Hampir lima bulan berlalu sejak Sabtu ketika mereka meninggalkan studio tanpa meneruskan latihan. Suara Evan akhirnya kembali seperti biasa setelah dia juga mengurangi intensitas latihan pribadinya dan sempat berobat ke dokter, ujian kenaikan kelas datang dan lewat, sementara lagu Seri Kedua yang sempat mereka ulang sampai kehilangan bentuk perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa dimainkan tanpa harus dibongkar setiap akhir pekan.
Satrya masih menghentikan latihan kalau satu percobaan sudah benar, Nayan masih menjadi orang pertama yang mengingatkan kalau suara Evan mulai terdengar dipaksa, tetapi setelah beberapa minggu mereka tidak perlu melakukannya sesering dulu. Evan sendiri tetap Evan; suaranya masih paling gampang ditemukan di kantin, grup mereka tetap paling sering ramai gara-gara dia, dan kalau Julian mulai bicara ngawur, Evan masih orang pertama yang menyambutnya.
Perubahan yang terjadi justru lebih kecil daripada yang Satrya bayangkan. Ketika seseorang bertanya soal lagu, Evan kadang membiarkan anggota lain menjawab dulu, lalu baru ikut kalau memang ada yang ingin ia tambahkan. Setelah latihan selesai, mikrofon kembali ke stand tanpa permintaan satu percobaan lagi, dan kalau ruangan sedang sepi, tidak ada lagi lima orang yang otomatis menunggu Evan mengisi kekosongan itu.
Pada minggu ketiga Juli, enam orang itu kembali berada di mobil sewaan yang sama seperti enam bulan sebelumnya. Nayan duduk di depan bersama sopir, Satrya berada di tengah dengan Freya di kiri dan Adrian di kanan, sementara Julian serta Evan mengambil baris paling belakang. Bass pribadi Adrian dan synthesizer sewaan Freya tersimpan di bagasi, membuat perjalanan menuju lokasi Seri Kedua terasa seperti pengulangan Januari yang dipindahkan ke hari yang jauh lebih panas.
Di tengah perjalanan, Evan sempat diam hampir satu menit sambil menyandarkan kepala ke jok dan memejamkan mata. Julian tetap melihat keluar jendela, Adrian sibuk dengan ponselnya, sedangkan Nayan membaca lagi lembar ketentuan yang sebenarnya sudah ia hafal; tidak seorang pun berbalik untuk bertanya kenapa Evan tidak bicara. Beberapa saat kemudian Evan membuka mata sendiri, memandang satu per satu orang di depannya melalui sela jok, lalu mengembuskan napas pendek.
“Gua baru sadar mobil ini lebih tenang kalau gua enggak ngomong,” ucap Evan.
Adrian bahkan tidak mengangkat kepala saat menjawab bahwa pernyataan Evan itu benar, membuat Evan langsung menyuruhnya untuk jangan senang dulu. Julian ikut menimpali bahwa secara teori volume kendaraan memang turun kalau sumber suara terbesar berhenti, tetapi Nayan segera mengoreksi bahwa mereka tidak punya hasil pengukuran untuk menyebutnya teori. Evan akhirnya menunjuk ke depan sambil tertawa. “Nah, sekarang baru normal lagi.”
Tawa kecil menyebar di dalam mobil. Satrya ikut tersenyum dan kembali melihat jalan melalui kaca depan, sementara dari sisi kirinya terdengar Freya masih menahan tawa sampai beberapa detik kemudian.
***
Lokasi Liga Musik tidak banyak berubah sejak Seri Pertama. Panggung utama tetap berdiri di sisi lapangan, bazar makanan mengelilingi area penonton, dan suara band yang sedang tampil sudah terdengar bahkan sebelum mereka selesai berjalan dari parkiran. Udara Juli lebih panas daripada Januari; Evan baru berjalan beberapa puluh meter sebelum mengeluh kemejanya sudah menempel di punggung, tetapi beberapa detik kemudian ia tetap menjadi orang pertama yang mengomentari aroma makanan dari salah satu stan.
Setelah menyerahkan konfirmasi peserta, mereka membawa bass Adrian dan synthesizer Freya menuju area tunggu. Satrya serta Nayan hanya membawa pick, Julian menggenggam tas kecil berisi stik, sedangkan Evan datang dengan botol air dan tas yang sejak tadi lebih sering bergantung di bahunya daripada dibuka.
Seorang siswa dari sekolah lain mengenali Evan sebelum mereka mencapai sisi panggung. Cowok itu memanggil dari kejauhan, lalu menghampiri bersama dua temannya dengan wajah yang tampaknya masih mengingat penampilan Seri Pertama.
“Van! Nanti bikin rame lagi, ya!”
Enam bulan lalu, Satrya yakin Evan akan langsung menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang diminta. Kali ini Evan hanya mengangkat alis, senyumnya tetap lebar, lalu menjawab santai, “Lihat nanti. Kalau gua kasih tahu sekarang, nanti enggak penasaran.”
Ketiganya tertawa dan pergi setelah sempat mengangkat tangan ke anggota lain. Evan tidak menambahkan bahwa Resonansi pasti membuat seluruh lapangan lompat, tidak membandingkan penampilan mereka dengan Seri Pertama, dan tidak berusaha memastikan tiga orang tadi akan berdiri paling depan. Ia cuma membuka botol, minum dua teguk, lalu melanjutkan jalan.
Freya yang berada di kiri Satrya sempat mengikuti Evan dengan pandangan sebelum menoleh kepadanya. Saat mata mereka bertemu, Freya tersenyum kecil tanpa mengatakan apa-apa.
Satrya akhirnya bertanya, “Kenapa, Frey?”
“Enggak apa-apa,” jawab Freya, tetapi senyumnya belum hilang.
“Kamu tadi lihat aku?.”
Freya mengangkat alis sedikit. “Memangnya enggak boleh?”
Satrya sempat kehilangan jawaban yang mestinya sederhana, lalu hanya mengangguk. “Ya boleh aja.”
Freya terlihat menahan senyum lagi sebelum mempercepat langkah untuk menyamai Adrian. Satrya baru bergerak setelah Julian hampir menabrak punggungnya dan protes bahwa kalau mau berhenti di tengah jalan setidaknya kasih aba-aba; Satrya menyuruhnya melihat ke depan, sementara Adrian dari beberapa langkah di depan cuma meminta mereka jalan saja.
***
Menjelang giliran Resonansi, keenamnya menunggu di sisi panggung yang tertutup dari pandangan penonton. Band sebelumnya masih memainkan lagu terakhir ketika panitia meminta Adrian dan Freya bersiap membawa alat mereka naik, sementara Satrya serta Nayan berdiri dekat tangga masuk dan Julian beberapa kali mengetukkan stik ke paha. Evan berada paling dekat dengan ujung tirai, mendengar sorakan dari depan tanpa mencoba menyibakkannya untuk melihat berapa banyak orang yang berkumpul.
Band sebelumnya selesai. Tepuk tangan naik, mereka turun dari tangga sisi lain, dan panitia memberi tanda kepada Resonansi untuk masuk bersama MC.
Panggung langsung berubah ramai oleh teknisi. Bass Adrian disambungkan, synthesizer Freya ditempatkan di kiri belakang, Julian mengambil drum tengah belakang, sedangkan Satrya dan Nayan menerima gitar elektrik dari panitia. Evan berjalan ke depan setelah mikrofon dinyalakan, mengetes satu kata pendek, lalu melangkah beberapa kali di sepanjang bibir panggung seperti sedang mengukur ruang yang beberapa bulan lalu pernah ia kuasai terlalu keras.
MC menunggu setup selesai sambil menghadap penonton. “Yang satu ini kayaknya sudah ada yang kenal dari Seri Pertama!”
Beberapa suara dari depan langsung menjawab, dan senyum Evan otomatis melebar. Ketika MC menanyakan bagaimana persiapan mereka selama enam bulan terakhir, Satrya sempat melihat perhatian orang itu bergerak ke Evan, tetapi Evan justru menoleh kepadanya terlebih dahulu.
Satrya menangkap maksudnya dan menjawab, “Lebih susah dari yang pertama, tapi sudah siap.”
MC tampak sedikit terkejut. “Wah, sekarang gitarisnya ikut ngomong.”
Evan langsung mengangkat mikrofon, nadanya ringan. “Dari dulu dia bisa ngomong, Kak. Biasanya aja nunggu gua.”
Beberapa penonton tertawa, sementara Satrya refleks membalas bahwa dia tidak selalu menunggu Evan. Evan cuma menunjuk kepadanya sambil mengatakan itu bukti bahwa Satrya memang bisa menjawab sendiri, lalu tawa kecil kembali terdengar dari depan.
Panitia di belakang memberi tanda bahwa semua koneksi aman. Freya mencoba beberapa tuts, Adrian menarik satu nada pendek dari bass, Nayan mengecek gitarnya, dan Satrya memastikan suara instrumennya masuk ke monitor. MC akhirnya mengangkat tangan ke arah penonton sebelum mundur.
“Langsung aja! RESONANSI!”
Sorakan naik ketika MC turun dari panggung.
Evan berbalik kepada mereka.
***
Denting piano Freya membuka bagian pertama, lebar dan berat, sementara Julian mulai membangun pola tom dari belakang. Satrya menahan pick di atas senar dan menghitung diam-diam; putaran pertama lewat, kemudian kedua, disusul tekstur tipis gitar Nayan yang mengisi sela suara piano. Mereka sudah memainkan bagian ini puluhan kali sampai semua orang tahu apa yang harus terjadi ketika pola tom mencapai hitungan terakhir.
Menjelang putaran ketujuh, Evan yang sejak tadi berdiri di depan mendadak mengangkat mikrofon tinggi-tinggi.
“TU—WA—GA—PAT!”
Julian menghantam tom terakhir.
Satrya dan Nayan langsung masuk.
Adrian menyusul dari tengah, sementara Freya mengubah suara synthesizer tepat saat bagian pembuka meledak menjadi intro penuh. Evan melompat kecil di depan mereka, berputar setengah badan ke arah Julian, kemudian kembali menghadap penonton sambil mengayunkan satu tangan mengikuti ketukan.
Energinya datang seketika.Bukan Evan yang berdiri diam menunggu lagu membawanya.
Evan tetap orang yang menarik mata ke depan panggung.
Ia berlari dua langkah ke kiri, kembali ke tengah sebelum verse masuk, kemudian mencondongkan badan ke arah barisan depan seolah ingin menarik mereka lebih dekat. Beberapa orang sudah ikut mengangkat tangan bahkan sebelum bait pertama dimulai.
Begitu verse masuk, perubahan justru terasa jelas. Evan berhenti melompat dan menurunkan tubuhnya sedikit, menyanyi dengan tekanan yang lebih kecil daripada energi intro barusan. Satrya menahan genjrengan supaya tidak terlalu besar, Adrian menjaga bass tetap rapat, sementara Julian kembali ke pukulan yang lebih tertahan.