Resonansi

Lana
Chapter #15

Menguji Keseimbangan

Menjelang akhir jam pelajaran Geografi, lembar jawaban kelompok Satrya & Adrian kembali berpindah ke bangku depan, tempat Mira dan Zifa duduk. Mira mengetuk bagian kesimpulan dengan ujung pensil, sementara Zifa memeriksa dua angka dalam tabel di halaman sebelumnya. Karena posisi bangku mereka tepat di depan Satrya dan Adrian, keempatnya sudah beberapa kali otomatis tergabung dalam kelompok yang sama untuk tugas mata pelajaran lain. Pembagian pekerjaan biasanya berlangsung cepat, meskipun pemeriksaan akhirnya hampir selalu berubah menjadi perdebatan kecil. 

“Bagian terakhir ini siapa yang tulis?” ucap Mira.

“Adrian,” ucap Satrya.

Mira memutar badan menghadap bangku belakang. “Kamu yakin jawabannya begini?” tanyanya kepada Adrian

Adrian mengangkat kepala dari buku catatannya. “Yakin.”

“Kenapa tulisannya kelihatan seperti orang yang enggak yakin?” balas Mira.

“Tulisan gua memang begitu.” balas Adrian.

Zifa yang tadi membaca ulang kalimat terakhir, kemudian ikut berkomentar. “Isinya benar. Susunan kalimatnya saja perlu dirapikan.”

Mira menyerahkan lembar tersebut kepada Satrya. “Tolong rapikan sebelum dikumpulkan.”

Adrian menunjuk dirinya sendiri. “Yang nulis gua, kenapa yang disuruh Satrya?”

“Kalau dikembalikan ke kamu, nanti malah ditambah lagi.” sanggah Mira.

“Bisa saja gua rapikan.” balas Adrian.

“Kemarin kamu juga bilang begitu, terus jawabannya berubah jadi dua paragraf.” balas Mira kembali.

Satrya menerima lembar itu sebelum pembicaraan mereka bertambah panjang. Ia menghapus dua bagian yang mengulang maksud sama, lalu menyusun kembali kalimat terakhir agar lebih singkat. Setelah selesai, Satrya mengembalikannya kepada Mira. Mira membaca hasil perbaikannya sebentar sebelum menggeser lembar tersebut ke arah Zifa.

Zifa memeriksa jawabannya sekali lagi, kemudian mengangguk kecil. “Sudah.”

Mira menumpuk lembar itu bersama hasil kelompok lain di atas mejanya. Tidak lama kemudian, guru meminta setiap kelompok mengumpulkan tugas sebelum bel pergantian jam berbunyi. Julian berjalan ke depan membawa lembar jawaban kelompoknya, meletakkannya di meja guru, lalu langsung kembali ke bangkunya di belakang Evan.

Suara bel memecah sisa percakapan di dalam kelas. Beberapa murid mulai memasukkan buku ke dalam tas karena pelajaran berikutnya akan berlangsung di ruangan lain. Bu Ratna muncul di depan pintu dengan map tipis di tangannya, lalu meminta mereka membawa alat tulis dan catatan tugas Seni Budaya. Tidak ada yang perlu membawa alat musik karena seluruh perlengkapan sudah tersedia di ruang praktek sekolah.

“Semua langsung menuju ruang Seni Budaya,” ucap Bu Ratna. “Hari ini kita mulai pemeriksaan perkembangan tugas kelompok.”

Satrya memasukkan buku ke dalam tas dan berjalan keluar bersama Adrian. Mira dan Zifa berada beberapa langkah di depan mereka, masih membicarakan bagian lagu kelompoknya, sedangkan Evan serta Julian menyusul dari belakang. Nayan berjalan di sisi Satrya dengan buku catatan aransemen di tangannya. Kelimanya terlihat cukup tenang karena pada latihan terakhir mereka sudah dapat memainkan lagu dari awal hingga akhir tanpa terus menunggu aba-aba Satrya.

Ruang praktek Seni Budaya berada di ujung koridor lantai pertama. Ukurannya lebih besar daripada studio langganan mereka, dengan langit-langit tinggi, lantai keramik, dan jendela lebar di salah satu sisi. Dua gitar listrik dan satu bass sudah berada pada stand dekat amplifier masing-masing, sementara keyboard diletakkan di sisi kiri area bermain. Di bagian belakang terpasang perangkat drum sederhana dengan satu tom, ride, dan crash, sedangkan mikrofon berdiri tetap di bagian depan.

Seluruh peralatan sudah tersambung atau diletakkan dekat kabel yang sesuai. Setiap kelompok hanya perlu menyalakan amplifier, memasangkan kabel pada instrumen, lalu menyesuaikan volume seperlunya. Tidak ada peredam tebal seperti di studio, hanya beberapa panel tipis pada dinding belakang yang tidak cukup menahan seluruh pantulan suara. Bahkan percakapan para murid terdengar sedikit lebih panjang setelah mencapai sisi lain ruangan.

Bu Ratna meminta mereka duduk di lantai berdasarkan kelompok, menghadap area alat musik. Kelompok Tiga membentuk satu baris di depan, sedangkan Satrya dan empat temannya duduk sejajar tepat di belakang mereka. Kelompok lain mengambil tempat di sisi kanan, kiri, dan bagian belakang ruangan. Mira berada di depan Satrya dan Adrian, sementara Zifa duduk tidak jauh dari posisi Julian.

Setelah seluruh murid cukup tenang, Bu Ratna berdiri di dekat mikrofon dan membuka lembar penilaiannya. Ia menunggu percakapan kecil mereda sebelum menjelaskan bentuk pemeriksaan yang akan mereka jalani. Beberapa murid sudah membuka catatan kelompok masing-masing, meskipun belum ada yang mengetahui bagian lagu apa yang akan diminta.

“Pemeriksaan perkembangan dilakukan dua kali,” ucap Bu Ratna. “Hari ini Ibu ingin melihat kondisi awal permainan kalian. Minggu depan, setiap kelompok memainkan bagian yang sama setelah memperbaiki catatan yang diberikan.”

Seorang murid dari kelompok lain mengangkat tangan. “Berarti hari ini belum penilaian akhir, Bu?”

“Belum,” ucap Bu Ratna. “Namun, penampilan akhir nanti juga dilakukan di ruangan ini. Kelompok dengan hasil terbaik akan mewakili kelas dalam pentas seni sekolah.”

Beberapa murid mulai berbisik membicarakan pengumuman tersebut. Satrya melihat area alat musik sekali lagi dan membandingkannya dengan posisi mereka di studio. Jarak antara drum dan mikrofon lebih panjang, sementara kedua amplifier gitar berada di sisi ruangan yang berbeda. Ia menyadari susunannya tidak sama dengan tempat mereka berlatih, tetapi belum merasa hal itu akan menjadi masalah besar.

Kelompok pertama dipanggil untuk memulai pemeriksaan. Mereka menggunakan satu gitar, bass, drum, dan mikrofon, lalu memainkan potongan lagu selama beberapa menit. Permainannya sempat terhenti karena vokalis terlambat masuk, tetapi mereka berhasil mengulang bagian tersebut sampai selesai. Setelah menerima catatan mengenai tempo dan volume bass, mereka mematikan alat tanpa mencabut seluruh sambungannya, kemudian mengembalikan gitar serta bass ke stand.

Bu Ratna memanggil Kelompok Enam sebagai giliran berikutnya. Satrya dan Nayan berdiri lebih dahulu, lalu disusul Evan, Adrian, dan Julian. Ketika Adrian hendak berjalan dari tempat duduknya menuju ke area alat musik, Mira memutar badan dari barisan depan dan memanggil Satrya..

“Sat, bilang Adrian cek kabel bass-nya dulu,” ucap Mira. “Tadi suaranya sempat mengecil.”

Satrya mengangguk kecil tapi Adrian yang berdiri tepat di sebelah Satrya memilih berhenti. “Gua dengar sendiri kok Mir.”

Mira mengangguk. “Bagus. Berarti enggak perlu disampaikan dua kali.” ucapnya.

“Perhatian sekali kamu Mir.” ucap Adrian sambil tertawa kecil.

“Aku cuma enggak mau kalian menghabiskan waktu buat mencari masalah kabel.” sanggah Mira.

“Alasannya bagus.” ucap Adrian sambil berlalu.

Adrian melanjutkan langkahnya menuju area alat. Satrya dan Nayan mengambil dua gitar listrik yang telah berada pada stand dekat amplifier, sedangkan Adrian mengambil bass dari stand di tengah. Julian langsung duduk di belakang perangkat drum, sementara Evan setelah menyerahkan kepada Bu Ratna satu lembar berisi lirik dan chord lagu yang akan mereka bawakan bergegas menuju ke posisi mikrofon.

Evan menunggu sampai Bu Ratna memeriksa lembar kelompok mereka, lalu menoleh kepada Satrya. “Dua anak depan itu kenapa nyarinya lu terus dari tadi di kelas sama disini?”

“Karena bangkunya memang di depan gua,” ucap Satrya sambil memasangkan kabel gitar.

Julian mengatur posisi kursinya di belakang drum. “Jawaban paling aman.”

“Memang itu jawabannya.” balas Satrya.

“Dua orang sekaligus,” ucap Evan. “Sibuk juga lu.” lanjutnya dengan nada menggoda.

Satrya mengernyit. “Gua sibuk apaan?” balas Satrya.

Adrian memetik satu nada rendah untuk memeriksa kabel bass. “Jangan senang dulu, Sat. Belum tentu dua-duanya.” ucapnya sambil tertawa kecil.

“Gua dari tadi enggak senang.” sanggat Satrya masih keheranan.

Nayan menyesuaikan strap gitar sekolah yang sedikit lebih panjang daripada miliknya. “Mereka lebih sering berbicara kepada Satrya karena posisi bangkunya paling dekat.” ucapnya.

Julian melirik ke arah Nayan. “Lu enggak ngerti beginian, Nay.” ucapnya.

“Memang, tapi kesimpulanmu tidak memiliki dasar.” balas Nayan sambil membetulkan kacamatanya.

“Dasarnya kelihatan kok.” balas Julian dengan nada mengejek.

Bu Ratna meminta mereka bersiap sebelum Julian sempat menjelaskan lebih jauh. Adrian memainkan beberapa nada pendek dan memastikan kabel bass tidak lagi menimbulkan suara kecil seperti pada kelompok sebelumnya. Satrya menyalakan amplifier di sisi kanan, sedangkan Nayan melakukan hal yang sama pada sisi kiri. Dari tempatnya berdiri, jarak antara mereka terasa lebih renggang dibandingkan saat latihan.

“Coba mainkan bait kedua, chorus, lalu lanjutkan sampai chorus terakhir,” ucap Bu Ratna. “Tidak perlu dimulai dari bagian pembuka.” lanjutnya lagi.

Julian mengangkat stik dan menghitung ketukan. Satrya menyiapkan pick di antara jari, sementara Adrian menempatkan tangan kirinya pada nada awal. Setelah hitungan terakhir, seluruh instrumen masuk hampir bersamaan.

Beberapa detik pertama terasa cukup biasa. Gitar Satrya memainkan pola yang sudah diulang berkali-kali, bass Adrian bergerak di bawahnya, sedangkan Nayan menjaga perubahan akor dari sisi lain. Evan mulai bernyanyi setelah bagian pembuka bait selesai, dan Julian mempertahankan pukulan yang sama seperti saat berada di studio. Tidak ada yang langsung menyadari bahwa setiap bunyi sudah bergerak ke arah berbeda.

Ketika tenaga pukulan Julian bertambah, snare memantul dari lantai keramik dan dinding kosong di sisi kanan. Suara gitar Satrya terasa terlalu dekat dengan telinganya sendiri, sementara gitar Nayan dari seberang terdengar lebih tipis dan bercampur dengan pantulan alat lain. Adrian beberapa kali mengubah kekuatan petikan karena bass terasa besar dari tempatnya berdiri. Di depan mikrofon, Evan mulai menaikkan volume suaranya agar tetap terdengar melewati drum dan dua gitar.

Mereka memainkan bagian yang sama, tetapi hasil yang didengar setiap anggota tidak lagi serupa. Julian masih dapat mendengar gitar dan bass dari belakang drum, sehingga tidak merasa pukulannya terlalu kuat. Satrya justru kesulitan menangkap perubahan kecil dari gitar Nayan. Evan mendengar gitar Satrya lebih jelas daripada bass Adrian, sedangkan Nayan hampir tidak dapat membedakan genjrengannya dari pantulan amplifier di sisi lain.

Chorus pertama berhasil mereka lewati tanpa berhenti. Satrya mencoba mengurangi tenaga genjrengan, tetapi perubahan mendadak tersebut membuat bagian tengah terdengar lebih tipis dari posisinya sendiri. Evan mengambil napas lebih pendek karena terus berusaha mendorong suaranya melewati instrumen. Julian tetap mempertahankan pukulan dengan tenaga serupa karena tidak mendapat petunjuk bahwa bunyi drumnya telah memenuhi ruangan.

Masalah paling jelas muncul ketika mereka memasuki bridge menuju chorus terakhir. Satrya mengurangi genjrengan untuk menunggu empat nada bass Adrian yang selama ini menjadi penanda perpindahan. Adrian memainkan rangkaian tersebut tepat seperti saat latihan, tetapi nada ketiganya bertumpuk dengan perubahan akor Nayan. Nada terakhir hampir sepenuhnya hilang ketika Julian menaikkan pukulan menuju bagian berikutnya.

Julian membuka chorus terlalu cepat. Evan mengambil napas mengikuti pukulan drum, sedangkan Nayan masih menahan akor sebelumnya karena tidak mendengar akhir rangkaian bass dengan jelas. Satrya masuk sepersekian waktu setelah mereka, lalu segera menyesuaikan genjrengannya agar permainan tidak berhenti. Chorus terakhir tetap selesai, tetapi mereka tiba di bagian tersebut melalui waktu yang sedikit berbeda.

Nada terakhir bertahan lebih lama di ruangan itu sebelum menghilang. Beberapa murid bertepuk tangan, sementara Satrya membiarkan tangannya terlepas dari senar. Tidak ada satu kesalahan besar yang dapat langsung ditunjuk sebagai penyebab. Masalahnya muncul di antara bunyi-bunyi yang sebenarnya dimainkan dengan benar.

Lihat selengkapnya