Beberapa hari setelah penilaian akhir, pelajaran Seni Budaya kembali berjalan seperti mata pelajaran biasa. Bu Ratna tidak lagi menyisihkan waktu untuk evaluasi kelompok, tidak ada lembar aransemen yang harus diperiksa, dan tidak seorang pun diminta menyiapkan lagu untuk pertemuan berikutnya. Kelima anggota Kelompok Enam masih sering berkumpul saat jam istirahat, tetapi pembicaraan mereka lebih banyak berputar pada tugas sekolah, permainan, atau rencana libur kenaikan kelas. Kata studio seolah sengaja dihindari meskipun tidak ada yang pernah sepakat untuk menghindarinya.
Satrya beberapa kali hampir menanyakan apakah mereka akan berkumpul lagi pada hari Minggu. Setiap kali kesempatan itu muncul, Evan lebih dahulu membicarakan hal lain, Julian sibuk mengetukkan jari ke permukaan meja, sedangkan Adrian dan Nayan tampak tidak sedang menunggu pertanyaan apa pun. Satrya akhirnya memilih diam karena ia tidak tahu apakah keempat temannya masih menganggap latihan sebagai bagian dari kebiasaan mereka. Bisa saja hanya dirinya yang belum terbiasa menerima bahwa tugas tersebut memang sudah selesai.
Minggu pertama berlalu tanpa rencana apa pun. Satrya terbangun lebih pagi pada jam ketika biasanya ia memeriksa gitar, menghitung uang studio, lalu menunggu kabar dari Evan mengenai jadwal latihan. Ponselnya tetap sunyi, sementara tas gitar masih bersandar di sisi meja belajar tanpa disentuh sejak penilaian akhir.
Menjelang siang, Satrya mengeluarkan gitar dari dalam tas dan duduk di tepi tempat tidur. Ia memainkan petikan pembuka lagu yang selama hampir setahun selalu menjadi tanda bagi Evan untuk mulai bernyanyi. Jarinya bergerak sampai bagian vokal seharusnya masuk, kemudian berhenti dengan sendirinya.
Ruangan itu terasa terlalu tenang.
Satrya mencoba melanjutkan, tetapi genjrengan berikutnya terdengar seperti bagian yang kehilangan tujuan. Tidak ada bass Adrian yang bergerak di bawahnya, gitar Nayan yang melengkapi akor, ataupun pukulan Julian yang menahan tempo agar tetap berjalan. Ia akhirnya meletakkan telapak tangan di atas senar dan menatap layar ponsel sekali lagi. Tidak ada pesan baru.
Minggu tersebut berakhir tanpa latihan.
Hari-hari berikutnya tetap berjalan seperti biasa. Julian masih membawa tabung stik ke sekolah dan sesekali mengetukkan telapak tangannya mengikuti irama yang hanya terdengar di kepalanya. Evan tetap bernyanyi pelan saat berjalan di koridor, Adrian beberapa kali menggerakkan jemari di atas meja seolah sedang mengingat pola bass, sedangkan Nayan masih membawa buku kecilnya meskipun halaman terakhir tidak pernah bertambah.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar berhenti bermain.
Mereka hanya tidak bermain bersama.
***
Pentas seni antar kelas berlangsung beberapa minggu kemudian, mendekati akhir tahun ajaran. Acara sudah dimulai sejak pagi, tetapi setiap tingkatan mendapat jadwal bergantian untuk memasuki aula agar jumlah penonton tetap terkendali. Kelas Satrya memperoleh giliran setelah jam istirahat kedua, tepat ketika satu kelompok selesai tampil dan petugas panggung sedang memeriksa kembali susunan alat musik.
Panggung yang sebelumnya mereka lihat dalam keadaan kosong kini dipenuhi cahaya. Pengeras suara besar berdiri pada kedua sisi, beberapa lampu digantung pada rangka di atas panggung, sementara gitar, bass, keyboard, dan perangkat drum sudah tersusun di tempat masing-masing. Spanduk kegiatan terbentang di bagian belakang, membuat ruang yang dahulu hanya mereka bayangkan terasa jauh lebih hidup.
Satrya duduk bersama Evan, Nayan, Adrian, dan Julian di deretan tengah. Beberapa teman sekelas berada di depan dan belakang mereka, sibuk membicarakan penampilan yang baru saja selesai. Evan duduk sedikit condong ke depan, sedangkan Julian terus memperhatikan perangkat drum yang sedang diperiksa salah satu petugas.
“Set drumnya lumayan juga dilihat dari sini,” komentar Julian.
“Baru dilihat saja sudah dinilai,” ejek Adrian.
“Dari bentuknya kelihatan,” balas Julian.
“Memangnya lu bisa dengar dari bentuk?” tanya Adrian.
“Bisa-lah kalau lu ngerti drum,” balas Julian dengan percaya diri.
Nayan memperhatikan dua amplifier gitar yang diarahkan sedikit menyilang ke tengah panggung. “Posisinya berbeda dari ruang praktik.” gumamnya.
Evan menoleh kepadanya. “Lu datang ke pentas seni buat nonton atau menghitung sudut amplifier?” celotehnya.
“Secara fakta, keduanya bisa dilakukan bersamaan,” ucap Nayan.
Satrya menahan senyum. Beberapa minggu tanpa latihan ternyata tidak mengubah cara mereka membicarakan alat musik. Begitu duduk di depan panggung, percakapan yang selama ini hilang kembali muncul tanpa perlu dipancing.
Pembawa acara naik setelah pemeriksaan alat selesai, lalu mengumumkan perwakilan dari kelas mereka. Tepuk tangan langsung terdengar lebih ramai dari deretan tempat Satrya dan teman-temannya duduk. Mira berjalan keluar bersama anggota Kelompok Tiga, kemudian terlihat Zifa mengambil posisi di belakang keyboard pada sisi kiri panggung.
Mira tampak lebih tenang daripada saat penilaian akhir. Ia berdiri di depan mikrofon sambil menunggu seluruh anggota menyelesaikan pemeriksaan alat, sementara Zifa menyalakan keyboard dan memilih tone piano yang bersih. Beberapa nada pendek dimainkan untuk menyesuaikan volumenya dengan pengeras suara aula.
Julian menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau mereka berantakan di sini, berarti harusnya kita yang dipilih.” ucapnya.
“Belum juga mulai, Jul.” sanggah Satrya.
“Gua cuma menyiapkan kemungkinan aja, Sat.” balas Julian.
“Jangan berharap orang lain berantakan, tidak baik.” ucap Nayan.
“Bukan berharap berantakan. Hanya mengamati saja.” balas Julian.
Drummer Kelompok Tiga memberikan hitungan. Akor piano Zifa membuka lagu dengan susunan sederhana, kemudian gitar dan bass masuk tanpa mengubah bentuk dasar yang sudah mereka gunakan saat evaluasi. Mira mulai bernyanyi setelah dua birama, suaranya terdengar lebih berani daripada sebelumnya tanpa kehilangan warna lembut yang menjadi cirinya.
Kelompok Tiga tidak mencoba membuat aransemennya jauh lebih ramai hanya karena panggung yang mereka gunakan lebih besar. Piano Zifa tetap memberi ruang ketika vokal masuk, gitar mempertahankan pola yang sama, sedangkan bass bergerak di bawahnya tanpa mencari perhatian. Pukulan drum terdengar lebih penuh melalui pengeras suara aula, tetapi tidak pernah menutup instrumen lain.
“Vokal Mira lebih berani sekarang,” komentar Evan sambil tetap menatap panggung.
Adrian mengikuti pola bass Kelompok Tiga selama beberapa bagian. Ketika petikannya kembali menetap pada nada dasar, pandangannya berpindah ke permainan keyboard di sisi kiri panggung.
“Pianonya juga lebih terasa,” ucap Adrian.
“Iya, lebih penuh,” balas Evan.
Nayan membetulkan kacamatanya, sementara Julian tetap memperhatikan drummer Kelompok Tiga. Satrya melihat keseluruhan susunan permainan mereka, terutama cara setiap instrumen mempertahankan tempatnya tanpa berusaha menjadi bagian yang paling menonjol.
Ketika memasuki chorus, Kelompok Tiga menaikkan volume dengan cara yang sama seperti pada penilaian akhir. Tidak ada perubahan besar, tetapi seluruh anggota tetap masuk pada waktu yang tepat. Mira membiarkan beberapa murid ikut bertepuk tangan mengikuti ketukan, kemudian mengangkat tangan kirinya sedikit untuk menjaga perhatian penonton.
Satrya teringat bagaimana dirinya sempat membayangkan Kelompok Enam berdiri di atas panggung tersebut. Bayangan itu masih menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman, tetapi tidak lagi terasa seperti sesuatu yang dirampas dari mereka. Kelompok Tiga berhasil membawa kekuatannya dari Ruang Praktek Seni Budaya menuju aula tanpa kehilangan bentuk permainan.
Keputusan Bu Ratna memang benar.
“Di aula juga tetap bersih permainannya,” komentar Satrya pelan.
Nayan mengangguk. “Mereka tidak mengubah terlalu banyak hal sekaligus.” ucapnya.
Julian menurunkan pandangan sebentar. “Drummer-nya harusnya masih bisa kasih isian lebih banyak.” komentarnya.
“Tapi yang sekarang sudah cukup kayanya, Jul.” ucap Adrian.
“Cukup terus kapan majunya, Put?” balas Julian.
“Ya, enggak semua kemajuan berarti harus tambah ramai kali,” balas Adrian.
Julian hendak menyanggah, tetapi tepuk tangan penonton menutup percakapan mereka. Kelompok Tiga menyelesaikan lagu tanpa kehilangan keseimbangan, lalu membungkuk singkat sebelum meninggalkan panggung. Mira melambaikan tangan ke arah teman-teman sekelas, sementara Zifa tersenyum kecil dan mengikuti anggota lain menuju sisi panggung.
Penampilan berikutnya datang dari kelas lain dengan susunan dua gitar, bass, drum, dan seorang vokalis. Permainan mereka tidak sebersih Kelompok Tiga, tetapi dua gitar memiliki fungsi yang jelas. Gitar pertama menjaga pola ritmis, sedangkan gitar kedua mengisi sela dengan melodi pendek yang tidak bertabrakan.
Nayan duduk lebih tegak. “Pembagian gitarnya bagus.” komentarnya
Satrya mengangguk. “Yang gitaris kanan enggak terus-terusan masuk dia ngejeda genjrengannya.” ucap Satrya
“Makanya waktu melodinya muncul langsung terdengar.” balas Nayan.
Evan mengangkat satu tangan di depan pandangan mereka mencoba mencari perhatian. “Halo para gitaris, boleh enggak sih sekali-sekali kalian nonton tanpa rapat aransemen?” celoteh Evan.
“Lu dari tadi juga menilai vokalis, Van.” goda Adrian.
“Itu beda. Gua sedang belajar cara menguasai panggung.” balas Evan.
“Buset, bahasanya tinggi sekali.” komentar Adrian.
“Karena gua punya tujuan,” balas Evan.
Vokalis di atas panggung beberapa kali mengarahkan mikrofon kepada penonton pada bagian yang mudah diikuti. Ia bergerak dari satu sisi ke sisi lain tanpa kehilangan napas, lalu berhenti tepat di depan panggung ketika memasuki chorus. Evan mengamati hampir setiap gerakannya, sesekali mengangguk seperti sedang menyimpan sesuatu untuk dicoba nanti.
Kelompok setelahnya tidak tampil sesempurna itu. Gitar sempat terlambat masuk, vokalis kehilangan satu baris lirik, dan drummer mereka beberapa kali mempercepat tempo. Namun, kelima pemain terus tertawa setiap kali berhasil kembali menemukan bagian lagu, membuat penonton justru memberikan tepuk tangan semakin keras.
Pada akhir penampilan, drummer memainkan isian sederhana sebelum pukulan terakhir. Polanya tidak rumit, tetapi seluruh aula langsung bersorak ketika lampu panggung berubah lebih terang. Julian yang sejak tadi bersandar mendadak duduk tegak.
“Tuh, isian begitu saja ramai,” komentar Julian.
“Karena masuknya tepat,” ucap Nayan.
“Gua juga bisa kalo gitu doang, Nay.” balas Julian
“Tidak ada yang bilang kamu tidak bisa.” sanggah Nayan.
“Berarti nanti gua coba kaya gitu deh.” balas Julian.
Satrya menoleh kepadanya. “Nanti kapan?”
Julian membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu membuat Evan berhenti bertepuk tangan, sedangkan Adrian mengalihkan pandangannya dari panggung. Mereka belum memiliki latihan berikutnya, lagu berikutnya, ataupun kesempatan untuk mencoba apa pun yang baru saja mereka lihat.
Di atas panggung, kelompok tersebut membungkuk sambil tertawa. Mereka bukan penampil paling bersih dalam sesi itu, tetapi terlihat seperti lima orang yang benar-benar menikmati setiap menit permainan mereka. Kesalahan yang terjadi tidak membuat musik berhenti menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Satrya kembali melihat perangkat yang tersusun di bawah sorot lampu. Selama hampir setahun, ia selalu menghubungkan permainan mereka dengan tugas, nilai, evaluasi, dan kesempatan menjadi wakil kelas. Namun, tidak satu pun kelompok yang tampil hari itu membawa lembar penilaian ke atas panggung.
Mereka bermain karena ingin berada di sana.
***
Sesi pentas seni untuk tingkatan mereka berakhir menjelang sore. Murid-murid bergerak keluar dari aula dalam barisan yang perlahan kehilangan bentuk, membuat koridor dipenuhi percakapan dan langkah kaki. Satrya berjalan bersama empat temannya menuju gerbang sekolah, tetapi tidak ada yang langsung membicarakan Kelompok Tiga ataupun perwakilan kelas lain.
Evan beberapa kali menarik napas seperti hendak membuka percakapan. Ketika mereka mencapai halaman depan, ia akhirnya memperlambat langkah dan menoleh kepada empat temannya.
“Eh, Minggu nanti pada bisa enggak?” ucap Evan.
“Mau ngapain emang, Van?” balas Adrian.
Evan mengangkat bahu. “Studio, mungkin?” menjawab dengan sedikit ragu.
Julian langsung menepukkan tabung stik ke telapak tangannya. “Gua bisa.” ucapnya.
“Tapi, kita belum tahu studionya kosong atau enggak,” ucap Nayan.
“Kalau kalian bisa, nanti gua telepon.” sanggah Evan.
Adrian menatap Evan. “Emang mau latihan apa?” tanya Adrian.
“Main aja, main.” jawab Evan dengan nada santai.