Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #5

Konsortium Raksasa

Tepat ketika matahari mulai tegak di atas lereng-lereng Subang, suara baling-baling helikopter memecah udara Desa Kertajaya.

Bukan suara yang biasa didengar warga.

Suara itu datang dari arah selatan, mula-mula seperti dengung jauh yang bergetar di antara bukit, lalu membesar dengan cepat sampai genting-genting rumah bergetar dan permukaan air di selokan kecil berguncang. Burung-burung yang bertengger di pohon bambu beterbangan serentak. Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah spontan menengadah.

Bayangan hitam melintas di atas pematang.

Helikopter itu tidak menuju desa.

Ia berbelok ke arah kawasan konsesi Aureum Corp, tempat pagar kawat tinggi berdiri mengelilingi basecamp utama perusahaan. Dari kejauhan, kompleks itu tampak seperti benda asing yang ditanam paksa di tengah bentang alam pedesaan: deretan bangunan modular berlapis logam, menara komunikasi, kendaraan berat yang berjajar rapi, generator sebesar rumah kecil, dan lampu sorot yang bahkan tetap menyala ketika matahari sedang terang-terangnya.

Di sekelilingnya berdiri pagar kawat dengan beberapa lapis kabel listrik.

Tidak ada bagian dari kompleks itu yang terlihat seperti hendak menyatu dengan desa.

Semuanya dirancang untuk memisahkan.

Helikopter turun di lapangan beton yang baru dicor. Angin dari baling-balingnya menghamburkan debu dan serpihan rumput kering ke segala arah. Enam orang pengaman swasta berdiri membentuk barisan di tepi landasan. Seragam hitam mereka tampak terlalu bersih untuk tempat seperti itu.

Pintu helikopter terbuka.

Seorang pria turun lebih dahulu.

Marcus Vance tidak perlu diperkenalkan kepada siapa pun di basecamp. Hampir semua orang yang bekerja di sana mengenal wajahnya dari rapat-rapat daring, laporan perusahaan, dan layar presentasi para manajer. Ia mengenakan kemeja lapangan berwarna gelap, celana taktikal, dan sepatu yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda baru saja melakukan perjalanan jauh.

Ia berhenti sejenak, menatap kompleks tambang.

Tidak ada kekaguman di wajahnya.

Yang ia lihat bukan gunung.

Bukan sungai.

Bukan desa.

Ia melihat sebuah aset.

Sebuah titik di peta yang, jika dikelola dengan benar, bisa menghasilkan angka yang sangat besar.

"Mr. Vance."

Seorang kepala pengamanan menghampirinya.

"Perimeter aman."

Marcus mengangguk.

"Media?"

"Belum ada."

"Warga?"

"Masih di luar perimeter."

"Bagus."

Marcus berjalan menuju gedung utama tanpa menoleh lagi kepada helikopter yang baru saja membawanya.

Di dalam gedung, pendingin udara bekerja terlalu keras.

Perbedaan suhu dengan udara luar membuat kulit terasa dingin dalam hitungan detik.

Di ruang konferensi utama, dua orang sudah menunggu.

Yang pertama seorang perempuan berambut pirang pucat yang diikat sederhana di belakang kepala. Di hadapannya terbuka beberapa layar transparan dengan susunan data tiga dimensi. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya justru hidup.

Dr. Sarah Lindqvist.

Kepala ilmuwan proyek.

Orang kedua mengenakan pakaian formal yang terasa sedikit tidak cocok dengan udara panas Indonesia. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Ia membawa map kulit tua yang diperlakukan seperti benda berharga.

Dr. Baskora.

Filolog dan sejarawan lokal yang direkrut Aureum Corp sebagai konsultan sejarah.

Marcus duduk.

"Berapa lama?"

Sarah langsung memahami maksudnya.

"Tiga belas menit sejak helikopter Anda masuk perimeter."

"Saya tidak bertanya soal perjalanan."

Sarah tersenyum tipis.

"Kalau begitu, jawabannya: kita sudah siap."

Marcus melihat jam tangannya.

"Mulai."

Sarah menekan sesuatu pada panel.

Ruangan menjadi gelap.

Sebuah peta tiga dimensi muncul di tengah udara.

Pegunungan.

Lapisan tanah.

Batuan.

Kemudian permukaan bumi seolah terbelah perlahan.

Lapisan-lapisan geologi turun satu per satu sampai terlihat jaringan garis yang jauh lebih tua daripada bentuk permukaan modern.

Marcus menatapnya tanpa ekspresi.

Sarah berdiri di samping proyeksi.

"Ini adalah hasil kompilasi pemindaian satelit, survei gravitasi, geolistrik, dan pemodelan bawah permukaan. Seperti yang kita bahas dalam laporan awal, terdapat anomali energi yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui sistem hidrogeologi biasa."

Salah satu bagian proyeksi diperbesar.

Kedalaman.

Angka-angka muncul.

"Pada kedalaman sekitar tujuh belas kilometer, kami menemukan akumulasi energi yang sangat besar."

Marcus menyipitkan mata.

"Tujuh belas?"

"Kurang lebih. Margin kesalahannya masih kami hitung."

"Dan Anda yakin itu bukan panas geotermal?"

Sarah menggeleng.

"Profilnya berbeda."

"Mineral?"

"Tidak sesuai."

"Tekanan?"

"Juga tidak."

Marcus bersandar.

Sarah memindahkan tampilan.

Sebuah bentuk seperti kabut bercahaya muncul jauh di bawah lapisan batuan.

"Ini bukan sekadar reservoir."

"Jelaskan."

Sarah menarik napas.

"Jika data ini benar, kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang menyimpan energi dalam jumlah yang tidak masuk akal untuk formasi geologi konvensional."

Marcus menatapnya.

"Dan?"

Mata Sarah tertuju pada titik cahaya itu.

"Dan mungkin ini yang selama puluhan tahun hanya dianggap mitos."

Ia tersenyum.

"Materi regenerasi."

Ruangan menjadi hening.

Dr. Baskora membuka mapnya.

"Pranavija."

Nama itu terdengar asing di antara mesin pendingin dan layar digital.

Marcus menoleh.

"Anda yakin?"

"Saya tidak akan membawa ini kalau tidak."

Baskora membuka lembar pertama.

Kertas itu bukan naskah asli. Hanya reproduksi dan hasil transliterasi yang dicetak dalam beberapa lapisan catatan akademis. Namun di sudut halaman terdapat foto manuskrip tua dengan aksara yang sebagian sudah pudar.

"Naskah ini ditemukan dalam kumpulan teks yang selama ini dianggap bersifat kosmologis dan simbolik," katanya. "Saya melakukan perbandingan istilah dengan beberapa tradisi hidrologi Nusantara kuno."

Marcus menyela.

"Saya tidak membayar Anda untuk kuliah sejarah."

Baskora menahan napas sesaat.

"Saya sedang menjelaskan alasan kita berada di sini."

Marcus memberi isyarat agar ia melanjutkan.

Baskora menggeser lembaran ke tengah meja.

"Dalam salah satu bagian, terdapat istilah yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai 'Pusat Penyembuhan Bumi'."

Sarah langsung menatapnya.

"Bagian yang mana?"

Baskora menunjuk catatan.

"Di sini."

Ia membaca transliterasi itu perlahan, lalu menjelaskan maknanya dengan bahasa yang lebih sederhana.

"Tempat tersebut disebut sebagai titik tempat napas bumi kembali berkumpul setelah bumi mengalami kerusakan besar. Dari sana, sesuatu yang disebut sebagai benih kehidupan dilepaskan melalui jalur air yang tua."

Sarah mendekat.

"Pranavija."

Baskora mengangguk.

"Ya."

Marcus tidak menunjukkan minat yang sama.

"Dan lokasinya?"

Lihat selengkapnya