Hampir tiga minggu berlalu sejak semester dua dimulai, sementara Seri Kedua masih terasa cukup jauh karena baru akan berlangsung setelah ujian kenaikan kelas. Resonansi juga belum perlu buru-buru memastikan pilihan lagu, jadi beberapa latihan awal masih bisa dipakai untuk mencari arah baru setelah penampilan pertama. Sabtu pertama di bulan Februari, Satrya datang ke studio dengan tiga pilihan lagu tersimpan di ponselnya dan satu tujuan sederhana: mencari mana yang paling mungkin memberi ruang berkembang untuk enam orang.
Freya sudah berada di belakang synthesizer ketika Satrya masuk, sedangkan Nayan berdiri paling dekat pintu sambil menunggu yang lain selesai bersiap. Adrian sudah ada di tempatnya dengan bass studio, sementara Evan dan Julian belum terlihat sampai suara keduanya terdengar dari lorong beberapa detik kemudian. Evan masuk lebih dulu sambil mengangkat ponsel di depan wajah, disusul Julian yang membawa dua botol minuman.
Ekspresi Evan terlihat terlalu puas untuk seseorang yang baru datang. Ia langsung mendekati sisi lingkaran Freya dan mengangkat layar ponselnya. “Frey, lu masuk berita.”
Tangan Freya yang sedang memeriksa beberapa tuts langsung berhenti. “Hah?”
Julian meletakkan botol minum dekat dinding, kemudian menambahkan dengan nada seolah sedang menenangkan keadaan, “Bukan berita kriminal. Tenang.”
Penjelasan itu malah membuat Adrian menoleh. “Kenapa harus dijelasin begitu?”
Freya ikut mengerutkan kening. “Sekarang aku malah panik.”
Evan akhirnya menyodorkan ponselnya. Sebuah artikel dari portal hiburan pelajar terbuka di layar, lengkap dengan foto Freya ketika berdiri di belakang synthesizer pada Seri Pertama. Judul besar di atasnya langsung membuat Freya memicingkan mata.
Penonton Salah Fokus dengan Keyboardist Resonansi Ini
Freya membaca judul itu sekali lagi sebelum menggulir ke bawah. Beberapa komentar pertama masih membicarakan permainan synth, tetapi setelah itu isinya mulai dipenuhi pertanyaan soal nama, kelas, akun media sosial, sampai komentar yang lebih sibuk membahas wajahnya daripada apa yang ia mainkan. Semakin jauh membaca, kerutan di dahinya semakin terlihat.
“Ini artikel ngebahas penampilan band atau muka aku?” tanyanya sambil mengangkat layar sedikit.
Evan tersenyum lebar. “Awalnya band, habis itu orang-orang kehilangan fokus.”
Freya langsung mengembalikan ponsel kepadanya. “Aku enggak mau punya penggemar begini.”
Adrian menjawab dari tempatnya dengan nada santai, seolah masalah itu tidak perlu dibawa lebih jauh. “Ya tinggal diabaikan.”
Freya mengangguk cepat. “Nah. Aku pilih itu aja, males banget.”
Evan masih tertawa ketika membawa ponselnya ke arah Satrya. “Sat, lihat. Keyboardist kita sekarang selebritas.”
Satrya menerima perangkat itu tanpa terlalu tertarik pada judulnya. Ia menggulir beberapa komentar, menemukan pujian soal permainan Freya di antara pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan musik, lalu pandangannya kembali naik ke foto utama. Freya terlihat serius di belakang synthesizer, bando putihnya masih jelas meskipun gambar diambil dari jarak cukup jauh.
Satu komentar menulis bahwa permainan keyboardnya cantik karena pemainnya juga cantik.
Satrya membaca kalimat itu sekali lagi sebelum tanpa banyak berpikir bergumam, “Ya wajar. Memang cantik.”
Satu nada rendah dari synthesizer tiba-tiba memenuhi studio.
Freya buru-buru menarik jarinya dari tuts yang tidak sengaja tertekan, tetapi suara panjang itu telanjur terdengar sampai semua orang berhenti melakukan apa pun. Wajahnya memerah sampai telinga, sementara kedua tangannya langsung berpindah ke panel synth dan memutar satu knob sedikit ke kiri lalu mengembalikannya ke posisi semula, meskipun Satrya tidak melihat ada pengaturan yang perlu diubah.
Satrya baru mengangkat kepala setelah menyadari ruangan mendadak terlalu sunyi. Evan, Julian, Adrian, dan Nayan sedang melihat dirinya dengan ekspresi berbeda-beda, tetapi tak satu pun terlihat berniat melewatkan kalimat tadi begitu saja.
Evan menjadi orang pertama yang menyela keheningan. “Apa?”
Satrya mengerutkan kening. “Apa apaan?”
“Lu barusan ngomong apa?” tanya Evan lagi, kali ini dengan senyum yang sudah mulai muncul.
“Gua cuma baca komentar.”
Julian ikut menatap Satrya dengan keseriusan yang terlalu dibuat-buat. “Terus kesimpulan ilmiahnya memang begitu?”
Satrya baru sadar kalimat yang keluar tadi mungkin terdengar lebih pribadi daripada yang ia maksud. Ia mengalihkan ponsel kembali kepada Evan sambil berusaha menutup percakapan. “Ya memang... udah, apaan sih.”
Masalahnya, perhatian Evan dan Julian sudah telanjur berpindah kepada Freya, lalu disusul Adrian dan Nayan yang tampaknya juga baru menyadari sumber bunyi synth tadi. Freya yang menyadari empat pasang mata mengarah kepadanya langsung menunduk lebih dalam.
“Jangan jadi lihatin aku...” ucapnya pelan, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat empat orang itu segera mengalihkan pandangan.
Evan mendadak sibuk membuka ponselnya, Julian melihat ke arah drum, Adrian menunduk pada bass, sedangkan Nayan kembali memeriksa gitarnya. Satrya sendiri masih melihat Freya karena belum memahami kenapa reaksinya sampai sebesar itu, sampai Freya mengangkat wajah sedikit dan langsung menangkap tatapannya.
“Kamu juga jangan lihat aku terus.”
Satrya tersentak kecil. “Oh. Iya, maaf.”
Ia buru-buru memalingkan wajah ke depan. Dari dekat pintu, suara Nayan terdengar sangat pelan.
“Menarik.”
Satrya langsung menoleh. “Apa yang menarik?”
Nayan sudah menunduk pada lembar ketentuan yang dibawanya. “Tidak ada.”
Satrya masih ingin bertanya, tetapi Evan kembali membuka artikel tadi dengan senyum yang terlalu mencurigakan, sementara Freya sudah berusaha menyibukkan diri dengan synthesizer. Ia akhirnya memutuskan tidak memberi mereka ruang lebih panjang.
“Udah,” kata Satrya. “Kita bahas Seri Dua.”
Kalimat itu cukup untuk mengembalikan perhatian mereka.
***
Nayan membagikan salinan ketentuan yang sudah ia cetak sebelum latihan. Seri Kedua menekankan interpretasi dan dinamika, terutama bagaimana sebuah band membangun perubahan intensitas dari satu bagian ke bagian lain tanpa kehilangan karakter permainannya. Satrya membaca poin-poin itu dua kali, lalu menyederhanakannya agar lebih mudah dipakai sebagai dasar memilih lagu.
“Intinya, dari awal sampai akhir enggak bisa sama besar terus,” ucap Satrya.
Julian mengangkat alis seolah baru memahami sesuatu. “Jadi kadang kencang, kadang lebih kencang?”
Nayan bahkan tidak perlu mengangkat kepala. “Bukan begitu.”
Evan ikut mencondongkan badan dengan senyum kecil. “Kalau penontonnya kadang ramai, kadang lebih ramai?”
“Juga bukan.”
Satrya menahan senyum sebelum percakapan itu berkembang menjadi teori lain. “Gua bawa tiga lagu. Dengerin dulu semuanya, habis itu baru pilih.”
Dua pilihan pertama gugur cukup cepat. Lagu pertama punya gitar yang kuat, tetapi Freya hanya akan mendapat ruang menahan lapisan akor hampir sepanjang lagu, sedangkan lagu kedua membuat dua gitar mereka terlalu sering berada di fungsi yang sama. Satrya tidak mau mengulang pola lama hanya demi membuat satu instrumen terdengar lebih menonjol.
Pilihan ketiga terasa berbeda sejak beberapa detik pertama.
Denting piano bernuansa orkestral membuka lagu sendirian, lalu suara gesekan pick masuk sebelum pola tom berulang mulai membangun tekanan. Setelah beberapa pengulangan, seluruh instrumen bergabung dan sebuah motif synth tinggi muncul di atas lapisan rock yang sudah lebih dulu terbentuk.
Evan langsung tersenyum setelah intro berjalan beberapa saat. “Nah, ini baru lagu1.”
Satrya meliriknya. “Kenapa?”
“Intro-nya aja bikin orang nunggu sesuatu,” jawab Evan sambil menunjuk ponsel. “Belum masuk vokal, tapi rasanya kayak lagi dibangun.”
Julian menoleh kepadanya. “Jadi bagus karena vokalisnya belum nyanyi?”
“Bukan,” balas Evan tanpa kehilangan percaya diri. “Kemunculan gua sedang dipersiapkan.”
Adrian mengangguk pelan. “Berarti hampir satu menit kita aman.”
Evan menatapnya. “Gua tetap ada di panggung.”
“Bisa diam, kan?”
Evan mengembuskan napas pendek. “Enggak janji.”
Freya tidak ikut menanggapi percakapan mereka. Pandangannya tetap pada ponsel sambil mendengarkan perubahan warna keyboard dari piano awal menuju synth, kemudian kembali ke piano yang lebih sederhana ketika bagian vokal dimulai. Nayan juga terlihat lebih banyak memperhatikan pembagian dua gitar sampai lagu mencapai chorus.
Begitu lagu selesai, Freya menjadi orang pertama yang membahas instrumennya. “Keyboard-nya ganti tone beberapa kali. Pembukanya piano yang lebih lebar, habis itu synth, terus pas vokal masuk jadi lebih sederhana.”