Daftar pembagian kelas 8 ditempel pada papan pengumuman di dekat ruang guru. Murid-murid berdesakan di depannya sejak pagi, saling menunjuk nama sendiri sambil membandingkan kelas baru mereka. Satrya baru berhasil mendekat setelah Evan lebih dahulu menyelip di antara dua anak yang berdiri di depan papan.
“Nama gua ada di 8B,” ucap Evan.
“Geser dulu, Van, gua belum lihat,” celoteh Adrian dari belakangnya. Satrya berdiri di belakang Adrian, ikut berusaha melihat daftar yang tertutup murid-murid di depannya.
Evan menggeser tubuh sedikit, memberi ruang bagi Satrya dan Adrian untuk membaca daftar tersebut. Nama Satrya muncul beberapa baris di bawah Evan, disusul Adrian tidak jauh setelahnya. Nayan menemukan namanya pada bagian tengah, sedangkan Julian berada hampir di urutan paling bawah.
“Lengkap,” komentar Julian sambil mengangguk puas. “Takdir masih mempertahankan formasi terbaiknya.”
“Baru pembagian kelas sudah bawa-bawa takdir,” celoteh Satrya.
“Yang penting empat pengawal gua masih lengkap,” balas Julian mantap.
“Kita bukan pengawal kamu,” sanggah Nayan, seolah kalimat itu sudah jadi jawaban otomatis setiap kali Julian menyebut dirinya sebagai pengawal.
Julian tidak membalas. Ia hanya menepuk bahu Nayan seolah penolakan tersebut merupakan bagian dari tugas seorang pengawal. Evan tertawa paling keras, sementara Adrian mulai berjalan menuju kelas baru mereka.
Sekolah memang membagi ulang penempatan kelas muridnya setiap tahun. Namun, untuk kedua kalinya, lima nama yang dahulu dipertemukan oleh tugas Seni Budaya kembali berada dalam satu kelas. Bedanya, mereka kini tidak lagi menunggu guru membentuk kelompok agar memiliki alasan untuk bermain bersama.
Nama mereka kini adalah Resonansi.
***
Memasuki kelas 8, latihan hari Minggu tidak lagi diisi dengan satu lagu yang sama. Mereka mulai membawa contoh lagu berbeda ke studio, membuka buku chord, mencoba beberapa bagian, lalu meninggalkannya jika terasa terlalu sulit atau tidak cocok dengan kemampuan mereka.
Satrya perlahan terbiasa mendengarkan keseluruhan permainan, bukan hanya bagian gitarnya sendiri. Ia mulai mengetahui kapan gitar Nayan perlu masuk, kapan Adrian harus menahan bass, dan kapan Julian sebaiknya tidak menambah pukulan.
Nayan menjadi anggota yang perubahannya paling mudah terlihat. Pada kelas 7, ia masih sering menatap tangan Satrya sebelum mengganti akor. Beberapa bulan setelah naik kelas, jemarinya mulai bergerak mengikuti rangkaian nada yang lebih cepat tanpa perlu menunggu siapa pun.
Perubahan itu tidak datang dari satu momen. Setiap kali Satrya mampir ke rumahnya untuk mengambil buku catatan lagu, dari luar kamar selalu terdengar hal yang sama: empat nada pendek, diulang, berhenti sebentar, lalu dimulai lagi dari awal. Satrya berhenti bertanya berapa lama Nayan akan mengulanginya. Jawabannya selalu sama, beberapa minggu lagi, dan kali ini Satrya percaya begitu saja karena jawaban itu selalu terbukti benar pada akhirnya.
Yang berubah bukan cara Nayan berlatih. Yang berubah adalah seberapa cepat empat nada itu bertambah menjadi delapan, lalu enam belas, sampai suatu Sabtu ia bisa memainkan satu riff penuh tanpa sekali pun tersendat.
“Nay, tahun lalu lu masih lihat tangan gua buat ganti akor,” komentar Satrya suatu kali, ketika riff itu sudah terdengar mulus untuk kali ketiga berturut-turut.
“Itu karena aku belum hafal perpindahannya,” jawab Nayan.
“Sekarang malah lebih cepat daripada gua kasih tanda.” balas Satrya
Nayan hanya membetulkan kacamatanya, lalu memainkannya sekali lagi dari awal, bukan karena diminta, tetapi karena baginya belum ada alasan untuk berhenti.
Adrian punya cara belajar yang berbeda. Beberapa latihan terakhir, ia mulai meninggalkan pick dan memainkan senar bass memakai jari, mencoba teknik slap yang dilihatnya dari video. Bunyi pertama terdengar tumpul, bunyi kedua terlalu keras dan membuat senar beradu dengan leher bass. Ia tidak menghitung minggu seperti Nayan. Ia hanya terus mencoba, mengabaikan dua dari tiga percobaan yang gagal, sampai suatu kali dentingnya keluar bersih, dan ia berhenti sendiri untuk mendengarkannya dua kali sebelum lanjut.
“Itu yang namanya slap?” tanya Evan.
“Harusnya,” balas Adrian.
Julian menyeringai dari belakang drum. “Yang tadi kayak pintu dipukul.”
“Lu fokus saja sama drum,” ejek Adrian, tapi ia tetap mencoba lagi.
Satrya kemudian menyusun ruang khusus untuk bunyi itu, meminta Adrian memasukkan slap hanya pada jeda tertentu, bukan terus-menerus, supaya dentingannya muncul jelas alih-alih tenggelam di antara dua gitar. Ketika akhirnya bunyi itu keluar tajam tepat di ruang yang disediakan, Evan langsung menoleh.
“Nah, itu baru kedengaran,” komentarnya.
Adrian tersenyum kecil, lalu mengulang bagian itu berkali-kali sampai waktu studio hampir habis. Ia baru melepaskan bass ketika penjaga studio mengetuk pintu.
Setelah keluar dari ruang studio, Adrian sempat menoleh kepada bass yang baru saja digunakannya. Saat melewati meja penjaga, ia berhenti dan mengajukan pertanyaan yang dibuat seolah hanya muncul karena iseng.
“Mas, bass yang tadi kira-kira harganya berapa?” tanyanya.
Penjaga studio menyebut sebuah angka. Adrian terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk seolah hanya sedang mencatat informasi biasa.
“Lu mau beli bass buat di rumah, Put?” goda Evan.
“Enggak, gua cuma nanya doang.” balas Adrian.
Adrian menyampirkan tas ke bahu dan berjalan keluar lebih dahulu. Ia tidak mengeluh tentang harganya ataupun membicarakan berapa lama harus menabung. Namun, sejak hari itu, Satrya beberapa kali melihat Adrian menjadi anggota pertama yang mengambil bass saat baru masuk studio dan juga anggota terakhir yang mengembalikannya.
***
Menjelang akhir semester pertama kelas 8, selembar pengumuman ditempel di papan dekat kantin. OSIS membuka pendaftaran penampilan musik untuk class meeting, tanpa seleksi perwakilan kelas seperti pada tugas Seni Budaya tahun sebelumnya. Setiap kelompok hanya perlu mencantumkan nama, anggota, serta lagu yang akan dibawakan.
Evan datang ke kelas membawa formulirnya saat jam istirahat, meletakkannya di atas meja Satrya dengan gerakan seolah baru saja mendapatkan undangan tampil di televisi.
“Class meeting buka panggung musik,” ucap Evan.
“Terus?” balas Adrian.
“Terus kita daftar.” ucap Evan dengan antusias.
Nayan membaca bagian atas formulir. “Kamu bertanya atau sudah memutuskan?”
“Gua memberi kalian kesempatan buat setuju.” balas Evan.
“Kalau ada yang enggak setuju?” tanya Satrya.
Evan menarik formulir mendekati dadanya. “Berarti gua kasih kesempatan kedua.” balasnya.
Julian langsung menyetujui sebelum pembicaraan berkembang lebih jauh. Adrian hanya menanyakan tanggal penampilan, sedangkan Nayan membaca seluruh persyaratan sampai bagian paling bawah. Satrya memandangi kolom nama kelompok yang masih kosong, lalu mengambil pulpen. Ia menulis satu kata di sana.
Resonansi.
Untuk lagu, mereka kembali memilih lagu rock yang sudah beberapa kali dicoba di studio. Lagu tersebut memiliki energi besar, bagian gitar yang mudah dikenali, dan jeda yang dapat digunakan Evan untuk berinteraksi dengan penonton. Mereka juga merasa lagu itu memiliki cukup tenaga untuk memperkenalkan nama Resonansi kepada seluruh sekolah.
Saat menonton rekamannya bersama-sama, Julian baru menyadari bahwa penyanyi aslinya perempuan.
“Ini yang nyanyi cewek, kan?” komentar Julian.
“Iya,” ucap Satrya. “Nadanya nanti kita sesuaikan buat Evan.”
Adrian menyandarkan tubuh ke kursi. “Mau gua ajak Mira?” tanyanya santai.
Evan dan Julian langsung menoleh kepada Satrya, refleks yang sama seperti setiap kali nama Mira atau Zifa muncul sejak beberapa bulan terakhir.
“Lagi-lagi,” gerutu Satrya. “Nanya soal lagu, kenapa jawabannya malah lihat muka gua.”
“Karena teori kita belum terbukti salah, Sat,” ucap Julian santai.
“Teori apaan?” tanya Satrya.
“Yang itu,” balas Evan sambil menyeringai, tidak menjelaskan lebih jauh.
Nayan membetulkan kacamatanya. “Mira sepertinya tidak cocok dengan Evan.” sanggahnya.
Evan menatapnya. “Lah, kenapa gua yang dinilai cocok atau enggaknya?” tanya Evan.