Ruang musik sekolah berada di ujung lorong lantai dua, cukup jauh dari kelas-kelas yang masih dipakai untuk kegiatan tambahan. Jadwal yang dibagikan guru Seni Budaya menempatkan kelompok Satrya, Nayan, dan Freya di ruangan itu setiap Kamis sepulang sekolah. Mereka hanya mendapat tiga kali pertemuan sebelum tugas harus ditampilkan, tetapi setidaknya semua alat yang dibutuhkan sudah tersedia di sana.
Sebuah keyboard digital berdiri dekat dinding, sementara dua gitar, satu bass, dan beberapa amplifier tersusun di sisi lain. Perangkat drum juga tersedia di bagian belakang, meski tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan memainkannya. Pada Kamis pertama, Freya langsung duduk di depan keyboard, sedangkan Satrya dan Nayan mengambil dua gitar yang tergantung di rak.
Freya menekan beberapa tuts untuk memeriksa suara. Bunyi piano memenuhi ruangan sebentar, lalu berhenti ketika ia mengangkat kedua tangannya.
“Kita tentuin yang nyanyi dulu?” tanya Freya.
Satrya melirik Nayan. Anak itu sedang memasang strap gitar dan tidak menunjukkan sedikitpun keinginan untuk menawarkan diri.
“Aku coba dulu deh,” ucap Satrya.
“Kamu biasa nyanyi?” tanya Freya melirik ke arah Satrya.
“Enggak terlalu sering, biasanya cuma nyontohin nada ke vokalis band kami.”
Freya mengangguk, meski ia belum mengenal siapapun dari band yang dimaksud. Ia kembali meletakkan tangan di atas tuts, lalu memainkan bagian pembuka lagu dengan tempo pelan. Satrya menunggu beberapa ketukan sebelum mulai bernyanyi.
Nadanya tidak terlalu meleset, tetapi Satrya langsung merasa ada sesuatu yang tidak pas. Suaranya terdengar kaku di atas permainan piano Freya, sementara perhatiannya terus terbagi antara mengingat bagian berikutnya dan memikirkan kapan gitar harus masuk. Ia bertahan sampai bagian pertama selesai, lalu menggelengkan kepalanya sebelum Freya melanjutkan.
“Enggak masuk deh kayanya,” ucap Satrya.
“Nadanya benar,” jawab Nayan.
“Bukan nadanya, Nay.” balas Satrya
Freya memiringkan kepala keherenan.
“Terus apa?” tanyanya.
Satrya mengusap belakang lehernya. Ia juga tidak tahu cara menjelaskan bahwa suaranya tidak benar-benar salah, tetapi terasa seperti ditempelkan pada lagu yang tidak membutuhkannya.
“Rasanya suaraku enggak nyatu sama lagunya.” jawabnya pelan.
Freya mengulang beberapa akor pendek, seolah mencoba membayangkan suara Satrya berada di atasnya sekali lagi. Ia tidak mengatakan hasilnya buruk, tetapi juga tidak meminta Satrya mengulang. Satrya kemudian menoleh kepada Nayan.
“Lu coba, Nay.”
“Tidak,” jawab Nayan.
“Hah, belum juga dicoba.” balas Satrya
“Aku sudah pernah mendengar suaraku sendiri, dan jawabannya tetap tidak.” balas Nayan.
Satrya menatapnya beberapa detik. Nayan tetap membetulkan kabel gitar dengan wajah datar, seolah penolakannya lahir dari kesimpulan yang sudah diuji berkali-kali. Freya menunduk sebentar, tetapi senyum kecil telanjur terlihat di sudut bibirnya. Setelah tawa pendeknya mereda, ia kembali memandang Satrya dan Nayan.
“Ehm, aku bisa coba nyanyi sambil main,” ucap Freya.
“Kamu biasa begitu, Freya?” tanya Satrya.
“Kadang-kadang aja, kalau latihan sendiri. Bukan yang serius.” jawab Freya.
“Oke deh, kita coba aja.” usul Satrya.
Freya menarik napas pelan, lalu mengulang bagian pembuka. Jemarinya bergerak tenang di atas tuts, dan suaranya masuk beberapa saat kemudian tanpa membutuhkan aba-aba tambahan. Vokalnya tidak besar, tetapi jernih dan lembut, cukup untuk membuat ruang musik yang semula terasa kosong menjadi lebih hangat.
Satrya semula berniat menghitung tempo di dalam kepala. Hitungan pertama masih ada, kemudian menghilang sebelum ia mencapai angka berikutnya. Ia hanya memperhatikan Freya, terutama cara suara dan permainan pianonya bergerak bersama tanpa membuat salah satunya terdengar dipaksakan.
Freya tidak terus-menerus melihat tuts. Sesekali ia menatap lurus ke depan, lalu kembali menunduk ketika tangannya berpindah posisi. Suaranya tetap stabil meski kedua tangannya tidak pernah benar-benar berhenti.
Ketika bagian pendek itu selesai, Freya membiarkan bunyi terakhir bertahan beberapa detik. Ia kemudian menoleh kepada Satrya yang belum memberikan komentar apa pun.
“Gimana?” tanya Freya.
“Eh, apa?” balas Satrya.
Alis Freya sedikit terangkat.
“Nyanyinya, maksudku.” balas Freya.
Satrya baru menyadari bahwa sejak tadi ia tidak sedang menilai tempo, akor, atau permainan piano. Ia menundukkan pandangan kepada gitar yang tergeletak di pangkuannya, lalu berdeham pendek.
“Oh, iya bagus.” ucapnya singkat.
Freya memandangnya sedikit lebih lama.
“Cuma bagus nih?” balas Freya.
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi cukup membuat Satrya semakin sulit menyusun jawaban. Ia tahu hasilnya bukan sekadar bagus, hanya saja kata-kata yang lebih tepat tidak kunjung muncul.
“Maksudku, lebih masuk daripada aku,” ucap Satrya. “Suara kamu juga enak sama pianonya.”
Senyum Freya terlihat sedikit lebih jelas. Jemarinya masih menyentuh permukaan tuts, meski tidak ada nada yang dibunyikan.
“Jadi berarti aku yang nyanyi?” tanya Freya.
“Iya, kalau kamu enggak keberatan.” jawab Satrya.
“Aku enggak keberatan kok.” balas Freya.
Nayan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Freya.
“Warna suaramu cocok dengan permainan pianonya,” ucap Nayan.
“Nah, itu iya,” sahut Satrya cepat.
Freya kembali menatap Satrya.
“Itu yang tadi mau kamu bilang, Satrya?” tanyanya.
“Kurang lebih, iya.” jawab Satrya.
“Kurang lebihnya jauh apa engga nih?” balas Freya.
Satrya membetulkan posisi gitar di pangkuannya agar tidak perlu terus menatap Freya.
“Enggak jauh.” jawab Satrya singkat.
Freya tidak melanjutkan pertanyaan. Ia hanya menggeser posisi duduknya, lalu memainkan pembuka sekali lagi dengan senyum tipis yang belum sepenuhnya hilang. Satrya mencoba meyakinkan dirinya bahwa warna suara Freya hanya mengingatkannya kepada Mira temannya waktu SMP, meski penjelasan itu tidak menjawab kenapa ia sampai lupa menghitung tempo.
Nayan ikut mendengarkan lebih serius. Ketika Freya berhenti, ia mengangkat telunjuk seolah baru menemukan sesuatu.
“Permainan pianomu mengingatkanku pada Zifa.”
Freya menoleh kepadanya.
“Zifa siapa?” tanya Freya.
“Teman SMP kami,” jawab Satrya. “Dia main piano dulu.”
“Mirip emang?” tanya Freya.
Satrya memperhatikan tangan Freya yang masih berada di atas tuts. Dasarnya memang mengingatkan kepada Zifa, terutama dari cara Freya menjaga setiap nada tetap bersih dan tidak terburu-buru.
“Sedikit aja Freya,” jawab Satrya.
Freya menerima jawaban itu tanpa banyak bertanya. Mereka masih perlu menyusun seluruh lagu, sementara waktu di ruang musik terus berjalan.
Pada bagian pembuka, Satrya dan Nayan sepakat membiarkan Freya bermain sendiri. Piano dan vokalnya sudah cukup untuk mengisi ruang, jadi dua gitar tidak perlu masuk terlalu cepat. Satrya sempat merasa aneh hanya menunggu dengan gitar di tangan dari bagian pertama hingga chorus pertama, tetapi lagu itu memang terdengar lebih kuat ketika dimulai dengan sederhana.
Gitar baru masuk saat chorus pertama. Satrya memainkan genjrengan penuh seperti yang biasa ia lakukan bersama Resonansi, sementara Nayan ikut mengisi dengan pola yang lebih tipis. Permainannya tidak berantakan, tetapi suara dua gitar bertumpuk dengan piano Freya hingga semuanya terdengar berada di tempat yang sama.
“Kok kaya terlalu ramai ya?” tanya Freya setelah mereka berhenti.
“Sedikit ramai lebih tepatnya,” jawab Nayan.
Satrya mengurangi genjrengannya ketika mereka mengulang. Hasilnya menjadi lebih ringan, tetapi gitarnya juga terasa tidak memberi banyak perbedaan. Kalau ia bermain penuh, piano dan gitar Nayan tertutup, sedangkan kalau ia bermain terlalu tipis, keberadaannya hampir tidak terasa.
Mereka melanjutkan ke bagian berikutnya. Nayan mengubah permainannya menjadi petikan melodi sederhana, membunyikan beberapa nada di antara vokal Freya. Satrya mencoba masuk dengan genjrengan pelan, tetapi petikan Nayan langsung tenggelam di bawah suara gitarnya.
“Coba kalo aku berhenti,” ucap Satrya.
Mereka mengulang tanpa gitar Satrya. Kali ini petikan Nayan terdengar lebih jelas, sementara piano Freya tetap menjaga arah lagu. Susunannya lebih lega, tetapi Satrya kembali tidak memiliki bagian untuk dimainkan.
Ia berdiri dengan gitar menggantung di depan tubuh, menunggu sampai mereka mencapai akhir bagian kedua. Di sana, akor bergerak turun beberapa langkah sebelum kembali menuju chorus. Perpindahannya sudah benar, tetapi bunyinya terasa ringan dan tidak benar-benar menempel di lantai.
Freya menghentikan tangannya.
“Kayak ada yang kurang ya,” ucap Freya.
Satrya mencoba memainkan genjrengan yang lebih tebal ketika mereka mengulang bagian itu. Suara gitarnya langsung memenuhi ruang yang sudah ditempati piano, sedangkan petikan Nayan kembali sulit terdengar. Ia menghentikan tangannya sebelum mencapai akhir.
“Enggak, bukan gitarnya yang kurang,” ucap Satrya.
“Berarti kurang apa?” tanya Freya.
Satrya menurunkan gitar dari bahunya, lalu menyandarkannya di dekat kursi. Pandangannya bergerak ke sudut ruangan dan berhenti pada bass elektrik yang sejak tadi tidak mereka perhatikan.
“Coba aku pakai bass.” usulnya.
Freya mengikuti arah pandangannya.
“Kamu bisa, Satrya?” tanyanya.
“Sedikit.” jawab Satrya singkat.
Jawaban itu memang tidak berarti Satrya benar-benar menguasai bass. Ia hanya beberapa kali meminjam alat Adrian ketika latihan, memahami letak beberapa nada dasar, lalu menirukan cara paling sederhana yang dapat diingatnya. Selama ia tidak mencoba memainkan pola rumit, seharusnya cukup untuk kebutuhan tugas mereka.
Satrya memasang strap bass dan mengambil pick yang terselip di antara perlengkapan ruang musik. Jarak antar fretnya terasa lebih lebar, sementara senarnya jauh lebih tebal daripada gitar. Ia memetik satu nada, menggeser tangannya, lalu mencoba nada berikutnya sambil beberapa kali melihat leher bass.
“Oh, tapi kenapa bass?” tanya Freya.
“Jadi, menurutku dua gitar sama piano itu malah numpuk suaranya,” jawab Satrya. “Kita juga enggak pakai drum. Bagian bawah lagunya kosong.”
Nayan mengangguk kecil. Perangkat drum memang tersedia di ruangan itu, tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan memainkannya. Tanpa bunyi drum yang menjaga langkah lagu, piano dan gitar terasa bergerak tanpa cukup pemberat di bawahnya.
Mereka mengulang bagian akhir tadi. Satrya tidak memainkan banyak nada, ia hanya memetik satu nada rendah setiap kali akor berganti, lalu membiarkannya bertahan. Permainannya sederhana, tetapi bunyi bass membuat arah lagu terasa lebih jelas.
Freya menoleh kepadanya ketika mereka mencapai nada terakhir.
“Nah,” ucap Freya.
“Nah apanya?” tanya Satrya.
“Sekarang ada pijakannya, Satrya.” jawab Freya.
Satrya memandang bass di tangannya. Ia belum memainkan apa pun yang sulit, bahkan beberapa kali terlambat mengangkat jari saat nada harus berhenti. Namun untuk pertama kalinya sejak latihan dimulai, susunan mereka tidak terasa seperti piano dan gitar yang berjalan sendiri-sendiri.
Mereka mengulang dari awal. Pada bagian pembuka, Satrya tidak memainkan bass sama sekali dan membiarkan suara Freya berdiri hanya bersama piano. Ketika chorus pertama masuk, Nayan mulai menggenjreng pelan dan Satrya menambahkan nada rendah dengan pola sederhana.
Pada bagian kedua, permainan Nayan berubah menjadi petikan melodi. Satrya mengurangi bassnya agar lagu tetap terasa ringan, lalu masuk lebih jelas menjelang chorus berikutnya. Ia belum memiliki keluwesan Adrian, tetapi tidak perlu banyak bergerak untuk membuat bunyi mereka terasa lebih utuh.
Setelah mencapai chorus kedua, Nayan menghentikan gitar.
“Sampai sini dulu,” ucap Nayan.
“Kenapa?” tanya Freya.
“Bagian setelah ini ada solo gitar.” jawab Nayan.