Hari pertama kelas sebelas tidak membuat SMA 1 Garuda terlihat jauh berbeda dari sebelum liburan. Koridor yang sempat lengang kembali dipenuhi siswa dengan seragam yang masih terlalu rapi untuk ukuran hari sekolah biasa, papan pengumuman dipenuhi pembagian kelas baru, dan suara orang-orang yang mencari nama sendiri terdengar hampir di setiap sudut. Perubahan paling jelas justru ada di atas kertas: mulai tahun itu, mereka tidak lagi hanya dibagi berdasarkan kelas, tetapi juga penjurusan.
Satrya menemukan namanya di salah satu kelas Sains setelah mencari beberapa saat. Tidak jauh dari namanya ada Nayan, lalu Freya pada bagian lain daftar yang sama. Ketika Satrya menoleh, Nayan sudah berdiri di sebelahnya sambil membaca seluruh daftar dari atas ke bawah, sedangkan Freya baru datang beberapa langkah kemudian dengan tas menggantung di satu bahu.
Freya membaca daftar itu sebentar sebelum menoleh ke kanan, ke arah Satrya. “Kita sekelas lagi.”
Satrya mengangguk sambil melihat nama mereka sekali lagi, meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu dipastikan. “Iya. Nayan juga.”
Nayan yang masih menghadap papan akhirnya ikut menoleh. “Kemungkinannya memang cukup besar karena kita memilih jurusan yang sama.”
Satrya mendengus pelan mendengar jawabannya. “Lu enggak bisa sekali aja bilang kebetulan?”
“Bisa,” jawab Nayan dengan wajah datar. “Tapi ini bukan kebetulan penuh.”
Freya tertawa kecil, kemudian mengajak mereka masuk sebelum lorong semakin ramai. Kelas baru berarti tempat duduk baru dan beberapa wajah yang belum terlalu mereka kenal, meskipun setidaknya tiga orang dari kelompok mereka kembali berada dalam ruangan yang sama. Satrya tidak terlalu memikirkan susunan itu sampai bel pertama berbunyi dan ia melihat Freya sudah mendapat tempat duduk bersama siswi lain, sementara Nayan tentu saja memutuskan untuk satu meja kembali dengannya.
***
Jam istirahat pertama berubah menjadi sesi membandingkan pembagian kelas.
Evan sudah menunggu di dekat jalur menuju lapangan bersama Julian ketika Satrya, Freya, dan Nayan datang dari kelas Sains. Dari wajah Evan yang terlalu cerah, Satrya bisa menebak hasil pembagian kelas mereka bahkan sebelum dia bicara.
“Gua sama Julian di 11 Sosial B,” kata Evan sambil menunjuk orang di sebelahnya. “Sekolah ini masih percaya sama kami untuk sekelas.”
Julian mengangguk dengan keseriusan yang tidak cocok dengan isi kalimatnya. “Atau mereka sudah menyerah.”
Satrya melewati keduanya sambil menggeleng. “Baru hari pertama.”
“Makanya, Sat,” balas Evan sambil ikut berjalan. “Potensinya masih besar.”
Freya yang berjalan di sisi lain Satrya hanya tersenyum kecil, sedangkan Nayan tidak terlihat tertarik memperkirakan seberapa besar masalah yang bisa dibuat dua orang itu dalam satu tahun. Mereka mulai menyeberangi lapangan menuju kantin, tetapi setelah beberapa langkah Satrya baru menyadari satu orang belum terlihat.
“Put mana?” tanyanya sambil melihat ke belakang.
Evan menunjuk gedung sekolah dengan ibu jari. “11 Sosial A. Dia beda kelas lagi.”
Satrya menoleh kepadanya. “Bukannya kalian sama-sama Sosial?”
“Sama jurusan,” jawab Evan. “Gua sama Julian di 11 Sosial B, Adrian di 11 Sosial A.”
Julian ikut melihat ke arah gedung sekolah. “Tradisi harus dijaga.”
“Jangan ngomong seolah sekolah sengaja misahin dia,” tegur Satrya.
Julian mengangkat kedua tangan dan membiarkan leluconnya berhenti sampai di sana.
Mereka tetap menuju kantin karena Adrian sudah mengirim pesan bahwa dia akan menyusul. Meja yang biasa mereka pakai belum penuh, jadi Satrya mengambil satu sisi bersama Nayan, sementara Evan dan Julian langsung menguasai sisi seberang. Freya duduk di ujung yang masih kosong, meninggalkan satu kursi lain untuk Adrian.
Beberapa menit kemudian Adrian datang membawa dua roti dan segelas es jeruk. Evan belum sempat menanyakan kelas barunya ketika Adrian sudah melihat lima orang yang duduk lengkap di meja, lalu menarik kursi kosong dan duduk di tempat yang memang ditinggalkan untuknya.
“Jadi?” tanya Evan. “Gimana 11 Sosial A?”
Adrian membuka bungkus salah satu rotinya sambil bersandar. “Yah gitulah, gua sendiri lagi.”
Freya yang duduk tidak jauh darinya tampak sedikit mengernyit. “Belum ada yang kamu kenal?”
“Belum semuanya,” jawab Adrian. “Tapi tahun kemarin juga awalnya enggak kenal siapa-siapa. Nanti juga kenal sendiri.”
Freya mengangguk, lalu menunjuk meja mereka. “Kalau pas istirahat tetap ke sini, kan?”
Adrian sempat melihat meja penuh makanan dan botol minum di depannya. “Ya iya. Masa gua makan sama papan tulis.”
Evan langsung tertawa, sementara Julian mengatakan bahwa papan tulis setidaknya tidak akan meminta rotinya. Adrian merespons dengan menggeser bungkus roti kedua menjauh dari jangkauan Julian, lalu melihat makanan yang sudah ada di depan lima temannya. Nayan membawa bekal dari rumah, Freya punya kotak kecil berisi kue, Satrya sudah membeli jajanan, sementara Evan dan Julian masing-masing punya makanan sendiri.
Setelah memastikan tidak ada yang perlu ditawari, Adrian membuka roti keduanya.
Obrolan kemudian bergeser ke guru baru, jadwal pelajaran, dan perbedaan antara Sains dengan Sosial. Evan mengaku jadwalnya terlihat jauh lebih manusiawi dibanding tahun sebelumnya, sampai Nayan meminta definisi “manusiawi” yang dimaksud dan membuat Evan kehilangan minat untuk menjelaskan. Adrian lebih banyak makan sambil sesekali menambahkan komentar pendek ketika Julian mulai menggambarkan pembagian jurusan mereka seperti dua negara yang baru memisahkan diri.
Satrya baru kembali memikirkan pembagian kelas ketika bel hampir berbunyi. Tiga orang akan kembali ke kelas Sains yang sama, Evan dan Julian menuju 11 Sosial B, sedangkan Adrian kembali sendiri ke 11 Sosial A. Namun ketika mereka mulai berdiri dari meja, Adrian justru menjadi orang pertama yang menanyakan rencana Sabtu nanti.
“Latihan udah mulai lagi, kan?”
Satrya mengangguk. “Iya. Sekalian mulai cari bentuk buat Seri Tiga.”
Adrian meremas bungkus rotinya sampai kecil sebelum memasukkannya ke tempat sampah. “Yaudah. Sabtu.”
Pembicaraan tentang kelas berhenti sampai di sana.
***
Sabtu sore, studio kecil mereka kembali penuh setelah liburan.