Resonansi Keenam: Nodus Pranavija

Diva Amane
Chapter #8

Peta Naskah dan Plasma

Malam turun sepenuhnya di kompleks pertambangan Aureum Corp, tetapi tidak ada satu pun bagian dari tempat itu yang benar-benar gelap.

Lampu sorot berdiri di sepanjang pagar kawat yang mengelilingi basecamp. Menara pemantau memancarkan cahaya putih ke arah lereng yang telah dibuka paksa, membuat tanah merah dan batuan yang terpotong tampak seperti luka besar di tubuh pegunungan. Di kejauhan, kendaraan berat masih bergerak perlahan. Lampu-lampu kuningnya berkelip di antara pepohonan yang tersisa, sementara suara generator berdengung tanpa henti di balik bangunan utama.

Di pusat kompleks, jauh dari jalan warga dan sungai yang mengalir di bawah lembah, sebuah ruangan dipenuhi cahaya monitor.

Ruang komando teknis Aureum tidak memiliki jendela.

Dindingnya dipenuhi layar berukuran besar yang menampilkan lapisan-lapisan bumi dalam warna berbeda. Ada peta topografi kawasan Subang, citra satelit, grafik tekanan batuan, simulasi struktur geologi, pembacaan seismik, serta garis-garis berdenyut yang mewakili sesuatu yang belum sepenuhnya dapat diberi nama oleh ilmu pengetahuan modern.

Di salah satu layar, angka kedalaman terus berubah.

16.421 kilometer.

16.583.

16.741.

16.903.

Di bawahnya terdapat grafik kepadatan batuan dan temperatur yang meningkat tajam.

Dua orang berdiri di hadapan layar terbesar.

Dr. Sarah Lindqvist menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Rambut pirangnya diikat sederhana ke belakang. Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan sejak berjam-jam lalu, seolah-olah angka-angka yang memenuhi ruangan itu jauh lebih menarik baginya daripada kenyataan bahwa mereka sedang bersiap menembus sesuatu yang bahkan belum dapat dijelaskan secara ilmiah.

Di sebelahnya, Dr. Baskora menunduk di atas sebuah meja.

Di atas meja itu terbuka sebuah lontar tua.

Bukan benda yang seharusnya berada di ruangan berisi komputer, generator, dan peralatan pengeboran bertekanan tinggi. Lembaran-lembaran lontar tersebut ditempatkan di dalam pelindung transparan, dengan beberapa hasil pemindaian digital diproyeksikan di sampingnya.

Baskora membungkuk semakin dekat.

Jari telunjuknya mengikuti garis tulisan yang sudah pudar.

"Ada bagian yang tidak terbaca," katanya.

Sarah tidak menoleh. "Seberapa banyak?"

"Beberapa karakter rusak. Tetapi struktur baitnya masih bisa dipulihkan."

"Berapa lama?"

Baskora mengangkat wajah.

"Kau terdengar seperti sedang menunggu hasil laboratorium."

"Aku memang sedang menunggu hasil."

Baskora mendengus kecil. "Kalau begitu jangan ganggu aku."

Sarah kembali menatap layar.

Ia tidak tersinggung.

Baginya, Baskora hanyalah variabel lain dalam rangkaian proses yang harus diselesaikan malam itu. Lontar adalah sumber data. Baskora adalah alat untuk membaca data tersebut. Pemindaian geofisika adalah sumber data lain. Komputer akan menentukan apakah kedua sumber itu dapat dipertemukan.

Tidak ada yang lebih rumit daripada itu.

Setidaknya, demikian yang diyakininya.

Baskora kembali menekuni naskah.

Selama bertahun-tahun ia mempelajari bahasa-bahasa tua Nusantara, prasasti, manuskrip ritual, dan fragmen pengetahuan yang sering kali dianggap tidak lebih dari mitologi oleh akademisi modern. Ia pernah berdebat dengan kolega, menulis makalah, menghadiri konferensi di luar negeri, dan menghabiskan waktu berbulan-bulan mengejar satu istilah yang hanya muncul dalam dua atau tiga naskah.

Dulu ia melakukannya karena rasa ingin tahu.

Sekarang ia melakukannya karena ia tahu ada sesuatu yang lebih besar menunggunya.

Jika pembacaan naskah ini benar, namanya akan tercatat.

Bukan sebagai akademisi yang sekadar menerjemahkan teks tua, tetapi sebagai orang pertama yang berhasil menghubungkan pengetahuan Nusantara kuno dengan sebuah struktur energi planet yang selama ini hanya bisa dibaca melalui geofisika modern.

Pikiran itu membuat dadanya menghangat.

Ia kembali melihat bait terakhir.

Tulisan tersebut sangat tua. Sebagian permukaan lontar telah menggelap. Beberapa seratnya retak. Namun pola aksaranya masih cukup jelas untuk dikenali.

Baskora mengucapkannya perlahan.

"Hulu..."

Ia berhenti.

Matanya menyipit.

"Hulu Air Purba."

Sarah menoleh.

"Apa?"

Baskora tidak langsung menjawab.

Ia mengambil pena, lalu membuat beberapa catatan pada lembar transliterasi.

"Frasa terakhir."

"Terjemahkan."

"Aku sedang menerjemahkannya."

Sarah menghela napas pelan.

Baskora tersenyum tipis.

"Kau selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Seolah semua hal di dunia bisa dipaksa bergerak dengan perintah."

"Sebagian besar hal memang bisa."

"Termasuk teks?"

"Kalau teks tidak mau bergerak, kita punya komputer."

Baskora tertawa kecil.

"Ilmuwan."

Ia kembali menunduk.

Beberapa menit berlalu.

Ruangan dipenuhi suara pendingin udara dan dengung mesin server.

Di layar utama, model bawah permukaan terus berputar.

Sarah memperhatikan salah satu bagian peta yang berkedip. Ia memperbesar citra seismik. Struktur batuan muncul dalam lapisan-lapisan tiga dimensi.

Ada sesuatu yang aneh.

Jalur dengan densitas berbeda membentuk lengkungan panjang di bawah permukaan.

Bukan satu rongga.

Bukan satu kantong air.

Sistemnya bercabang.

Sarah menggeser tangannya di atas konsol.

"Tarik data seismik lintasan C-17."

Salah satu teknisi di belakangnya segera menjalankan perintah.

Gambar berubah.

Lapisan batuan di bawah kawasan tambang muncul semakin jelas.

Sarah menambahkan data geolistrik.

Kemudian data gravitasi.

Kemudian hasil pemetaan dari survei sebelumnya.

Semua garis itu bertumpuk.

Semakin banyak data dimasukkan, semakin jelas sebuah pola muncul.

Sebuah jalur panjang.

Berliku.

Tua.

Dan jauh lebih besar daripada yang seharusnya ada di bawah kawasan itu.

Sarah terdiam.

Baskora melirik dari meja.

"Ada apa?"

"Jangan bicara dulu."

Baskora mendekat.

Sarah memperbesar satu titik.

"Ini."

Baskora melihat layar.

"Jalur air?"

"Mungkin."

"Air tanah?"

Sarah menggeleng.

"Strukturnya terlalu teratur."

Ia mengganti tampilan.

Di layar muncul citra hasil pemindaian dari beberapa kedalaman berbeda. Jalur tersebut tidak berhenti di bawah kawasan tambang. Ia memanjang keluar, bercabang, lalu menghilang di bawah pegunungan.

Baskora menatapnya.

"Seperti jaringan sungai."

"Jaringan sungai yang terkubur."

"Air purba."

Sarah tidak menjawab.

Baskora kembali kepada lontar.

Ia membuka catatan transliterasinya dan membandingkan pola kata dengan gambar pada layar.

"Hulu Air Purba..."

Ia membacanya sekali lagi.

Kemudian matanya bergerak ke baris sebelumnya.

Ada simbol yang selama ini ia kira hanya bagian dari ornamen.

Sekarang simbol itu tampak berbeda.

"Sarah."

"Hm?"

"Geser peta ke utara."

Sarah melakukannya.

"Sedikit ke timur."

Peta bergerak.

"Berhenti."

Baskora mengangkat tangannya.

"Di sana."

Sarah memperbesar.

Sebuah titik muncul tepat di bawah batas konsesi pertambangan.

Baskora menatapnya lama.

"Tunggu."

Ia kembali pada lontar.

Kemudian pada layar.

Lalu kembali pada lontar.

"Ini bukan sekadar cerita."

Sarah akhirnya tersenyum tipis.

"Aku tidak pernah bilang ini cerita."

Baskora mengabaikan sindiran itu.

Ia mengambil hasil pemindaian aksara dan memperbesar bagian terakhir. Karakter-karakter yang rusak diperjelas menggunakan rekonstruksi digital.

Satu demi satu simbol menjadi lebih terbaca.

Baskora menarik napas.

"Pranavija..."

Sarah menoleh.

"Apa artinya?"

Baskora diam beberapa saat.

"Prana. Napas. Kehidupan."

Kemudian jarinya menyentuh kata berikutnya.

"Vija. Benih."

Sarah memandangnya tanpa ekspresi.

"Benih kehidupan?"

"Bukan sesederhana itu."

"Jelaskan."

Baskora memandang layar yang memperlihatkan jaringan bawah tanah.

"Dalam konteks naskah ini, Pranavija bukan tanaman biasa. Ia disebut sebagai sesuatu yang dibawa oleh aliran purba setelah dunia mengalami kerusakan besar."

Sarah mengangkat alis.

"Setelah kepunahan?"

Baskora menatapnya.

"Kau sudah membaca terjemahan sebelumnya."

"Aku membaca data yang kau berikan."

"Dan?"

"Konsepnya menarik."

"Menarik?"

Sarah mengangguk.

"Materi regeneratif yang muncul setelah keruntuhan ekosistem. Secara hipotetis, itu bisa berupa organisme, struktur biologis, atau material energi yang memiliki kemampuan mempercepat pemulihan biosfer."

Baskora tersenyum samar.

"Kau baru saja menjelaskan mitologi sebagai hipotesis laboratorium."

Lihat selengkapnya