Beberapa hari setelah Seri Kedua, grup mereka kembali ramai bukan karena latihan, nilai, atau lagu berikutnya. Evan hanya mengirim satu pesan pagi-pagi yang isinya mengeluh bosan di rumah, Julian menyambut dengan beberapa pilihan tempat yang makin lama makin tidak masuk akal, sampai akhirnya sebuah tempat wisata permainan besar di Jakarta menjadi satu-satunya usul yang tidak langsung ditolak. Menjelang akhir percakapan, Julian bahkan sudah memastikan salah satu staf ayahnya bisa mengantar mereka pagi hari dan menjemput lagi menjelang sore.
Mobil berhenti tidak jauh dari pintu masuk ketika matahari sudah mulai terasa panas. Nayan turun dari mobil sambil masih membaca brosur tempat wisata yang entah didapat Julian dari mana. Sedangkan Adrian turun sambil masih menikmati snack ringan kesukaannya yang hanya tinggal separuh karena sejak di perjalanan beberapa kali diambil porsinya oleh Julian. Kemudian Freya turun sambil membetulkan tali tas kecil di bahunya, disusul Satrya yang sebelum turun sempat melipat kursinya agar Evan dan Julian bisa turun dari mobil dari kursi belakang.
Staf ayah Julian menurunkan kaca sebelum mereka menjauh dan mengingatkan Julian supaya menelepon kalau sudah selesai. Julian menjawab dengan anggukan percaya diri, lalu menambahkan bahwa kalau sampai jam lima belum ada kabar darinya, kemungkinan mereka sedang mencari jalan pulang dari dimensi lain. Satrya langsung menyebut nama Julian dengan nada peringatan, tetapi pria di balik kemudi malah tertawa sebelum membawa mobil pergi.
Setelah membeli tiket untuk masuk ke dalam area tempat wisata, Evan sudah berjalan beberapa langkah di depan ketika berbalik dan membuka kedua tangan. “Oke, hari ini enggak ada rapat, enggak ada nilai, enggak ada latihan. Kita mulai dari yang paling bikin nyesel.”
Freya memandang wahana tinggi yang terlihat dari balik pepohonan di kejauhan, lalu mengernyit kecil. “Kenapa harus yang bikin nyesel?”
“Biar setelahnya semua terasa ringan,” jawab Evan dengan keyakinan yang membuat Adrian mendengus pendek.
Adrian melewatinya tanpa memperlambat langkah. “Kalau muntah pagi-pagi juga badan terasa ringan.”
Julian tertawa cukup keras sampai Evan menyuruhnya jangan ikut mendukung pernyataan Adrian. Di depan mereka, Nayan sudah berhenti pada peta besar dan memperhatikan jalur roller coaster yang sebagian relnya terlihat menembus pepohonan, kepalanya sedikit terangkat mengikuti satu kereta yang baru saja melintas.
“Menarik,” gumam Nayan.
Evan langsung menoleh kepadanya. “Nah, kalau lu udah bilang begitu gua jadi curiga.”
Nayan memandang Evan dengan wajah yang sama datarnya. “Aku cuma melihat bentuk lintasannya.”
Julian ikut mendekat, lalu bergantian melihat Nayan dan roller coaster. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah seperti baru menemukan eksperimen baru. “Van, gua baru kepikiran sesuatu.”
“Apa Jul, kayanya menarik” tanya Evan
“Jadi …” bisik Julian kepada Evan pelan.
Dari nada suaranya saja, Satrya sudah tahu hari mereka akan mulai lebih rumit daripada yang direncanakan.
***
Rencana Evan dan Julian ternyata sederhana, mereka ingin melihat seperti apa wajah Nayan kalau dibawa naik roller coaster.
Menurut Julian, selama ini mereka sudah melihat Nayan bingung, berpikir keras, sedikit kesal, bahkan beberapa kali tersenyum tipis, tetapi seluruh variasinya masih terlalu dekat dengan ekspresi yang sama, yaitu ekspresi datar. Evan yakin roller coaster akan menyelesaikan masalah itu karena tidak mungkin seseorang tetap datar ketika tubuhnya dilempar turun dari ketinggian. Nayan mendengarkan teori tersebut tanpa terlihat merasa perlu membela diri, lalu tetap berjalan bersama mereka menuju antrean.
“Aku enggak pernah berusaha mempertahankan ekspresi,” ujar Nayan setelah Evan mengulang alasannya untuk kedua kali. “Kalau berubah, ya berubah.”
Evan menunjuknya seolah baru mendapat pengakuan penting. “Nah, gua pegang omongan lu.”
Nayan sedikit mengernyit. “Buat apa?”
“Bukti.”
Nayan tidak menjawab lagi. Ia hanya kembali mengamati kereta yang sedang naik ke titik tertinggi, lalu mengikuti gerakannya sampai menghilang di balik tikungan.
Evan langsung menyenggol Julian. “Lihat tuh. Dia pasti lagi mikir sesuatu.”
“Semua orang juga lagi mikir sesuatu,” balas Satrya dari belakang mereka.
“Beda. Kalau Nayan kelamaan diem sambil lihat benda, biasanya ada laporan.”
Nayan akhirnya menoleh. “Aku belum punya laporan.”
“NAH, ADA KATA BELUM.” seru Evan.
Freya tertawa kecil dari sisi Satrya. Mereka terus bergerak mengikuti antrean roller coaster tersebut sampai bagian rel yang paling tinggi terlihat semakin jelas, dan di sana Satrya baru sadar langkah Freya mulai tertinggal setengah langkah. Ia sempat terus maju satu pembatas sebelum berhenti dan berbalik.
Freya sedang melihat satu kereta lain yang perlahan mendaki, kedua tangannya menggenggam tali tas di depan tubuh. Satrya kembali mendekat tanpa memanggil yang lain. “Kalau kamu enggak mau yang ini, aku bisa nunggu bareng kamu di bawah.”
Freya langsung menoleh kepadanya. “Enggak usah Sat, aku mau kok.”
“Yakin? Kita masih bisa keluar dari antrean.”
“Iya,” jawab Freya sambil mengangguk, meskipun pandangannya sempat kembali ke kereta yang baru saja jatuh dari puncak. “Aku belum pernah naik yang begini aja, jadi sedikit ragu.”
Satrya memperhatikan wajahnya sebentar sebelum mengangguk. “Yasudah, kalau kamu berubah pikiran sebelum naik, bilang aja.”
Freya tersenyum kecil. “Iya.”
Saat mereka menyusul, Evan dan Julian ternyata sedang berdiri beberapa meter di depan sambil melihat ke arah mereka. Evan mengangkat kedua alis tanpa bicara, sedangkan Julian memasang senyum yang terlalu lebar untuk dianggap kebetulan. Satrya hanya mengernyit melihat kelakuan mereka, tetapi Evan buru-buru menghadap depan lagi seperti mengisyaratkan dia tidak melihat apa-apa dari interaksi Satrya sebelumnya..
Nayan yang berdiri di sebelah Julian sempat melihat Satrya, lalu berpindah kepada Freya sebelum kembali memperhatikan antrean.
Tidak ada komentar dari Nayan, namun Satrya tetap merasa sedang diperhatikan.
***
Ketika giliran mereka datang, susunan kursi terbentuk hampir tanpa diskusi. Evan dan Julian mengambil baris depan karena sejak awal paling ribut soal eksperimen, Adrian dan Nayan duduk bersebelahan di baris berikutnya, sedangkan Satrya dan Freya mendapat satu baris di belakang mereka. Pengaman turun dari atas bahu dengan bunyi berat, kemudian petugas berjalan sepanjang kereta untuk memastikan semuanya terkunci.
Satrya menarik pengamannya sendiri sekali, lalu menoleh kepada Freya yang juga sedang melakukan hal serupa. Freya sempat menarik bagian depan pengamannya dua kali sebelum Satrya bertanya apakah sudah benar-benar terkunci.
“Udah kok,” jawab Freya sambil mengangguk.
Satrya melihat kaitnya sebentar, baru kembali bersandar. “Oke.”
Dari baris depan, Evan berusaha memutar kepala sejauh mungkin. “Sat, pengaman gua enggak dicek?”
Satrya menatap punggungnya. “Lu tadi gua liat udah narik tiga kali sendiri.”
Julian ikut mencoba menoleh. “Keselamatan drummer juga berpengaruh besar terhadap kelangsungan band.”
“Lu juga udah dicek petugas,” balas Satrya, tepat ketika petugas meminta semuanya kembali menghadap depan.
Evan dan Julian akhirnya berhenti, tetapi sebelum kereta bergerak Satrya sempat melihat keduanya saling pandang seperti baru mendapat bahan untuk dipakai nanti.
Rantai di bawah kereta mulai menarik mereka ke atas. Evan masih sempat bicara keras tentang pemandangan dari ketinggian, Julian menjawab bahwa manusia memang baru menghargai tanah setelah cukup jauh meninggalkannya, sementara Adrian duduk dengan bahu santai meskipun kedua tangannya sudah menggenggam pengaman. Nayan hanya melihat jalur di depan, sedangkan di sebelah Satrya, Freya sudah menggenggam pegangan dengan kedua tangan.
Kereta mencapai titik tertinggi dan bergerak semakin lambat. Selama sepersekian detik, Satrya bisa melihat sebagian area taman terbentang di bawah mereka sebelum rel di depan mendadak menghilang ke bawah. Kereta kemudian sempat terdiam beberapa saat, dan tanpa instruksi ataupun aba-aba kereta jatuh meluncur.
Teriakan Evan langsung menembus suara angin, disusul Julian yang mengeluarkan bunyi panjang yang bahkan tidak terdengar seperti kata. Satrya merasa perutnya tertinggal di atas; rahangnya mengeras, kedua tangannya mencengkeram pengaman, dan dari sudut matanya terlihat Freya sudah memejamkan mata rapat sambil sedikit memiringkan kepala mengikuti tekanan tubuh saat kereta membelok.
Turunan kedua tidak terasa jauh lebih baik meskipun Satrya sudah tahu apa yang akan datang. Kereta melaju melewati tikungan, naik lagi, lalu beberapa kali membuat Evan mengeluarkan teriakan
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” serunya
Disusul teriakan Julian dengan suara beratnya “GUA MASIH MAU HIDUP!”
Satrya melihat Adrian dan Nayan yang duduk di depannya tidak mengeluarkan suara, tapi ia melihat kepala Adrian sedikit menunduk ketika kereta melewati tikungan zig-zag dengan kecepatan tinggi, sedangkan Nayan tetap diam seperti dia sedang duduk di bangku taman.
Satrya sendiri juga mulai merasa adrenalinnya meningkat drastis tapi masih berusaha tenang karena berfikir roller coaster ini sudah melewati beberapa tes keselamatan, tetapi Freya yang masih terpejam mulai memiringkan kepalanya lebih ke arah Satrya hingga membuat adrenalin Satrya makin meningkat.
Beberapa menit kemudian kereta akhirnya melambat dan kembali ke stasiun.
Evan turun paling dulu, tetapi langkahnya tidak secepat ketika masuk.
“Gua gak takut, iya gua ga takut” serunya sambil berjalan sempoyongan.
Julian kemudian turun menyusul sambil berseru juga “Takdir masih ngasih gua kesempatan untuk hidup!”
Adrian berdiri dari kursinya dan menarik napas panjang. Wajahnya tetap jauh lebih tenang daripada dua orang di depan, tetapi matanya masih sedikit lebih lebar dan bahunya baru benar-benar rileks setelah kedua kakinya menyentuh lantai.