Resonansi

Lana
Chapter #28

Sang Suara

Hari-hari pertama semester dua membuat koridor SMA 1 Garuda kembali dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan yang sempat menghilang selama liburan. Ketika bel istirahat berbunyi, Satrya keluar dari 10C bersama Nayan dan Freya, lalu berjalan melewati deretan kelas menuju lapangan yang harus mereka seberangi sebelum sampai ke kantin. Mereka baru mendekati 10D ketika seorang siswa dari kelas lain melambaikan tangan ke arah Evan yang sedang berdiri di dekat pintu bersama Julian.

“Van! Kemarin keren banget!”

Evan menoleh hampir seketika. Senyumnya langsung muncul bersamaan dengan tangan yang terangkat membalas sapaan. “Ya iyalah. Masa gua jelek di panggung pertama.”

Julian yang berdiri di sebelahnya mendengus. “Nilai A langsung lupa daratan.”

“Bukan lupa,” balas Evan sambil mulai berjalan menyusul Satrya dan yang lain. “Gua cuma mengingat prestasi.”

Satrya tidak ikut menanggapi. Sejak penampilan mereka di Liga Musik, beberapa rekaman yang dibuat penonton memang sempat beredar di antara murid sekolah, jadi sapaan seperti itu mulai muncul lebih sering dibanding sebelum liburan. Evan juga selalu menjadi orang yang paling cepat menyambutnya, seolah percakapan dengan orang yang baru mengenali Resonansi tidak berbeda jauh dari menyapa teman satu kelas.

Belum jauh mereka berjalan, seorang siswi yang berpapasan dengan Freya mendadak berhenti. Dua temannya yang berada di belakang ikut menoleh, membuat Freya merapatkan kedua tangannya di depan tubuh sebelum membalas senyum kecil.

“Frey, yang suara robot kemarin kamu, kan?” tanya siswi itu.

Freya sempat berkedip sebelum menyadari bagian yang dimaksud. “Yang vocoder?”

“Iya, itu. Keren banget,” jawab siswi tersebut, lalu dengan antusias langsung menanyakan apakah efek yang sama akan dipakai lagi di seri berikutnya.

Perhatian tiga orang sekaligus membuat Freya menunduk sebentar. “Makasih. Kalau buat seri berikutnya belum tahu, kita belum bahas lagunya.”

Sebelum percakapan itu selesai, siswa yang tadi menyapa Evan ikut bertanya dari samping apakah penampilan mereka di Seri Kedua akan dibuat lebih ramai. Satrya baru mulai memikirkan bagaimana menjelaskan bahwa mereka bahkan belum menentukan lagu ketika Evan sudah lebih dulu mengangkat dagu.

“Tenang,” jawab Evan. “Kemarin baru pemanasan.”

Beberapa orang langsung tertawa dan menanggapi kalimat itu seperti sebuah janji. Evan masih sempat membalas satu komentar lain sebelum rombongan kecil tersebut akhirnya berpisah, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju kantin. Dari kejauhan, Adrian baru terlihat datang dari arah tangga lantai dua dan berjalan menyusul sambil membawa tasnya di satu bahu.

Satrya baru memikirkan percakapan tadi setelah mereka hampir sampai ke lapangan. Pertanyaan tentang lagu berikutnya sebenarnya bisa dijawab siapa saja, bahkan mungkin lebih tepat kalau dirinya yang menjelaskan soal aransemen, tetapi tidak ada seorang pun yang berusaha mengambil percakapan dari Evan.

Mereka tadi hanya menunggu Evan menjawab.

***

Adrian tiba di kantin ketika lima orang lainnya sudah mendapatkan meja. Evan sedang memegang ponsel di tengah meja, sementara Julian ikut condong dari samping untuk melihat rekaman penampilan mereka yang diambil dari dekat area penonton. Selama liburan ternyata bukan cuma satu video yang beredar; beberapa teman sekolah mengirim rekaman dari sudut berbeda, ditambah potongan pendek dari orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal.

“Yang ini dari depan banget,” kata Evan sambil memundurkan video beberapa detik. Ia menunjuk layar ketika rekaman mendekati bagian reff. “Lihat pas sini.”

Satrya ikut mendekat sedikit. Kamera memang bergoyang dan beberapa kali tertutup kepala penonton, tetapi gerakan Evan masih terlihat jelas ketika ia mengangkat tangan untuk mengajak orang-orang di bagian depan bertepuk mengikuti ketukan. Beberapa detik setelah aba-aba itu, suara tepuk tangan mulai terdengar semakin banyak dan permainan seluruh band ikut membesar.

Nayan memperhatikan layar tanpa banyak berubah ekspresi. “Respons penonton mulai naik setelah kamu memberi aba-aba.”

Evan langsung tersenyum puas. “Nah, kan.”

Nayan belum selesai. Ia tetap melihat rekaman ketika menambahkan bahwa tempo permainan mereka ikut terdorong naik beberapa saat setelah tepuk tangan penonton semakin ramai.

Senyum Evan sedikit turun. “Nayan, sekali-sekali berhenti pas bagian bagusnya aja.”

“Itu masih bagian dari rekamannya,” jawab Nayan tenang.

Julian tertawa pendek, sedangkan Adrian yang baru duduk mulai membuka bungkus salah satu roti yang dibawanya. Satrya mengambil ponsel dari tangan Evan dan memutar bagian yang sama sekali lagi, kali ini pandangannya tidak terlalu tertuju pada gerakan vokalis mereka. Ia memperhatikan pukulan Julian dan tangan Adrian di bass yang perlahan ikut bergerak lebih cepat setelah energi penonton naik.

“Nayan bener,” kata Satrya setelah rekamannya berhenti. “Pas orang mulai tepuk tangan, kita ikut kebawa. Respons penontonnya bagus, tapi temponya tetap enggak boleh ikut lari.”

Evan menyandarkan punggung ke kursi sambil mengangguk kecil. “Gua enggak masalah kalau itu mau dibenerin. Cuma jangan lihat bagian yang salah doang, tepuk tangannya juga berarti bagian itu kena.”

Satrya terdiam sebentar. Cara Evan mengatakannya memang terdengar seperti pembelaan, tetapi isinya tidak salah; respons penonton tetap menjadi bagian dari penampilan sama seperti tempo, perpindahan antarbagian, atau keseimbangan suara instrumen. Kalau mereka mengevaluasi penampilan hanya dengan mencari kesalahan teknis, sebagian hal yang berhasil justru ikut terbuang.

“Sabtu kita cek lagi,” jawab Satrya akhirnya. “Bagian bagusnya dipertahanin, yang bikin tempo lari kita beresin.”

Evan kembali maju sedikit ke arah meja. “Nah, gitu.”

Video berikutnya direkam dari sisi kiri panggung. Sudut kameranya membuat Satrya terlihat cukup jelas ketika mendekati mikrofon untuk backing vocal, sedangkan Freya berada beberapa langkah di belakang bersama synthesizer. Ponsel kini berada di tangan Freya, dan ia menggeser rekaman beberapa detik ke belakang sebelum memutarnya lagi.

Satrya yang duduk di sebelahnya ikut melihat layar. Setelah pemutaran kedua, ia mulai mengira ada perpindahan yang terlewat ketika mereka tampil. “Ada yang telat?”

Freya masih memperhatikan rekaman beberapa detik, lalu menggeleng. “Enggak. Aku cuma mau lihat perpindahannya. Tadi kayaknya cepat banget pas di panggung.”

Ia memutar ulang satu kali lagi. Di layar, Satrya menyelesaikan genjrengan terakhir sebelum mendekati mikrofon, lalu beberapa nada synth Freya masuk setelah backing vocal selesai. Jarak keduanya ternyata pas, tidak saling menutup dan tidak meninggalkan ruang kosong terlalu panjang.

“Udah pas,” kata Freya akhirnya.

“Oh.” Satrya ikut melihat sampai bagian itu lewat. “Berarti enggak usah diubah.”

Freya mengangguk, kemudian menutup video dan meletakkan ponsel di meja. Satrya tidak memikirkannya lebih jauh karena kalau perpindahannya memang sudah tepat, tidak ada alasan untuk mengutak-atik bagian tersebut hanya karena mereka sedang mengevaluasi penampilan.

Lihat selengkapnya