Sabtu setelah mereka menemukan bentuk verse untuk Seri Ketiga, latihan berjalan tanpa perubahan besar. Adrian dan Julian semakin terbiasa dengan pola yang sudah mereka susun, sementara Satrya lebih banyak merapikan perpindahan menuju bagian berikutnya dan memastikan gitar tidak menutup gerakan bass. Freya mulai menemukan tempat untuk motif synth pendek di ujung beberapa bait, sedangkan Nayan menahan aksennya agar bagian itu tidak terdengar terlalu penuh. Latihan kedua akhirnya lebih banyak dihabiskan untuk mengulang bentuk yang sudah ada sampai keenamnya tidak perlu terlalu sering berhenti.
Seminggu setelahnya, Satrya justru kembali merasa ada sesuatu yang kurang pada bagian awal lagu. Verse yang sempat memakan sebagian besar latihan pertama sekarang bisa dilewati dengan cukup lancar, tetapi setiap kali mereka mencoba dari bagian paling awal, lagu itu terasa membuka terlalu cepat. Motif synth Freya langsung muncul di tengah permainan penuh, sementara gitar, bass, dan drum seolah meminta perhatian pada saat yang sama.
Satrya mengangkat tangan setelah satu putaran dan menunggu suara terakhir hilang. “Coba intro-nya jangan langsung begini. Gua pengin sebelum kita semua masuk ada sesuatu dulu, biar pas intro kebuka bedanya lebih kerasa.”
Evan menurunkan mikrofon sedikit. “Berarti dibikin lebih panjang?”
“Bukan panjangnya.” Satrya memutar ulang beberapa detik bagian awal dari ponselnya, kemudian menghentikannya lagi sambil mencoba membayangkan susunan yang sejak tadi belum terdengar utuh di kepalanya. Pandangannya akhirnya berpindah ke kiri, ke arah Freya. “Kayaknya kita butuh satu suara yang muncul duluan.”
Freya menangkap arah tatapannya. “Aku?”
“Iya.” Satrya menggeser sedikit posisi ponselnya agar bagian motif utama terlihat pada catatan mereka. “Kamu coba motif yang biasa, tapi nadanya diturunin. Sendirian dulu sebelum yang lain masuk.”
Freya memindahkan tangannya ke bagian tuts yang lebih rendah dan memainkan motif pendek itu sekali. Hasil pertama terdengar terlalu berat, sampai bentuk melodinya hampir tenggelam dalam warna synth yang lebih gelap. Satrya meminta sedikit dinaikkan, lalu Freya mencoba lagi dengan posisi yang tidak serendah sebelumnya.
Kali ini motif yang sama masih mudah dikenali, tetapi warnanya berubah. Nada-nada pendek itu tidak lagi terdengar seperti bagian yang ingin memimpin seluruh band, melainkan sesuatu yang belum benar-benar terbuka. Satrya membiarkan Freya menyelesaikan satu putaran sebelum mengangguk.
“Yang itu. Setelah kamu selesai, baru Julian masuk pelan-pelan.”
Freya mengangguk, sedangkan Julian mulai memperkirakan tempat masuknya dari belakang drum. Pada percobaan pertama, pukulan hi-hat cepat muncul terlalu dekat dengan nada terakhir synth sehingga kedua bagian terasa seperti saling mengejar. Satrya langsung mengangkat tangan sebelum Nayan atau instrumen lain ikut masuk.
Julian sudah lebih dulu memahami masalahnya dan melihat ke arah Satrya. “Gua terlalu cepet masuk?”
“Iya. Freya selesai dulu, kasih sedikit ruang, baru lu mulai,” jawab Satrya. Ia kemudian melihat Nayan yang sejak tadi mendengarkan sambil memegang gitarnya. “Setelah hi-hat, lu punya sesuatu enggak buat narik ke intro?”
Nayan mempertimbangkannya beberapa detik sebelum menggesekkan pick pada senar gitarnya. Suara tipis dan kasar itu perlahan naik tanpa membentuk riff baru, cukup untuk memberi tekanan sebelum bagian penuh masuk. “Kalau begini, transisinya bisa dibangun tanpa menambah melodi baru.”
Satrya langsung mengangguk. “Coba.”
Mereka kembali dari awal. Freya membuka sendirian dengan motif synth rendah, lalu memberikan sedikit ruang setelah nada terakhir sebelum Julian mulai memukul hi-hat dengan cepat beberapa kali. Nayan menyusul dengan gesekan pick yang perlahan naik di atas keduanya, tetapi kali ini Julian terlalu cepat masuk dengan snare tepat ketika Evan baru menarik napas untuk memberi hitungan.
Satrya kembali menghentikan mereka. “Yang ini urutannya udah benar, cuma semuanya masih buru-buru. Nayan selesai naik dulu, baru Van kasih hitungan. Julian masuk setelah ‘go’, Adrian nyusul, baru gitar sama synth kebuka.”
Adrian yang sejak tadi menunggu bagian bass mengangguk. “Gua fingering biasa dulu?”
“Iya,” jawab Satrya. “Slap tetap baru pas verse. Intro jangan terlalu banyak gerak dulu.”
Evan ikut mengingat titik masuknya. “Berarti gua jangan motong suara Nayan.”
“Jangan. Tunggu sampai hampir habis.”
Percobaan berikutnya dimulai tanpa tergesa-gesa. Motif rendah Freya bergerak sendirian di dalam studio, kemudian hi-hat Julian muncul setelah jeda pendek dan Nayan menambahkan tekstur gitar di atasnya. Evan benar-benar menunggu sampai suara itu hampir mencapai ujung sebelum akhirnya mendekat ke mikrofon.
“One, two, three, go!”
Julian masuk dengan pukulan snare berulang dan Adrian menyusul dengan fingering bass yang stabil. Satrya serta Nayan kemudian membuka permainan gitar hampir bersamaan, tepat ketika Freya memindahkan motif yang sama ke register yang lebih tinggi. Bagian yang beberapa detik sebelumnya hanya diisi satu synthesizer berubah menjadi permainan penuh tanpa terasa seperti mereka sekadar menaikkan volume.
Satrya membiarkan mereka terus sampai mendekati verse sebelum akhirnya mengangkat tangan. Kali ini tidak ada bagian yang terasa berebut masuk, dan pembukaan baru itu justru membuat intro utama terdengar lebih besar tanpa perlu ditambah apa-apa.
Freya menoleh ke kanan sambil tetap meletakkan jari di atas tuts. “Yang tadi sudah pas?”
Satrya membalas tatapannya dan mengangguk. “Iya. Aku suka yang tadi. Motif bawahnya tetap begitu, terus pas intro kamu naikkan ke yang biasa.”
Jari Freya sempat berhenti di atas panel synthesizer. Ia kemudian melihat ke bawah dan memutar satu pengaturan sedikit sebelum mengembalikannya hampir ke tempat semula. “Berarti melodinya sama, cuma warnanya berubah.”
“Iya. Jadi dari awal orang udah pernah dengar bentuknya.”
Freya mengangguk sambil mencatat perubahan tersebut. Di sisi kanan Satrya, Evan terlihat mulai memasang senyum yang terlalu mudah dikenali, sehingga Satrya langsung mengangkat telunjuk tanpa menoleh penuh.
“Jangan mulai deh.”
Evan terkekeh pendek karena bahkan belum membuka mulut. “Gua enggak ngomong apa-apa.”
Julian tertawa dari belakang drum, sementara Adrian hanya melihat mereka sebentar sebelum kembali pada bass. Nayan menatap Satrya beberapa detik lebih lama, lalu menurunkan pandangan pada catatan lagu tanpa ikut berkomentar. Satrya memilih mengabaikan seluruh reaksi itu dan meminta mereka mengulang pembukaan sekali lagi agar bentuk barunya tidak hanya berhasil karena kebetulan.
***
Menjelang waktu sewa selesai, mereka sudah bisa melewati pembukaan sampai verse tanpa berhenti. Satrya belum menganggap aransemen itu final karena chorus, interlude, dan bagian gitar Nayan masih perlu banyak dibentuk, tetapi setidaknya lagu sekarang punya arah sejak nada pertama. Motif synth rendah Freya menjadi pintu masuk, kemudian instrumen lain hadir satu per satu sebelum seluruh bagian benar-benar terbuka.
Julian baru selesai memasukkan stik ke tas ketika mendadak menepuk dahinya sendiri. “Eh, gua hampir lupa. Besok ada yang mau main enggak? Gua dapet promo tempat arcade, jadi kalo kita top up kartunya itu ada diskon 30%, besok terakhir.”
Evan yang sedang memasukkan botol minum ke tas langsung tertarik. “Gua ikut. Jangan pagi-pagi aja.”
Freya berpikir sebentar sambil mengecek sesuatu di ponselnya. Setelah memastikan tidak ada jadwal lain, ia ikut mengangguk. “Aku bisa kalau menjelang siang.”
Nayan meminta Julian menunjukkan lokasi dan jam promonya terlebih dahulu. Ia membaca layar beberapa detik, memastikan waktunya, kemudian mengembalikan ponsel tanpa keberatan. Satrya sendiri juga tidak punya agenda khusus untuk hari Minggu, sehingga rencana yang baru muncul beberapa detik tadi dengan cepat mendapatkan lima jawaban setuju.
Julian akhirnya melihat Adrian yang belum mengatakan apa pun. “Put, lu gimana?”
Adrian masih menarik resleting tas ketika pertanyaan itu datang. Tangannya berhenti beberapa detik, kemudian ia melihat layar ponselnya sendiri sebentar sebelum memasukkannya kembali ke saku. Saat Evan mulai membahas jam kumpul dengan Julian, Adrian akhirnya mengangkat kepala.
“Yaudah, oke.”
Tidak ada yang menanyakan kenapa jawabannya datang paling akhir. Julian langsung menetapkan waktu menjelang siang, Evan mulai menyebut permainan yang ingin dicoba, sementara Adrian menyampirkan tas ke bahunya seperti keputusan itu sudah selesai. Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan studio dengan rencana yang bahkan belum ada ketika latihan dimulai.
Buat Satrya, itu hanya terdengar seperti satu hari Minggu yang kebetulan kosong.
***
Tempat permainan itu jauh lebih berisik daripada studio. Suara mesin balap, bola basket yang menghantam ring, musik elektronik dari permainan ritme, dan teriakan anak-anak bercampur bahkan sebelum keenamnya benar-benar masuk ke area utama. Lampu warna-warni dari deretan mesin menyala di bawah penerangan pusat perbelanjaan, sementara counter hadiah di bagian belakang dipenuhi boneka dan barang kecil yang digantung dari berbagai sisi.