Sabtu sore itu, studio dipenuhi bunyi-bunyi kecil yang selalu muncul sebelum Resonansi benar-benar mulai berlatih. Amplifier gitar mendengung tipis, Adrian memeriksa stem bass, sementara Julian membetulkan posisi pedal dan tinggi kursi drum. Evan berdiri di dekat mikrofon sambil mengeluhkan udara yang pengap, sedangkan Nayan memasang kabel gitar tanpa merasa perlu menanggapinya.
Satrya kembali melihat layar ponselnya. Sejak mereka masuk, ia sudah melakukan hal yang sama beberapa kali, tetapi belum ada pesan baru dari Freya. Percakapan terakhir mereka hanya berisi jam latihan, alamat lengkap, foto papan nama di depan gang, serta beberapa patokan yang dikirimkannya malam sebelumnya.
Siang tadi Freya sempat membalas singkat.
Aku ekskul dulu, ya.
Setelah itu, tidak ada kabar lagi.
Satrya sebenarnya bisa saja mengirim pesan kembali untuk menanyakan apakah Freya masih akan datang, tetapi jemarinya selalu berhenti sebelum membuka ruang percakapan tersebut. Sejak awal ia sudah mengatakan bahwa Freya hanya perlu datang kalau merasa nyaman, bahkan tidak harus memberikan ide apa pun. Mengirim pesan lagi sekarang terasa seperti mengubah kesediaan Freya menjadi kewajiban yang harus dituruti.
Keyboard di sisi kiri studio sudah dipersiapkan sejak mereka masuk. Penutup plastiknya dilepas, kabelnya terhubung ke speaker, dan kursi kecil di depannya ditarik mendekat. Tidak ada botol minum, ponsel, ataupun bungkus makanan di atasnya seperti pada latihan-latihan sebelumnya.
“Belum ada kabar, Sat?” tanya Evan sambil melirik ponsel di tangan Satrya.
“Belum,” jawab Satrya, lalu memasukkannya kembali ke saku.
“Mungkin enggak jadi datang.” lanjutnya lagi.
Julian meletakkan kedua stik di atas snare.
“Kalau gua jadi dia, gua juga mikir dua kali, sih. Datang sendirian ke studio, terus isinya lima cowok.”
Adrian menoleh santai ke arahnya. “Kalau lu jadi dia, masalah utamanya bukan itu, Jul.” celotehnya.
“Terus apa?” balas Julian.
“Ya lu kan enggak bisa main keyboard.” tandasnya.
Julian memandangnya datar sambil mempertanyakan maksud dan tujuan Adrian mengatakan hal tersebut. “Gua lagi ngomongin situasi, Put.”
“Gua juga, dan faktanya begitu kan?” balas Adrian.
Satrya memilih mengambil gitar dari stand daripada ikut menebak - nebak. Kalau Freya tidak datang, mereka tetap harus berlatih dan mulai mencari lagu yang tepat untuk seri pertama Liga Musik. Ia baru hendak memasang strap ketika dua ketukan terdengar dari balik pintu.
Bunyinya tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat lima kepala menoleh bersamaan. Satrya langsung meletakkan gitarnya kembali pada stand dan berjalan mendekati pintu studio sebelum salah satu temannya sempat bergerak. Ketika pintu dibuka, Freya sudah berada di baliknya dengan tas tersampir pada satu bahu.
Napas Freya sedikit lebih cepat, sementara beberapa helai rambut di dekat pelipis tampak bergeser seolah ia baru saja berjalan memutar lebih jauh daripada yang seharusnya. Begitu melihat Satrya, ia mengembuskan napas lega dan membetulkan posisi tasnya.
“Maaf Satrya, tadi ekskulnya selesai agak telat,” ucap Freya. “Terus aku sempat salah jalan.”
“Eh, alamatnya kurang jelas ya?” tanya Satrya.
“Alamatnya benar, kok. Aku yang salah, malah masuk ke gang sebelah jadinya ga ketemu tanda studionya.”
Evan menyahut dari dalam studio. “Kok enggak bareng Satrya aja?”
Satrya menoleh separuh kepadanya.“Gua enggak tahu dia selesainya jam berapa, Van.”
“Eh, aku juga udah bilang bisa cari sendiri,” tambah Freya.
Julian mengangkat alis sambil tertawa kecil.“Terus nyasar.”
“Cuma salah satu gang aja, ih,” sanggah Freya sambil tertawa kecil. “Enggak sampai hilang.”
Satrya mundur sedikit agar Freya dapat masuk, tetapi tawa kecil itu tidak bertahan lama. Evan, Adrian, dan Julian masih memandangnya dengan rasa ingin tahu yang terlalu jelas. Mereka memang sudah melihat Freya melalui rekaman tugas Seni Budaya, tetapi bertemu langsung dengan orang yang selama ini hanya muncul di layar tetap terasa berbeda.
Nayan menyambut Freya dengan satu anggukan. Satrya semula tidak melihat sesuatu yang aneh, sampai jemari Freya merapat pada tali tas dan pandangannya turun sebentar menuju lantai. Senyum di wajahnya masih ada, hanya bentuknya mulai terlihat sedikit kaku.
“Ini Evan,” ucap Satrya sambil menunjuk ke arah mikrofon. “Vokalis utama kita.”
Freya mengikuti arah tangannya, lalu mengangguk kecil.“Oh, ini yang namanya Evan.”
Wajah Evan langsung berubah lebih cerah.“Eh, nama gua udah sampai duluan ternyata?” tanyanya.
“Iya, Satrya yang sebutin nama kalian kemarin waktu ngajak aku untuk datang kesini,” jawab Freya.
“Berarti sebelum ketemu pun gua sudah dibahas dong.” balas Evan.
“Cuma disebut namanya, Van,” sela Satrya. “Jangan dibesar-besarin kaya apaan aja.”
Satrya segera mengalihkan tangannya kepada Adrian. “Terus ini Adrian, bassist.”
Freya memandang Adrian sebentar, yang dibalas Adrian dengan mengangkat satu tangannya sebagai salam. Kemudian Satrya menunjuk ke arah Julian. “Kalau itu Julian.”
Freya mengangguk pelan seraya tertawa kecil. “Ini yang kata kamu agak berisik?”
Julian langsung menatap Satrya. “Lu kok ngenalin gua kayak begitu?”
“Emang gua bilangnya lu sama Evan agak berisik.” balas Satrya.
Evan ikut menoleh. “Eh, kenapa gua dibawa lagi sih Sat?”
“Karena memang kalian berdua berisik, fakta.” komentar Satrya yang disambut protes dari Evan dan Julian karena menurut mereka citra yang tengah mereka bangun sebagai anggota band yang keren bisa runtuh akibat komentar fakta dari Satrya.
Perhatian yang semula tertahan pada Freya akhirnya berpindah kepada mereka sendiri. Jemarinya perlahan mengendur dari tali tas, lalu senyum yang sempat kaku kembali terlihat lebih ringan. Freya memandang Satrya sedikit lebih lama, tetapi Satrya mengira ia hanya memastikan tidak ada anggota lain yang belum diperkenalkan.
Kemudian Freya meletakkan tasnya di dekat dinding, kemudian melihat seluruh alat yang telah disiapkan. Pandangannya sempat berhenti pada keyboard di sisi kiri studio, tetapi ia tidak langsung mendekatinya.
“Jadi aku dengar kalian dulu aja, ya?” tanyanya.
Satrya mengangguk.
“Iya, nanti kita coba mainin yang biasa aja dulu. Habis itu kamu bilang menurut kamu kurangnya apa.”
“Kurangnya buat ikut kompetisi Liga Musik?” tanya Freya.
“Iya. Kami sudah pilih kategori rock, tapi kalau mainnya masih begini rasanya bakal terlalu biasa.”
Freya mengangguk pelan.
“Oke. Kalian main aja dulu, deh. Anggap aku enggak ada.”
Mereka kemudian memilih salah satu lagu lama yang paling sering dimainkan sejak SMP. Setiap orang sudah mengetahui perpindahan bagian, titik masuk, dan kebiasaan kecil anggota lain, sehingga tidak perlu ada pembahasan panjang. Freya mengambil kursi dan duduk tidak jauh dari keyboard, sementara Satrya kembali memasang gitar.
Julian memberi hitungan. Drum membuka permainan, disusul nada bawah Adrian serta dua gitar yang mengisi ruang dari sisi berbeda. Evan mulai bernyanyi setelah beberapa bar pertama, bergerak mengikuti lagu seolah tetap ada penonton di depan mikrofon.
Tidak ada kesalahan besar. Julian menjaga tempo dengan lebih terkendali, Adrian menopang bagian bawah tanpa kehilangan ketukan, sedangkan Nayan memasukkan isian melodi tanpa perlu menunggu Satrya. Evan pun mengetahui kapan harus mendekati mikrofon dan kapan memberi ruang kepada instrumen.
Satrya tetap merasakan masalah yang sama. Ketika lagu perlu membesar, gitarnya dan gitar Nayan sama-sama menjadi lebih penuh, lalu drum Julian serta bass Adrian ikut menambah tenaga. Saat bait kembali tenang, semua orang mundur hampir bersamaan, seolah mereka hanya memiliki satu cara untuk memperbesar atau mengecilkan permainan.
Setelah nada terakhir berhenti, Freya tidak langsung berbicara. Pandangannya bergerak dari dua gitar menuju bass dan drum, kemudian berhenti sebentar pada Evan. Satrya membiarkannya berpikir tanpa mendesak.
“Bagus dan rapi sih kalo menurutku,” komentar Freya.
Evan langsung menunjuk Satrya.“Tuh, dia juga bilang bagus.”
“Itu justru masalahnya,” balas Satrya.
Freya menahan senyum kecil, kemudian melanjutkan penilaiannya. “Kalian memang terdengar seperti band rock pada umumnya,” jawab Freya pelan. “Cuma dari awal sampai akhir warnanya masih sama. Pas mau dibesarkan, semuanya ikut ramai. Pas dikecilkan, semuanya mundur bareng.”
Adrian memetik satu senar bass pendek.“Berarti kami terlalu berbarengan?” tanyanya.
“Bukan barengnya yang salah,” balas Freya. “Kalian memang kompak. Cuma bagian-bagiannya terasa beda tenaga saja, bukan beda warna.”
Evan mengerutkan dahi.
“Terus bedanya di mana?”
Freya memandang instrumen mereka satu per satu sebelum menjawab. “Mungkin kalian perlu suara lain yang bikin satu bagian punya wajah sendiri,” ucapnya. “Rock-nya tetap ada, cuma enggak semuanya harus dibentuk dari suara yang sama terus.”
Satrya mengangguk perlahan. Freya tidak mengatakan permainan mereka buruk atau harus diubah sepenuhnya. Ia hanya menunjuk sesuatu yang selama ini sulit dijelaskan Satrya: semua unsur sudah berada di tempatnya, tetapi belum ada bunyi yang membuat satu bagian terasa benar-benar berbeda dari bagian lain.
“Suara lain kayak apa?” tanya Satrya.
Freya memandang keyboard di sisi kiri studio. “Aku belum tahu,” jawabnya. “Boleh aku coba cari?”
“Boleh. Tapi enggak harus kalau kamu belum nyaman.”
Freya menoleh kepadanya dengan sudut bibir sedikit terangkat. “Aku sudah datang sampai salah gang, Satrya.”
“Oh, iya.” balas Satrya.