Ujian semester sudah selesai, dan beberapa hari terakhir sebelum libur akhir tahun lebih sering dipenuhi pembagian nilai daripada pelajaran baru. Di kelas 11 Sains D, Satrya sudah mendengar beberapa orang mengeluhkan hasil matematika bahkan sebelum lembar jawabannya dikembalikan. Nayan justru menerima nilai sembilan puluh empat tanpa banyak perubahan ekspresi, kemudian menyimpan kertas itu di antara buku-bukunya seperti baru menerima tugas yang sudah diperiksa. Satrya sempat membandingkannya dengan nilai sendiri sebelum memutuskan bahwa memperhatikan Nayan tidak akan membuat angkanya bertambah.
Kejutan yang lebih besar datang saat istirahat, ketika keenamnya berkumpul di kantin dan Adrian meletakkan kertas nilai di tengah meja. Ia melakukannya sambil membuka minuman, tanpa mengatakan apa pun sampai Julian yang duduk di dekatnya lebih dulu membaca angka pada bagian atas kertas. Evan ikut membungkuk untuk melihat, lalu spontan menurunkan gelas yang baru saja hendak diminumnya.
“Lu dapat sembilan dua?” tanya Julian.
Adrian mengangkat pandangan dari es jeruknya. “Matematika. Kenapa?”
Evan mengambil kertas itu untuk memastikan angkanya. “Gua kira lu selama ini cuma mikirin makan sama bass.”
“Terus matematika harus dipikirin sambil nangis?” Adrian mengambil kembali kertasnya, lalu menyelipkannya di bawah kotak makanan supaya tidak terkena tumpahan minuman.
Julian tertawa kecil. “Gua kira kemampuan berhitung lu cuma dipakai buat nyari makanan paling murah.”
“Berarti latihan gua berguna.”
Satrya ikut melihat angka itu sekali lagi. Pelajaran matematika jurusan Sosial memang tidak sepenuhnya sama dengan yang mereka dapat di Sains, tetapi nilai sembilan puluh dua tetap tinggi. Ia baru hendak mengambil minum ketika Adrian mengalihkan perhatian kepadanya.
“Lu berapa, Sat?”
Satrya mulai melipat kertas nilainya. “Beda pelajaran, Put.”
“Gua cuma nanya angka.”
“Enggak penting.”
Evan langsung menyandarkan siku ke meja dengan senyum yang mulai melebar. “Berarti kalah.”
Satrya menoleh kepadanya. “Kalah apaan? Jurusannya aja beda.”
“Pembelaan pertama.”
“Van.”
Adrian mengambil minumannya lagi sambil menahan senyum. “Yang penting gua tahu nilai gua lebih tinggi dari lu.”
“Lu sekarang sombong?”
“Sedikit.”
Freya tertawa dari sisi kiri Satrya, sementara Nayan yang sejak tadi lebih sibuk dengan bekalnya akhirnya ikut melihat kertas Adrian. Ia mengangguk kecil ketika Evan bertanya apakah dirinya tidak terkejut, lalu menjelaskan bahwa tidak ada alasan menganggap Adrian tidak mampu mendapat nilai tinggi. Evan sempat membuka mulut untuk membantah, tetapi Adrian lebih dulu mengambil kembali kertasnya dan menyimpannya ke dalam tas.
“Udah ah. Daripada nilai gua kalian lipet-lipet.”
Percakapan beralih ke hasil ujian yang lain, rencana liburan, dan tugas-tugas yang akhirnya tidak perlu mereka pikirkan selama beberapa minggu. Evan sempat mengeluhkan nilainya sendiri sebelum Julian mengingatkan bahwa selama masa ujian ia lebih sering mengajak orang lain makan daripada membuka buku. Adrian ikut menimpali bahwa Evan sebenarnya rajin belajar, hanya saja lebih rajin mengumumkan rencananya daripada melaksanakannya. Ketika pembicaraan mulai kehilangan arah, Evan tiba-tiba menepuk meja pelan.
“Eh, tahun baruan bareng yuk.”
Julian langsung tertarik. “Boleh juga. Daripada di rumah doang.”
Adrian mengangguk sambil menghabiskan es jeruknya. “Gua ikut kalau enggak jauh-jauh.”
Nayan menutup kotak bekalnya sebelum mengangkat satu pertanyaan yang belum dipikirkan siapa pun. “Di mana?”
Evan terdiam sebentar. Ia melihat Julian, Julian memandang Adrian, lalu Adrian dengan santai mengalihkan pandangan kepada Satrya. Satrya yang sedang membereskan kertas ujian langsung mengenali arah pembicaraan tersebut, terutama ketika tiga orang itu mulai tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.
“Kenapa jadi rumah gua?”
Evan mengangkat kedua tangan. “Belum ada yang bilang rumah lu.”
“Tatapan kalian bilang.”
Julian menunjuk Evan dengan ibu jari. “Harusnya rumah dia. Orang dia yang ngajak.”
“Enggak bisa,” jawab Evan.
Adrian menoleh. “Kenapa?”
Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Rumah gua enggak siap menerima Julian sampai lewat tengah malam.”
Julian mengerutkan kening. “Gua bahkan belum ngapa-ngapain.”
“Pencegahan.”
Adrian mengangguk pelan, seolah baru memahami alasan sebenarnya. “Jadi intinya lu cuma enggak mau rumah lu dipakai.”
“Iya,” jawab Evan tanpa ragu.
Satrya menggeleng ketika Julian mulai memprotes jawaban tersebut. Mereka sudah beberapa kali berkumpul di rumah masing-masing, tetapi membawa lima orang sekaligus sampai lewat tengah malam jelas membutuhkan izin orang tua. Satrya baru hendak menyarankan mereka mencari tempat lain ketika Freya yang sejak tadi mendengarkan sambil merapikan sedotan kotak susunya ikut bicara.
“Kalau kalian mau, di rumah aku aja.”
Percakapan langsung berhenti, dan lima orang menoleh hampir bersamaan. Freya yang semula terlihat santai mendadak menegakkan punggung ketika menyadari semua perhatian tertuju kepadanya.
“Jangan lihat aku semua juga!”
Julian langsung menunduk ke piringnya, sedangkan Adrian berpura-pura sibuk memasukkan sedotan ke gelas yang sebenarnya sudah hampir kosong. Evan masih tersenyum terlalu lebar, membuat Freya menunjuknya dengan ujung sedotan.
“Terutama kamu.”
Evan buru-buru menghadap Satrya. “Gua lihat Satrya.”
“Jangan bawa gua, Van.”
Nayan yang tidak ikut bereaksi berlebihan justru bertanya apakah orang tua Freya akan keberatan. Freya menjelaskan bahwa mamah dan ayahnya tidak punya rencana pergi malam Tahun Baru, tetapi ia tetap harus meminta izin lebih dulu. Mereka akhirnya sepakat menunggu kabar darinya sebelum menentukan makanan atau jam kumpul.
Bagi Satrya, usulan itu terdengar cukup masuk akal. Freya sudah beberapa kali bercerita mengenai kegiatan keluarganya, dan ibunya sendiri bahkan masih berhubungan dengan ibu Satrya sejak mereka bertemu secara tidak sengaja di festival. Meski begitu, Satrya belum pernah benar-benar datang dan menghabiskan waktu lama di rumah Freya.
Beberapa hari kemudian, izin itu datang melalui grup. Orang tua Freya bukan hanya mengizinkan mereka datang, tetapi juga mempersilakan kelima cowok menginap supaya tidak perlu mencari kendaraan pulang setelah tengah malam. Evan langsung mengumumkan dirinya siap berangkat, sebelum Nayan mengingatkan bahwa malam Tahun Baru masih beberapa hari lagi.
Pada malam tiga puluh satu Desember, Satrya tiba di rumah Freya sebelum pukul delapan.
Ia membawa satu kantong makanan titipan ibunya dan tas berisi pakaian ganti, sementara dari balik pagar rumah sudah terlihat lampu teras yang menyala hangat. Beberapa pot tanaman berjajar di dekat dinding, dan cahaya televisi tampak dari jendela ruang tengah. Satrya sempat memastikan alamat pada pesan Freya sekali lagi sebelum menekan bel.
Pintu terbuka tidak lama kemudian.
“Sat, masuk yuk.”
Freya berdiri di balik pintu dengan pakaian rumah sederhana. Rambut panjangnya masih ditahan bando putih seperti yang biasa ia gunakan, tetapi tanpa seragam sekolah atau synthesizer di depannya, Satrya merasa penampilannya sedikit berbeda dari yang setiap hari ia lihat. Freya memperhatikan kantong di tangan Satrya sebelum bergeser memberi jalan.
“Ini dari ibuku,” kata Satrya sambil mengangkat kantong makanan.
Freya mengambil salah satu pegangannya. “Banyak banget. Kamu disuruh bawa semua?”
“Katanya enggak enak datang kalau enggak bawa apa-apa.”
“Padahal mamah udah nyiapin makanan juga.”
“Ya berarti makin banyak.”
Freya tertawa kecil. Pandangannya kemudian turun ke tas di bahu Satrya, dan ia terlihat hendak mengatakan sesuatu sebelum kembali tersenyum.
“Kamu bawa tas kayak mau pergi dua hari.”
“Kan emang mau nginep.”
“Iya juga.”
Mereka baru hendak membawa makanan ke ruang tengah ketika mamah Freya muncul dari arah ruang makan. Perempuan itu langsung mengenali Satrya, lalu mengambil alih kantong yang semula dipegang berdua sambil menanyakan kabar ibunya.
“Sehat, Tante,” jawab Satrya setelah melepas sepatu.
“Syukurlah. Titip salam, ya. Kemarin Tante masih chat sama ibumu.”
Satrya mendongak. “Kemarin?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Enggak, Tante. Kirain cuma sesekali.”
Mamah Freya tersenyum sambil membawa makanan menuju meja. “Wah, lumayan sering malah.”
Freya yang berdiri di dekat Satrya ikut melihat ibunya. “Ngobrolin apa aja sih, Mah?”
“Macam-macam.”
“Macam-macam apa?”
“Rahasia ibu-ibu.”
“Mah...”
Mamah Freya tertawa dan terus berjalan ke dapur tanpa memberi jawaban tambahan. Satrya masih memperhatikan punggungnya ketika suara kendaraan terdengar berhenti di luar, disusul bel rumah beberapa detik kemudian.
Evan, Julian, dan Adrian datang hampir bersamaan, sementara Nayan menyusul tidak lama setelahnya. Dalam waktu singkat ruang tengah yang semula rapi mulai dipenuhi tas, kantong makanan, dan beberapa pasang sandal di dekat pintu. Evan bahkan sudah membuka salah satu bungkus camilan sebelum semua orang benar-benar selesai duduk.
“Van, itu belum ditaruh piring,” tegur Freya dari dekat meja.
Evan berhenti mengunyah. “Gua cuma nyoba.”
Freya melihat potongan makanan yang masih ada di tangannya. “Itu tiga.”
Adrian yang lewat di belakang Evan mengambil satu potong tanpa izin. “Sekarang dua.”
Evan langsung menoleh. “Put, itu punya gua.”
“Katanya cuma nyoba.”
Julian tertawa sambil menjatuhkan badan ke sofa, sementara Freya akhirnya mengambil bungkus makanan tersebut sebelum isinya berkurang lagi. Nayan yang baru selesai menaruh tas memilih duduk di sisi ruang tengah yang masih kosong, kemudian melihat susunan piring dan makanan yang memenuhi meja. Belum sampai setengah jam, rumah itu sudah jauh lebih ramai dibanding ketika Satrya pertama datang.
Mamah Freya kemudian memanggil suaminya dari ruang lain.
Ayah Freya muncul dengan kaus polo dan celana rumah, rambutnya tetap tersisir rapi meskipun malam itu jelas bukan acara formal. Ia memandang kelima tamu anaknya satu per satu sebelum tersenyum dan mempersilakan mereka duduk lebih santai. Evan yang tadinya paling berisik otomatis meluruskan posisi duduk, membuat Satrya harus menahan senyum ketika melihat perubahan itu.