Resonansi

Lana
Chapter #25

Di Antara Lima

Senin pagi, kelas belum sepenuhnya ramai ketika Freya duduk di bangkunya dan mulai mengeluarkan buku pelajaran pertama. Teman sebangkunya, yang juga mengikuti ekskul bersamanya pada hari Sabtu kemarin, sedang menyalin catatan ketika mendadak teringat sesuatu. Ia berhenti menulis, lalu menoleh sambil masih memegang pulpen.

“Sabtu kemarin setelah ekskul kok kamu buru-buru banget Frey?” tanyanya. “Aku lihat kamu langsung ke gerbang pas ekskul selesai.”

“Oh, iya aku buru-buru ke studio musik,” jawab Freya. “Aku lihat latihan band-nya Satrya sama Nayan.”

“Oh, mereka emang punya band?” tanya temannya.

“Iya punya dari SMP, namanya Resonansi.” jawab Freya.

Siswi yang duduk di bangku depan mereka langsung berbalik ketika mendengar nama tersebut. Ia memandang Freya dengan mata sedikit membesar, seolah nama itu jauh lebih dikenalnya daripada yang Freya duga.

“Oh, Resonansi? Aku dulu satu SMP sama mereka berlima, loh. Band-nya lumayan terkenal di sana.”

“Serius?” tanya teman sebangku Freya.

Siswi di depan mengangguk. “Mereka sering tampil kalau ada acara sekolah kaya class meeting atau acara festival. Kalau ada nama Resonansi, anak-anak biasanya langsung tahu siapa yang bakal main.”

Freya tidak pernah mendengar Satrya atau Nayan pernah menceritakan bagian itu. Keduanya hanya mengatakan bahwa band tersebut sudah terbentuk sejak SMP, tanpa memberi kesan bahwa orang lain benar-benar mengingatnya. Di studio pun kelima anggota Resonansi lebih terlihat seperti sekumpulan teman lama yang terlalu terbiasa saling mengejek daripada band yang pernah dikenal satu sekolah.

Siswi di depan kembali memandang Freya. “Pasti jadi makin keren band-nya kalau kamu ikut, Freya.”

Freya terdiam sebentar sebelum tersenyum tipis. “Oh, aku belum ikut, kok. Kemarin cuma bantu dengerin permainan mereka saja.”

“Tapi kamu sampai datang ke studionya, kan?” tanya teman sebangkunya.

“Iya, Satrya minta aku kasih pendapat soalnya.” jawab Freya.

“Terus kamu main juga?”

“Sedikit. Cuma bagian pembukanya.”

Siswi di depan mengangguk seolah perbedaan antara membantu dan ikut bermain tidak terlalu besar. “Mereka enggak mungkin ngajak sembarang orang masuk ke latihan mereka sih soalnya mereka udah lama bersama.”

Freya tidak tahu apakah kesimpulan itu benar. Satrya memang memberinya kebebasan untuk menolak, bahkan berkali-kali memastikan bahwa dirinya tidak harus bermain. Namun sebelum Freya tiba, synthesizer di sisi kiri studio sudah disiapkan dan tidak lagi digunakan sebagai tempat meletakkan botol atau ponsel.

Guru memasuki kelas sebelum pembicaraan itu berlanjut. Siswi di depan segera kembali menghadap papan tulis, sedangkan teman sebangku Freya menutup buku catatannya dengan terburu-buru. Freya mulai mengarahkan pandangannya ke arah papan tulis, tetapi kalimat dari temannya bahwa keikutsertaannya bisa membuat band Resonansi menjadi lebih bagus tertinggal di kepalanya sepanjang pelajaran pertama.

***

Setelah pelajaran terakhir selesai, Freya masih merapikan buku ketika Satrya menghampiri mejanya. Nayan berada beberapa meja di belakang, memasukkan buku ke dalam tas tanpa ikut mendekat. Satrya tidak langsung duduk, hanya berdiri di samping kursi kosong sambil memegang tali tas pada satu bahu.

“Frey.”

“Iya, ada apa Satrya?” tanya Freya.

“Sabtu nanti kamu bisa datang lagi, enggak?”

Tangan Freya berhenti di atas tas. “Ke studio lagi maksudnya?”

“Iya. Kami mau lanjutin lagu yang kemarin.” Satrya berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Aku pengin kamu ikut nyoba bagian keyboardnya yang lainnya juga. Bukan cuma ngasih nada intro.”

“Berarti bukan cuma kaya kemarin?” tanya Freya.

“Bukan. Kita kerjain bareng aransemennya.” jawab Satrya.

Freya mengangguk pelan, meskipun ada jeda kecil sebelum jawabannya keluar.

“Oke.”

“Uhm, jamnya sama kayak kemarin kok.” ucap Satrya.

“Iya, alamatnya enggak usah dikirim lagi ya,” balas Freya. “Aku udah tahu gang yang benar.”

Satrya tersenyum kecil. “Bagus.”

Ia kemudian kembali menghampiri Nayan, seolah ajakan itu sudah menjelaskan semua hal yang perlu dijelaskan. Freya melanjutkan menutup tasnya sambil mengingat bahwa pagi tadi dirinya baru saja mengatakan hanya membantu sekali. Belum satu hari berlalu, Satrya sudah memintanya kembali dan mengatakan mereka akan mengerjakan aransemen lagu itu bersama.

Kalimat kita kerjain bareng aransemennya terdengar lebih hangat daripada sekadar undangan untuk mendengarkan. Namun kalimat tersebut tetap belum menjelaskan apakah Freya sedang membantu sebuah lagu atau perlahan menjadi bagian dari band yang memainkannya.

***

Sabtu sore, Freya masuk ke studio dengan buku catatan kecil di tangannya. Setelah meletakkan tas di dekat dinding, ia langsung membuka buku tersebut di atas synthesizer sebelum sempat duduk. Beberapa halaman di dalamnya dipenuhi potongan nada, tanda panah, serta catatan pendek yang hanya dapat dipahami olehnya.

Satrya memperhatikan halaman itu dari dekat amplifier. Pada latihan sebelumnya, Freya datang hanya untuk mendengarkan, tetapi kali ini ia membawa sesuatu yang telah dikerjakannya sendiri selama berada di rumah.

“Aku dengerin lagi beberapa kali,” ucap Freya. “Ternyata bagian keyboard-nya enggak berhenti setelah intro.”

Evan mengangkat alis dari depan mikrofon. “Berarti kemarin kita ninggalin bagian keyboard-nya?”

“Iya.” jawab Freya singkat.

Adrian kemudian menyahut. “Untung orangnya mau balik.”

Freya sempat menoleh kepadanya, tetapi Adrian sudah kembali menyetem bass dengan wajah santai. Satrya tidak tahu bagian mana dari komentar tersebut yang membuat Freya memandangnya sedikit lebih lama.

“Kamu nemuin bagian mana aja?” tanya Satrya.

“Ada di bait kedua sama menjelang reff,” jawab Freya. “Keyboard rumahku enggak punya suara yang sama, jadi aku cuma nyatet nadanya dulu.”

“Nanti kita coba,” ucap Satrya. “Tapi sebelum itu, ada yang mau aku benerin dari kemarin.”

Mereka mengulang pembagian yang ditemukan pada latihan sebelumnya. Nayan memainkan dua genjrengan pendek dalam empat ketukan, bass Adrian dan drum Julian menjaga bagian bawah, sedangkan Satrya membiarkan gitarnya diam lalu masuk dengan backing vocal singkat di ujung bait pertama.

Pada percobaan awal, suara Satrya masih masuk sedikit terlambat. Nayan juga menahan genjrengan keduanya terlalu lama sehingga ujung suaranya bertabrakan dengan backing vocal. Mereka mengulang dua kali sebelum pembagiannya kembali terdengar seperti yang ditemukan pada Sabtu sebelumnya.

Setelah pengulangan berikutnya, Satrya mengangkat satu tangan sebelum Evan melanjutkan ke bagian selanjutnya. Satrya kemudian melihat ke arah Freya.

“Frey.” panggilnya.

“Iya, kenapa Satrya?” balas Freya.

“Pas bagian aku yang ‘aa—aa’ itu, kamu bisa tambahin melodi synth di belakangnya?”

Freya memiringkan kepala. “Mengikuti nada kamu?”

“Mirip aja. Kayak bergerak bareng, tapi jangan sampai nutup suara aku.” ucap Satrya

Freya mencoba beberapa nada pendek di wilayah tengah tuts. “Begini?”

Lihat selengkapnya