Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #3

Suara dari Akar Tambang

Menjelang sore, halaman rumah Bu Rukmini sudah tidak lagi terlihat seperti halaman rumah.

Tikar-tikar pandan dibentangkan sampai mendekati pagar bambu. Beberapa meja kayu dipenuhi botol air minum, termos kopi, kertas fotokopi, spidol, peta desa, serta daftar nama warga yang ditulis tangan. Sebuah papan tulis bekas sekolah disandarkan pada dinding teras. Di atasnya, seseorang telah menggambar jalan desa dengan garis hitam tebal dan memberi tanda silang merah di tiga titik.

Di seberang halaman, Sungai Ciasem mengalir di balik deretan pohon bambu. Dari tempat orang-orang berkumpul, permukaannya hanya tampak sebagai kilatan cokelat di antara daun. Suaranya pun lebih pelan daripada biasanya.

Banyu berdiri di ujung halaman, memperhatikan semuanya.

Sudah hampir seminggu sejak patok-patok besi Aureum Corp ditemukan di ladang warga. Sejak itu, Desa Kertajaya seperti kehilangan kebiasaannya sendiri. Orang-orang yang biasanya bercakap di warung kini lebih sering berbisik. Para petani menghitung ulang luas tanah mereka. Para pemuda berkumpul sampai malam. Beberapa keluarga bahkan mulai berdebat di dalam rumah karena satu pihak ingin menerima ganti rugi, sementara pihak lain menganggap menjual tanah berarti menyerahkan masa depan desa.

Di tengah semua itu, seorang perempuan berdiri di depan papan tulis dengan rambut diikat seadanya.

Laras.

Banyu belum pernah berbicara dengannya sebelumnya.

Usianya tidak jauh dari dirinya, tetapi cara Laras berdiri membuatnya terlihat seolah sudah bertahun-tahun terbiasa menghadapi orang-orang yang tidak mau mendengarkan. Ia mengenakan kemeja lapangan berwarna gelap dengan lengan digulung sampai siku. Celana panjangnya penuh bekas tanah. Sebuah tas selempang berisi map dan peralatan kecil menggantung di pinggangnya.

"Kalau mereka masuk lewat jalan timur, kita jangan hadang di tengah," katanya.

Beberapa warga mengangkat kepala.

"Kita blokir dari dua titik. Pertama di jembatan kecil. Kedua di tikungan sebelum jalan tanah masuk ke area konsesi. Jangan bawa senjata. Jangan rusak kendaraan. Jangan sentuh pengemudi."

Seorang pemuda mengangkat tangan.

"Kalau mereka maksa?"

"Dokumentasikan."

"Kalau mereka dorong?"

"Kita mundur setengah meter, jangan terpancing."

"Kalau mereka tetap masuk?"

Laras menatap pemuda itu.

"Baru kita bentuk barisan. Tapi tetap tanpa kekerasan."

Nada suaranya tegas, tetapi tidak meninggi.

"Kita bukan mau menang adu kuat. Kita mau memastikan tidak ada satu pun orang di luar desa yang bisa bilang warga Kertajaya menyerang lebih dulu."

Beberapa orang mengangguk.

Banyu memperhatikan cara Laras berbicara. Tidak ada kalimat yang dibuang percuma. Setiap perintah memiliki alasan. Bahkan ketika seseorang menyela, Laras tidak langsung memotong. Ia mendengarkan, lalu mengembalikan pembicaraan kepada hal yang dapat dilakukan.

Ia bukan sekadar marah.

Ia sedang menyusun sesuatu.

Laras mengambil spidol dan menggambar dua garis pada papan.

"Truk pengangkut alat berat tidak boleh sampai melewati sini. Bukan karena kita ingin menguasai jalan. Jalan itu fasilitas umum. Tapi sebelum mereka membuka lahan lebih jauh, kita harus punya waktu untuk memastikan status tanah, izin lingkungan, dan dampak hidrologisnya diperiksa."

"Kalau perusahaan bilang semua izinnya lengkap?" tanya seorang bapak dari belakang.

"Berarti kita minta lihat."

"Kalau tidak dikasih?"

"Kita catat."

"Kalau tetap jalan?"

"Kita catat lagi."

Beberapa warga tertawa kecil.

Laras ikut tersenyum tipis.

"Kadang yang paling membuat orang takut bukan teriakan. Tapi catatan yang tidak hilang."

Banyu akhirnya melangkah masuk ke halaman.

Pak Sugeng yang duduk di dekat teras melihatnya lebih dulu.

"Banyu."

Beberapa kepala menoleh.

Laras ikut melihat.

Tatapan perempuan itu singgah sebentar pada wajah Banyu, lalu kembali kepada peta.

"Masuk saja," kata Pak Sugeng.

Banyu duduk di tepi tikar. Ia tidak langsung bicara. Tangannya masih membawa sebuah kantong plastik bening yang di dalamnya terdapat dua ekor ikan kecil yang sudah kaku.

Pak Sugeng melihat kantong itu.

"Kau bawa dari sungai?"

Banyu mengangguk.

Suasana di sekitarnya perlahan mereda.

Laras menurunkan spidol.

"Kenapa?"

Banyu meletakkan kantong itu di atas tikar.

"Ikan mati."

Tidak ada yang tertawa.

"Di mana?" tanya Laras.

"Di ceruk sebelah hulu."

"Berapa banyak?"

"Yang saya lihat, lebih dari sepuluh."

Seseorang menyela, "Ikan mati karena air keruh bukan hal baru."

Banyu menoleh.

"Ini bukan cuma air keruh."

Ia membuka kantong perlahan.

"Ada perubahan di insangnya. Saya tidak tahu penyebab pastinya, tapi beberapa jenis ikan yang biasanya ada di ceruk itu sudah tidak kelihatan."

Laras jongkok di depan kantong.

Ia tidak menyentuh ikan tersebut.

"Sejak kapan?"

"Mulai kemarin."

"Airnya berubah?"

"Sudah beberapa hari."

"Baunya?"

Banyu diam sebentar.

"Berbeda."

Laras mengangkat wajah.

"Berbeda bagaimana?"

Banyu mencoba mencari kata yang tepat.

"Seperti..." Ia mengerutkan kening. "Seperti air yang sudah terlalu lama diam. Padahal arusnya tetap jalan."

Laras tidak langsung menjawab.

Ia mengambil buku catatan kecil dari tasnya.

"Di bagian mana?"

Banyu menunjuk peta.

Laras mendekat.

"Di sini?"

"Sedikit lebih ke atas."

"Di dekat pembersihan lahan?"

Banyu mengangguk.

"Dan ada sesuatu lagi."

Semua orang kembali memperhatikannya.

Banyu menatap peta, lalu berkata pelan, "Sungainya terasa berbeda."

Seseorang di belakang tertawa kecil.

"Terasa?"

Banyu tidak membalas.

Laras justru menatapnya lebih lama.

"Apa maksudmu?"

Banyu menelan ludah.

Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Sejak kecil, sungai baginya bukan hanya air yang mengalir. Ia mengenal Ciasem melalui ritmenya. Ia tahu kapan arus sedang berat karena hujan di atas. Ia tahu kapan permukaan terlalu dingin. Ia tahu suara batu yang bergeser setelah banjir. Bahkan tanpa melihat, ia sering bisa mengetahui apakah air sedang membawa lumpur, daun, atau pasir.

Tetapi beberapa hari terakhir, semua itu seperti bergeser.

"Biasanya saya bisa mendengar sungai dari jauh," katanya. "Bukan cuma suaranya. Maksud saya... ritmenya."

"Ritme?" ulang Laras.

Banyu mengangguk.

"Setiap bagian sungai punya suara sendiri. Di dekat batu besar, arusnya cepat. Di tikungan, air lebih berat. Di ceruk, suaranya rendah. Kalau hujan turun di hulu, semuanya berubah."

Ia memandang kantong berisi ikan.

"Sekarang tidak begitu."

"Apa yang berubah?"

Banyu mengangkat kepala.

"Seperti sungainya menahan sesuatu."

Halaman kembali sunyi.

Bahkan suara daun bambu terdengar lebih jelas.

Laras menutup bukunya.

"Besok pagi kita ke sana."

Beberapa warga saling pandang.

"Untuk apa?" tanya seorang ibu.

"Ambil sampel air."

Laras berdiri.

"Kita dokumentasikan kondisi sungai sebelum pembukaan lahan berlanjut. Kalau memang ada pencemaran, kita perlu tahu kapan mulai terjadi, dari mana sumbernya, dan seberapa jauh penyebarannya."

Ia menunjuk ikan.

"Jangan dibuang."

Banyu mengangguk.

"Saya simpan."

Lihat selengkapnya