Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #7

Bisikan yang Tercekik

Malam telah lama menelan Desa Kertajaya ketika Banyu kembali menyusuri tepi Ciasem.

Tidak ada lampu di sepanjang jalan menuju hulu. Hanya cahaya bulan yang sesekali berhasil menembus sela-sela daun, jatuh dalam potongan-potongan pucat di atas tanah basah. Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan, membuat batas antara sungai dan daratan terlihat samar.

Banyu berjalan sendirian.

Langkahnya tidak cepat.

Setiap kali kakinya menginjak batu, rasa nyeri menjalar dari pinggang hingga bahu. Sisi tubuhnya masih memar akibat bentrokan siang tadi. Ada luka lecet di siku dan punggung tangannya. Bibirnya sempat pecah ketika tubuhnya terdorong saat membantu warga menjauh dari barisan pengaman. Ia sudah membersihkan darahnya sebelum meninggalkan rumah, tetapi rasa perih masih tertinggal setiap kali udara malam menyentuh luka.

Ia tidak terlalu memedulikannya.

Yang lebih mengganggunya adalah apa yang terjadi setelah barikade diterobos.

Suara mesin.

Suara roda truk menggilas batang kayu.

Teriakan warga.

Dan terutama satu hal yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.

Getaran.

Sejak Plasma-Drill mulai dibawa masuk ke kawasan hulu, sesuatu di bawah tanah terasa berubah.

Banyu belum pernah mengerti bagaimana caranya menjelaskan perasaan itu. Ia bukan ahli geologi seperti Dania. Ia tidak mengerti sebagian besar garis dan angka yang memenuhi peta perempuan itu. Ia juga bukan orang yang biasa berbicara tentang roh, apalagi mengaku bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat.

Tetapi sungai punya cara sendiri untuk memberi tahu seseorang ketika ia sedang tidak baik-baik saja.

Dan malam itu, Ciasem terasa seperti orang sakit yang berusaha menahan muntah agar tidak terdengar.

Banyu berhenti.

Ia menatap permukaan air.

Biasanya suara sungai di bagian hulu lebih jelas pada malam hari. Arus yang melewati batu akan menghasilkan bunyi kecil yang terus-menerus, seperti bisikan yang tidak pernah selesai. Namun malam ini suara itu hampir tidak ada.

Bukan karena airnya berhenti.

Air tetap mengalir.

Tetapi seperti ada sesuatu yang menekan suaranya dari bawah.

Banyu melanjutkan perjalanan.

Ia melewati bagian sungai yang dulu sering digunakan anak-anak untuk bermain. Sekarang tepian itu lebih sepi. Beberapa batang pohon telah diberi tanda cat oleh perusahaan. Warna merah menyala di kulit batang, bahkan dalam cahaya bulan.

Salah satunya adalah pohon beringin tua.

Banyu berhenti di depannya.

Batangnya besar, jauh lebih besar daripada tubuh dua orang dewasa jika berdiri berdampingan. Akar-akar gantung menjuntai sampai menyentuh tanah, sebagian tertanam kembali dan membentuk tonjolan seperti tulang-tulang tua yang muncul dari permukaan bumi.

Cat merah berbentuk silang terlihat jelas pada batangnya.

Tanda tebang.

Banyu mengangkat tangan, tetapi tidak jadi menyentuhnya.

Ia hanya berdiri di depan pohon itu.

"Besok?" bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Banyu menurunkan tangannya.

Entah kenapa, ia teringat Pak Sugeng.

Tentang cerita-cerita lama.

Tentang Sungai Garis Purba.

Tentang Danyang yang dipercaya menjaga jalur air yang tidak terlihat.

Dulu ia selalu menganggap cerita itu sebagai bagian dari desa. Sama seperti nama-nama tempat lama, larangan membuang sesuatu ke sungai, atau kebiasaan orang tua memohon sebelum mengambil air dari mata air tertentu.

Tradisi.

Ingatan.

Tidak lebih.

Tetapi setelah melihat peta Dania, setelah mengetahui bahwa garis-garis yang ia tunjuk ternyata benar-benar memiliki jejak di bawah tanah, Banyu mulai merasa bahwa mungkin orang-orang tua tidak sekadar bercerita.

Mungkin mereka hanya menggunakan bahasa yang berbeda.

Bahasa yang tidak memakai angka.

Bahasa yang tidak membutuhkan satelit.

Bahasa yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya karena mereka pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan.

Banyu berjalan lagi.

Beberapa meter di depan pohon beringin, sungai melebar.

Arusnya lebih lambat.

Batu-batu besar membentuk semacam kolam dangkal di antara dua tepian.

Banyu mengenali tempat itu.

Di sinilah ia menemukan ikan-ikan mati beberapa hari lalu.

Ia jongkok.

Air tampak hitam di bawah cahaya bulan.

Banyu mengulurkan tangan.

Jarinya menyentuh permukaan.

Dingin.

Sangat dingin.

Ia hampir menarik tangannya kembali.

Kemudian dunia berubah.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Tidak ada suara keras.

Hanya satu tarikan napas.

Lalu Banyu tidak lagi berada di tepi Ciasem.

Ia berdiri di tempat yang tidak pernah dilihatnya.

Air memenuhi segala arah.

Tidak ada tepi.

Tidak ada langit.

Tidak ada tanah.

Sungai terbentang sangat luas, jauh lebih luas daripada apa pun yang bisa dibayangkan Banyu sebagai sungai. Permukaannya berwarna perak, tetapi bukan karena pantulan bulan. Cahaya itu muncul dari dalam air sendiri, seperti ribuan serpihan bintang yang mengalir bersama arus.

Banyu berdiri di atas sesuatu yang tidak ia pahami.

Atau mungkin ia tidak benar-benar berdiri.

Tubuhnya seperti mengambang di antara air dan langit.

Di kejauhan, garis-garis aliran bercabang ke segala arah.

Ada yang menuju pegunungan.

Ada yang menghilang ke bawah lapisan tanah.

Ada yang melintasi ruang yang tidak dikenalnya.

Semuanya saling terhubung.

Semuanya mengalir.

Dan semuanya terasa hidup.

Banyu memandang ke bawah.

Di balik air perak itu ada bayangan.

Bukan ikan.

Bukan manusia.

Bentuk-bentuk besar bergerak jauh di dalamnya.

Samar.

Seperti tubuh yang sedang meringkuk.

Seperti akar.

Seperti sesuatu yang berusaha berenang tetapi tidak memiliki ruang untuk bergerak.

Kemudian Banyu melihat warna lain.

Hitam.

Gumpalan hitam menyebar di antara aliran perak.

Menyusup ke dalamnya.

Membuat cahaya air meredup.

Banyu ingin mundur.

Tetapi tidak ada tempat untuk mundur.

Tiba-tiba dadanya terasa sakit.

Sangat sakit.

Ia mencoba menarik napas.

Tidak bisa.

Udara seperti hilang dari paru-parunya.

Dalam satu detik, air perak itu berubah menjadi gelap.

Banyu merasa dirinya tenggelam.

Bukan ke dalam air biasa.

Sesuatu yang lebih pekat memenuhi mulut, hidung, tenggorokan, paru-paru.

Panas.

Pahit.

Menyengat.

Ia meronta.

Tangannya bergerak mencari sesuatu untuk berpegangan, tetapi yang disentuh hanya cairan.

Dadanya seperti diremas dari dalam.

Ia membuka mulut untuk berteriak.

Air masuk.

Rasa sakitnya semakin hebat.

Lalu suara-suara muncul.

Awalnya hanya satu.

Lihat selengkapnya