Beberapa minggu berlalu sejak suara synthesizer pertama kali memenuhi sisi kiri studio. Setiap Sabtu, buku catatan Freya kembali terbuka di tempat yang sama, sementara bagian-bagian lagu yang semula masih terpisah perlahan tersambung menjadi satu susunan utuh. Bridge dan outro tidak mereka temukan dalam satu kali latihan, melainkan tumbuh dari potongan nada, kesalahan waktu masuk, lalu pengulangan yang semakin jarang harus dihentikan di tengah jalan.
Kehadiran Freya pun berubah menjadi bagian dari kebiasaan tanpa ada yang benar-benar membicarakannya. Julian mulai menunggu motif synth sebelum membuka pukulan, Adrian sudah tahu kapan isian bass harus ditahan agar ruangnya tidak penuh, sedangkan Evan beberapa kali meminta nada awal dari keyboard sebelum mulai bernyanyi. Satrya sendiri bahkan tidak lagi perlu sengaja menoleh ke kiri setiap kali hendak memberi aba-aba, sebab satu anggukan kecil dari Freya biasanya sudah cukup untuk memberitahunya bahwa mereka siap masuk bersama.
Hanya satu hal yang tidak ikut berubah.
Formulir Liga Musik di dalam tas Satrya masih memuat lima nama.
***
Sabtu sore itu udara terasa lebih dingin dibanding beberapa minggu sebelumnya. Matahari masih terlihat dari ujung gang ketika mereka masuk ke studio, tetapi cahayanya sudah tidak sepanas bulan-bulan awal semester. Satrya menaruh tas sekolah di dekat dinding, lalu mengambil gitar studio dari stand ketika Nayan membuka selembar kertas yang terselip di antara buku catatannya.
Nayan memperhatikan salah satu tanggal yang sudah diberi lingkaran kecil dengan pulpen. “Formulirnya dikumpulkan hari Rabu,” ucapnya datar, kemudian mengangkat kertas itu sedikit agar Satrya dapat melihat tanggal yang dimaksud. “Setelah itu daftar personel dianggap tetap, kecuali ada alasan khusus untuk perubahan.”
Satrya berhenti memasang strap. “Rabu depan?”
“Empat hari lagi,” jawab Nayan.
Dari depan mikrofon, Evan langsung menoleh dengan ekspresi yang berubah lebih serius. “Personelnya juga harus final?”
“Iya,” balas Nayan. “Nama anggota, posisi instrumen, kategori, sama data sekolah harus sudah lengkap.”
Julian yang baru duduk di belakang drum melirik ke arah mereka. “Cepat juga.”
“Sudah diumumkan dari awal,” jawab Nayan.
Julian mengangkat kedua tangan. “Gua enggak bilang mereka salah.”
Adrian tertawa kecil dari dekat bass studio, lalu kembali mengatur strap di bahunya. “Dia cuma ngasih tahu, Nay.”
Nayan menatap Julian beberapa detik, kemudian kembali melipat kertas itu dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya. Ia tidak terdengar mendesak siapa pun, hanya menyampaikan fakta seperti biasa, tetapi angka empat hari membuat Satrya otomatis melirik tas sekolahnya sendiri.
Formulir itu masih berada di dalam map.
Lima nama.
Ponselnya bergetar di atas amplifier sebelum ia sempat mengambilnya. Satrya membuka layar dan menemukan pesan dari Freya yang baru masuk beberapa detik lalu.
Aku mungkin telat setengah jam. Ekskulnya belum selesai. Kalian mulai dulu aja, ya.
Satrya membaca sekali lagi untuk memastikan, kemudian mengetik jawaban pendek.
Iya, santai aja. Kita mulai dulu.
Ia meletakkan ponselnya kembali dan melihat empat orang lainnya sudah bersiap. “Freya telat sekitar setengah jam,” ucapnya. “Ekskulnya belum selesai. Katanya kita mulai dulu.”
Julian sudah mengangkat stik. “Ya udah, mulai aja.”
Satrya mengangguk, kemudian melihat posisi semuanya satu per satu. Tidak ada alasan untuk menunggu karena mereka sudah memainkan susunan yang sama selama beberapa minggu, dan sebagian besar bagiannya sudah cukup matang. Kalaupun ada yang ingin diperbaiki sore itu, mereka bisa mencatatnya lalu mengulang bersama Freya setelah ia datang.
“Dari awal dulu,” ucap Satrya.
Julian memberikan hitungan dengan stik, menggantikan motif synth yang biasanya menjadi tanda pembuka. Setelah itu gitar, bass, dan drum masuk pada tempat yang sudah mereka hafal, sementara Evan mulai mengikuti struktur yang sama seperti latihan sebelumnya.
Sejak beberapa ketukan pertama, Satrya merasa ada sesuatu yang tidak tepat.
Bukan salah tempo.
Bukan juga karena salah satu dari mereka memainkan nada yang keliru.
Permainannya berjalan.
Hanya terasa terlalu kosong.
Pada bait pertama, Satrya mengambil backing vocal seperti biasanya, tetapi suara itu muncul sendirian tanpa lapisan synth yang selama beberapa latihan terakhir selalu bergerak tipis di belakangnya. Refleksnya sempat membuat kepala menoleh ke kiri, menuju synthesizer yang tidak dimainkan siapa pun, sebelum ia kembali menghadap depan dan melanjutkan bagian gitar berikutnya. Evan masih bernyanyi dengan benar, Julian menjaga pukulan tetap stabil, sementara Adrian dan Nayan tidak melakukan kesalahan apa pun.
Ketika reff tiba, kekosongan itu semakin jelas. Bagian yang biasanya mendapat jawaban robotik dari vocoder hanya lewat begitu saja, membuat jeda antarkalimat Evan terdengar lebih terbuka daripada biasanya. Bridge yang sebelumnya terasa berbeda dari bagian lain kembali terdengar lurus, bukan karena permainan mereka memburuk, tetapi karena tidak ada warna yang selama beberapa minggu terakhir selalu membedakan bagian tersebut.
Julian menghentikan pukulannya sendiri bahkan sebelum mereka menyelesaikan satu putaran penuh.
“Aneh,” komentarnya sambil menurunkan stik.
Evan membiarkan mikrofon menjauh dari mulutnya. Wajahnya masih menghadap depan, tetapi dahinya sedikit berkerut saat melihat synthesizer kosong di sisi kiri. “Kosong banget, ya.”
Adrian tidak langsung menyahut. Ia mencoba satu bagian pendek sekali lagi dengan bass, kemudian berhenti dan melihat ke arah yang sama. “Ya karena bagiannya Freya enggak ada.”
Nayan menggeser posisi gitarnya sedikit, lalu menatap synthesizer yang sejak tadi tidak tersentuh. Nada suaranya tetap datar ketika ia menjelaskan, tetapi kalimatnya keluar lebih panjang daripada komentar tiga orang sebelumnya. “Bukan hanya karena instrumennya tidak dimainkan. Susunan lagu ini sudah dibuat dengan mempertimbangkan enam peran. Kalau satu peran dihilangkan, pembagian lima lainnya juga kehilangan konteks.”
Julian menatap Nayan. “Jadi bukan cuma karena enggak ada bunyi synth?”
“Kalau masalahnya hanya bunyi, salah satu dari kita bisa menyalakan suara tambahan dari alat lain,” jawab Nayan. “Tapi beberapa bagian memang dibuat setelah Freya memberi respons terhadap permainan kita. Itu yang hilang.”
Satrya tidak mengatakan apa-apa. Ia masih berdiri dengan gitar menggantung di depan tubuh, mendengarkan gema terakhir yang sudah lama hilang dari amplifier. Selama beberapa minggu terakhir, ia terlalu sibuk mengatur kapan synth masuk, kapan harus ditahan, dan bagian mana yang perlu diberi ruang sampai tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi kalau semua itu dilepas lagi.
Ternyata lagunya tidak kembali ke bentuk awal.
Lagunya justru terasa seperti kehilangan sesuatu.
Julian yang sejak tadi melihat sekeliling tiba-tiba berhenti pada tas Satrya. Resletingnya tidak tertutup sempurna, membuat sudut map dan formulir Liga terlihat dari sela bukaan. “Terus kenapa namanya masih lima?”
Pertanyaan itu membuat Evan ikut menoleh. Adrian pun berhenti mengatur posisi bass, sementara Nayan hanya memindahkan pandangan dari synthesizer menuju Satrya.
Satrya mengikuti arah pandang Julian, kemudian membungkuk mengambil map dari dalam tas. Formulir Liga berada di bagian paling depan, masih dengan susunan yang sama seperti saat pertama kali mereka mengisinya. Lima nama tercetak dari tulisan tangannya sendiri, masing-masing diikuti posisi instrumen yang sudah mereka pegang sejak lama.
Freya tidak ada di sana.
Evan terlihat paling tidak sabar dengan diam yang muncul setelahnya. “Ya masukin Freya, lah,” ucapnya, nada suaranya naik sedikit seolah solusi itu seharusnya sudah jelas. “Kita udah latihan sama dia berminggu-minggu, terus lagu kita juga sekarang bentuknya begini gara-gara dia ikut. Masa masih dibilang cuma bantu?”
Satrya menatap kolom kosong di bawah nama kelima. “Masalahnya kita belum pernah nanya dia memang mau masuk atau enggak.”
“Makanya ditanya,” balas Evan cepat. “Bukan didiemin sampai hari Rabu terus kita panik sendiri.”
Ada bagian dari ucapan itu yang masuk akal, tetapi Satrya tetap belum bisa menganggap persoalannya sesederhana mengisi satu baris kosong. Selama ini Freya datang karena mereka yang meminta bantuan, lalu bertahan karena latihan terus membutuhkan permainan keyboard. Kalau sekarang mereka mengajaknya setelah seluruh aransemen telanjur bergantung pada perannya, Satrya tidak yakin Freya akan merasa benar-benar punya ruang untuk menolak.
Adrian tampak tidak melihat kerumitan yang sama. “Ya tinggal bilang kita mau dia masuk, terus kasih dia pilihan,” ucapnya santai. “Kalau mau, masuk. Kalau enggak, ya kita cari cara lain.”
Satrya menoleh kepadanya. “Kalau sekarang kita ngajak, dia bisa ngerasa harus bilang iya, Put. Lagunya udah keburu butuh dia.”
Adrian mengangkat bahu. “Ya bilang aja dia boleh nolak. Ngapain dibikin ribet?”
Satrya hendak membalas, tetapi Nayan lebih dulu menyesuaikan duduknya. Ekspresinya tidak berubah, hanya pandangannya bergantian menuju formulir, synthesizer, lalu keempat orang lainnya.
“Ada dua keputusan yang berbeda,” ucap Nayan. “Pertama, apakah kita berlima memang ingin Freya menjadi anggota Resonansi. Kedua, apakah Freya mau menerima tawaran itu. Kita tidak bisa menjawab keputusan kedua untuk dia hanya karena kita takut dia merasa terbebani.”
Satrya menahan kalimat yang tadi hampir keluar.
Nayan melanjutkan dengan tempo yang sama. “Kalau kita sengaja tidak menawarkan karena menganggap dia mungkin tidak enak menolak, berarti kita juga membuat keputusan atas namanya. Bedanya hanya bentuknya.”
Julian mengangguk perlahan. “Jadi kita putusin bagian kita dulu.”