Resonansi

Lana
Chapter #21

Sang Pianis

Beberapa minggu setelah keluar dari gerbang SMP untuk terakhir kalinya, kelima anggota Resonansi kembali berdiri bersama di depan sebuah papan pengumuman, tapi kali ini papan pengumuman di SMA 1 Garuda. Seragam mereka kini putih abu-abu, masih terlalu kaku dan bersih untuk terasa benar-benar menjadi milik sendiri, sementara beberapa lembar daftar kelas yang ditempel di hadapan mereka dikerumuni murid-murid baru lainnya. Satrya sempat mengira pemandangan itu tidak jauh berbeda dari awal SMP, sampai satu per satu nama mereka ditemukan di lembar yang tidak sama.

Perubahan lain sudah terlihat bahkan sebelum mereka mulai mencari kelas. Rambut Satrya yang selama SMP dipotong french crop kini dipotong spike tetapi rapi dengan belahan tipis di samping. Ibunya mengatakan model itu lebih cocok untuk anak SMA agar dibilang keren, meskipun bagi Satrya perbedaan paling nyata hanyalah waktu tambahan yang dibutuhkan setiap pagi untuk memastikan bagian depannya tidak kembali jatuh.

Julian datang dengan perubahan yang jauh lebih sulit diabaikan. Rambut cokelat alaminya yang dahulu tumbuh sekitar beberapa sentimeter kini dipangkas menjadi buzz cut pendek, masih cukup tebal untuk memperlihatkan warnanya dan sama sekali tidak menyerupai kepala plontos. Potongan itu membuat garis wajahnya tampak lebih tegas, meskipun kesan tersebut hanya bertahan sampai ia mulai berbicara.

Adrian memandang kepalanya selama beberapa detik.

“Jul, kepala lu kok jadi kelihatan lebih gede,” komentarnya.

“Ini gaya atlet, Put.” sanggah Julian.

“Atlet apaan pake potongan kaya begitu?” tanya Evan.

Julian berpikir sebentar. “Belum ditentukan sama gua.” ucapnya.

“Berarti baru rambutnya yang atlet orangnya belum,” balas Adrian.

Julian hendak menyahut, tetapi Evan lebih dahulu menemukan namanya pada salah satu daftar. Telunjuknya bergerak beberapa baris ke bawah, kemudian berhenti pada satu nama lain yang sudah dikenalnya selama tiga tahun.

“Wah, gua sama Julian sekelas,” ucap Evan.

Julian merapat untuk memastikan. “Takdir.”

“Itu pembagian kelas biasa,” balas Nayan.

“Takdir bisa bekerja lewat administrasi.” balas Julian.

Nayan mengabaikannya dan berpindah ke lembar berikutnya. Ia menyusuri nama-nama secara teratur sampai menemukan namanya sendiri, lalu berhenti pada nama Satrya beberapa baris di atasnya.

“Sepertinya Satrya dan aku satu kelas,” ucap Nayan.

Satrya mendekat dan memastikan dua nama mereka memang tercetak di bawah judul kelas yang sama. Hanya Adrian yang belum disebut, tetapi ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan namanya pada lembar paling kanan.

“Weh, gua sendirian ternyata,” ucap Adrian.

Nada suaranya terdengar lebih heran daripada kecewa. Ia membaca nomor ruangannya sekali lagi, lalu mengangkat bahu seolah baru mengetahui bahwa setiap pagi ia harus berbelok menuju koridor yang berbeda.

“Tenang, nanti istirahat gua jemput, Put.” ucap Julian.

Adrian menoleh kepadanya. “Enggak usah. Gua masih bisa cari kantin sendiri.”

“Takutnya lu enggak punya teman.” goda Julian.

“Baru lihat daftar kelas saja lu sudah mikir jauh banget.” balas Adrian.

“Loh sebagai teman, gua perhatian.” goda Julian.

“Sebagai teman, lu berisik.” balas Adrian

Evan tertawa, sedangkan Satrya memandang kelima nama mereka yang kini tersebar dalam susunan dua, dua, dan satu. Mereka masih berada di sekolah yang sama. Tidak ada yang pindah kota, studio yang biasa mereka gunakan pun masih dapat dijangkau setiap akhir pekan, tetapi untuk pertama kalinya sejak hari pertama SMP, satu daftar kelas tidak lagi cukup untuk memuat seluruh anggota Resonansi.

Pada hari-hari pertama, mereka tetap berjalan bersama dari gerbang sampai halaman depan sebelum arah langkah mereka terpecah. Evan dan Julian menuju koridor sebelah kanan sambil melanjutkan perdebatan yang sudah dimulai sejak perjalanan, Adrian mengambil tangga menuju lantai atas, sedangkan Satrya dan Nayan berjalan lurus menuju kelas mereka. Perpisahan itu hanya berlangsung sampai jam istirahat atau bel pulang, tetapi tetap menjadi sesuatu yang sebelumnya tidak pernah perlu mereka lakukan.

Resonansi tidak berhenti. Grup percakapan mereka tetap ramai, latihan akhir pekan masih dibicarakan, dan Evan berkali-kali mengatakan bahwa perbedaan kelas tidak akan mengubah apa pun. Hanya saja, untuk berkumpul lengkap saat istirahat, salah satu dari mereka kini harus mengirim pesan, menyebutkan kantin mana yang dituju, lalu memastikan satu meja belum diambil murid lain.

Sesuatu yang dahulu terjadi begitu saja sekarang membutuhkan rencana kecil.

***

Satrya dan Nayan memilih duduk sebangku tanpa perlu mendiskusikannya. Di antara puluhan wajah yang baru mereka lihat pada pagi pertama, meletakkan tas di meja yang sama menjadi keputusan paling mudah dan efisien. Satrya mengambil sisi dekat lorong, sedangkan Nayan duduk di sebelah jendela dan langsung mengatur buku berdasarkan urutan jadwal pelajaran.

Memasuki minggu kedua, seiring dengan pelajaran pelajaran baru Satrya belum dapat menghafal seluruh nama teman sekelas. Ia baru mengenali beberapa murid berdasarkan tempat duduk, kebiasaan datang terlambat, atau suara mereka ketika menjawab pertanyaan guru. Nayan lebih cepat mengingat nama, tetapi tidak otomatis menjadi lebih banyak berbicara. Cara bicaranya yang teratur dan terlalu formal sempat membuat beberapa orang kebingungan, lalu perlahan diterima sebagai bagian dari dirinya.

Dua baris di depan mereka duduk seorang siswi dengan bando putih yang hampir selalu terpasang rapi di atas rambutnya yang tergerai sampai bahu. Namanya adalah Freya Citra Ardelia, salah satu nama yang masih diingat Satrya dari sesi perkenalan kelas. Freya berasal dari Bandung dan duduk sebangku dengan siswi yang juga baru dikenalnya pada hari pertama. Keduanya berasal dari SMP berbeda, tetapi hanya membutuhkan beberapa hari untuk terbiasa berbagi buku pelajaran, membandingkan jadwal, dan pergi ke kantin bersama.

Freya tidak terlihat kesulitan berbicara dengan orang baru. Ia beberapa kali terlibat dalam obrolan kelompok kecil, mampu menjawab pertanyaan guru tanpa terbata-bata, dan tidak pernah menghabiskan waktu istirahat sendirian. Satrya hanya belum memiliki alasan untuk berbicara langsung dengannya.

Setidaknya sampai pelajaran Seni Budaya pada Kamis menjelang siang.

Guru mereka masuk sambil membawa beberapa lembar kertas, lalu menuliskan tugas penampilan musik di papan. Suara-suara kecil langsung muncul di seluruh kelas, sebagian terdengar antusias, sebagian lain mulai mengeluh bahkan sebelum aturan tugas dijelaskan.

“Kalian akan dibagi menjadi kelompok berisi tiga orang,” ucap guru tersebut. “Setiap kelompok memilih satu dari lima lagu yang sudah saya tentukan. Kalian tidak boleh menggantinya dengan lagu lain karena tingkat kesulitannya sudah disesuaikan dengan materi semester ini.”

Lima judul lagu dituliskan secara berurutan di papan. Beberapa cukup dikenal Satrya, sementara dua lainnya hanya pernah ia dengar sepintas. Salah satunya adalah lagu lama yang memiliki susunan akor cukup sederhana, tetapi bagian pianonya terdengar jelas hampir sejak awal.

“Kalian boleh menggunakan gitar, keyboard, atau alat lain yang tersedia di ruang musik,” lanjut guru tersebut. “Pembagian peran harus jelas dan setiap anggota wajib terlibat dalam penampilan.”

Satrya memperkirakan tugas itu tidak akan terlalu menyulitkan selama pembagian kelompoknya masuk akal. Ia dan Nayan sudah dapat memainkan gitar, bahkan apabila mereka tidak ditempatkan dalam kelompok yang sama. Masalah baru mungkin muncul jika anggota ketiga sama sekali tidak mengenal musik atau semua orang ingin mengambil fungsi serupa.

“Kelompoknya saya tentukan,” ucap guru itu, memotong berbagai rencana yang mulai terbentuk di dalam kelas. “Supaya kalian belajar bekerja dengan orang yang belum terlalu kalian kenal.”

Nayan berhenti menulis dan melihat ke depan.

Nama-nama mulai dibacakan. Setiap kelompok yang terbentuk langsung saling mencari dari tempat duduk masing-masing, beberapa dengan ekspresi lega, beberapa lain masih mencoba mengingat wajah pemilik nama yang disebutkan.

“Satrya Eka Pranata, Nayan Azharie Pratama, dan Freya Citra Ardelia.”

Satrya dan Nayan saling menoleh seakan mengonfirmasi bahwa mereka masih satu kelompok, kemudian pandangan mereka berpindah ke depan. Freya baru saja mengangkat kepala setelah mendengar namanya. Ia mencari dua anggota kelompoknya, menemukan Nayan lebih dahulu, lalu tatapannya berhenti pada Satrya.

Satrya memberi anggukan kecil.

Freya membalasnya dengan senyum singkat sebelum kembali melihat guru.

Setelah seluruh nama selesai dibacakan, guru memberi waktu sekitar dua puluh menit agar setiap kelompok dapat berkumpul dan memilih salah satu dari lima lagu. Kursi-kursi langsung bergeser di seluruh ruangan, disusul percakapan yang saling bertumpuk.

Satrya dan Nayan tetap berada di bangku mereka. Freya mengatakan sesuatu kepada teman sebangkunya, lalu membawa buku dan memutar kursi dari meja depan agar dapat duduk menghadap mereka.

Satrya bangkit sedikit untuk memberi ruang. Ia hendak mengulurkan tangan, tetapi gerakannya berhenti setengah jalan ketika satu pikiran muncul terlambat. 

Belum tentu Freya nyaman berjabat tangan dengan anak laki-laki yang baru dikenalnya.

“Boleh salaman enggak?” tanya Satrya. “Aku Satrya.”

Freya melihat tangan Satrya yang masih menggantung di antara mereka. Sesaat kemudian, senyumnya muncul kembali.

Lihat selengkapnya