Resonansi

Lana
Chapter #14

Tanpa Aba-Aba

Hari pertama pelajaran Seni Budaya setelah libur semester dimulai dengan suara kursi yang masih bergeser dan percakapan yang belum benar-benar mereda. Sebagian murid tampak lebih tertarik membandingkan cerita liburan daripada membuka catatan, sementara beberapa kelompok mulai membicarakan kembali tugas musik yang sempat mereka tinggalkan selama beberapa minggu. Bu Ratna berdiri di depan kelas sambil membawa daftar perkembangan setiap kelompok, lalu menunggu sampai suara di ruangan perlahan mengecil.

“Tugas kalian belum selesai hanya karena sudah berganti semester,” ucap Bu Ratna. “Penampilan akhirnya tetap dilaksanakan menjelang kenaikan kelas.”

Beberapa murid langsung mengeluh pelan. Kelompok yang sejak awal memilih lagu terlalu sulit mulai saling menyalahkan, sedangkan kelompok lain sibuk menghitung berapa bulan waktu yang masih mereka miliki. Satrya duduk bersama Adrian di baris depan, Evan berada tepat di depan Julian, sementara Nayan menempati baris di sebelah Evan dan Julian.

“Kelompok dengan hasil terbaik akan mewakili kelas ini di pentas seni sekolah,” lanjut Bu Ratna. “Jadi semester ini jangan cuma mengejar selesai. Mulai perhatikan bagaimana kalian bermain bersama.”

Kalimat terakhir membuat beberapa murid berhenti mengobrol. Evan yang sejak tadi menyandarkan punggung pada kursinya langsung duduk lebih tegak, seolah baru mendengar bagian terpenting dari seluruh penjelasan.

“Kalau kelompok kalian bagaimana?” tanya Bu Ratna sambil melihat daftar. “Kelompok enam?”

Evan mengangkat tangan sebelum anggota lain sempat menjawab.

“Kami sudah bisa memainkan satu lagu dari awal sampai selesai, Bu.”

Dari bangku tepat di belakangnya, Julian ikut mengangkat tangan setengah tinggi.

“Kadang-kadang sampai selesai, Bu.” serobot Julian sambil tersenyum kecil.

Evan memutar tubuh dan menatap Julian dengan ekspresi kesal.

“Kenapa harus ditambahin begitu?”

“Biar laporannya jujur,” jawab Julian.

Beberapa murid di sekitar mereka tertawa kecil. Bu Ratna hanya tersenyum tipis sebelum menulis sesuatu pada daftar yang dibawanya.

“Bisa menyelesaikan lagu belum tentu berarti sudah kompak,” ucapnya. “Semester ini coba dengarkan teman kalian, bukan hanya bagian kalian sendiri.”

Satrya menunduk pada buku catatannya. Mereka memang sudah dapat memainkan lagu dari awal hingga akhir, meskipun beberapa bagian masih membutuhkan pengulangan. Selama ini ia lebih sering menandai kesalahan nada, keterlambatan masuk, atau perubahan yang perlu dilakukan, tetapi belum pernah benar-benar memikirkan seberapa banyak mereka mendengar satu sama lain.

Julian mencondongkan tubuh ke arah Evan yang duduk di depannya.

“Kalau nanti masuk pentas seni, kita dapat bayaran enggak?”

Evan menoleh setengah badan ke arah Julian.

“Belum juga kepilih, Jul.” sanggahnya. 

“Makanya gua nanya dari sekarang. Biar ada motivasi gitu, Van.” ucap Julian.

“Motivasi lu selalu uang.” celoteh Evan.

“Kalau motivasi lu kan tepuk tangan doang.” balas Julian.

“Itu namanya apresiasi.” sanggah Evan singkat.

Nayan menutup bukunya tanpa ikut menanggapi, sedangkan Adrian hanya tertawa kecil sambil menggeleng. Satrya kembali melihat halaman kosong di depannya. Ucapan Bu Ratna masih tertinggal dalam pikirannya lebih lama daripada perdebatan Julian dan Evan.

Mendengarkan teman, bukan hanya bagian sendiri.

***

Sabtu sore berikutnya, ruang depan rumah Satrya kembali dipenuhi suara gitar. Nayan duduk di sisi kiri dengan gitar miliknya, Adrian berada di dekat meja sambil menggunakan gitarnya untuk meniru bagian bass, sedangkan Satrya berada di antara keduanya sambil memeriksa catatan latihan bulan lalu. Mereka mengulang bagian bridge menuju chorus terakhir yang sebelumnya sempat menjadi kesulitan terbesar Adrian.

Rangkaian empat nada itu kini terdengar lebih lancar. Adrian belum dapat merasakan jarak fret bass yang sebenarnya, tetapi posisi ibu jari dan perpindahan tangannya sudah lebih teratur. Nayan menahan akor sedikit lebih lama, memberi ruang bagi Adrian untuk menyelesaikan nada terakhir sebelum Satrya memperbesar genjrengannya.

“Sekali lagi dari dua bait sebelumnya,” ucap Satrya.

Mereka mengulang bagian tersebut. Ketika mendekati perpindahan, Satrya mengangguk kecil, lalu Nayan dan Adrian masuk hampir bersamaan. Hasilnya cukup bersih.

Satrya memberi tanda pada catatannya.

“Sudah lebih enak.”

Nayan memandangnya beberapa saat.

“Kalau kamu tidak mengangguk, kami tetap masuk?”

Satrya mengangkat kepala.

“Harusnya masuk. Kalian sudah hafal.”

Adrian memetik satu senar paling tebal menggunakan pick.

“Gua tadi memang nunggu lu dulu.”

“Kenapa?”

“Biar yakin.”

Satrya menutup bukunya setengah jalan.

“Coba ulang tanpa lihat gua.”

Nayan dan Adrian mengambil posisi kembali. Satrya memainkan bagian sebelum bridge, lalu sengaja menunduk ke arah catatan agar tidak memberi tanda melalui kepala atau tatapan. Nayan berpindah akor tepat pada waktunya, tetapi Adrian terlambat sepersekian detik karena sempat melirik Satrya sebelum menyadari bahwa tidak ada anggukan yang akan datang.

Mereka berhenti.

“Nah,” ucap Adrian sambil tertawa kecil. “Refleks.”

“Kalian kan tahu tempat masuknya,” ucap Satrya. “Enggak perlu nunggu gua.”

Nayan mengangguk kecil, meskipun pandangannya masih tertuju pada Satrya.

“Kalau lengkap dengan drum mungkin lebih jelas.”

Adrian kembali memetik senarnya.

“Iya, biasanya gua ikut pukulan Julian juga.”

Satrya membuka buku catatannya lagi. Ia belum menganggap hal tersebut sebagai masalah besar karena permainan mereka bertiga memang tidak lengkap tanpa drum dan vokal. Namun, selama sisa latihan, ia mulai menyadari bahwa Nayan dan Adrian hampir selalu menoleh kepadanya setiap kali mendekati perpindahan penting.

Bahkan ketika mereka sudah hafal.

***

Latihan studio pertama setelah libur semester berlangsung pada akhir Januari. AC baru saja dinyalakan dan belum sempat mengurangi udara pengap di dalam ruangan, sementara amplifier yang mulai hidup mengeluarkan dengung tipis. Julian langsung menuju perangkat drum, Evan mengatur tinggi mikrofon, sedangkan Adrian memasang tali bass sambil mencoba kembali rangkaian empat nada yang dilatihnya di rumah Satrya.

Mereka tidak benar-benar lupa lagunya, tetapi jeda liburan membuat permainan awal terasa lebih kaku. Julian menjaga tempo dengan terlalu hati-hati, Nayan beberapa kali melihat tangan Satrya sebelum berpindah akor, dan Evan menunggu anggukan kecil sebelum memasuki verse. Adrian juga lebih sering menoleh ke arah Satrya daripada melihat fret bassnya sendiri.

Satrya tetap memberi aba-aba seperti biasanya. Ia mengangguk kepada Evan sebelum vokal masuk, mengangkat leher gitar menjelang chorus, lalu melirik Julian sebelum dinamika permainan diperbesar. Setiap gerakan itu diikuti dengan cepat, membuat lagu tetap berjalan tanpa banyak gangguan.

Pada percobaan pertama, mereka berhasil menyelesaikan lagu dari awal hingga akhir. Julian meletakkan kedua stik di atas pahanya, lalu menyandarkan punggung sejenak.

“Liburan tidak menghancurkan bakat kita.” ucapnya dengan percaya diri.

“Bakat apaan?” tanya Adrian.

“Kemampuan menyelesaikan lagu tanpa berhenti.” jawab Julian.

Evan menyeka keringat di dahinya.

“Itu kayanya standar paling rendah buat band Jul.” komentarnya.

“Kita belum punya nama band,” sahut Julian. “Jadi standarnya boleh rendah dulu.”

Satrya mengabaikan percakapan mereka dan memberi beberapa tanda pada buku catatan. Verse pertama terdengar cukup stabil, chorus kedua sedikit terlalu cepat, sedangkan perpindahan menuju bridge masih kurang tenang. Ia ingin mencoba sekali lagi tanpa menghentikan permainan, kemudian membahas kesalahan mereka setelah lagu selesai.

“Kita ulang dari awal,” ucap Satrya. “Tempo jangan naik pas chorus kedua.”

Julian mengangkat salah satu stik ke pelipisnya seperti sedang memberi hormat. 

“Siap, Polantas.” teriaknya.

Satrya mengernyit.

“Apaan?” tanyanya.

“Lu yang ngatur kapan kita jalan, kapan kita berhenti.” balas Julian sambil tertawa kecil.

Empat hitungan terdengar sebelum Satrya sempat membalas.

Mereka memulai kembali. Intro berjalan lebih baik daripada percobaan pertama, lalu Evan masuk setelah melihat anggukan Satrya. Nayan dan Adrian mengikuti perubahan akor, sementara Julian menjaga tempo tetap stabil meskipun Evan sempat memperpanjang satu suku kata sedikit lebih lama.

Verse pertama hampir selesai ketika pick Satrya bergeser di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Ia masih dapat memetik, tetapi posisinya tidak nyaman. Menjelang perpindahan menuju pre-chorus, Satrya menunduk sebentar untuk memperbaiki letak pick tersebut.

Anggukan yang biasanya ia berikan tidak muncul.

Nayan menahan akor sebelumnya lebih lama. Adrian tetap bertahan pada nada dasar, sedangkan Julian mengurangi pukulan karena tidak yakin apakah mereka sudah harus masuk ke bagian berikutnya. Evan sempat menarik napas, tetapi tidak mulai bernyanyi.

Permainan mereka melambat dengan sendirinya, lalu berhenti dalam keadaan tidak jelas. Dengung gitar dan bass menggantung beberapa detik sebelum Adrian mematikannya menggunakan telapak tangan.

Julian menatap Satrya dari balik perangkat drum.

“Sat, Polantasnya belum nyuruh jalan.” ucapnya.

Evan menurunkan mikrofon.

“Berarti selama ini kita memang nunggu Polantas?” tanyanya.

Lihat selengkapnya