Resonansi

Lana
Chapter #27

Seri Pertama

Ujian semester satu berakhir beberapa hari sebelum jadwal Seri Pertama Liga Musik. Latihan terakhir mereka tidak lagi dipenuhi percobaan baru, sebab Satrya sudah berhenti mengubah susunan lagu dan hanya meminta semuanya menjaga perpindahan tetap bersih dari awal sampai akhir. Freya sudah hafal kapan harus diam dan kapan motif synth-nya masuk, Nayan tidak lagi perlu menunggu aba-aba untuk mengisi bagian gitar, sementara backing vocal Satrya sudah keluar tanpa membuatnya memikirkan mikrofon dua kali.

Minggu pertama Januari datang lebih cepat daripada yang ia kira.

Pagi itu sebuah mobil sewaan berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah. Sopir yang bekerja untuk ayah Julian sudah menunggu di depan, sementara bagasi belakang diisi bass Adrian dan synthesizer sewaan Freya yang dibawa khusus untuk penampilan hari itu. Satrya memastikan kedua alat sudah diletakkan aman sebelum masuk ke baris tengah bersama Freya dan Adrian.

Nayan duduk di kursi depan di sebelah sopir. Dari belakang, Satrya masih bisa melihat kepalanya sedikit menunduk ketika ia memeriksa jadwal acara yang sudah disimpan di ponsel.

“Kita sampai sekitar empat puluh menit sebelum waktu registrasi terakhir,” ucap Nayan tanpa menoleh. “Kalau lalu lintasnya tetap seperti sekarang, kita tidak perlu terburu-buru.”

Evan langsung menyahut dari bangku paling belakang. “Nah, denger, Jul. Lu boleh tidur.”

Julian yang memang sudah menyandarkan kepala ke jendela membuka satu mata. “Gua enggak butuh izin.”

“Gua cuma enggak mau kepala lu jatuh ke bahu gua lagi.”

“Bahu seorang vokalis harus siap jadi fasilitas umum.”

Satrya menoleh ke belakang. “Pagi-pagi jangan mulai.”

Julian kembali memejamkan mata seolah teguran itu memang sudah cukup. Evan masih mengomel pelan soal batas wilayah bangku belakang, sementara Adrian hanya tersenyum tipis dari sisi kanan Freya.

Perjalanan berikutnya lebih tenang. Freya beberapa kali melihat tas tempat catatannya disimpan, lalu ke belakang menuju bagasi meskipun synthesizer itu tidak mungkin terlihat dari tempat duduk mereka. Satrya sempat memperhatikan gerakan itu dua kali sebelum akhirnya bertanya.

“Kamu takut synth-nya kenapa-kenapa?”

Freya menoleh. “Sedikit.”

“Udah ditahan sama tas bass Adrian juga. Enggak bakal geser jauh.”

“Iya, aku tahu.” Freya mengangguk kecil, lalu tersenyum. “Cuma belum biasa bawa alat sewaan sejauh ini.”

Satrya tidak menambahkan apa-apa. Ia sendiri sejak tadi beberapa kali menyentuh saku celananya untuk memastikan pick yang dibawa masih ada, padahal tidak ada alasan benda sekecil itu tiba-tiba menghilang.

***

Area Liga Musik jauh lebih ramai daripada festival yang pernah mereka datangi waktu SMP. Satu panggung utama berdiri di tengah area terbuka, menghadap ruang luas tempat penonton bisa berdiri, sementara deretan bazar makanan dan minuman membentuk batas di sisi-sisinya. Spanduk besar Liga Musik tergantung dekat pintu masuk, dan dari kejauhan suara satu band yang sedang tampil sudah terdengar sampai ke area parkir.

Hari itu hanya dua kategori yang mendapat jadwal tampil. Band-band rock bercampur dengan peserta dari kategori lain di sekitar registrasi, beberapa masih memakai seragam sekolah, sementara yang lain sudah mengenakan pakaian panggung yang lebih rapi.

Satrya berhenti sebentar setelah turun dari mobil. Dari tempatnya berdiri, panggung terlihat jauh lebih besar daripada ukuran yang ia bayangkan ketika membaca poster beberapa bulan lalu.

Evan sudah lebih dulu melihat ke sana. “Nah,” ucapnya dengan nada yang terdengar terlalu senang untuk seseorang yang beberapa menit lalu mengeluh soal bahunya. “Ini baru panggung.”

Julian yang baru bangun menatapnya beberapa detik. “Lu baru turun mobil udah hidup lagi.”

“Gua selalu hidup.”

“Lima menit lalu ngiler di jendela.”

“Itu istirahat vokal.”

Satrya hendak menyuruh mereka mengangkat barang lebih dulu ketika ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya muncul di layar.

Sat, ibu kayaknya salah masuk parkiran. Ini banyak tenda makanan.

Satrya menutup mata sesaat.

“Kenapa?” tanya Freya dari samping.

“Ibu aku nyasar.”

Freya tampak hendak tertawa, tetapi ponselnya sendiri ikut berbunyi beberapa detik kemudian. Setelah membaca pesan yang masuk, ekspresinya berubah menjadi bingung.

“Mamahku juga.”

Satrya menoleh. “Di mana?”

“Katanya dekat parkiran, ada tenda makanan.”

Keduanya diam sebentar.

Evan yang sejak tadi mendengar langsung mendekat. “Jangan bilang nyasarnya bareng.”

“Belum tentu,” jawab Satrya.

Julian memandang area bazar di kejauhan. “Kalau ketemunya di warung, kemungkinan mereka udah lebih bahagia dari kita.”

Satrya mengabaikannya. Mereka masih punya cukup waktu sebelum harus melapor ke sisi panggung, jadi ia meminta Adrian dan Nayan menjaga bass serta synthesizer di area peserta. Evan dan Julian, yang jelas tidak punya alasan teknis untuk ikut, tetap menyusul Satrya dan Freya menuju parkiran.

“Kenapa kalian ikut?” tanya Satrya.

Evan mengangkat bahu. “Daripada nunggu.”

Julian mengangguk. “Dan kalau ternyata mereka beneran lagi makan, gua mau bukti.”

***

Mereka menemukan kedua ibu itu kurang dari sepuluh menit kemudian.

Bukan sedang kebingungan.

Bukan juga mencari pintu masuk.

Keduanya justru duduk di salah satu meja bazar dengan dua piring camilan di antara mereka, berbicara seperti sudah bertemu lebih dari lima belas menit.

Satrya memperlambat langkahnya. “Bu?”

Hampir bersamaan, Freya memanggil dari samping. “Mah?”

Dua perempuan itu menoleh.

Ibu Satrya langsung tersenyum lebar. “Nah, ini Satrya.”

Mamah Freya mengikuti arah telunjuknya, lalu melihat putrinya yang berdiri beberapa langkah di belakang. “Kalau itu Freya.”

Satrya melihat Freya sebentar. Freya juga menoleh kepadanya dengan ekspresi yang sama bingungnya.

“Ibu kenal dari mana?” tanya Satrya.

Ibunya menjawab tanpa terlihat merasa ada sesuatu yang aneh. “Tadi sama-sama salah masuk jalur parkir. Terus nanya orang yang sama, ngobrol, ternyata anaknya main di band yang sama.”

Mamah Freya mengangguk sambil tersenyum. “Abis itu kami bareng-bareng cari jalan masuk. Udah ketemu dari tadi, kok, cuma mampir lihat makanan dulu.”

“Kami kira Mamah masih nyasar,” ucap Freya.

“Enggak, Mamah udah sampai.” Mamah Freya menunjuk meja di depan mereka. “Mumpung ada makanan, ya nyobain sekalian.”

Satrya menatap ibunya dengan ekspresi tidak percaya. “Tadi katanya nyasar.”

Ibunya tertawa kecil. “Iya, awalnya. Terus ketemu mamahnya Freya, jadi bareng-bareng cari jalan masuk.”

Evan menoleh perlahan kepada Julian. “Kita nyariin orang yang ternyata udah wisata kuliner.”

Julian memandangi dua piring di meja. “Pihak yang hilang malah punya konsumsi.”

Satrya mendesah. “Kalian bisa jangan mulai?”

Ibu Satrya tampaknya baru benar-benar memperhatikan Freya setelah itu. Tatapannya berpindah dari bando putih ke wajah Freya, lalu kembali tersenyum ramah.

“Jadi kamu Freya yang main keyboard itu?”

Freya berdiri sedikit lebih tegak. “Iya, Tante.”

Mamah Freya kemudian menoleh ke Satrya. “Kalau kamu Satrya yang suka ngatur aransemennya?”

“Iya, Tante.”

Satrya baru menyadari ada sesuatu yang salah ketika Evan dan Julian mendadak diam.

Ia menoleh.

Keduanya sudah saling melihat.

Evan lebih dulu menyeringai. “Nama kalian udah sampai rumah masing-masing, nih.”

Julian mengangguk pelan. “Distribusi informasinya efisien.”

Satrya menatap keduanya. “Kalian bisa balik duluan enggak?”

“Bisa,” jawab Evan.

Tetapi ia tidak bergerak.

Satrya tidak punya waktu untuk memperpanjangnya. Ia menunjukkan arah panggung kepada kedua ibu mereka, memastikan mereka tahu area penonton berada di mana, lalu meminta mereka tidak berpindah terlalu jauh sebelum penampilan dimulai.

“Nanti kalau udah mulai, jangan teriak-teriak, ya, Bu,” pesan Satrya.

Ibunya tertawa kecil. “Iya, lihat nanti.”

Jawaban itu sama sekali tidak meyakinkan.

***

Ketika mereka kembali ke area peserta, band sebelum Resonansi masih berada di atas panggung. Suara gitar dan drum terdengar jelas dari sisi belakang, terpotong sesekali oleh sorakan penonton di bagian depan. Adrian sudah memasang strap pada bass miliknya, sementara synthesizer Freya masih berada di dalam tas sampai panitia memanggil mereka untuk bersiap.

Nayan melihat jam. “Kita sesudah ini.”

Freya berhenti membuka tas catatannya.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bercanda.

Satrya berdiri sambil meraba pick di sakunya sekali lagi. Ia sudah memainkan lagu yang sama puluhan kali di studio, tetapi suara band lain yang bocor dari panggung membuat semua latihan itu mendadak terasa jauh lebih kecil.

Band sebelumnya menyelesaikan lagu terakhir beberapa menit kemudian. Tepuk tangan terdengar dari sisi depan, lalu panitia memberi tanda kepada Resonansi untuk mendekat ke tangga samping.

“Jalan,” ucap Satrya.

Mereka bergerak hampir bersamaan.

Band sebelumnya turun melalui tangga lain saat MC naik dari sisi yang berbeda. Resonansi mengikuti panitia menuju panggung, dan untuk pertama kalinya Satrya melihat area penonton langsung dari atas.

Lebih ramai.

Jauh lebih ramai.

Ia tidak sempat menghitung apa pun karena seorang panitia sudah menyerahkan gitar elektrik kepadanya. Satrya memasang strap, menyelipkan pick di antara jari, lalu mencoba dua genjrengan pendek sambil mendengarkan suara gitarnya dari monitor panggung.

Lihat selengkapnya