Resonansi

Lana
Chapter #30

Ledakan

Senin pagi, Satrya baru sempat membuka percakapan Evan setelah seragamnya terpasang dan tas sekolah sudah berada di dekat pintu kamar. Ada lima pesan suara dari malam sebelumnya, semuanya dikirim setelah Satrya berkali-kali meminta Evan berhenti. Rekaman terakhir masuk hampir setengah jam setelah pesan terakhirnya, berdurasi dua puluh tiga detik dan berhenti tepat ketika suara Evan pecah pada nada tinggi lalu berubah menjadi batuk pendek.

Satrya memutarnya sekali lagi. Tekanan pada verse sebenarnya sudah mendekati bentuk yang mereka temukan di studio, tetapi bagian akhirnya terdengar lebih kasar daripada Sabtu sore. Ia mengunci layar, memasukkan ponsel ke saku, lalu memutuskan akan membicarakannya langsung begitu bertemu Evan di sekolah.

***

Bel istirahat pertama baru berbunyi ketika Satrya keluar dari 10C bersama Nayan. Mereka belum jauh dari pintu kelas ketika suara tawa Evan terdengar dari depan 10D, tempat ia sedang berdiri bersama Julian. Evan masih menunjuk kaus kaki Julian yang sekilas sama-sama gelap, tetapi ternyata berbeda warna ketika terkena cahaya dari koridor.

Sekilas tingkahnya tidak berbeda dari biasanya. Ia masih tertawa paling keras dan mengangkat suara ketika Julian mencoba membela pilihan kaus kakinya, hanya kali ini warna suaranya terdengar lebih berat dan beberapa kali ia harus berhenti sebentar untuk menelan ludah. Satrya langsung teringat rekaman terakhir yang baru didengarnya pagi tadi.

“Lu begadang lagi?” tanya Satrya ketika mereka mendekat.

Evan menoleh, lalu pandangannya berpindah ke Nayan yang berdiri di samping Satrya. Senyumnya masih bertahan ketika ia menjawab, “Pagi-pagi gua sudah dikeroyok.”

Nayan tidak ikut tersenyum. “Aku belum bertanya apa pun.”

“Tapi muka lu sudah siap.”

“Kamu latihan lagi tadi malam?”

Evan mengangkat kedua alis seperti baru saja membuktikan sesuatu. “Nah, kan.”

Satrya menyilangkan tangan. “Lu kirim lima rekaman.”

Kali ini Evan benar-benar menoleh kepadanya. “Lu ngitung juga?”

“Ponsel gua yang nerima.”

Julian tertawa pendek dari samping, tetapi Nayan tetap memandang Evan dengan ekspresi datar. Ia menunggu sampai candaan itu selesai sebelum bertanya berapa lama Evan tidur malam sebelumnya, lalu menerima jawaban yang sama sekali tidak menjawab angka.

“Gua tidur, bangun, terus sekolah,” kata Evan sambil mengangkat satu tangan. “Semuanya kejadian.”

“Itu bukan jumlah,” balas Nayan.

Evan mengembuskan napas pendek. “Kalau gua bilang lima, lu bakal nyuruh tidur lebih cepat. Kalau gua bilang enam, lu bakal bilang masih kurang. Jadi buat apa gua jawab?”

“Karena waktu istirahatmu memengaruhi kondisi suaramu.”

Evan menepuk bahu Nayan sambil tersenyum. “Tenang, Dok. Pasien masih hidup.”

Satrya melihat tangan Evan sempat menyentuh leher sebelum buru-buru dimasukkan ke saku. Beberapa detik kemudian bel kedua berbunyi, membuat Evan dan Julian kembali menuju kelas mereka sementara Satrya serta Nayan berbalik ke arah 10C.

Sebelum Evan sempat masuk, Satrya memanggilnya sekali lagi. “Jangan latihan vokal malam ini.”

Evan berjalan mundur dua langkah sambil mengangkat dua jari. “Siap, Bos.”

Nada jawabannya ringan seperti biasa, tetapi Satrya belum merasa yakin. “Gua serius.”

“Gua juga.”

Ia masuk ke kelas bersama Julian sebelum Satrya sempat menambahkan apa pun.

***

Saat istirahat kedua, lima orang sudah duduk di kantin ketika Adrian datang setelah menuruni tangga dari lantai dua. Ia membawa dua bungkus roti, lalu duduk di tempat kosong tanpa ikut masuk ke obrolan sampai selesai membuka salah satunya. Evan sendiri sedang bersandar dengan bahu sedikit turun, botol air berada di tangan dan suaranya baru saja berhenti setelah beberapa menit berbicara.

Seorang siswa dari kelas lain menghampiri meja mereka dan langsung memanggil Evan. Bahunya yang tadi turun segera tegak, sementara senyum muncul hampir bersamaan dengan kepala yang terangkat.

“Van, lagu Seri Dua sudah dipilih?”

“Sudah,” jawab Evan.

“Lebih rame dari kemarin?”

Senyumnya melebar. “Harus, dong. Kemarin baru pemanasan.”

Siswa itu tertawa dan menanyakan satu-dua hal lain sebelum akhirnya kembali ke mejanya. Evan masih membalas sapaan sampai orang tersebut benar-benar menjauh, lalu baru mengangkat botol dan minum cukup lama.

Satrya memperhatikan tenggorokannya bergerak beberapa kali sebelum botol diturunkan. “Suara lu makin jelek.”

Evan memasang kembali tutup botol. “Cuma ngomong.”

Freya yang duduk tidak jauh dari Evan ikut melihatnya. Nada suaranya tetap lembut ketika ia berkata, “Kalau lagi sakit, kamu enggak harus jawab panjang, Van.”

Evan mengangkat bahu kecil. “Tadi juga enggak panjang.”

Adrian akhirnya masuk tanpa mengubah nada santainya. “Ya kalau capek, biarin orang lain jawab.”

Evan sempat memandangnya, tetapi Julian sudah mengalihkan pembicaraan ke hal lain sebelum jawaban itu berkembang. Beberapa saat kemudian meja mereka kembali ramai, dan Evan kembali ikut tertawa bersama yang lain.

Satrya tidak ikut menegurnya lagi.

Ia hanya memperhatikan bahwa hampir setiap kali Evan berhenti bicara, selalu ada orang lain yang memberinya alasan untuk mulai lagi.

***

Hingga Jumat, suara Evan tidak banyak berubah. Ia masih bercanda di koridor, masih memanggil Julian dari depan kelas, dan hampir setiap kali Satrya melihatnya, Evan sedang berbicara dengan seseorang. Botol air selalu ada di dekatnya, tetapi tidak pernah cukup lama membuat mulutnya benar-benar diam.

Pada pergantian pelajaran, 10C mulai sepi karena beberapa siswa keluar sebelum guru berikutnya datang. Satrya baru selesai menutup buku ketika Nayan yang duduk di sebelahnya menoleh ke arah koridor, tempat suara Evan tadi sempat terdengar lewat bersama Julian.

“Suaranya belum membaik,” ucap Nayan.

Satrya meletakkan pena di atas meja. “Gua sudah suruh dia berhenti latihan.”

“Dia tahu.” balas Nayan.

“Terus?”

Nayan menatap permukaan meja beberapa detik sebelum menjawab. “Mengetahui bahwa dia harus berhenti tidak membuat perilakunya berubah. Setiap diberi kesempatan untuk istirahat, dia kembali mencoba.”

Satrya mengerutkan kening. “Mungkin dia cuma keras kepala.”

“Mungkin.”

“Lu enggak yakin?”

Nayan menggeleng kecil. “Aku belum tahu alasannya.”

Kalimat itu berhenti di sana. Satrya sempat teringat lima rekaman pada Senin pagi, tetapi suara langkah guru yang mendekat membuat keduanya kembali membuka buku sebelum percakapan sempat berlanjut.

Jumat sore, grup mereka ramai karena Julian mengabarkan bahwa ia harus menghadiri acara keluarga pada hari berikutnya. Tidak lama kemudian Freya ikut mengatakan kegiatan ekstrakurikulernya akan berlangsung sampai sore, jadi Satrya memutuskan latihan Sabtu dibatalkan.

Julian:

besok gua enggak bisa studio, ada acara keluarga

Freya:

Lihat selengkapnya