Adrian datang ke studio Sabtu berikutnya dengan dua bungkus roti di tangan, seperti absennya minggu lalu tidak pernah menjadi sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Setelah menaruh tas, ia menyerahkan satu bungkus kepada Julian yang belum sempat makan, lalu berjalan ke bass studio dan mulai memeriksa volumenya. Satrya menunggu sampai yang lain sibuk dengan alat masing-masing sebelum mendekat.
“Kok lu enggak pernah bilang ke gua kalau Minggu lu kerja?” tanyanya.
Adrian menoleh sebentar, lalu mengangkat bahu. “Ya buat apa gua bilang? Enggak ngaruh juga, kan?”
Jawaban itu terdengar sesederhana ketika Adrian menjelaskan sesuatu yang menurutnya sudah selesai. Satrya sendiri sudah tahu ayah Adrian bekerja sebagai kuli pasar sejak mereka masih kecil, tetapi baru minggu lalu ia tahu Adrian ternyata rutin ikut membantu setiap Minggu sejak masuk SMA. Selama lebih dari setahun, mereka hampir selalu bertemu pada Sabtu untuk latihan tanpa Satrya pernah bertanya apa yang dilakukan sahabatnya sehari setelahnya.
“Ya bukan soal ngaruh apa enggak. Gua kan temen lu,” ujar Satrya.
“Iya, makanya sekarang lu tahu.” Adrian kembali melihat bass, lalu setelah memetik beberapa nada untuk memastikan volumenya, ia justru bertanya, “Kemarin latihan gimana?”
“Jalan. Gua isi bass sementara.”
Adrian mengangguk begitu saja. “Oh. Yaudah berarti aman. Lu masih bisa bass juga, kan.”
Satrya sempat mengira maksud Adrian hanya latihan mereka tidak terbuang. “Cuma dasarnya. Bagian lu enggak bisa gua mainin.”
“Ya cukup buat latihan jalan.”
Satrya menatapnya sedikit lebih lama. Ia tidak tahu kenapa Adrian selalu kembali ke kata jalan, padahal Satrya baru saja mengatakan bahwa bagian bass yang sebenarnya tidak bisa ia mainkan. Adrian sendiri sudah beralih memeriksa posisi strap, seolah keberhasilan mereka melewati satu sore latihan memang sudah menutup seluruh persoalan.
Dari depan mikrofon, Evan akhirnya memanggil mereka untuk mulai. Julian ikut menyahut bahwa pembicaraan sahabat masa kecil bisa dilanjutkan setelah waktu studio berhenti berjalan, sementara Freya sudah berdiri di belakang synthesizer dengan catatan terbuka. Satrya memilih kembali ke gitar dan membiarkan pertanyaannya mengenai Adrian berhenti di sana untuk sementara.
Mereka melewati pre-intro dan intro tanpa banyak pembahasan. Motif synth Freya dibuka dari register rendah, Julian memberi hi-hat setelah melodi mendapat ruang, tekstur gitar Nayan masuk sesaat sebelum hitungan Evan membawa seluruh instrumen ke bagian utama. Satrya kembali memegang rhythm guitar, sehingga lapisan gitar yang minggu sebelumnya harus dikurangi sekarang terdengar penuh lagi.
Perbedaan yang lebih jelas muncul ketika mereka memasuki verse.
Adrian memberi dua nada rendah dengan jarak yang sudah terbentuk sejak beberapa latihan sebelumnya, menutupnya dengan satu tekanan pendek, lalu meninggalkan ruang sebelum Julian masuk. Pukulan drum menjawab hampir tanpa jeda, kemudian bass bergerak lagi dan Julian mengikuti perubahan berikutnya seolah keduanya sudah tahu lebih dulu di mana yang lain akan berhenti. Satrya tidak perlu memberikan arahan apa pun sampai beberapa bar pertama selesai.
“Nah. Ini,” ujar Julian tiba-tiba sambil mengangkat salah satu stiknya.
Adrian menoleh dengan dahi berkerut. “Apaan?”
Julian sempat menunjuk bass lalu drumnya sendiri, tetapi rupanya tidak menemukan penjelasan yang lebih baik. “Ya ini. Enak lagi.”
“Dari tadi juga gua main normal,” balas Adrian, lalu bersiap memasang jarinya kembali pada senar.
Satrya tahu persis apa yang Julian maksud. Seminggu lalu, verse yang sama harus disederhanakan supaya permainan drum tidak terus menunggu sesuatu yang Satrya tidak mampu berikan. Sekarang bagian itu kembali bergerak tanpa mereka perlu memikirkan bagaimana bass dan drum saling mengisi.
“Ulang dari verse,” kata Satrya.
Mereka menjalankannya sekali lagi. Kali ini Satrya sengaja tidak terlalu memperhatikan gitarnya sendiri dan lebih banyak mendengar bagian bawah lagu; Adrian bukan sekadar berpindah dari satu nada ke nada berikutnya, tetapi mengubah tekanan dan jarak permainannya mengikuti ruang yang ditinggalkan Julian. Ketika satu bagian hampir terlalu padat, bass mundur sedikit, lalu muncul lagi setelah drum selesai memberikan aksennya.
Begitu mereka berhenti, Adrian hanya menatap Satrya sambil tersenyum kecil. “Tuh, jalan juga.”
Satrya mengernyit. “Ya sekarang lu ada.”
“Iya, tapi maksud gua kemarin juga bisa dilanjutin.” Adrian merapikan posisi bass di bahunya. “Berarti aman.”
Satrya hampir mengatakan bahwa bisa dilanjutkan bukan berarti permainan mereka terdengar sama, tetapi Adrian sudah menunduk lagi ke instrumennya. Bagi Adrian, tampaknya fakta paling penting hanyalah latihan minggu lalu tidak dibatalkan dan lagu tetap bisa dimainkan sampai selesai. Semua yang terjadi di antaranya seperti tidak masuk hitungan selama hasil akhirnya masih bergerak ke depan.
Satrya akhirnya membalik halaman catatannya. Masih ada beberapa bagian aransemen yang belum mereka bentuk, dan salah satunya berada tepat setelah chorus pertama.
“Sekarang kita cari interlude.”
Chorus yang sudah mereka susun terdiri dari dua bagian dengan intensitas berbeda. Pada bait pertama, permainan masih bergerak dalam tenaga sedang; gitar memberi riff dari senar bawah sementara hi-hat Julian menjaga dorongan, seolah seluruh lagu sedang menahan sesuatu sebelum dilepas. Menjelang bait berikutnya, Adrian mempercepat permainan bass beberapa ketukan hingga terdengar semakin rapat, baru kemudian seluruh instrumen membuka penuh bersama suara Evan.
Mereka memainkan pola itu sekali untuk mengingat titik akhirnya. Evan membawa bait kedua dengan tenaga yang lebih besar, kemudian seluruh bagian berhenti setelah satu kata terakhir keluar dari mikrofon.
“Tonight.”
Ruangan mendadak hanya menyisakan dengung amplifier.
Satrya melihat catatannya. Mereka sudah beberapa kali sampai pada titik itu, tetapi belum pernah benar-benar memutuskan apa yang harus mengisi ruang sebelum verse kedua. Memberikan bagian tersebut pada gitar sebenarnya paling mudah, hanya saja sejak awal motif yang paling sering muncul di lagu ini bukan berasal dari Satrya maupun Nayan.
Ia menoleh ke kiri. “Frey, coba motif intro kamu lagi, tapi naikin.”
Freya yang sudah bersiap menunggu instruksi memiringkan kepala sedikit. “Lebih tinggi dari yang di intro?”
“Iya. Langsung masuk setelah Evan selesai.” Satrya menunjuk bagian kosong pada catatannya. “Motifnya sama, cuma kali ini kamu yang bawa bagian utamanya.”
Freya menggeser posisi tangannya ke sisi kanan synthesizer. Satrya meminta yang lain tidak ikut dulu pada percobaan pertama, lalu Evan mengulang bagian akhir chorus sampai kembali menutupnya dengan “tonight”. Begitu vokal berhenti, Freya memainkan motif yang sama dalam register jauh lebih tinggi.
Karakter melodinya langsung berubah. Bentuk nadanya masih dapat dikenali sebagai motif yang membuka lagu, tetapi suara synth sekarang terasa lebih terang dan tajam, keluar sendiri di atas sisa dengung instrumen lain. Satrya membiarkannya berjalan sampai selesai sebelum meminta Freya mengulang.
“Kali ini gitar masuk di belakang,” ujarnya kepada Nayan. “Full, tapi jangan ambil melodinya. Kita cuma support Freya.”
Nayan mengangguk tanpa keberatan, sementara Satrya meminta Adrian memainkan bass lebih lurus dan Julian memberi dorongan sedikit lebih cepat daripada verse. Mereka lalu mengulang dari ujung chorus, dan begitu Evan selesai, kelima instrumen masuk bersama motif tinggi Freya.
Dua gitar menggenjreng penuh, tetapi tidak mencoba mengambil perhatian. Bass Adrian menjaga bagian bawah tetap bergerak, Julian membuat ritmenya terasa lebih terdorong, sedangkan melodi tetap berada jelas pada synth. Untuk beberapa detik, Satrya mendengar gitar yang sedang ia mainkan sendiri hanya sebagai lapisan di belakang suara Freya.
Itu justru terdengar benar.
Mereka mencapai ujung motif hampir bersamaan, tetapi perpindahan menuju verse kedua terasa terpotong. Freya melepas nada terakhir tepat ketika gitar dan drum berhenti, membuat bagian instrumental tadi seperti belum benar-benar menyelesaikan kalimatnya.