Resonansi

Lana
Chapter #39

Pelengkap

Beberapa Sabtu berlalu tanpa perubahan besar pada lagu yang sudah mereka susun. Mereka memainkan pola yang sama dari awal sampai akhir, berhenti kalau ada bagian yang meleset, lalu mengulangnya tanpa perlu lagi membongkar struktur seperti beberapa minggu sebelumnya. Solo Nayan semakin bersih, interlude Freya tidak lagi perlu diarahkan, dan chorus terakhir sudah bisa mereka lewati tanpa Satrya berkali-kali mengangkat tangan.

Yang mulai menarik perhatian Satrya justru sesuatu yang lebih kecil.

Sore itu mereka baru saja menyelesaikan satu putaran ketika Satrya membuka buku catatannya dan melihat tanda kecil yang dibuat minggu sebelumnya. Ada satu bagian menjelang verse kedua yang sebenarnya tidak bermasalah, tetapi ia merasa bass dan drum masih bisa diberi sedikit ruang tambahan. Adrian sedang duduk sambil bersandar, bass studio masih melintang di pahanya, ketika Satrya meminta pendapat.

“Put, yang sebelum verse kedua ini kalau bass-nya mundur sedikit gimana?”

Adrian melihat sekilas ke arah buku Satrya, lalu bahunya terangkat. “Terserah lu aja.”

“Gua nanya menurut lu.”

“Ya bagus-bagus aja.” Adrian kembali bersandar, telapak kirinya masih menahan leher bass. “Lu yang atur.”

Satrya sempat menunggu kalau-kalau ada tambahan, tetapi Adrian sudah mengalihkan pandangan ke Julian yang sedang mengambil botol minum di dekat drum. Jawaban seperti itu bukan hal baru; Adrian memang sejak dulu paling gampang berkata yaudah kalau menurutnya dua pilihan sama-sama bisa jalan. Hanya saja, dalam dua atau tiga minggu terakhir, jawaban tersebut muncul hampir setiap kali Satrya bertanya soal bagian bass.

Julian kembali ke kursinya sambil membuka botol. “Jadi diganti?”

Satrya masih melihat Adrian. “Belum tahu.”

Adrian menoleh lagi. “Ya coba aja. Kalau enggak enak balikin.”

“Lu enggak punya pilihan sendiri?”

“Yang penting ada bawahnya.”

Kalimat itu keluar sambil Adrian mengetuk pelan badan bass dengan dua jari, lalu ia tersenyum kecil seolah baru memberikan solusi paling praktis di ruangan. Julian tidak menanggapinya dan hanya kembali duduk, sementara Nayan masih membaca catatan di dekat pintu. Satrya akhirnya mencoret tanda tadi tanpa mengubah apa pun.

Mereka melanjutkan latihan.

Kebiasaan yang sama ternyata tidak cuma muncul di studio.

Beberapa hari kemudian, saat istirahat siang, Satrya, Nayan, dan Freya sudah lebih dulu sampai di kantin ketika Evan dan Julian datang dari arah lapangan. Adrian menyusul beberapa menit setelahnya, membawa nampan sendiri dari antrean lain sebelum mengambil kursi kosong di ujung meja. Obrolan mereka tidak jauh dari ujian semester yang mulai mendekat dan jadwal latihan yang otomatis terasa semakin sempit.

“Kalau Desember udah ujian, berarti Sabtu sebelum minggu ujian jangan lama-lama,” ujar Julian sambil menarik piring gorengannya lebih dekat. “Gua enggak mau nilai gua hancur gara-gara cymbal.”

Evan menatapnya. “Lu ngomong kayak selama ini belajar tiap Sabtu malam.”

“Belajar bisa dimulai kapan saja.”

Nayan mengangkat mata dari bekalnya. “Secara teknis benar.”

“Terima kasih, Nay.”

“Tapi itu tidak berarti kamu akan melakukannya.”

Julian berhenti mengangkat gorengan dan menatap Nayan beberapa detik. “Dukungan lu selalu punya belati di belakangnya.”

Adrian terkekeh sambil membuka bungkus sedotan. “Intinya lu enggak belajar.”

“Put, jangan diterjemahin.”

Satrya membiarkan mereka berdebat sambil melihat enam minuman yang tadi dibawakan Evan dari kios sebelah. Evan membeli tanpa bertanya lebih dulu, jadi pilihannya campur: dua soda, satu teh dingin, dua minuman rasa buah, dan satu susu kemasan. Freya yang duduk di sebelah kiri Satrya belum mengambil apa pun karena masih membantu Nayan memindahkan buku dari kursi kosong.

Satrya menarik susu itu lebih dulu dan meletakkannya dekat tangan Freya.

“Frey, ini buat kamu.”

Freya yang baru duduk menoleh ke kanan. “Hah?”

“Kamu biasanya minum susu, kan?”

“Iya, tapi...” Pandangannya turun ke kemasan di depan tangannya, lalu bergeser ke minuman Satrya. “Terus kamu?”

“Teh.”

Satrya sudah mengambil gelas teh dingin sebelum pertanyaannya selesai. Tidak ada yang perlu dipikirkan; dari enam pilihan yang ada, susu jelas milik Freya dan teh paling masuk akal untuk dirinya. Ia baru sadar Freya masih belum membuka minumannya ketika perempuan itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Makasih, Sat.”

“Iya.”

Freya menunduk, tetapi ujung sedotan yang hendak dimasukkannya justru membentur sisi lubang kecil di atas kemasan. Ia mencoba sekali lagi sebelum akhirnya berhasil, lalu langsung mengalihkan perhatian ke makanan di depannya. Satrya sempat melihat gerakan itu sebentar sebelum suara Evan dari seberang meja memotong.

“Kenapa lu ngeliatin susu?”

Satrya langsung menoleh kepadanya. “Gua enggak ngeliatin susu.”

“Gua enggak bilang lu ngeliatin siapa-siapa.”

“Ya emang susu.”

Evan menyandarkan tubuh ke kursi dengan senyum yang mulai melebar, tetapi sebelum dia sempat melanjutkan, Julian menyenggol lengannya dan menunjuk Adrian. “Eh, Put. Kalau nanti sebelum Seri Tiga Satrya sakit, lu bisa jadi arranger enggak?”

Adrian sedang memasukkan sedotan ke es jeruknya dan hanya mengangkat alis. “Ngapain gua?”

“Ya cadangan.”

“Suruh Nayan.”

Nayan langsung menggeleng. “Aku tidak mau.”

“Kenapa langsung nolak?” tanya Evan.

“Aku ingin main gitar.”

Adrian menyandarkan punggung ke kursi. “Nah, berdoa aja Satrya sehat terus.”

Julian masih belum puas. “Kalau Sat enggak bisa main gitar?”

Adrian mengaduk es di gelasnya, lalu menjawab tanpa banyak berpikir, “Gua enggak bisa rhythm kayak dia. Tapi kalau bass gua yang kosong, dia masih bisa isi.”

Satrya yang tadi hendak minum berhenti sebentar.

Julian tertawa kecil. “Lu kok malah nyari cara diri sendiri enggak ada?”

“Kan contoh lu soal cadangan.”

“Bukan berarti lu harus menghilangkan diri dari simulasi.”

Adrian tersenyum. “Ya realistis aja.”

Obrolan kembali bergeser setelah Evan mulai membuat skenario semakin tidak masuk akal tentang Julian bernyanyi kalau semua orang mendadak sakit. Satrya ikut menanggapinya sekali-dua kali, tetapi kalimat Adrian tadi masih tertinggal di kepalanya. Bukan karena isinya benar-benar baru, melainkan karena bentuknya terdengar terlalu mirip dengan beberapa jawaban yang sudah ia dengar selama beberapa minggu terakhir.

Lihat selengkapnya