Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #2

Jejak Air yang Hilang

Malam telah menutup Bandung ketika Dania menyadari bahwa ada air yang seharusnya tidak pernah hilang.

Bukan air dalam jumlah kecil. Bukan pula kesalahan pencatatan stasiun pengukuran yang bisa dibereskan dengan menghapus satu angka atau memperbaiki satu digit koordinat.

Air itu hilang dalam jumlah yang terlalu besar untuk disebut anomali biasa.

Dania duduk sendirian di ruang analisis Laboratorium Hydro-Geologi Independen, ditemani dengung pendingin komputer dan cahaya pucat dari tiga monitor di hadapannya. Di luar jendela, lampu-lampu kota berpendar di balik kaca yang sedikit berembun. Bandung masih hidup meskipun sebagian besar kantor di kawasan itu telah lama mematikan lampu. Kendaraan sesekali melintas di jalan basah, meninggalkan garis cahaya yang bergerak cepat di antara gedung.

Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul 23.47.

Dania belum makan malam.

Ia juga sudah dua kali memanaskan kopi yang sama.

Namun angka di monitor membuat rasa lapar dan kantuk terasa seperti gangguan yang tidak penting.

"Empat puluh delapan koma tujuh..."

Ia berhenti.

Matanya menyipit.

"Juta meter kubik."

Dania menggeser kursinya mendekat ke meja.

Data debit dari beberapa titik pengamatan di kawasan hulu Subang terpampang dalam deret waktu panjang. Garis-garis grafik yang seharusnya mengikuti pola musiman justru memperlihatkan sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin. Ada penurunan debit pada permukaan, tetapi curah hujan dan infiltrasi yang tercatat tidak menjelaskan ke mana seluruh volume air itu pergi.

Ia memasukkan ulang parameter.

Menghapus satu stasiun.

Menghapus dua.

Mengabaikan data dari sensor yang menurutnya memiliki reliabilitas rendah.

Hasilnya tetap sama.

Airnya tetap hilang.

Dania mengusap wajah.

"Jangan-jangan neraca airnya yang salah."

Ia membuka model hidrologi regional.

Curah hujan.

Evapotranspirasi.

Runoff.

Infiltrasi.

Penyimpanan tanah.

Pelepasan air tanah.

Semua variabel itu ia masukkan ulang dengan rentang toleransi yang lebih lebar. Ia bahkan menaikkan estimasi evapotranspirasi jauh di atas nilai yang masuk akal untuk kondisi tutupan lahan kawasan tersebut.

Tetap tidak cukup.

Ada sesuatu yang menyerap air dalam skala yang tidak dapat diterangkan model geologi modern.

Dania bersandar.

Matanya menatap grafik yang diam di layar.

"Kalau ini benar..." gumamnya.

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu.

Karena kalau data tersebut benar, masalahnya bukan sekadar air tanah yang mengalami penurunan.

Ada sistem yang jauh lebih besar di bawah permukaan.

Ia membuka folder lama yang jarang disentuh oleh peneliti lain di laboratorium itu. Isinya kumpulan peta digital, hasil survei geolistrik, citra satelit, pemodelan topografi, serta sejumlah rekonstruksi paleogeografi yang dikumpulkan dari berbagai proyek penelitian.

Nama foldernya sederhana.

SUNDALAND—PLEISTOCENE FLUVIAL SYSTEM.

Dania membukanya.

Peta muncul perlahan.

Jauh sebelum garis pantai Asia Tenggara berbentuk seperti sekarang, ketika permukaan laut lebih rendah dan daratan membentang luas dari Sumatra hingga Jawa, wilayah yang kini terpisah oleh laut pernah membentuk bentang darat raksasa. Paparan Sunda bukan sekadar hamparan daratan yang kemudian tenggelam. Ia pernah memiliki sistem sungai besar yang menghubungkan berbagai cekungan dan dataran rendah.

Jejak-jejak sungai itu masih dapat dibaca dari bentuk dasar laut.

Saluran purba.

Lembah yang telah tenggelam.

Endapan sedimen.

Kipas aluvial.

Dania memperbesar peta.

Garis-garis biru pucat membentuk jaringan seperti urat pada daun.

Ia lalu membuka peta topografi modern di layar kedua.

Dua peta itu belum terlihat memiliki hubungan.

Namun Dania mulai menumpuk keduanya.

Layer pertama.

Topografi modern.

Layer kedua.

Rekonstruksi paleogeografi.

Layer ketiga.

Data geolistrik.

Ia menurunkan transparansi.

Lalu menggeser koordinat.

Tangan Dania berhenti di atas tetikus.

"Sebentar."

Ia memperbesar kawasan Jawa Barat.

Dataran tinggi.

Lereng.

Cekungan.

Jejak sungai.

Satu demi satu bentuk yang tampaknya terpisah mulai menunjukkan pola.

Ia mengambil catatan lama dari rak di belakang meja, membuka beberapa halaman yang penuh coretan tangannya sendiri.

"Saluran Pleistosen... arah aliran..."

Dania kembali ke komputer.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Sungai purba tidak mungkin sekadar menghilang.

Sebuah sistem fluvial sebesar itu akan meninggalkan tanda pada lapisan batuan, sedimen, dan struktur bawah permukaan. Bahkan jika alirannya telah berhenti jutaan tahun lalu, bentuknya seharusnya masih dapat ditelusuri.

Namun data yang sedang ia lihat memperlihatkan kemungkinan lain.

Bukan sungai purba yang mati.

Sebuah bagian dari sistem itu mungkin masih menyimpan air.

Dania mematikan layer modern.

Kemudian ia menyalakan hasil survei geolistrik.

Warna-warna muncul.

Zona resistivitas rendah membentuk jalur panjang di bawah permukaan. Pada awalnya ia mengira itu hanya lapisan lempung jenuh air. Namun ketika jalur tersebut diperpanjang menggunakan data dari titik survei lain, bentuknya mulai terlihat.

Dania berdiri.

"Enggak mungkin."

Ia mengambil kursi lain dan menyeretnya ke depan monitor.

Jalur itu bercabang.

Bukan seperti kantong akuifer biasa.

Ia lebih menyerupai sistem saluran.

Jauh lebih dalam daripada lapisan air tanah yang biasanya dipetakan.

Dania memasukkan data survei dari wilayah lain.

Layar berubah.

Satu jalur tersambung dengan jalur berikutnya.

Kemudian bercabang lagi.

Ia menambahkan hasil pemetaan geologi dari Jawa Barat bagian utara.

Garis itu terus bergerak.

Subang.

Indramayu.

Laut Jawa.

Kemudian, pada model rekonstruksi tertentu, jaringan tersebut berlanjut ke wilayah yang pada masa Pleistosen masih merupakan bagian dari daratan luas Paparan Sunda.

Dania menatap layar tanpa berkedip.

Lihat selengkapnya