Resonansi

Lana
Chapter #19

Harapan Pertama

Selebaran festival yang ditemukan Evan menjelang akhir kelas 8 kini tersimpan di dalam map bening milik Nayan. Sudut-sudut kertasnya mulai melengkung, sementara bagian persyaratan dipenuhi garis bawah dan tanda pensil kecil yang hanya dipahami pemiliknya. Selama libur kenaikan kelas, festival itu masih menjadi bahan candaan setiap kali mereka berkumpul, tetapi setelah kelas 9 dimulai dan batas pendaftaran tinggal beberapa minggu, mereka tidak bisa terus membicarakannya seperti sesuatu yang mungkin dilakukan nanti.

“Jadi kita daftar?” ucap Evan.

“Kamu sudah menanyakan itu berkali-kali,” balas Nayan.

“Soalnya, kalian belum memberi jawaban yang benar, sih.” komentar Evan.

“Jawaban benar versi lu pasti daftar, tampil, terus menang,” komentar Adrian.

Evan mengangguk mantap. “Tuh, lu sebenarnya ngerti.”

Festival tersebut dibuka untuk band tingkat SMP dari berbagai sekolah di kota mereka, dengan lebih dari dua puluh kelompok yang dijadwalkan tampil dalam satu hari. Tidak akan ada teman sekelas yang otomatis bersorak ketika melihat Evan, tidak ada tiga adik kelas yang sudah menunggu permainan Adrian, dan tidak ada guru yang mengetahui seberapa jauh mereka berkembang sejak tugas Seni Budaya.

“Kalau mau mundur, sekarang waktunya,” ucap Julian.

“Siapa yang mau mundur?” tanya Evan.

“Gua cuma memastikan nanti enggak ada yang mendadak sakit perut.” ejek Julian.

“Yang paling mungkin sakit perut itu lu. Tiap istirahat makannya gorengan.” balas Evan.

“Itu latihan daya tahan.” sanggah Julian.

“Daya tahan minyak maksudnya?” balas Evan. 

Satrya membiarkan mereka berdebat sambil membaca ulang durasi penampilan dan daftar perlengkapan panggung. Class meeting hanya membawa Resonansi ke hadapan orang-orang yang setidaknya mengenali wajah mereka, sedangkan festival ini meminta nama band itu berdiri sendiri. Untuk pertama kalinya, permainan mereka akan dinilai oleh orang-orang yang tidak memiliki alasan untuk memaklumi kesalahan ataupun memberi tepuk tangan karena pertemanan.

“Oke, kita daftar,” ucap Satrya.

Percakapan langsung berhenti. Tidak ada sorakan besar, hanya beberapa anggukan yang muncul hampir bersamaan, seolah keputusan itu terlalu berat untuk dirayakan sebelum mereka benar-benar menjalaninya. Nayan mengambil kembali map tersebut dan mulai mengisi bagian yang sudah dapat dipastikan.

Sejak hari itu, mereka mulai menyusun jadwal latihan dan memeriksa kembali setiap persyaratan festival. Namun, sebelum semua persiapan lain berarti, mereka membutuhkan satu hal yang belum juga disepakati: lagu yang akan 

Pada Minggu pertama setelah pendaftaran, Satrya membawa beberapa pilihan lagu ke studio. Lagu pertama langsung disukai Julian dan Nayan karena riff pembukanya cepat, drum masuk tanpa banyak jeda, dan dua gitar dapat terus bergerak rapat dari awal. Evan juga menyukainya karena bagian vokal memberinya kesempatan mengeluarkan tenaga sejak kalimat pertama.

Setelah dua kali percobaan, suara seluruh instrumen sudah memenuhi studio kecil yang dingin oleh AC. Penjaga studio sempat melihat dari balik kaca, lalu kembali ke mejanya ketika mereka melanjutkan sampai chorus. Tidak ada kesalahan besar, tetapi Satrya merasa setiap bagian terdengar seperti sedang berlomba menjadi yang paling penuh.

“Ini cocok,” ucap Julian setelah pukulan terakhir berhenti. “Dari awal langsung kena.”

“Gua juga suka,” sambung Evan. “Penonton enggak sempat bengong.”

Nayan masih memperhatikan fret. “Bagian gitarnya bisa dibuat lebih rapat.”

Satrya meminta mereka mengulang dari intro sampai chorus sekali lagi. Tenaga permainan memang besar, tetapi tidak banyak berubah sejak bagian pembuka, bait, hingga bagian yang seharusnya menjadi puncak. Dua gitar terus mengisi, drum tidak pernah benar-benar memberi ruang, sementara Evan harus mempertahankan volume tinggi agar tidak tenggelam.

Satrya menghentikan genjrengannya.

“Terlalu cepat habis,” ucapnya.

Julian menurunkan stik. “Apanya?”

“Tenaganya. Baru intro udah keluar semua, bait sama chorus-nya hampir enggak punya perbedaan.”

“Penonton festival butuh yang langsung nendang,” balas Julian.

“Terus setelah kena dari awal, kita kasih apa lagi?” balas Satrya.

Julian hendak menjawab, tetapi urung. Adrian memetik satu nada bass lalu membiarkannya mereda, sedangkan Nayan menatap kembali susunan riff yang sebelumnya ingin ia rapatkan. Evan masih terlihat belum sepenuhnya setuju, tetapi ia tidak menemukan jawaban yang lebih meyakinkan.

Satrya mengambil lembar chord lain dari tasnya.

“Coba yang ini.”

Judul lagu di bagian atas cukup mereka kenal. Mereka pernah mendengarnya dari radio, kaset milik anggota keluarga, atau pengeras suara warung di sekitar sekolah. Namun, tidak ada seorang pun yang pernah mengusulkan untuk membawakannya bersama.

Julian membaca susunan bagiannya. “Enggak segarang yang tadi.”

“Enggak harus lebih garang,” balas Satrya. “Yang penting punya tempat buat naik.”

Evan menelusuri bagian vokalnya. “Nada tingginya enggak ada yang benar-benar gila.”

“Bagus.” balas Satrya.

Evan menoleh. “Bagus apanya?”

“Lu sudah pernah bikin penonton ramai. Sekarang coba bikin mereka dengar tanpa keluarin semuanya dari awal.” ucap Satrya.

“Berarti gua nyanyi kecil?” tanya Evan.

“Ditahan, bukan dikecilin. Pas bagian besar baru lu buka.” jawab Satrya.

Evan memegang leher mikrofon sambil membaca ulang urutan bait dan chorus. Lagu itu tidak memberinya satu nada tinggi yang dapat dijadikan pameran, tetapi Satrya melihat ruang yang lebih luas untuk menunjukkan kendali. Jika bagian awal dimainkan dengan cukup tertahan, suara Evan akan terasa membesar bersama seluruh band tanpa perlu berubah menjadi teriakan.

Nayan membalik halaman menuju bagian instrumental.

“Ada solo gitar,” ucapnya.

“Bagian lu,” balas Satrya.

“Tidak terlalu cepat.” komentar Nayan.

“Jangan dibuat cepat cuma supaya kelihatan susah. Yang penting melodinya bersih dan masih diingat setelah selesai.”

Nayan mengamati progresi di bawah bagian solo. Beberapa perpindahan menuntut tangannya bergeser lebih cepat daripada biasanya, tetapi masih bisa dipelajari dengan mengulang potongan pendek di rumah menggunakan gitar akustiknya. Ia mengangguk kecil, lalu meletakkan lembar tersebut di dekat kakinya.

Adrian menelusuri bagian bass dengan ujung jari. Tidak ada tanda untuk slap ataupun ruang mencolok seperti saat class meeting, hanya rangkaian nada yang membawa perubahan chord di bawah dua gitar. Ia mencoba beberapa posisi, kemudian mengangkat wajah.

“Enggak isian slap ya kayanya?” tanya Adrian.

“Enggak,” jawab Satrya.

“Berarti teknik fingering dari awal sampai akhir?” tanya Adrian.

“Iya.” jawab Satrya.

Adrian mengangkat alis. “Terus bagian gua di mana?” 

Satrya menunjuk bagian sebelum vokal masuk. “Pas dua gitar cuma genjreng sekali terus nahan, bass lu yang bikin perpindahan chord tetap terasa. Orang mungkin enggak langsung sadar lu lagi ngapain, tapi kalau lu berhenti, semuanya kerasa kosong.”

Adrian memetik satu nada rendah dan membiarkan dengungnya menyatu dengan suara amplifier.

“Jadi enggak ada bagian pamer?”

“Kalau mau pamer, jangan lewat slap. Bikin bass-nya tetap kedengaran tanpa merusak ruang vokal.”

Adrian mengangguk santai. Ia tidak terlihat kecewa, hanya kembali membaca urutan chord seolah sedang mencari cara lain untuk membuat permainannya terasa. Di sampingnya, Julian masih memperhatikan bagian-bagian yang diberi tanda pelan.

“Drum gua cuma hi-hat sama snare?”

“Di bagian tertentu,” jawab Satrya. “Lu yang bikin bagian pelannya tetap jalan.”

“Pas naik?”

“Naikin tenaganya, jangan kecepatannya.”

Julian mengangkat alis seraya mengangguk.

Meski belum ada yang menyatakan setuju, mereka tetap mengambil posisi. Adrian berdiri dekat amplifier bass, Julian menghitung ketukan dari belakang drum, sedangkan Evan menunggu di depan mikrofon sambil melihat catatan lirik lagu tersebut. Satrya menoleh kepada Nayan, memastikan keduanya sudah berada pada chord awal yang sama.

Adrian membuka lagu dengan satu nada bass panjang.

Dengung rendah memenuhi studio selama beberapa detik, kemudian crash Julian memecahnya. Satrya dan Nayan masuk bersama pada progresi pembuka, dua gitar menggenjreng rapat di atas bass Adrian serta pukulan hi-hat dan snare Julian yang cukup cepat. Evan spontan mengangkat mikrofon, bersiap masuk pada bagiannya.

Masalahnya langsung terdengar ketika intro selesai.

Julian masih mempertahankan kepadatan pukulan yang sama, Satrya dan Nayan terus menggenjreng hampir tanpa jeda, sementara Adrian ikut mengisi seluruh perpindahan dengan lebih banyak nada daripada yang diperlukan. Evan akhirnya mendorong suara agar tidak tenggelam, membuat bait pertama terdengar seperti chorus yang datang terlalu cepat.

Satrya menghentikan permainan.

Lihat selengkapnya