Matahari sudah tinggi ketika barisan warga mulai memenuhi jalan berbatu menuju hutan hulu.
Jalan itu sebenarnya bukan jalan yang layak dilalui kendaraan sebesar yang hendak masuk hari itu. Permukaannya tersusun dari batu-batu kasar yang ditimbun bertahun-tahun, diapit tebing tanah dan semak liar di satu sisi, sementara sisi lainnya menurun ke arah aliran sungai yang semakin kecil ketika mendekati hulu. Di beberapa bagian, akar pohon mencuat dari tanah seperti urat tua yang sengaja dibiarkan terbuka.
Namun sejak Aureum Corp memperluas wilayah kerjanya, jalan itu perlahan berubah.
Batu-batu diperkeras.
Beberapa pohon ditebang di sisi jalur.
Tanah diratakan.
Tiang-tiang penanda baru dipasang.
Hari itu, untuk pertama kalinya, warga memutuskan bahwa jalan tersebut tidak akan mereka biarkan terbuka.
Batang-batang kayu ditarik melintang dari satu sisi ke sisi lain. Ada yang berasal dari pohon tumbang, ada pula yang sengaja dipotong dari kebun warga. Di belakangnya, beberapa orang memasang rantai baja mengelilingi tubuh mereka sendiri.
Laras berdiri di tengah-tengah barisan.
Tangannya memegang pengeras suara kecil yang sejak tadi terus mengeluarkan bunyi berdesis.
"Jangan ada yang membawa senjata."
Suara Laras terdengar tegas.
"Kalau mereka datang, kita tetap di tempat. Jangan lempar batu. Jangan rusak kendaraan. Jangan kasih mereka alasan untuk bilang kita datang untuk bikin kerusuhan."
Di belakangnya, puluhan warga mengangguk.
Ada petani.
Pedagang.
Pemuda desa.
Beberapa ibu yang membawa anak mereka.
Bahkan beberapa orang tua yang seharusnya sudah tidak perlu berdiri berjam-jam di bawah matahari.
Banyu berada tidak jauh dari mereka.
Ia membantu seorang lelaki tua mengencangkan rantai di lingkaran pinggangnya.
"Pak, kalau terlalu sesak bilang."
"Saya masih kuat."
Banyu tersenyum.
"Bukan soal kuat."
Lelaki itu menatapnya.
"Kalau jatuh nanti malah susah."
Pak tua itu mendengus.
"Sejak kapan kamu jadi cerewet?"
Banyu tertawa kecil.
Tetapi matanya terus mengarah ke ujung jalan.
Dania tidak berada di barisan depan. Ia berdiri agak jauh bersama beberapa warga lain, membawa tas berisi peralatan pengukuran dan kamera. Sesekali ia melihat ponsel, mencatat waktu, lalu memotret posisi barikade.
Semua gerakan dicatat.
Semua kendaraan akan didokumentasikan.
Semua tindakan pengamanan akan direkam.
Itu salah satu syarat Laras sejak awal.
Kalau kekuatan mereka tidak seimbang, setidaknya bukti harus berpihak kepada mereka.
Angin hutan bergerak turun membawa udara yang lebih lembap.
Banyu menarik napas.
Ada bau tanah basah.
Daun.
Getah.
Air.
Lalu, samar-samar, muncul bau solar.
Ia menoleh.
Dari balik tikungan terdengar suara mesin.
Satu.
Kemudian dua.
Lalu semakin banyak.
Suara kendaraan berat menggema di antara pepohonan.
Barisan warga perlahan menjadi sunyi.
Laras mengangkat pengeras suara.
"Jangan bergerak."
Konvoi itu muncul beberapa detik kemudian.
Truk-truk trailer panjang memenuhi jalan.
Kendaraan pertama membawa peti logam besar yang ditutup terpal. Di belakangnya ada trailer lain dengan komponen berbentuk silinder, beberapa bagian berlapis pelindung hitam. Di bagian paling belakang, kendaraan pengaman perusahaan bergerak beriringan.
Komponen-komponen itu tidak terlihat seperti peralatan tambang biasa.
Dania yang melihat dari kejauhan langsung mengenal bentuknya.
Plasma-Drill.
Bagian-bagian mesin yang akan digunakan untuk menembus lapisan batuan dalam.
Dania merasakan tengkuknya menegang.
Mereka benar-benar membawanya ke sini.
Lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
Konvoi berhenti.
Jarak antara truk pertama dan barikade hanya sekitar dua puluh meter.
Mesin-mesin tetap hidup.
Asap tipis keluar dari knalpot.
Bau solar semakin kuat.
Seorang petugas pengaman turun dari kendaraan depan.
Ia memakai rompi pelindung, helm, sarung tangan, dan membawa tongkat pemukul di sisi pinggang. Di belakangnya, beberapa orang lain turun dengan perlengkapan yang jauh lebih lengkap.
Laras maju.
"Buka jalan."
Petugas itu berkata singkat.
"Tidak."
"Ini jalur operasional perusahaan."
"Ini tanah warga."
"Dokumen kami lengkap."
"Kalau lengkap, tunjukkan."
Petugas itu tidak menjawab.
Laras mengangkat pengeras suara.
"Kepada Aureum Corp, kami meminta seluruh kegiatan pembukaan lahan dan pengeboran dihentikan sampai ada pemeriksaan independen terhadap sistem air bawah tanah di wilayah ini!"
Suara Laras menggema di jalan.
"Kami tidak menolak pembangunan karena kami membenci pekerjaan atau kemajuan. Kami menolak kegiatan yang mengancam sumber air yang menghidupi desa!"
Beberapa warga mulai bersorak.
Laras melanjutkan.
"Di bawah hutan ini ada jalur air purba yang telah mengalir jauh sebelum batas-batas tanah ini dibuat. Kami sudah memiliki data hidrogeologi. Kami sudah memiliki bukti perubahan kualitas air. Dan kami menuntut perlindungan terhadap mata air desa!"
Dari salah satu kendaraan, seseorang merekam.
Dania melihat kamera itu.
Ia juga mengangkat kameranya.
Saling merekam.
Saling mengawasi.
Di balik kaca gelap kendaraan komando yang parkir lebih jauh, Marcus Vance sedang melihat semuanya.
Tidak melalui jendela.
Melalui layar.
Kamera pengawas yang terpasang di sepanjang perimeter mengirimkan gambar dari beberapa sudut sekaligus. Wajah Laras terlihat jelas pada salah satu monitor.
Marcus menatapnya tanpa ekspresi.
Di layar lain terlihat barikade kayu.
Di layar berikutnya, konvoi.
Di layar paling kanan, jumlah warga yang terus bertambah.
"Berapa orang?" tanyanya.
"Seratus dua puluh sampai seratus lima puluh," jawab kepala pengamanan.
"Dan yang memimpin?"
"Laras."
Marcus mengenali namanya.
Perempuan yang beberapa hari terakhir muncul dalam laporan sebagai penggerak konsolidasi warga.
"Sudah diberi peringatan?"
"Tiga kali."
"Dan?"
"Mereka menolak."