Isak tangis Evan sudah tidak sekeras beberapa menit lalu. Beberapa lembar tisu yang tadi diletakkan Freya masih tersisa di bangku sebelahnya, sedangkan bungkus kecilnya tetap berada di tangan Freya. Tidak ada satu pun yang kembali ke alat masing-masing, dan setelah amplifier dimatikan Adrian, suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada biasanya. Bahkan dengung kecil dari sudut ruangan yang biasanya tenggelam di antara gitar dan drum sekarang terasa cukup keras untuk didengar.
Satrya masih duduk di bangku depan Evan. Julian berada di sisi lain dengan mata yang masih merah, Adrian bersandar dekat dinding, sementara Nayan duduk tidak jauh dari pintu dengan kedua tangan kosong. Freya tetap berada di sisi kiri Satrya, sedikit lebih dekat kepada Evan dibanding posisi synthesizer-nya. Tidak ada yang terlihat tahu siapa harus bicara lebih dulu sampai Evan sendiri akhirnya mengusap wajah dan menarik napas panjang.
“Udah,” ucap Evan, suaranya masih serak. “Jangan pada jadi aneh, anjir.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Julian sempat membuka mulut, lalu menutupnya lagi sebelum akhirnya menunduk sebentar, kedua telapak tangannya menempel rata pada pahanya. Evan menatap kelima orang di depannya satu per satu, lalu mengangkat kepala sedikit ketika diam itu bertahan lebih lama.
“Serius. Jangan besok ketemu gua terus mukanya kayak habis pemakaman.”
Julian mengembuskan napas pendek, tetapi kali ini tidak ada tawa yang keluar. Ia mengusap hidung dengan punggung tangan, kemudian melihat Evan lebih lama daripada biasanya. Beberapa detik sebelumnya wajahnya masih seperti ingin ikut membuat suasana ringan, tetapi mulutnya kembali menutup sebelum kalimat pertama akhirnya keluar.
“Tadi gua nanya lu kenapa diam,” ucap Julian.
Evan mengerutkan kening kecil. “Terus?”
Julian tidak langsung menjawab. Kedua tangannya yang biasanya hampir selalu memainkan stik sekarang hanya bertumpu di paha, jari-jarinya bergerak kecil tanpa memegang apa pun. Ketika akhirnya bicara lagi, suaranya lebih pelan daripada biasanya.
“Padahal lu cuma diam.” Julian menarik napas sebentar. “Gua kayak otomatis nunggu lu ngomong sesuatu.”
Evan tidak menyela. Ia hanya menatap Julian, sementara tangan yang tadi memegang tisu turun perlahan ke atas lutut.
“Kalau suasananya aneh, gua nunggu lu bikin normal. Kalau latihan mulai tegang, gua juga nunggu lu ngomong.” Julian menelan ludah sebentar, lalu memalingkan wajah ke lantai. “Kayaknya gua emang keseringan begitu.”
Satrya melihat rahang Julian bergerak kecil seolah ada kalimat lain yang masih ditahan. Beberapa menit sebelumnya Julian termasuk orang yang paling cepat ikut pecah setelah Evan berteriak, dan sekarang dia juga yang pertama mencoba mengatakan bagian dirinya tanpa membuatnya terdengar seperti pembelaan. Evan sempat menarik ujung bibirnya seperti hendak melempar candaan, tetapi ekspresi itu tidak benar-benar jadi.
“Ya lu emang ngeselin,” ucap Evan akhirnya.
Julian menahan napas pendek yang hampir berubah jadi tawa, tetapi hanya berakhir sebagai senyum kecil. “Iya.”
Evan mengusap sisa air di bawah matanya. “Apalagi kalau udah mulai ngomong takdir.”
“Gua enggak ngomong takdir sekarang.”
“Baguslah.”
Kali ini sudut mulut Evan ikut naik sedikit. Tidak cukup untuk membuat suasana berubah ringan, tetapi setidaknya bahunya yang sejak tadi kaku mulai turun. Julian pun tidak memaksa percakapan itu lebih jauh dan kembali duduk diam.
Freya yang sejak tadi memegang bungkus tisu akhirnya menarik satu lembar baru. Ia mengusap sudut matanya sendiri sebelum merapikan lembar lain yang masih tersisa di bangku, lalu menatap Evan tanpa buru-buru bicara. Evan sempat melihat ke arahnya, lalu kembali menunduk ketika Freya baru membuka mulut.
“Kalau kamu diam, kami enggak akan langsung mikir ada masalah,” ucap Freya pelan.
Evan mengangkat satu alis. “Lu bilang begitu sekarang. Orang lain belum tentu.”
Freya tidak langsung membalas. Ia menutup kembali bungkus tisu di tangannya dan membiarkan jeda itu tetap ada beberapa detik, seolah tidak merasa perlu buru-buru mengisi ruang yang baru saja dibicarakan mereka.
“Orang lain mungkin,” ucapnya. “Tapi kami bukan orang lain.”
Evan diam.
Freya melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. “Kalau kamu lagi enggak pengen ngomong, ya jangan ngomong. Enggak harus dijelasin dulu.”
Evan memandangi tangannya sendiri. “Kalau gua lagi bete terus pada mikir gua marah gimana?”
“Bisa ditanya nanti,” jawab Freya. “Bukan berarti kamu harus langsung bikin semua orang nyaman dulu.”
Evan mengangkat wajah lagi.
Freya masih menatapnya. “Kalau capek, ya capek aja.”
Tidak ada tambahan setelah itu. Freya justru menurunkan pandangan dan melipat bungkus tisu lebih rapi sebelum memasukkannya ke samping tas, membiarkan kalimatnya berhenti di sana. Satrya melihat jari-jari Evan yang tadi masih mencengkeram kain celananya perlahan mulai terbuka.
Adrian baru bicara setelah beberapa detik. Nada suaranya tetap sama santainya seperti biasa, seolah ia sedang membahas persoalan yang bisa disederhanakan sampai tinggal satu baris.
“Ya dibagi aja.”
Evan menoleh. “Apanya?”
Adrian mengangkat bahu. “Semuanya.”
Wajah Evan masih terlihat belum paham, sehingga Adrian bergeser sedikit dari dinding dan menumpukan kedua tangan di sisi kursi. “Kalau ada orang nanya, enggak harus lu terus yang jawab. Kalau suasana sepi, ya biarin sepi. Kalau salah satu lagi capek, lima orang lain masih ada.”
Evan memandangnya cukup lama, lalu menghela napas. “Kalian ngomong gampang banget.”
Adrian mengangguk kecil. “Ya memang enggak harus dibikin ribet.”
“Emang segampang itu?”
“Enggak tahu.” Adrian mengusap ujung hidung sebentar. “Tapi kalau dibikin susah duluan juga enggak membantu.”
Julian melirik Adrian, mungkin hendak menambahkan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk kecil. Evan pun tidak membalas lagi. Satrya sempat berpikir kalimat Adrian terdengar terlalu sederhana untuk situasi seperti ini, tetapi justru karena itu kalimat tersebut terasa tepat keluar dari dirinya.
Satrya sendiri sejak tadi hanya mendengar, namun semakin lama satu hal mulai terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Ia mengingat berapa kali orang luar bertanya tentang band dan dirinya otomatis melihat Evan, berapa kali suasana jadi canggung lalu semua menunggu suara Evan masuk lebih dulu. Bahkan saat mengurus hal sederhana dengan panitia atau orang lain, Satrya sering tahu jawabannya tetapi tetap membiarkan Evan mengambil pembicaraan lebih dulu.
Dulu ia menganggap itu pembagian peran. Evan vokalis, Evan paling mudah bicara, Evan paling cepat membuat orang nyaman. Tidak pernah terasa seperti keputusan yang sengaja dibuat siapa pun, justru karena itu kebiasaan tersebut tumbuh tanpa pernah diperiksa.