Pagi di Desa Kertajaya datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas sawah.
Sisa embun masih menempel di ujung-ujung rumput ketika sebuah kendaraan berhenti di jalan tanah dekat bantaran sungai. Tidak ada suara klakson. Tidak ada orang yang keluar untuk menyambut. Hanya suara pintu kendaraan yang terbuka, kemudian seorang perempuan turun sambil mengangkat tas ransel hitam dari kursi belakang.
Dania berdiri sebentar di samping kendaraannya.
Ia memandang desa yang baru pertama kali dilihatnya secara langsung.
Tidak banyak yang berbeda dari peta satelit yang semalam berkali-kali ia perbesar di layar komputer. Jalan utama membelah permukiman kecil, sawah menghampar di sisi timur, sementara aliran Ciasem memotong desa seperti garis yang hidup. Di kejauhan, lereng hutan terlihat lebih gelap daripada langit pagi.
Tetapi peta tidak pernah bisa memberi tahu bau tanah.
Tidak bisa memberi tahu suara ayam yang saling bersahutan dari halaman rumah.
Tidak bisa memperlihatkan betapa keruhnya air sungai ketika cahaya pagi jatuh tepat di atas permukaannya.
Dania mengambil botol sampel dari dalam tas.
Ia tidak membuang waktu.
Titik pertama berada di dekat jembatan kecil. Ia berjongkok di tepi sungai, mengenakan sarung tangan, kemudian mengisi botol dengan air sambil mencatat koordinat.
Warna airnya sesuai dengan laporan.
Kecokelatan.
Tidak pekat, tetapi cukup untuk membuat dasar sungai hampir tidak terlihat.
Dania mengangkat botol itu ke arah matahari.
Partikel-partikel halus melayang di dalamnya.
"Suspended sediment tinggi," gumamnya.
Ia mencatat sesuatu.
Kemudian mengambil pengukuran kedua.
Suhu.
Konduktivitas.
pH.
Oksigen terlarut.
Semua dicatat dengan teliti.
Setelah itu ia berjalan menyusuri bantaran menuju titik kedua.
Di sana, air tampak lebih tenang. Beberapa akar pohon menjulur ke permukaan, membentuk ceruk kecil tempat daun-daun menumpuk.
Dania mengambil sampel lagi.
Ketika ia hendak berdiri, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Nyari apa?"
Dania menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya.
Rambutnya diikat ke belakang. Pakaian lapangannya sama seperti yang pernah Dania lihat dari foto-foto dokumentasi warga di internet. Wajahnya tidak tampak ramah.
Laras.
Dania belum pernah bertemu dengannya, tetapi nama itu sudah muncul dalam beberapa laporan aksi warga yang sempat ia baca sebelum berangkat.
"Air," jawab Dania.
"Saya bisa lihat."
Laras mendekat.
Matanya berpindah dari botol sampel ke alat pengukur, kemudian ke ransel Dania.
"Air buat apa?"
"Penelitian."
"Penelitian siapa?"
Dania menatapnya.
Nada pertanyaannya tidak seperti orang yang sekadar ingin tahu.
"Nama saya Dania."
"Itu bukan jawaban."
"Saya peneliti hidro-geologi."
Laras terdiam sebentar.
"Darimana?"
"Bandung."
"Kerja di perusahaan?"
"Tidak."
"Universitas?"
"Bukan."
"Terus?"
"Lembaga penelitian independen."
Laras masih memandangnya dengan curiga.
"Datang sendiri?"
"Iya."
"Tanpa bilang siapa-siapa?"
"Iya."
"Kenapa?"
Dania menunjuk botol di tangannya.
"Karena saya perlu melihat kondisi sungai sebelum aktivitas pembukaan lahan bertambah."
Laras tidak langsung menjawab.
Tatapannya turun ke label pada botol.
"Nomor titik?"
"Tiga."
"Berarti sudah ambil dua sebelumnya."
Dania mengangguk.
Laras memandangnya beberapa detik.
"Kamu bukan orang perusahaan."
"Bukan."
"Enggak bohong?"
"Kalau saya mata-mata perusahaan, saya tidak akan berdiri di sungai dengan alat ukur yang jelas-jelas bukan alat survei tambang."
Laras hampir tersenyum.
"Hm."
Dania menyimpan botol.
"Saya justru datang karena perusahaan itu."
Kalimat tersebut membuat ekspresi Laras berubah.
"Kenapa?"
Dania membuka ranselnya.
"Saya menemukan sesuatu."
Mereka bertemu Banyu kurang dari satu jam kemudian.
Warung kopi di pinggir sungai menjadi tempat pertama yang mereka gunakan untuk berbicara lebih tenang. Bangunannya sederhana, hanya berupa teras kayu beratap seng dengan beberapa meja kecil. Dari tempat duduk mereka, Ciasem terlihat jelas di balik pagar bambu.
Banyu datang setelah Laras mengirim seseorang untuk memanggilnya.
Ia duduk tanpa banyak bicara.
Dania memperhatikannya.
Pemuda itu terlihat lebih pendiam daripada yang ia bayangkan. Ada sesuatu pada cara Banyu memandang sungai yang membuat Dania merasa bahwa perhatiannya tidak pernah benar-benar berada di meja.
Matanya sesekali bergerak ke arah air.
Seolah-olah ia sedang mendengarkan sesuatu.
"Kamu Banyu?" tanya Dania.
Banyu mengangguk.
"Kamu yang mengambil ikan mati dari hulu?"
"Iya."
Laras meletakkan ponselnya di atas meja.
"Dia sudah cerita semuanya."
Dania membuka tas.
"Saya mau memastikan satu hal dulu."
Ia mengeluarkan tiga botol sampel.
"Saya mengambil sampel dari tiga titik. Yang pertama sebelum area pembukaan lahan, yang kedua di dekat ceruk, yang ketiga lebih dekat ke arah konsesi."
Banyu memperhatikan botol-botol tersebut.
"Yang terakhir paling keruh," katanya.
Dania menoleh.
"Kamu tahu?"
"Kelihatan."
"Benar."
Dania mengambil tablet kecil.