu, meskipun ekspresinya belum benar-benar yakin. “Kalau menurutmu bagus, coba saja nanti sama teman-temanmu yang sering latihan musik bareng kamu itu.” lanjutnya lagi.
Kalimat sederhana itu cukup untuk membuat Evan tersenyum. Ia menoleh lagi ke arah televisi dan memperhatikan bagaimana penyanyi tersebut berjalan dari satu sisi panggung ke sisi lainnya, mengayunkan tangannya kepada penonton di barisan depan, lalu mengubah cara menyanyikan beberapa bagian tanpa pernah kehilangan perhatian mereka. Bagi Evan, penampilan itu terasa lebih dekat daripada lagu rekaman yang selama ini didengarkan berulang kali.
Penyanyi tersebut tidak hanya membawakan lagu, Ia membuat seluruh ruangan bereaksi.
***
Dua bulan telah berlalu sejak Julian mulai belajar menjaga ketukan. Satu jadwal latihan bulanan telah mereka lewati di antaranya, dipenuhi pengulangan yang perlahan membuat mereka semakin hafal pada lagu yang sama. Perpindahan akor Nayan sudah lebih cepat, bass Adrian tidak lagi tertinggal setiap kali memasuki bagian berikutnya, dan Julian mulai mampu menjaga tempo tanpa terus-menerus mengejar permainan anggota lain.
Permainan mereka memang belum sepenuhnya bersih. Nayan masih beberapa kali perlu melihat tangan Satrya untuk memastikan bentuk akor berikutnya, sedangkan Adrian kadang terlambat memasuki nada ketika perpindahan berlangsung terlalu cepat. Namun, memasuki jadwal latihan kelima pada bulan November, untuk pertama kalinya lagu yang mereka pilih sudah dapat dimainkan dari awal sampai akhir.
Hari itu mereka datang dengan tujuan yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: memainkan semuanya sekali lagi tanpa ada yang terpaksa berhenti di tengah. Satrya membawa buku catatan yang sudut-sudutnya mulai terlipat, Adrian datang dengan dua botol air mineral yang dibeli dari warung dekat studio, sementara Evan membawa gagasan yang belum ia sampaikan kepada siapa pun. Sejak melihat pertunjukan di televisi pagi tadi, beberapa nada baru terus berputar di kepalanya.
Julian sudah berada di dalam ruangan ketika mereka masuk. Perangkat drum memang telah tersusun sejak awal oleh pihak studio, tetapi ia datang lebih cepat karena ruang yang mereka pesan sedang kosong dan penjaga studio mengizinkannya menunggu di dalam. Ia sedang menggeser tinggi bangku beberapa sentimeter, lalu mencoba pedal bas dengan hentakan pelan sambil memastikan posisinya nyaman.
“Rajin amat,” komentar Evan setelah meletakkan tasnya di dekat dinding. “Gua kira lu salah lihat jam.” lanjutnya
Julian menghentakkan pedal sekali lagi. “Gua sedang membangun reputasi baru Van.” ucapnya dengan percaya diri.
“Reputasi apa?” tanya Adrian.
“Drummer yang datang sebelum vokalisnya menghabiskan waktu buat ngaca.” ucap Julian sambil tertawa.
Evan menatap pantulan dirinya pada kaca besar di dinding studio, lalu membenarkan bagian depan rambutnya dengan dua jari. “Kalau sudah punya modal, ya dijaga.” ucapnya.
Nayan selesai memasang kabel ke gitarnya, kemudian mengangguk kecil seolah baru saja memastikan sesuatu.
“Baru dua kalimat,” ucapnya datar.
Julian hendak membalas, tetapi Satrya mengangkat tangan sebelum percakapan berkembang ke mana-mana. Ia membuka buku catatan pada halaman yang dipenuhi urutan bagian lagu, kemudian melihat jam kecil yang tergantung di dekat pintu. Waktu sewa mereka belum berjalan banyak, tetapi ia tidak ingin beberapa menit pertama habis hanya untuk saling mengejek.
“Kita cek suara dulu,” ucap Satrya. “Setelah itu langsung coba dari awal sampai selesai.” lanjutnya.
Mereka mengambil posisi masing-masing. Satrya berdiri sedikit ke kiri dengan gitar tergantung di depan tubuhnya, Nayan berada tidak jauh di sampingnya, dan Adrian menunggu sambil menekan satu senar bas untuk memastikan suaranya tidak terlalu keras. Evan berdiri di depan mikrofon, sementara Julian memperbaiki genggamannya pada kedua stik sebelum memberi ketukan ringan.
Percobaan pertama berhenti bahkan sebelum masuk ke bagian verse karena amplifier dari gitar Nayan mengeluarkan bunyi berdesis. Setelah penjaga studio membantu mengganti konektornya, mereka memulai kembali dari awal. Kali ini petikan Satrya terdengar lebih jelas, disusul genjrengan Nayan yang sudah tidak sekaku beberapa bulan sebelumnya.
Adrian masuk setelah hitungan yang tepat. Nada bassnya masih sederhana, tetapi kini mampu mengisi bagian bawah lagu tanpa sekadar meniru gitar. Julian menjaga ketukan dengan lebih tenang, menahan diri untuk tidak menambah pukulan yang belum diperlukan, sementara Evan menunggu hingga intro benar-benar selesai sebelum mulai bernyanyi.
Baris demi baris berhasil mereka lewati. Pada beberapa perpindahan, Nayan masih sempat melihat tangan Satrya untuk memastikan bentuk akor berikutnya, tetapi ia tidak lagi berhenti. Adrian sempat terlambat sepersekian saat memasuki chorus, lalu segera menemukan kembali posisinya karena ketukan Julian tetap berjalan.
Mereka terus bermain.
Bagian yang biasanya membuat Satrya meminta pengulangan akhirnya terlewati tanpa ada tangan yang terangkat. Setelah chorus kedua, permainan mereda menuju bagian yang lebih tenang sebelum kembali meningkat perlahan. Evan mempertahankan melodi seperti yang selama ini mereka latih, lalu menarik nafas lebih dalam menjelang chorus terakhir.
Suara mereka membesar bersama-sama.
Ketika pukulan terakhir Julian jatuh dan gema instrumen perlahan hilang dari ruangan, tidak ada seorang pun yang langsung berbicara. Mereka saling memandang seolah perlu memastikan bahwa barusan tidak ada bagian yang terlewat. Julian menjadi orang pertama yang mengangkat kedua stiknya ke udara.
“Selesai!” serunya.
Adrian tertawa lega sambil menurunkan bassnya sedikit. “Akhirnya enggak ada yang berhenti.” ucapnya.
“Masih ada yang kurang rapi,” ucap Satrya, meskipun sudut bibirnya ikut terangkat. “Tapi sudah jauh lebih—”
“Jangan dulu bilang,” potong Evan. “Sekali ini Sat jangan langsung cari salahnya.” lanjutnya.
Satrya menahan kalimat berikutnya. Ia melihat keempat temannya yang masih menunjukkan ekspresi puas, lalu menghembuskan nafas dan mengangguk kecil. Setelah beberapa bulan terus mendengar bagian yang perlu diperbaiki, mungkin memang tidak ada salahnya membiarkan keberhasilan itu bertahan beberapa saat.
“Ya sudah, bagus” ucapnya sambil tersenyum kecil.
“Kurang meyakinkan,” protes Julian.
“Bagus banget.” ucap Satrya kembali dengan nada lebih meyakinkan.
“Nah, begitu dong yakin.” balas Julian.
Tawa kecil mengisi ruangan. Evan memegang mikrofon dengan kedua tangan sambil memandang mereka satu per satu, lalu teringat kembali pada pertunjukan yang ia tonton pagi tadi. Lagu mereka kini sudah dapat dimainkan sampai selesai, tetapi baginya masih ada sesuatu yang terasa terlalu sama dari awal hingga akhir.
“Eh, gua punya ide,” ucapnya.
Satrya yang baru saja hendak melihat catatan kembali menoleh. “Ide apa?”
“Coba kita ulang. Gua mau ubah beberapa bagian vokalnya.” usul Evan dengan antusias.
“Ubah gimana?” tanya Adrian.
“Improvisasi sedikit.” Evan mengangkat satu tangan untuk menenangkan mereka sebelum ada yang bertanya lebih jauh. “Biar enggak kedengaran datar. Kayak penyanyi kalau tampil langsung.” lanjutnya lagi.
Satrya memandang Evan selama beberapa detik. Selama ini mereka selalu berlatih menggunakan pola vokal yang sama agar semua orang mudah mengetahui posisi masing-masing. Gagasan untuk mengubahnya tidak pernah benar-benar mereka bahas, tetapi Satrya juga tidak ingin langsung menolak sesuatu hanya karena tidak ada di dalam catatannya.
“Bagian mana?” tanyanya.
“Coba saja dulu dari awal,” jawab Evan. “Nanti kalian dengar.” lanjutnya.
Nayan mengangkat kepala dari gitarnya. “Kami perlu tahu supaya bisa mengikuti.” ucapnya.
“Enggak banyak, kok.” Evan tersenyum. “Permainan kalian tetap sama saja.” ucapnya berusaha meyakinkan.
Jawaban itu tidak sepenuhnya meyakinkan Satrya, tetapi ia tetap mengangguk. Julian merapatkan posisi duduknya, kemudian memberi hitungan yang sama seperti sebelumnya. Intro kembali dimulai, dan beberapa detik pertama berjalan tanpa perubahan.
Evan memasuki baris pertama dengan nada yang lebih rendah daripada biasanya. Ia sengaja memperhalus suaranya, hampir seperti sedang berbicara kepada seseorang yang berdiri dekat di depannya. Pada ujung kalimat, ia menahan kata terakhir dua ketukan lebih panjang, membuat petikan pendek Satrya yang seharusnya mengisi ruang setelah vokal justru tertutup oleh suaranya.
Satrya menoleh cepat, tetapi Evan sudah melanjutkan baris berikutnya.
Kali ini ia menaikkan ujung melodi jauh lebih tinggi. Nayan yang terbiasa menjadikan vokal sebagai salah satu penanda perpindahan sempat salah mengira mereka telah mendekati bagian berikutnya. Tangannya bergeser terlalu cepat sebelum kembali ke posisi semula, menghasilkan satu bunyi yang terdengar asing di antara permainan mereka.
Pada bagian yang seharusnya perlahan meningkat, Evan justru menurunkan suaranya menjadi lebih tipis. Band di belakangnya terus membangun tenaga sesuai susunan yang telah mereka latih, tetapi vokalnya bergerak ke arah sebaliknya. Adrian melihat Satrya, kemudian Julian, seolah mencari kepastian apakah mereka harus mengikuti Evan atau tetap melanjutkan pola semula.
Ketika memasuki chorus, Evan langsung mendorong suaranya lebih tinggi sejak baris pertama. Nada itu memang terdengar kuat, tetapi ia sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaganya sebelum bagian tersebut mencapai akhir. Saat melodi seharusnya kembali naik, Evan terpaksa menurunkannya agar tidak kehilangan nafas.
Permainan mereka mulai terasa seperti lima orang yang mengetahui tujuan akhir, tetapi memilih jalan berbeda untuk mencapainya.
Satrya beberapa kali ingin mengangkat tangan dan menghentikan semuanya. Namun, Julian tetap menjaga ketukan, Adrian masih mampu mempertahankan nada dasar, dan Nayan mulai menyesuaikan diri dengan tidak lagi memakai vokal sebagai penanda utama. Mereka akhirnya berhasil mencapai bagian terakhir, meskipun tidak ada rasa lega seperti pada percobaan sebelumnya.
Pukulan pada cymbal sebagai tanda penutup dari Julian terdengar.
Evan segera menoleh kepada mereka dengan mata berbinar. “Gimana?” tanyanya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Julian menyandarkan kedua lengannya di atas paha, stiknya menggantung longgar di antara jemari. Adrian menatap senar bas sambil menggerakkan bibir tanpa suara, mencoba mencari kata yang tepat. Nayan hanya memandang Evan dengan ekspresi datar, sementara Satrya membuka mulut lalu menutupnya kembali.
“Beda,” kata Adrian akhirnya.
Evan mengangguk antusias. “Nah, kan?”
“Maksudnya memang beda,” lanjut Adrian hati-hati. “Gua belum tahu lebih bagus atau enggak.”
“Yang nada tinggi di chorus tadi keren,” ujar Julian. “Kayak mau bikin pecah panggung.” lanjutnya lagi.
Evan menunjuknya. “Itu yang gua maksud.” ucapnya.
“Tapi setelahnya lu malah turun,” ucap Julian. “Gua kira lu mau naik lagi.” lanjutnya.
“Ya karena kalau tinggi terus nafas gua habis. Lagian nanti jadi biasa kedengerannya.” balas Evan.
Satrya menurunkan gitar dari posisi bermain, tetapi tidak melepaskan talinya. Ia mencoba mengingat setiap perubahan yang dilakukan Evan dan bagaimana perubahan itu mempengaruhi bagian lain. Beberapa di antaranya memang menarik jika didengar sendiri, tetapi ketika diletakkan di dalam susunan lagu, hasilnya terasa saling bertabrakan.
“Van,” panggil Satrya. “Kenapa bagian awal lu bikin serendah itu?” tanyanya.
Evan menyesuaikan posisi mikrofon. “Biar lebih intim.” jawab Evan singkat.
“Intim?” tanya Satrya dengan muka terheran-heran.
“Iya. Kayak ngomong langsung ke penonton.” Evan mendekatkan wajah ke mikrofon untuk memperagakan. “Kalau dari awal nyanyinya biasa saja, mereka cuma dengar lagu. Kalau dibuat begini, rasanya kayak diajak masuk.” jawab Evan.
Satrya mengangguk pelan. “Terus kenapa ujung kalimatnya dinaikin?” tanya Satrya kembali.
“Biar ada kejutan.” jawab Evan singkat.
“Yang dipanjangin?” tanya Satrya lagi.
“Biar emosinya lebih dapat.” jawab Evan kembali.