Pesan Adrian masuk menjelang Sabtu siang, beberapa jam sebelum jadwal latihan mereka dimulai.
Adrian:
Gua enggak bisa latihan sore ini. Harus bantu bapak gua di pasar, ganti Minggu kemarin.
Satrya membaca pesan itu dua kali. Ia sudah tahu ayah Adrian bekerja di pasar sejak mereka masih kecil, tetapi bagian terakhir membuatnya berhenti sedikit lebih lama. Minggu kemarin Adrian berada bersama mereka hampir seharian, dari permainan basket sampai berdiri sambil makan kentang di depan mesin capit, dan baru sekarang Satrya tahu ternyata ada sesuatu yang digeser agar dia bisa ikut.
Evan:
Oke Put, aman. Kita lanjut dulu.
Julian:
Siap. Jangan lupa oleh-oleh pasar.
Beberapa detik kemudian Adrian membalas.
Adrian:
Lu kira gua wisata.
Satrya sempat mengetik pertanyaan, lalu menghapusnya. Kalau Adrian bilang sedang mengganti Minggu kemarin, berarti ada jadwal yang memang biasa dia jalani pada hari itu, tetapi menanyakannya lewat grup terasa tidak perlu. Ia memilih menyimpan pertanyaan tersebut untuk lain waktu, lalu memasukkan ponsel ke saku setelah memastikan latihan tetap berjalan seperti biasa.
***
Studio terasa sedikit lebih lapang ketika Satrya masuk sore itu.
Bukan karena ruangan berubah. Drum masih berada di tempat yang sama, synthesizer tetap di sisi yang biasa dipakai Freya, dua gitar elektrik tergantung pada stand, dan bass studio masih berdiri di dekat posisi yang biasanya ditempati Adrian. Hanya saja, untuk pertama kalinya sejak mereka membentuk Resonansi, satu orang benar-benar tidak datang ke latihan.
Nayan sudah berada paling dekat pintu ketika Satrya masuk, sementara Julian sedang menyiapkan drum dan Evan berdiri bersama Freya di sisi lain ruangan. Setelah tas diletakkan, Satrya mengambil gitar elektrik dari stand seperti kebiasaannya, tetapi pandangannya kembali jatuh ke bass yang masih berada di stand.
Evan ikut melihat arah yang sama. “Terus bass gimana?”
Satrya sempat memikirkan kemungkinan mereka berlatih tanpa bagian itu sama sekali, tetapi sebagian besar susunan yang sedang dikerjakan membutuhkan nada bawah agar perpindahannya bisa diperiksa dengan benar. Ia akhirnya meletakkan kembali gitar yang baru saja diambil.
“Gua main bass aja hari ini.”
Julian melihatnya dari belakang drum. “Masih bisa emang?”
“Dasarnya masih bisa, Jul.”
Nayan tidak terlihat keberatan dengan keputusan itu. “Untuk mengecek struktur lagu seharusnya cukup. Bagian gitar rhythm-mu bisa dikurangi sementara.”
Satrya mengangguk sambil mengambil bass studio dan memasang strap. Posisi instrumen itu tidak asing sepenuhnya; ia pernah memainkan bass pada tugas Seni Budaya dan beberapa kali memegangnya untuk menunjukkan titik masuk kepada Adrian. Namun berbeda dengan gitar, Satrya masih perlu melihat posisi jarinya lebih lama sebelum merasa cukup yakin untuk mulai.
Freya memperhatikan dari belakang synthesizer. “Kalau ada bagian yang susah, kita bisa berhenti dulu.”
Satrya menoleh ke kiri. “Harusnya aman. Aku cuma enggak bisa main kayak Adrian.”
“Yang penting dicoba dulu,” jawab Freya sambil membuka catatan latihannya.
Evan sudah mengambil posisi di depan mikrofon ketika Satrya selesai memeriksa suara bass. Tidak ada pembicaraan lebih jauh mengenai Adrian, dan beberapa menit kemudian lima orang itu bersiap menjalankan pembukaan yang sudah mereka bentuk minggu sebelumnya.
Freya memulai dengan motif synth rendah. Julian menunggu nada terakhir sebelum masuk menggunakan hi-hat, Nayan memberi tekstur dari gitarnya, lalu Evan mengambil napas setelah seluruh lapisan awal mendapat ruang.
“One, two, three, go!”
Julian masuk dengan pukulan snare berulang, dan Satrya mengikuti menggunakan bass pada bagian yang biasanya dimainkan Adrian. Ia tidak mencoba apa pun yang rumit; jarinya hanya mengikuti nada dasar dengan gerakan yang cukup untuk menjaga bagian bawah lagu tetap terdengar. Ketika intro penuh terbuka, Nayan mengambil lebih banyak ruang gitar daripada biasanya untuk menutup bagian rhythm yang ditinggalkan Satrya.
Mereka melewati intro tanpa masalah berarti.
Satrya bahkan sempat mengira latihan hari itu akan jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkannya. Bagian bass pada pembukaan tidak membutuhkan gerakan yang terlalu rumit, sehingga selama ia tidak terlambat berpindah nada, struktur lagu masih terdengar seperti yang mereka susun minggu lalu.
Evan menyelesaikan potongan pertama vokalnya, kemudian memberi tanda kecil ketika mereka mendekati verse. Satrya mempersiapkan tangan kirinya dan mencoba mengikuti pola yang selama beberapa minggu terakhir dimainkan Adrian.
Dua nada rendah keluar dengan benar.
Satrya kemudian mencoba memberi tekanan pada bagian berikutnya, tetapi gerakannya tidak secepat Adrian dan hasilnya terdengar lebih rata. Julian tetap masuk menggunakan pola yang biasa, hanya saja satu pukulannya jatuh terlalu cepat dan bertabrakan dengan nada bass yang masih ditahan Satrya.
Satrya segera mengangkat tangan. “Ulang verse.”
Julian mengangguk dari belakang drum. “Tadi gua kayanya kecepetan ya?”
“Sedikit. Mulai lagi dari sebelum vokal masuk.”
Freya mengembalikan tangannya ke posisi awal potongan tersebut, sementara Nayan menunggu tanda Satrya. Tidak ada yang menganggap kesalahan pertama itu aneh; mereka memang biasa mengulang bagian yang timing-nya belum tepat sampai dua atau tiga kali sebelum melanjutkan.
Percobaan kedua dimulai.
Kali ini Julian menahan pukulannya sedikit lebih lama. Satrya juga berusaha memberi jarak seperti yang biasa dimainkan Adrian, tetapi ia harus memikirkan setiap perpindahan sebelum jarinya bergerak. Nada yang keluar tetap benar dan tempo tidak benar-benar rusak, hanya saja setelah beberapa ketukan Julian kembali kehilangan tempat untuk masuk.
Pukulan snare berikutnya terdengar terlalu jauh. Satrya menghentikan permainan lagi.
Julian mengerutkan kening sambil melihat bass di tangan Satrya. “Sat.”
“Kenapa, Jul?”
“Gua harus main apaan?” tanya Julian.
Pertanyaan itu membuat Satrya ikut mengernyit. Sejauh yang ia dengar, bagian drum tidak perlu berubah hanya karena Adrian tidak datang. “Yang biasa. Minggu lalu lu main apa, ya itu.”
Julian menatap drum beberapa detik sebelum melihat Satrya lagi. “Nah, gua juga main yang biasa. Tapi kok kaya sendirian?”
Evan yang sejak tadi berdiri di depan mikrofon menurunkannya sedikit. “Maksud lu kosong?”