Empat nada rendah terdengar berulang dari kamar Adrian pada Kamis malam. Nada pertama dan kedua selalu berpindah cukup bersih, tetapi gerakan menuju nada ketiga beberapa kali terlambat, membuat senar sebelumnya masih bergetar ketika pick menyentuh senar berikutnya. Adrian menghentikan bunyinya dengan sisi telapak tangan, menggeser posisi jari kirinya sedikit, lalu mengulang rangkaian yang sama dari awal.
Ia hanya menggunakan empat senar paling tebal pada gitarnya untuk meniru pola yang kelak akan dimainkan dengan bass di studio. Pick di tangan kanannya bergerak perlahan, sementara pandangannya beberapa kali berpindah antara fret dan secarik kertas di atas kasur. Pada kertas itu terdapat beberapa angka dan garis pendek yang disalin dari catatan Satrya saat mereka berlatih di rumahnya Sabtu lalu.
Nada pertama terdengar.
Nada kedua menyusul.
Ujung pick Adrian kembali mengenai senar yang salah ketika tangannya berpindah menuju nada berikutnya.
“Dari tadi itu terus, Nak?” tanya seseorang dari arah lorong.
Adrian menoleh ketika ibunya melongok dari arah lorong. Celemek masih terikat di pinggangnya, sementara satu tangannya memegang lap yang tadi digunakan di dapur. Ibunya jelas tidak memahami bagian apa yang sedang dimainkan, tetapi cukup lama mendengar potongan yang sama untuk menyadari bahwa Adrian belum berhasil melewatinya dengan lancar.
“Iya, Bu. Tangan Adrian masih suka nyangkut pas pindah,” jawab Adrian sambil menggeser posisi jarinya. “Lagi cari cara yang lebih enak.”
“Susah?” tanya ibunya.
“Lumayan.” Adrian merentangkan jari kirinya di atas leher gitar. “Kalau pakai gitar jaraknya masih segini. Nanti pas pakai bas lebih jauh lagi.”
Ibunya mengangguk, meskipun kemungkinan besar tidak benar-benar membayangkan perbedaan yang sedang dijelaskan. Ia hanya melihat ujung jari Adrian yang mulai memerah karena berkali-kali menekan senar.
“Jangan dipaksa terus. Makan dulu kalau sudah selesai.” ucap ibunya.
“Sebentar lagi, Bu. Mau coba sekali lagi.” jawab Adrian.
Ibunya tersenyum kecil sebelum kembali ke dapur. Adrian menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu memainkan empat nada tersebut sekali lagi. Percobaan kali ini berhasil, tetapi ketika ia mengulangnya dengan tempo sedikit lebih cepat, jarinya kembali terlambat mencapai posisi terakhir.
Adrian tidak mengumpat atau meletakkan gitarnya dengan kesal. Ia hanya mengembuskan napas, memeriksa posisi ibu jarinya di belakang leher gitar, lalu mencoba memulai dari nada kedua. Selama masih ada cara lain yang belum dicoba, baginya belum ada alasan untuk berhenti.
Rangkaian nada itu bermula dari usul sederhana yang ia sampaikan pada latihan studio bulan sebelumnya. Ketika Evan ingin menaikkan suaranya menjelang chorus terakhir, Adrian menawarkan untuk menahan nada bas lebih lama agar seluruh permainan dapat ikut membangun tenaga. Usul tersebut berhasil, lalu pada latihan Sabtu sore di rumah Satrya, mereka bertiga mencoba mengembangkannya menjadi beberapa nada pendek yang bergerak menuju chorus.
Satrya menentukan nada tujuan, Nayan membantu memperkirakan jarak perpindahan, sedangkan Adrian mencoba beberapa cara menggunakan gitarnya sendiri. Hasilnya terdengar lebih hidup daripada sekadar menahan satu nada panjang. Masalahnya, pola itu baru diuji dengan gitar biasa, bukan bas studio yang senarnya lebih tebal dan jarak fretnya lebih lebar.
Adrian kembali melihat angka-angka di kertas. Ia mencoba memainkan rangkaian tersebut dengan tempo lebih lambat, berhenti pada bagian yang selalu membuat tangannya terlambat, lalu mengulang gerakan tanpa memetik senar. Ketika ibunya memanggil dari ruang makan beberapa menit kemudian, ia akhirnya meletakkan pick di samping gitar dan berdiri.
Di kepalanya, empat nada itu masih terus berjalan.
***
Satu bulan telah berlalu sejak mereka merangkai perubahan vokal Evan pada latihan bulan November. Selama waktu itu, Satrya, Nayan, dan Adrian tetap bertemu setiap Sabtu sore di rumah Satrya untuk membenahi permainan gitar dan bass menggunakan alat yang mereka miliki. Evan berlatih vokal secara mandiri, sementara Julian menjaga latihannya di rumah menggunakan drum pad milik ayahnya.
Memasuki latihan studio keenam pada bulan Desember, lagu yang mereka pilih sudah jauh lebih utuh daripada beberapa bulan sebelumnya. Mereka tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktu untuk mengingat urutan bagian atau mencari akor berikutnya. Kesalahan masih muncul, tetapi kini masalahnya lebih sering berada pada cara mereka berpindah, memberi ruang, dan membangun tenaga agar setiap bagian terasa saling terhubung.
Adrian menjadi orang pertama yang mencoba alatnya setelah mereka masuk ke ruangan. Ia memasang tali bass di bahu, lalu memetik satu senar menggunakan pick. Bunyi rendah memenuhi studio, lebih tebal dan panjang dibandingkan suara yang ia dapat dari gitarnya di rumah.
Ia menekan fret berikutnya, kemudian mencoba memainkan rangkaian nada yang telah dilatih. Dua nada pertama berhasil, tetapi tangannya tertahan sesaat ketika berpindah ke posisi berikutnya. Adrian melihat jarak antara jari telunjuk dan jari manisnya, lalu mencoba sekali lagi.
“Gimana?” tanya Satrya sambil mengeluarkan buku catatan dari tas.
“Di gitar gua jaraknya enggak sejauh ini.” Adrian merentangkan jari kirinya di atas leher bas. “Sama senarnya lebih berat ditekan.” ucapnya.
Nayan mendekat untuk melihat posisi tangannya. Ia tidak langsung memberi komentar, hanya mengangguk kecil setelah memperhatikan jarak antar fret yang sedang dijangkau Adrian.
“Coba pelan dulu,” usul Satrya.
Adrian mengulang pola tersebut dengan tempo lebih lambat. Kali ini ia berhasil mencapai nada terakhir, meskipun suara dari senar sebelumnya sempat ikut terdengar. Ia segera menghentikannya dengan sisi telapak tangan kanan.
“Nadanya numpuk,” ucap Adrian. “Gua belum cepat matiin yang sebelumnya.”
“Kita dengar pas dimainkan bareng,” jawab Satrya. “Mungkin sebagian ketutup instrumen lain.”
Julian yang sudah duduk di balik perangkat drum menyesuaikan tinggi bangkunya berkomentar. “Kalau ketutup permainan gua, berarti gua berguna.”
“Lu memang berguna,” sahut Evan sambil mengatur posisi mikrofon. “Buat bikin kesalahan kita enggak kedengaran.” lanjutnya.
Julian menatapnya beberapa detik dan melanjutkan komentar. “Gua enggak tahu itu pujian atau penghinaan.”
“Dua-duanya.” jawab Evan singkat.
Adrian tertawa kecil, lalu mencoba rangkaian tersebut sekali lagi sebelum mereka memulai pemeriksaan suara. Ia belum menemukan posisi yang benar-benar nyaman, tetapi juga belum mengusulkan perubahan apa pun. Pola itu harus lebih dahulu didengar bersama permainan lengkap sebelum mereka menentukan apakah masalahnya cukup besar untuk dibenahi.
Setelah suara setiap alat berada pada tingkat yang sesuai, Satrya mengambil posisi. Ia membuka buku catatan pada halaman yang dipenuhi perubahan dari latihan sebelumnya. Di bagian bridge menuju chorus terakhir terdapat panah kecil yang mengarah pada empat angka—urutan nada yang sedang dipelajari Adrian.
“Kita coba mainkan lagu sampai selesai dulu,” ucap Satrya. “Kesalahan kecil jangan bikin berhenti.”
Julian mengangkat kedua stik, lalu memberi empat hitungan.
Petikan Satrya membuka lagu dengan tempo stabil. Nayan masuk setelahnya dengan genjrengan yang masih sederhana, tetapi sudah lebih yakin daripada beberapa bulan sebelumnya. Adrian mengikuti dengan nada dasar, sementara Julian menjaga ketukan agar tidak ada bagian yang berlari lebih cepat dari yang lain.
Evan mulai bernyanyi setelah intro selesai. Ia tidak mengubah melodi sesuka hati seperti pada latihan bulan lalu, melainkan mengikuti susunan yang telah mereka sepakati. Improvisasinya hanya muncul pada ruang tertentu, membuat suaranya terasa berbeda tanpa membingungkan empat orang di belakangnya.
Verse pertama terlewati dengan cukup bersih. Pada pre-chorus, Nayan sempat menyentuh satu senar yang tidak seharusnya berbunyi, tetapi ia segera memperbaiki posisi jarinya tanpa menghentikan permainan. Satrya mendengar kesalahan tersebut, lalu memilih tetap melanjutkan.
Chorus pertama masuk bersama-sama.
Adrian menjaga permainan bassnya tetap sederhana dan memastikan setiap pergantian mengikuti pukulan Julian. Tangan kanannya mulai terbiasa dengan ketebalan senar, meskipun gerakan pick masih terasa lebih berat dibandingkan ketika digunakan pada gitar. Ia menahan keinginan untuk memperbesar ayunan tangan agar suara yang keluar tidak terlalu tajam.
Mereka melewati chorus kedua dan memasuki bagian bridge. Permainan gitar menipis, pukulan Julian turun, dan Evan mendekatkan mulutnya ke mikrofon untuk menyanyikan bagian yang lebih tenang. Adrian menahan satu nada panjang sambil menunggu rangkaian yang telah dilatihnya selama beberapa hari terakhir.
Nada pertama berhasil.
Nada kedua menyusul.
Ketika hendak berpindah menuju nada ketiga, jari Adrian terlambat mencapai fret berikutnya. Nada itu masuk setengah ketukan setelah seharusnya, membuat Julian yang menunggu penanda tersebut ikut terlambat mempertegas pukulan. Evan sudah menarik napas untuk memasuki chorus, tetapi permainan di belakangnya belum benar-benar terangkat.
Chorus terakhir tetap berjalan.
Satrya mempertebal genjrengannya untuk membantu mengembalikan tenaga, sementara Nayan mengikuti semampunya. Adrian segera kembali ke nada dasar dan tidak mencoba mengejar rangkaian yang telah terlewat. Mereka berhasil mencapai bagian akhir tanpa berhenti, meskipun perpindahan menuju chorus terasa goyah.
Pukulan terakhir Julian jatuh. Gema instrumen perlahan hilang dari ruangan. Adrian melihat kembali posisi tangannya pada leher bas sebelum siapa pun sempat bertanya.
“Tadi gua telat pindah,” ucapnya.
“Iya,” jawab Satrya. “Tapi setelah itu lu balik ke nada dasarnya tepat.”
“Kalau gua maksa ngejar, malah tambah berantakan.” balas Adrian.
Nayan mengangguk kecil. “Nada ketiganya yang paling jauh.” komentarnya singkat.
Adrian menekan dua fret yang dimaksud tanpa memetik senarnya sambil berkomentar. “Di rumah gua juga sering nyangkut di sini.”
Julian meletakkan satu stik melintang di atas snare. “Coba bagian itu saja. Kalau dari awal lagi, tenaga gua habis sebelum masalahnya datang.” usulnya.
“Kita mulai dari bridge kalo begitu,” putus Satrya.
Mereka mengambil posisi kembali. Evan menyanyikan dua baris terakhir sebelum perpindahan, lalu Adrian memasuki rangkaian nada yang sama. Kali ini ia mencapai nada ketiga tepat waktu, tetapi senar sebelumnya belum sepenuhnya berhenti sehingga dua suara rendah bertumpuk selama sepersekian detik.
Satrya mengangkat tangan setelah mereka masuk ke chorus.
“Ulang,” katanya. “Tadi nadanya ketumpuk.”
Adrian mencoba sekali lagi. Pada percobaan berikutnya, ia terlalu berkonsentrasi mematikan senar sebelumnya sehingga nada ketiga justru masuk terlambat. Julian tetap mempertahankan tempo, tetapi Evan menghentikan suaranya karena menyadari mereka belum benar-benar memasuki chorus bersama-sama.
Adrian memandang bas di tangannya, lalu memetik satu nada dasar panjang.
“Kalau nadanya ditahan saja kaya biasa gimana?” usulnya. “Kalian bisa langsung masuk chorus. Enggak perlu nunggu perpindahan gua.”
Satrya menatap catatannya, lalu membayangkan kembali bentuk awal sebelum rangkaian tersebut ditambahkan. Versi itu memang lebih sederhana dan pernah mereka mainkan dengan cukup lancar.
“Coba deh kalo begitu,” ucapnya.
Julian memberikan hitungan dari bagian bridge. Adrian menahan satu nada panjang, membiarkannya mengisi ruang di bawah suara Evan. Menjelang chorus, ia tidak berpindah ke mana-mana; Julian langsung mempertegas pukulan, kemudian gitar Satrya dan Nayan masuk lebih penuh.
Kali ini tidak ada yang terlambat.
Evan dapat memasuki chorus tepat pada waktunya, dan mereka menyelesaikan bagian tersebut tanpa gangguan. Secara teknis, versi itu jauh lebih aman.
Namun, setelah pukulan terakhir berhenti, Evan menurunkan mikrofon dengan ekspresi kurang puas.
“Rapi sih,” ucapnya. “Tapi masuknya kayak kurang naik.”
Julian menggerakkan bahunya. “Gua juga ngerasa langsung masuk begitu saja.” komentarnya.
Nayan melihat Adrian, kemudian halaman catatan Satrya. “Nada yang bergerak tadi memberi tanda kalau bagiannya mau berubah.” ucapnya.
“Kalau ditahan, tandanya cuma dari drum,” lanjut Satrya.
Julian menunjuk dirinya sendiri dengan satu stik. “Berarti gua kurang meyakinkan?” ucapnya.
“Bukan begitu,” jawab Satrya. “Rangkaian bassnya bikin perpindahan terasa jalan. Kalau cuma ditahan, bagian ini tetap bisa masuk, tapi rasanya lebih datar.”
Adrian mengangguk. “Tapi lebih rapi.”
“Lebih rapi,” akui Satrya.
Satrya membuat satu tanda kecil pada catatannya, menulis versi satu nada tersebut sebagai pilihan sementara. Ia belum menghapus rangkaian empat nada, tetapi juga tidak memaksa mereka terus mengulang. Waktu latihan masih panjang dan ada beberapa bagian lain yang perlu diperiksa.
“Kita istirahat sebentar,” ucapnya. “Habis itu cek chorus pertama.”
Evan meletakkan mikrofon pada penyangganya, lalu mengambil botol minum. Julian berdiri dari bangku untuk meregangkan kaki, sedangkan Nayan menurunkan volume gitarnya sebelum duduk di dekat dinding. Satrya tetap membuka buku catatan sambil menandai beberapa kesalahan kecil dari permainan penuh tadi.
Adrian tidak ikut mengambil minum. Ia kembali memainkan rangkaian empat nada dengan volume rendah, dimulai dari nada kedua agar dapat fokus pada perpindahan terpanjang. Pada percobaan pertama, tangannya kembali terlambat. Ia mengubah posisi jari, lalu mencobanya lagi tanpa meminta siapa pun memperhatikan.
Satrya mendengar bunyi tersebut dari tempatnya duduk. Ia membiarkan Adrian mengulang beberapa kali sebelum akhirnya menutup buku.
“Put.” panggil Satrya.
Adrian menahan senar bass ketika mendengar panggilan tersebut. “Kenapa Sat?” tanyanya.
“Kalau udah ga dipakai, kenapa masih lu latihan yang tadi?” tanya Satrya.
Adrian melihat fret di bawah tangannya. “Karena yang ini lebih enak.” ucapnya.
“Yang pakai empat nada?” tanya Satrya kembali.
“Iya.” Adrian memainkan rangkaian itu perlahan. “Bassnya kayak nganter kita masuk chorus.”
Satrya berdiri dan mendekat. “Terus kenapa kita pakai yang lain yang biasa aja?” tanya Satrya.
“Biar enggak habisin waktu di satu bagian.” Adrian mengangkat bahu. “Toh versi yang ditahan panjang juga masih jalan dan selesai kan lagunya?” jawab Adrian.