Pagi selalu datang lebih cepat di Desa Kertajaya.
Sebelum matahari benar-benar naik dari balik punggung bukit, kabut sudah lebih dahulu menggantung rendah di atas persawahan. Ia menyusup di antara batang-batang padi, mengambang tipis di atas pematang, lalu perlahan pecah ketika cahaya keemasan menyentuh lereng-lereng hutan di kejauhan. Dari rumah-rumah yang berdiri mengikuti alur jalan desa, suara pintu dibuka dan ayam berkokok bercampur dengan bunyi cangkul yang sesekali menghantam tanah.
Namun bagi Banyu, pagi itu terasa berbeda.
Ia duduk sendirian di sebuah batu besar di bantaran Sungai Ciasem, kedua telapak kakinya menyentuh air yang dingin. Sungai itu tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika permukaannya tampak tenang, Banyu selalu bisa mendengar sesuatu dari dalam alirannya: gesekan air dengan batu, gerakan pasir di dasar, suara akar yang menahan tanah di tepian, juga gemerisik daun yang jatuh lalu dibawa arus.
Sejak kecil, ia terbiasa mengenali sungai melalui suara.
Pagi ini, suara itu berubah.
Banyu menundukkan kepala.
Air Ciasem yang biasanya jernih hingga batu-batu hitam di dasar dapat terlihat dengan jelas kini memiliki warna kecokelatan. Bukan warna cokelat tanah setelah hujan deras. Air itu keruh seperti ada sesuatu yang halus telah dilarutkan ke dalamnya. Ketika Banyu mengangkat segenggam air, partikel-partikel kecil berputar di antara jemarinya sebelum kembali hanyut.
Ia membiarkan air itu jatuh perlahan.
"Sudah sampai sini."
Suaranya nyaris berbisik.
Beberapa hari sebelumnya, perubahan itu belum separah ini. Pagi-pagi seperti biasa, ia masih bisa melihat ikan kecil bergerombol di sela batu. Lumut yang menempel di permukaan batu juga masih berwarna hijau tua. Sekarang sebagian aliran tampak seperti diselimuti lapisan tipis debu.
Banyu berdiri.
Di kejauhan, dari arah hulu, terdengar bunyi berat yang tidak seharusnya ada di sana.
Dum.
Dum.
Dum.
Bunyinya datang terputus-putus, tetapi setiap dentuman terasa sampai ke tanah di bawah telapak kakinya.
Banyu menoleh ke arah perbukitan.
Ia tidak dapat melihat sumber suara itu dari tempatnya berdiri. Hanya pucuk-pucuk pohon yang bergerak pelan diterpa angin pagi. Namun ia sudah tahu.
Ekskavator.
Beberapa minggu terakhir, orang-orang asing mulai berdatangan ke wilayah hulu. Mereka membawa kendaraan besar, alat ukur, kabel, dan perlengkapan yang tidak dikenali kebanyakan warga. Mula-mula mereka hanya membuka jalan. Setelah itu, beberapa bagian semak ditebas. Kemudian pohon-pohon kecil ditebang, tanah dikupas, dan sebuah lereng yang selama puluhan tahun berwarna hijau mulai memperlihatkan luka cokelat panjang.
Katanya itu baru tahap awal.
Katanya belum ada pertambangan.
Katanya mereka hanya melakukan persiapan.
Banyu tidak pernah percaya pada kata "hanya" ketika berhadapan dengan tanah.
Ia menatap aliran sungai cukup lama sebelum suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Kalau kau terus menatap air seperti itu, airnya tidak akan kembali jernih."
Banyu menoleh.
Pak Sugeng berdiri di atas pematang kecil dengan tongkat bambu di tangan. Tubuh lelaki tua itu tidak lagi setegap dulu, tetapi langkahnya masih mantap. Sarung yang dikenakannya dilipat sampai betis, sementara sebuah caping tua menggantung di punggung.
Banyu tersenyum tipis.
"Saya tahu, Pak."
"Kalau tahu, jangan dilihat terus."
Pak Sugeng turun mendekati sungai. Ia berhenti di samping Banyu dan memandang air yang sama. Wajahnya yang penuh keriput tidak menunjukkan keterkejutan. Seolah-olah apa yang dilihatnya pagi itu hanyalah sesuatu yang sudah lama ia takutkan.
"Ini bukan warna sungai kita," katanya.
"Air dari pembersihan lahan."
Pak Sugeng mengangguk perlahan.
"Tanah yang dibuka terlalu banyak."
Banyu tidak menjawab.
Keduanya berdiri berdampingan. Untuk beberapa saat, hanya suara air yang mengisi percakapan mereka.
"Orang-orang muda sekarang tidak tahu lagi cara membaca sungai," ujar Pak Sugeng akhirnya.
Banyu meliriknya. "Bapak masih ingat?"
Pak Sugeng terkekeh kecil.
"Yang saya ingat bukan semuanya. Sungai yang mengajari."
Ia berjongkok, mengambil segenggam lumpur dari tepian, lalu meremasnya di antara jari.
"Dulu, setiap awal musim tanam, orang-orang desa turun ke sini. Tidak membawa banyak barang. Cukup nasi tumpeng, hasil kebun, bunga, dan air dari mata air di atas. Kita sebut Bakti Tirta."
"Bakti Tirta," ulang Banyu.
"Penghormatan kepada air."
Pak Sugeng memandang ke hulu.
"Bukan karena orang-orang dulu mengira sungai itu dewa yang harus disembah. Bukan begitu. Mereka tahu air memberi hidup, jadi mereka belajar mengingat bahwa hidup mereka tidak berdiri sendiri."
Ia mengusap lumpur dari tangannya.
"Setelah ritual, orang-orang membersihkan bantaran. Saluran irigasi diperiksa. Sampah tidak boleh dibuang ke sungai. Anak-anak diajari dari mana air datang dan ke mana air pergi. Kalau ada bagian hulu rusak, seluruh desa ikut turun memperbaikinya."
Banyu menatap wajah lelaki tua itu.
"Kenapa sekarang tidak dilakukan?"
Pak Sugeng tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan dalam tawanya.
"Karena orang-orang sekarang merasa air akan selalu ada."
Ia berdiri kembali.
"Anak-anak muda bilang Bakti Tirta kuno. Tidak masuk akal. Mereka lebih percaya pipa, pompa, dan uang."
Banyu memandang air di hadapannya.
"Air juga tidak pernah bilang mereka salah."
"Air tidak perlu bicara."
Pak Sugeng mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah.
"Kalau air mulai pergi, manusia baru sadar."
Mereka kembali terdiam.
Dari arah hulu, bunyi mesin terdengar lagi.
Dum.
Kali ini lebih jelas.
Banyu merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dalam dadanya.
Bukan takut.
Lebih dekat kepada duka.
Ia pernah mendengar sungai ini ketika banjir besar menghantam desa. Ia pernah melihat Ciasem meluap hingga melewati pematang. Ia pernah menyaksikan airnya menjadi merah kecokelatan setelah hujan di lereng. Tetapi semua itu adalah bagian dari perubahan alam yang dapat dipahami.
Bunyi mesin itu berbeda.
Mesin tidak tumbuh.
Mesin tidak mengalir.
Mesin datang, mengambil, lalu pergi meninggalkan bentuk tanah yang tidak lagi sama.
Menjelang siang, matahari sudah tinggi.
Banyu berjalan menyusuri pematang menuju batas desa. Sawah-sawah di kanan kirinya terbentang seperti lembaran hijau yang terpotong-potong oleh garis air. Beberapa warga bekerja dengan cangkul. Sebagian lain sedang memperbaiki pematang yang retak.
Dari kejauhan, suara mesin semakin jelas.
Banyu terus berjalan.
Semakin dekat ke wilayah perbatasan, semakin sedikit tanaman yang ia temui. Beberapa bidang tanah sudah kehilangan rerumputannya. Tanah permukaan tampak dikupas, meninggalkan bekas roda kendaraan berat.
Lalu ia melihatnya.
Sebuah patok besi berdiri tegak di tengah ladang.
Warnanya hitam kusam. Pada bagian atasnya terdapat pelat logam kecil dengan tulisan yang dicetak rapi.
AUREUM CORP.
Banyu berhenti.
Matanya bergerak dari satu patok ke patok lain.
Satu.