Senin pagi berikutnya, papan pengumuman di dekat tangga lantai dua biasanya tidak cukup menarik untuk membuat Satrya berhenti. Isinya sebagian besar jadwal ekstrakurikuler, pengumuman lomba akademik, serta beberapa kertas kecil mengenai barang yang tertinggal. Namun pagi itu, sebuah poster berukuran lebih besar ditempel tepat di tengah papan hingga menutupi beberapa pengumuman lama.
Satrya semula hanya mengikuti arus siswa menuju kelas. Langkahnya melambat ketika membaca tulisan besar di bagian atas poster tersebut.
Liga Musik SMA se-Jakarta.
Beberapa siswa sudah berkumpul di depan papan. Ada yang membicarakan hadiah, ada yang mencari lokasi panggung pertama, sementara dua anak dari kelas lain terdengar mulai menyusun kemungkinan anggota band mereka. Di antara kerumunan itu, Nayan berdiri sedikit membungkuk agar dapat membaca tulisan kecil pada bagian bawah poster.
“Empat seri,” ucap Nayan.
Satrya berdiri di sebelahnya, lalu mengikuti arah pandang Nayan menuju garis waktu yang dicetak memanjang.
“Eh, tapi seri terakhirnya dua kali manggung?” tanyanya pada Nayan.
“Iya.” jawab Nayan singkat.
Seri pertama dijadwalkan pada Januari 2014, sesudah ujian semester satu kelas sepuluh, disusul seri kedua sekitar Juli tahun yang sama setelah ujian akhir tahun dan sebelum para peserta naik ke kelas sebelas. Pola tersebut membuat setiap panggung berada di masa jeda setelah ujian, sehingga persiapan kompetisi tidak terlalu mengganggu kegiatan akademik.
Seri ketiga kembali diadakan pada Januari 2015, setelah ujian semester satu kelas sebelas. Seri keempat, berbeda dari tiga seri lainnya, dibagi menjadi dua penampilan, satu sekitar Juli 2015 setelah ujian akhir tahun kelas sebelas, satu lagi pada Januari 2016 tepat setelah ujian semester satu kelas dua belas.
“Berarti finalnya pas kita baru masuk semester dua kelas dua belas?” tanya Satrya.
“Benar.” jawab Nayan singkat.
“Masih ada satu semester sebelum lulus.”
Nayan mengangguk.
Seluruh rangkaian terbentang sejak mereka memasuki semester dua kelas sepuluh hingga Januari pada tahun terakhir mereka di SMA. Bukan kompetisi yang selesai dalam satu hari, melainkan perjalanan panjang yang akan terus menilai perkembangan band pada tahap berbeda. Seri pertama berfokus pada dasar permainan dan kekompakan, seri kedua menilai interpretasi serta dinamika, sedangkan seri ketiga memberi perhatian lebih besar pada kreativitas aransemen.
Seri keempat menjadi tahap presentasi akhir. Dua penampilannya akan dinilai sebagai satu rangkaian, seolah penyelenggara ingin melihat apakah setiap band masih mampu berkembang setelah melewati tiga seri sebelumnya. Satrya membaca bagian itu dua kali sebelum kembali memandang tanggal terakhir yang tercetak pada poster.
“Panjang juga, ya,” komentarnya.
“Cukup panjang untuk melihat perkembangan setiap band.” tambah Nayan.
“Kalau jelek dari awal, perkembangan jeleknya juga kelihatan.”
“Itu tetap perkembangan.” balas Nayan.
Satrya melirik Nayan.
“Lu optimis atau lagi nyindir?”
“Aku hanya menjelaskan kemungkinan.” jelas Nayan.
Satrya kembali membaca bagian persyaratan. Liga itu tidak menggunakan sistem satu sekolah satu perwakilan. Setiap band dapat mendaftar secara mandiri selama seluruh anggotanya masih berstatus siswa SMA di Jakarta, sedangkan nama sekolah hanya dicantumkan sebagai identitas asal para peserta.
Satu sekolah boleh memiliki lebih dari satu band, bahkan beberapa band dari sekolah yang sama dapat mendaftar dalam kategori genre serupa. Dari percakapan siswa di sekitar papan, Satrya mulai memperkirakan bahwa Resonansi bukan satu-satunya band dari SMA 1 Garuda yang berniat ikut. Beberapa anak sudah membicarakan band pop, sementara kelompok lain terdengar tertarik pada rock, jazz, dan metal.
“Berarti satu sekolah bisa ketemu band dari sekolahnya sendiri,” ucap Satrya.
“Bisa.” jawab Nayan singkat.
Dua siswa dari kelas lain berjalan menjauh sambil membicarakan siapa yang bisa menjadi vokalis. Tidak lama kemudian, tiga anak lain mengambil tempat mereka di depan poster dan langsung menunjuk kategori rock. Pendaftaran Liga itu baru saja dibuka, tetapi suasana sekolah sudah berubah seolah setiap lorong mendadak menyimpan calon band baru.
Nayan mengeluarkan ponsel dan mengambil foto poster dari atas sampai bawah. Setelah itu, ia memperbesar bagian jadwal dan persyaratan, membaca setiap kalimat seolah takut ada satu informasi yang terlewat.
“Pendaftarannya sebelum ujian semester satu,” ucap Satrya.
“Masih ada waktu.” balas Nayan singkat.
Satrya menoleh kepadanya.
“Takut, Nay?”
Nayan menyimpan ponselnya.
“Menarik.”
Satu kata itu diucapkan pelan, hampir tertutup oleh bunyi bel pertama. Satrya tersenyum kecil sebelum mengajak Nayan berjalan menuju kelas. Mereka memang belum membicarakan apakah Resonansi akan ikut, tetapi ia sudah dapat membayangkan jawaban Evan, Julian, dan Adrian.
Untuk pertama kalinya, perjalanan band mereka memiliki beberapa panggung yang dapat terlihat sejak awal. Mereka tidak hanya harus menjadi lebih baik daripada saat SMP, tetapi juga menunjukkan perubahan itu sedikit demi sedikit di hadapan orang yang sama.
Setiap seri akan menangkap Resonansi dalam bentuk yang berbeda. Setidaknya, begitulah harapan Satrya.
***
Sabtu sore berikutnya, salinan formulir Liga Musik sudah tergeletak di atas amplifier ketika Satrya memasuki studio bersama Nayan. Evan berdiri di dekat mikrofon sambil membacanya, Adrian telah duduk dengan bass di pangkuan, sedangkan Julian sedang menunduk untuk membetulkan posisi pedal di bawah perangkat drum. Tas sekolah mereka terkumpul di dekat dinding, sebagian masih menyimpan buku dan perlengkapan kegiatan ekstrakurikuler.
Sebuah keyboard berdiri di sisi kiri ruangan, lengkap dengan stand serta amplifier kecil yang tersambung di bawahnya. Selama beberapa minggu terakhir, keyboard tersebut lebih sering digunakan sebagai meja tambahan daripada sebagai instrumen. Botol minum, bungkus roti, ponsel, dan kabel pengisi daya kerap diletakkan di atas penutup plastiknya. Tidak satu pun dari mereka pernah membuka penutup itu untuk memainkan tutsnya.
“Jadi kita ikut?” tanya Adrian.
Evan menurunkan formulir.
“Lah, kenapa masih pakai tanda tanya? Jelas ikut, dong.” tandasnya.
Julian selesai menggeser pedal, lalu duduk tegak di balik drum.
“Gua juga udah lihat posternya.”
“Di mana?” tanya Satrya.
“Dekat ruang ekskul.”
Adrian menunjuk formulir dengan dagunya.
“Kalau gua lihat yang di depan laboratorium.”
“Di dekat kantin juga ada,” tambah Evan. “Anak kelas sebelah udah ngomongin bikin band pop, tuh.”
Berarti poster itu memang dipasang di beberapa titik sekolah. Satrya tidak perlu menjelaskan seluruh aturan dari awal, hanya memastikan mereka membaca jadwal dan ketentuan yang sama. Ia meletakkan tas sekolah di dekat amplifier, lalu mengambil formulir dari tangan Evan.
“Seri pertama bulan Januari habis ujian semester satu,” ucap Satrya.
“Dasar permainan sama kekompakan,” tambah Nayan.
“Seri kedua Juli setelah ujian kenaikan kelas,” sambung Julian. “Terus Januari lagi, Juli lagi, terakhir Januari kelas dua belas.”
Adrian mengangkat alis.
“Seri terakhir dua kali tampil, ya?”
Nayan mengangguk.
“Satu setelah ujian akhir tahun kelas sebelas, satu lagi setelah ujian semester satu kelas dua belas.”
Evan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Kalau kita bikin malu di seri pertama, dua tahun berikutnya orang-orang masih ingat, nih.”
“Kalau lu sengaja bikin malu, gua yang paling ingat,” balas Julian.
“Gua justru mau bikin mereka ingat.”
“Itu dua hal yang beda,” komentar Adrian.
“Yang penting terkenal dulu.” tandas Evan.
“Terkenal karena bagus sama terkenal karena bikin masalah juga beda,” balas Satrya.
Evan tertawa mendengar komentar Satrya, sedangkan Satrya melanjutkan untuk membaca kolom-kolom yang tersedia. Nama band sudah jelas, tetapi bagian daftar anggota sengaja mereka biarkan kosong sampai pembahasan pendaftaran selesai. Perhatian mereka untuk sementara berhenti pada kolom kategori genre yang masih kosong.
“Kita harus pilih genre,” ucap Satrya.
Evan mendekat lagi dan membaca beberapa contoh yang tercetak kecil di bawah kolom.
“Pop, rock, alternative, jazz, metal, country.”
“Jazz aja, gimana?” usul Julian.
Adrian langsung menoleh.
“Lu bisa main pelan kaya ngatur tenaga mukul hit-hat dan snare, emang?”
“Bisa, dong.” jawab Julian.
“Berapa lama?”
Julian terdiam sebentar. Tatapannya bergerak menuju perangkat drum, lalu kembali kepada Adrian.
“Ya tergantung lagunya.”
“Nah, berarti enggak bisa,” simpul Adrian.
“Bisa, cuma jangan kelamaan.”
“Jazz bukan lagu yang lu tahan main pelan tiga puluh detik.” celoteh Adrian.
Satrya menulis kata jazz pada kertas kecil, lalu mencoretnya. Julian mengangkat kedua alis, tetapi tidak benar-benar membantah.
Untuk pilihan selanjutnya yaitu Country langsung juga dicoret karena meskipun lagu country menarik karena permainan ritmik gitar dan bassnya, lagu lagunya cenderung tempo pelan dan tidak sesuai dengan energi yang ingin dilepaskan Evan di panggung.
Evan kembali membaca pilihan pada formulir, lalu menepuk kolom genre menggunakan telunjuk.
“Metal aja, nih.”
Nayan mengangkat kepala.
“Suara kamu tidak cocok.”
“Eh, gua belum nyoba kok udah bilang ga cocok.”
“Kami pernah mendengar kamu bernyanyi.” balas Nayan.
“Terus?”
“Itu dasar penilaiannya.”
Julian tertawa, sementara Adrian menunduk untuk menyembunyikan senyum. Satrya sendiri gagal menahan tawa ketika Evan memandang mereka satu per satu, mencari orang yang bersedia membela kemampuan vokalnya.
“Suara gua bisa keras,” ucap Evan.
“Keras sama nyampe itu beda,” balas Satrya.
“Kalau begitu gua aja yang nyanyi sambil main bass kalo cuma soal nyampe nada tingginya,” sela Adrian.
Julian langsung menunjuk Evan menggunakan stiknya.
“Nah, Evan tinggal pegang stand mikrofon, terus lari ke kiri sama kanan.”
Evan mengerutkan dahi.
“Terus gua jadi apa?”
“Penggembira penonton,” jawab Nayan.
“Bahasa kerennya hype man,” tambah Satrya.
Evan berdiri di depan mikrofon dan mencengkeram stand-nya dengan satu tangan. Ia berjalan dua langkah ke sisi kiri ruangan, lalu mengangkat tangan lainnya tinggi-tinggi.
“Yang kiri mana suaranya?” serunya.
Adrian mengangkat ibu jari.
“Nah, cocok.”
Evan segera berbalik ke sisi kanan.
“Yang kanan jangan mau kalah!” serunya.
“Van, masa langsung dipraktekin begitu,” komentar Satrya.
“Gua baru nemu peran sejati, nih.” balas Evan.
“Tapi, peran itu tidak memerlukan kategori metal,” ucap Nayan.
Evan akhirnya melepaskan stand mikrofon, meski masih terlihat puas dengan pertunjukan singkatnya. Beberapa genre lain disebut tanpa pembahasan serius, lalu pilihan mereka perlahan kembali kepada akar musik yang sudah dibawa sejak SMP.
“Rock atau alternative rock,” ucap Satrya.
“Rock aja kenapa?” tanya Evan. “Dari dulu kita juga main rock.”
Adrian memetik satu senar bass pendek.
“Alternative lebih bebas kalau nanti mau dicampur suara lain.”
“Dicampur apa?” tanya Julian.
“Belum tahu,” jawab Adrian. “Makanya lebih bebas.”