Resonansi

Lana
Chapter #16

Satu Wakil

Beberapa pekan setelah evaluasi kedua, persiapan pentas seni antar kelas mulai terlihat di beberapa bagian sekolah. Aula yang biasanya digunakan untuk pertemuan besar sudah dibersihkan, sementara rangka lampu dipasang di atas panggung oleh beberapa petugas. Deretan kursi belum disusun, tetapi gulungan kabel, papan dekorasi, dan dua pengeras suara besar telah diletakkan di dekat dinding. Setiap kelas hanya mendapat satu tempat untuk mengirimkan kelompok terbaiknya.

Satrya dan empat temannya melewati aula saat berjalan kembali dari perpustakaan. Evan yang berada paling depan memperlambat langkah, lalu berhenti di ambang pintu yang terbuka. Pandangannya bergerak dari panggung menuju bagian belakang aula, seolah deretan kursi yang belum ada sudah dipenuhi murid dari seluruh tingkatan. Julian ikut berhenti di sampingnya sambil menepukkan tabung tempat stik miliknya ke telapak tangan.

“Kalau kita jadi wakil kelas, kita bakal manggung di sini, ya?” celoteh Adrian.

“Wah, pasti seru sih,” ucap Evan dengan antusias. “Panggungnya besar, terus yang nonton satu sekolah, bukan satu kelas doang.”

“Yang penting perangkat drumnya bagus,” ucap Julian. “Jangan sampai pas gua pukul, bunyinya malah kayak kaleng.”

“Lah lu belum kepilih saja sudah protes,” ucap Adrian.

“Bukan protes,” ucap Julian. “Persiapan.”

Nayan memperhatikan jarak antara panggung dan bagian belakang aula. Langit-langit ruangan jauh lebih tinggi daripada Ruang Praktek Seni Budaya, sedangkan kedua sisi dindingnya hampir seluruhnya datar. Ia membetulkan kacamatanya sebelum menatap pengeras suara yang belum dipasang.

“Ruang sebesar ini akan lebih sulit,” ucap Nayan. “Pantulannya lebih panjang, dan posisi setiap pengeras suara juga akan berpengaruh.”

Evan menoleh kepadanya. “Nah, itu urusan kalian. Gua tinggal bikin satu sekolah ikut nyanyi aja, gua buat semua ngikutin gaya gua.” ucapnya dengan penuh antusias.

“Dengan lagu tugas Seni Budaya?” ucap Adrian.

“Kenapa enggak, Put? lagu kita bagus kok.” balas Evan.

Julian mengangguk seolah rencana tersebut sudah pasti berhasil. “Kalau bagian akhirnya dibuat lebih besar, penonton pasti langsung ramai.” tambahnya.

“Kita jangan mengubah lagi bagian yang sudah stabil,” ucap Nayan.

“Bukan diubah,” ucap Julian. “Dibikin lebih pecah.” lanjutnya.

“Itu tetap perubahan,” sanggah Nayan singkat.

Satrya berdiri sedikit lebih dekat ke pintu aula. Panggung tersebut tidak terlalu tinggi, tetapi dari tempatnya berdiri, area itu terasa jauh lebih besar daripada bagian depan ruang kelas ataupun studio yang selama ini mereka gunakan. Ia mulai membayangkan Evan di depan mikrofon bernyanyi sambil membangun suasana dan menarik perhatian penonton, Julian di tengah belakang menjaga tempo permainan, Adrian berdiri di antara dua gitar sambil menjaga keseimbangan dengan bassnya, lalu dirinya dan Nayan berada pada sisi yang berlawanan saling mengisi satu sama lain dengan permainan gitar masing-masing.

Bayangan itu muncul lebih mudah daripada yang Satrya duga. Ia dapat membayangkan lagu mereka terdengar melalui pengeras suara besar, menyebar hingga deretan kursi paling belakang, lalu kembali sebagai tepuk tangan dari orang-orang yang tidak pernah melihat mereka latihan. Untuk sesaat, tugas yang dimulai dari pembagian kelompok di dalam kelas terasa dapat membawa mereka menuju sesuatu yang lebih jauh.

“Kalau kita kepilih, berarti lagu ini enggak berhenti sebagai tugas kelas saja,” ucap Satrya.

Keempat temannya menoleh kepadanya. Evan menjadi orang pertama yang tersenyum, sedangkan Julian mengangguk dengan keyakinan yang sudah muncul bahkan sebelum penilaian akhir berlangsung. Adrian memasukkan kedua tangan ke saku celana, lalu kembali memandang panggung.

“Makanya jangan sampai enggak kepilih,” ucap Evan sambil mengepalkan tangannya.

Satrya tidak menjawab. Bel masuk terdengar dari gedung utama sebelum mereka sempat membicarakan panggung itu lebih lama. Mereka meninggalkan aula dan kembali menuju kelas, tetapi gambaran mengenai penampilan di hadapan satu sekolah terus mengikuti Satrya sampai ke bangkunya.

***

Penilaian akhir berlangsung pada pekan berikutnya di Ruang Praktek Seni Budaya. Susunan peralatan tidak berubah sejak evaluasi kedua, begitu pula posisi duduk setiap kelompok di lantai. Kelompok Tiga berada di barisan depan, sedangkan Kelompok Enam duduk tepat di belakang mereka. Namun, suasana ruangan terasa lebih tenang karena tidak ada kesempatan memperbaiki hasil setelah hari itu.

Bu Ratna berdiri di dekat meja kecil yang diletakkan pada sisi ruangan. Di atas meja tersebut terdapat lembar penilaian, daftar kelompok, dan seluruh salinan lirik serta akor yang telah dikumpulkan sejak awal tugas. Setelah memastikan seluruh murid hadir, ia menghadap barisan kelompok yang duduk di lantai.

“Hari ini setiap kelompok memainkan lagu dari awal hingga akhir,” ucap Bu Ratna. “Tidak ada pengulangan, kecuali masalahnya berasal dari kerusakan alat.”

Beberapa murid mulai membalik catatan mereka untuk terakhir kali. Ada yang menggerakkan jari di atas lutut, ada pula yang melafalkan lirik tanpa suara. Evan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan sambil menatap area alat musik di depan.

“Setelah seluruh kelompok selesai, Ibu akan mengumumkan satu kelompok yang mewakili kelas kita dalam pentas seni,” ucap Bu Ratna.

Evan menoleh kepada Satrya. “Satu sekolah, Sat.” ucapnya.

“Main dulu yang benar,” ucap Satrya.

“Gua cuma mengingatkan hadiahnya.” balas Evan.

Julian membuka tabung stik yang dibawanya sendiri, lalu mengeluarkan sepasang stik dengan ujung yang mulai tampak kusam. Ia menggulirkannya beberapa kali di atas telapak tangan sebelum memasukkannya kembali. Adrian memperhatikan gerakan tersebut, kemudian menggeleng kecil.

“Lu belum tampil, Jul.” ucap Adrian.

“Gua cek keseimbangan stik,” ucap Julian.

“Dari tadi pagi?” tanya Adrian keheranan.

“Biar yakin, Put.” balas Julian singkat.

Nayan membuka buku catatan aransemen pada halaman terakhir. Tidak ada perubahan baru di sana, hanya beberapa tanda mengenai dinamika, arah amplifier, dan bagian empat nada bass sebelum chorus terakhir. Ia membaca semuanya sekali lagi, lalu menutup buku tersebut tanpa memberikan tambahan apa pun.

Kelompok Empat yang dipanggil pertama menuju area bermain. Mereka memainkan lagu dengan cukup lancar, meskipun gitar sempat masuk terlalu awal pada bait kedua. Kelompok berikutnya yaitu kelompok Satu tampil dengan vokal yang lebih kuat, tetapi tempo mereka bergerak semakin cepat menjelang akhir. Bu Ratna tidak langsung memberikan komentar panjang seperti pada evaluasi sebelumnya, ia hanya menulis beberapa catatan setelah setiap kelompok selesai.

Kelompok Enam mendapat giliran keempat setelah kelompok Lima. Ketika nama mereka disebut, Evan berdiri lebih dahulu dan menyerahkan satu lembar lirik serta akor kepada Bu Ratna. Satrya, Nayan, Adrian, dan Julian menyusul menuju area alat musik tanpa banyak berbicara. Mira dan Zifa menggeser posisi duduk mereka sedikit ke depan agar kelimanya dapat melewati celah di belakang. 

Satrya dan Nayan mengambil gitar dari stand, sedangkan Adrian mengambil bass yang baru saja dikembalikan kelompok sebelumnya. Julian duduk di belakang perangkat drum dan meletakkan tabung stik di samping kursinya. Evan berdiri di depan mikrofon, lalu menyesuaikan jarak mulutnya tanpa mengubah tinggi stand.

Adrian memeriksa kabel bass sebelum memainkan beberapa nada pendek. Satrya menurunkan volume amplifier satu tingkat dari posisi kelompok sebelumnya, sedangkan Nayan memutar arah amplifier agar suaranya tidak terlalu banyak memantul ke dinding samping. Julian mengetukkan kedua stik dengan ringan sambil menunggu seluruh anggota siap.

Evan melihat ke arah Satrya. “Kalau nanti tepuk tangannya ramai, jangan langsung gugup.” ucapnya

“Kenapa gua yang gugup?” ucap Satrya.

“Lu kelihatan paling tegang soalnya, Sat.” balas Evan sambil tertawa kecil.

“Enggak gitu, gua lagi memastikan semuanya siap.” balas Satrya.

“Berarti tegang itu maksudnya.” balas Evan kembali.

Bu Ratna mengangkat tangan kecil sebagai tanda agar mereka menghentikan percakapan. Satrya memegang pick lebih erat, lalu mengalihkan pandangan kepada Julian. Tidak ada aba-aba tangan yang perlu diberikan karena mereka sudah mengetahui awal lagu melalui hitungan drum.

Julian menghitung empat ketukan. Setelah stiknya turun, petikan melodi gitar Satrya membuka lagu sebagai pengganti bagian keyboard. Evan mulai bernyanyi di atas melodi tersebut, lalu genjrengan gitar Nayan, petikan bass Adrian, serta pukulan snare dan crash Julian masuk bersamaan untuk membentuk lapisan penuh permainan mereka. 

Bunyi instrumen yang bersatu itu kemudian menyebar ke seluruh ruangan, tetapi kali ini tidak ada satu bagian yang langsung menutup suara lain. Mereka telah mengenali pantulan dinding, jarak antar alat, dan tenaga yang dibutuhkan sejak nada pertama.

Evan membiarkan mikrofon membantu suaranya mencapai barisan belakang tanpa memaksakan tenggorokan melewati gitar dan drum. Setiap akhir kalimat mendapatkan ruang sebelum instrumen mengisi kembali bagian yang kosong.

Pada bait pertama, Julian menahan tenaga pukulan snare. Ia baru menambah kekuatan ketika lagu mendekati chorus, tetapi tidak langsung menggunakan crash pada setiap ketukan. Perubahan itu cukup untuk menaikkan energi tanpa membuat gitar Nayan hilang seperti pada evaluasi pertama.

Satrya dapat mendengar perubahan akor dari sisi lain. Ia tidak lagi memenuhi setiap sela dengan genjrengan, melainkan menahan tangan pada bagian ketika gitar Nayan perlu terdengar lebih jelas. Untuk pertama kalinya di ruangan itu, pola kedua gitar tidak terasa seperti dua bunyi yang berusaha menempati tempat sama.

Mereka memasuki chorus pertama dengan cukup bersih. Beberapa murid di barisan samping mulai mengikuti irama melalui gerakan kepala, sedangkan Evan semakin nyaman berada di depan mikrofon. Ia mengangkat sedikit tangan kirinya pada nada panjang, bukan sebagai aba-aba, melainkan sebagai bagian dari caranya membawakan lagu.

Adrian menjaga nada bass tetap padat tanpa menaikkan seluruh volumenya. Setiap petikan terdengar cukup jelas di bawah gitar, meskipun tidak selalu menonjol. Ketika Satrya sempat melirik ke arahnya, Adrian hanya menggerakkan bahu kecil dan melanjutkan permainan.

Bait kedua berjalan lebih lepas. Julian memasukkan satu isian pendek menuju chorus berikutnya, lalu kembali pada ketukan utama sebelum bunyinya tumbuh terlalu ramai. Tepuk tangan kecil mulai terdengar dari beberapa murid ketika Evan menyelesaikan salah satu nada panjang dengan tepat.

Evan tersenyum sekilas. Reaksi tersebut membuatnya menambah sedikit tenaga pada kalimat berikutnya, tetapi ia segera mengendalikannya agar tidak keluar dari bagian yang telah mereka latih. Satrya dapat merasakan energi permainan mereka naik bersama respons kelas.

Bridge menuju chorus terakhir menjadi bagian yang paling mereka tunggu. Satrya mengurangi pola genjrengannya, sedangkan Nayan menahan akor agar tidak bergerak terlalu cepat. Adrian memainkan empat nada penghubung dengan petikan yang bersih dan terpisah.

Nada pertama terdengar jelas. Nada kedua bergerak di bawah vokal terakhir Evan, lalu nada ketiga muncul ketika gitar lain sudah memberi ruang. Pada nada keempat, Julian menahan pukulannya sepersekian waktu sebelum membuka bagian berikutnya.

Seluruh kelompok masuk bersama.

Chorus terakhir terdengar lebih besar daripada bagian sebelumnya. Julian menambah tenaga, Nayan mengisi perubahan akor dengan lebih penuh, sedangkan Satrya mengembalikan pola genjrengannya setelah rangkaian bass selesai. Evan menjaga nada di atas seluruh instrumen tanpa perlu berteriak.

Pada paruh akhir chorus, susunan bunyi mereka mulai sedikit lebih padat. Gitar Satrya dan Nayan sama-sama bergerak lebih aktif, sementara Julian memasukkan satu isian yang telah mereka siapkan menuju penutup. Tidak ada bagian yang benar-benar bertabrakan, tetapi ruang antarinstrumen menjadi lebih sempit dibandingkan bait dan chorus pertama.

Satrya menyadarinya ketika permainan sudah berjalan. Ia mengurangi satu genjrengan pada perubahan akor berikutnya, memberi tempat bagi gitar Nayan sebelum masuk kembali. Penyesuaian kecil itu cukup menjaga lagu agar tidak kehilangan bentuk sampai akhir.

Julian menutup permainan dengan pukulan crash yang kuat. Nada gitar dan bass bertahan selama beberapa detik, bercampur dengan pantulan ruangan sebelum perlahan menghilang. Evan mundur satu langkah dari mikrofon dan mengembuskan napas panjang.

Tepuk tangan terdengar hampir bersamaan dari seluruh kelas. Beberapa murid bahkan bersiul, sementara seorang anak dari kelompok lain mengetukkan telapak tangannya ke lantai mengikuti irama penutup yang baru saja selesai. Evan tersenyum lebar dan melirik ke arah anggota lain.

Lihat selengkapnya