Senin setelah festival, upacara pagi berjalan seperti biasa sampai kepala sekolah menyerahkan mikrofon kepada salah satu guru yang membawa map tipis. Pengumuman disampaikan menjelang upacara berakhir, ketika seluruh murid sudah berada dalam posisi istirahat di tempat. Guru tersebut menyebut beberapa prestasi yang berhasil membawa nama baik sekolah, lalu berhenti pada nama terakhir di dalam mapnya.
“Anggota band Resonansi, dimohon maju ke depan barisan,” ucap guru tersebut.
Kelima anak itu saling menoleh sebentar sebelum keluar dari barisan kelas mereka. Evan paling cepat melangkah, dagunya sedikit terangkat, sementara Julian menyusul sambil menahan senyum lebar. Adrian berusaha tetap terlihat biasa saja, sedangkan Nayan berjalan dengan wajah yang seolah berharap jarak menuju depan lapangan bisa dipersingkat. Satrya berada di antara mereka, menyadari bahwa nama Resonansi kali ini disebut bukan karena mereka sedang menunggu giliran tampil, melainkan karena sudah membawa sesuatu pulang untuk sekolah.
Setelah prestasi mereka disebutkan, kelimanya berdiri bersama kepala sekolah untuk berfoto. Evan memegang salah satu sisi piala di samping kepala sekolah, sementara Satrya, Nayan, Adrian, dan Julian merapat di belakang mereka. Tepuk tangan singkat terdengar dari seluruh lapangan sebelum kelimanya kembali ke barisan kelas.
Begitu upacara selesai dan barisan mulai dibubarkan, Evan langsung mendekati yang lain.
“Sekarang satu sekolah resmi tahu kita,” ucapnya.
“Satu sekolah baru saja diminta melihat kita berdiri di depan selama beberapa detik,” balas Nayan.
“Beberapa detik yang bersejarah.” balas Evan.
“Yang diumumin band-nya, bukan lu sendiri,” komentar Adrian.
“Iya, terus vokalis band-nya siapa?” celoteh Evan.
“Mulai lagi dia,” gerutu Julian, tapi untuk kali ini ia tidak benar-benar keberatan.
Pengakuan itu tidak berhenti di lapangan upacara. Nama Resonansi masih beberapa kali disebut oleh adik kelas yang berpapasan dengan mereka di koridor, lalu perlahan menjadi bagian biasa dari keseharian sekolah.
Beberapa bulan kemudian, setelah semester kedua dimulai dan panitia perpisahan kelas 9 mulai menyusun acara, tiga murid kelas 8 mendatangi meja mereka saat jam istirahat.
Satrya segera mengenali ketiganya sebagai anak-anak yang dahulu menunggu di sisi panggung setelah class meeting, meski kali ini salah seorang dari mereka membawa map dan berbicara tanpa keraguan seperti setahun sebelumnya.
“Kak, panitia perpisahan kelas 9 tahun ini mau minta Resonansi tampil di acara tersebut,” ucapnya. “Bisa, kan Kak?”
“Bisa,” jawab Evan cepat, hampir sebelum kalimat itu selesai.
Nayan langsung menoleh. “Kita belum melihat tanggalnya.” ucapnya.
“Kalau urusan tampil, bisa dulu,” balas Evan. “Tanggal belakangan.”
“Bukan begitu cara jadwal bekerja.” sanggah Nayan.
Anak yang satu lagi, yang dahulu paling ingin tahu soal bunyi slap Adrian, ikut bertanya. “Kak, nanti kira kira masih ada bagian senarnya dipukul pakai ibu jari itu? Aku masih penasaran soalnya” tanyanya antusias.
Adrian tersenyum kecil. “Tergantung lagunya dong.” jawabnya singkat.
Satrya akhirnya mengambil lembar jadwal dari map panitia dan berjanji akan memberi tahu jawabannya setelah mereka membicarakannya. Namun secara emosional, jawabannya memang sudah jelas sejak Evan membuka mulut. Dahulu Evan harus mengambil formulir sendiri agar Resonansi mendapat panggung. Sekarang orang lain yang datang mencari mereka.
***
Semester kedua kelas 9 bergerak lebih cepat daripada yang mereka duga. Pelajaran tambahan mulai mengisi sore hari, simulasi ujian menggantikan beberapa jam kosong, sedangkan meja belajar di rumah lebih sering dipenuhi lembar latihan soal daripada catatan chord. Latihan Minggu tidak berhenti, tetapi untuk pertama kalinya mereka harus benar-benar mencari waktu yang bisa dipakai bersama. Evan beberapa kali tidak bisa datang karena les tambahan, Nayan harus menyelesaikan satu bab latihan soal sebelum diperbolehkan keluar rumah, sedangkan Satrya semakin sering menghitung waktu sebelum menyanggupi jadwal studio.
Salah satu Minggu yang berhasil mereka kosongkan bersama akhirnya membawa kelimanya kembali ke studio. Adrian akhirnya datang dengan bass barunya dan memainkan pola yang biasanya membutuhkan beberapa pengulangan tanpa sekali pun berhenti.
“Sekarang sekali langsung beres,” komentar Satrya.
“Iyalah, sekarang di rumah bisa gua ulang kapan saja,” balas Adrian. “Tetangga gua saja yang belum tentu senang.”
“Gua pernah ke rumah lu dan enggak dengar apa-apa,” ucap Julian.
“Itu karena pas lu datang, yang berisik malah lu.” ejek Adrian.
Lembar informasi pendaftaran SMA yang dibagikan wali kelas beberapa hari sebelumnya masih terselip di dalam tas masing-masing. Meski tidak ada yang sengaja membawanya ke studio, kemungkinan berpisah itu ikut masuk bersama kelimanya sore itu. Julian yang pertama mengeluarkannya, membentangkannya di atas ampli sambil membaca kolom pilihan sekolah.